My Beloved Cowboy

My Beloved Cowboy
Bab 28. Pertolongan Hary


__ADS_3

Hary berjalan keluar dan berhenti sejenak di ambang pintu toko, melirik sekilas pada Gaby yang sedang berusaha mengangkat karung pakan ternak sementara manajer Parker berdiri mengawasi sambil mengusap-usap dagunya.


“Haish!” Hary mengacak rambutnya kasar, gusar melihat Gaby yang mau saja menuruti semua perintah Parker. Ia berniat mendekat, tapi wanita itu langsung memasang sikap permusuhan dengannya.


“Pergi dari hadapanku, Aku tak ingin melihatmu ada di sini.” Desis Gaby, menatap tajam Hary lalu berbalik dan kembali melanjutnya pekerjaannya yang tertunda.


Parker tertawa sinis, ia menatap Hary sambil lalu dan terus berdiri sambil mengawasi Gaby bekerja.


“Kenapa Kau harus selalu menuruti perintahnya!” tunjuk Hary pada Parker. “Kau bisa melakukan pekerjaan lainnya, membersihkan debu yang bersarang di dalam toko misalnya. Bukannya malah berusaha keras mengangkat karung-karung pakan ternak yang beratnya saja hampir sama dengan berat tubuhmu!”


“Hei, bocah! Jangan banyak mulut dan coba-coba ikut campur, memberi perintah di tokoku ini. Aku ingatkan, Kau bukan siapa-siapa di sini.” Teriak Parker murka, ia tak suka ada orang yang ikut campur dengan caranya mengatur pekerjaan anak buahnya.


“Sebaiknya Kau cepat pergi dari sini, dan jangan pernah kembali ke sini lagi. Aku tidak akan pernah menerimamu bekerja di tokoku ini!” usir Parker dengan wajah murka.


Hary tak lantas pergi begitu saja. Ia berkacak pinggang, berdiri di depan toko dan terus menatap marah pada Parker. Ia harus segera menghubungi Ed dan bicara dengannya. Bila perlu meminta pada pamannya itu untuk datang dan melihat sendiri keadaan tokonya.


Ia sudah pernah bicara pada Ed, biar ia saja yang mengambil alih bisnis toko pakan ternak pamannya itu sebelum Parker bekerja di sana.


Tapi Ed menolak usulnya, meski Hary pernah belajar dan kuliah di kota. Tapi ia belum memiliki pengalaman dalam hal berbisnis, lagi pula selama ini ia lebih banyak bermain dan bersenang-senang dengan teman-temannya ketimbang bekerja membantu bisnis keluarganya.


Tapi kali ini Hary benar-benar serius ingin bekerja, ia ingin sekali membantu Gaby dan keluarganya meski cara yang ia lakukan justru malah membuat Gaby membencinya.


Hary tidak senang melihat bagaimana Parker memperlakukan Gaby, wanita itu mengerjakan pekerjaan yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang wanita.


Hary menoleh ke dalam toko lagi sebelum melangkah menuju mobilnya. Tangannya yang hendak memegang hendel pintu, terhenti seketika. Dahinya berkerut tiba-tiba, saat menyadari arti tatapan mata Parker pada Gaby.


Itu bukanlah tatapan yang pantas ditujukan oleh seorang atasan pria pada pegawai wanitanya. Laki-laki itu sepertinya sedang merencanakan sesuatu, terlihat dari seringai di wajahnya.


Deg! Hary tersentak, ia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada Gaby. Dan wanita itu sepertinya tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya. Toko begitu sepi, tak ada satu pun pelanggan yang datang berbelanja. Hanya ada Parker dan Gaby di dalam sana.


“Aku tak mungkin meninggalkan wanita itu dalam bahaya dan menghadapi Parker seorang diri.” Hary membatalkan niatnya untuk menemui Ed dan berbalik, berjalan masuk kembali ke dalam toko lagi.

__ADS_1


Dia mendengar suara-suara aneh dari belakang toko, suara jeritan tertahan disusul bunyi barang jatuh. Hary mempercepat langkahnya, ia melihat ada lorong panjang menuju ruang belakang toko.


Lalu jeritan itu terdengar lagi, berbarengan dengan isak tangis. Hary tersentak, menyadari suara yang didengarnya itu adalah suara tangis Gaby.


Ia berlari cepat, dan hampir terjatuh saat kakinya terantuk potongan kayu melintang di jalan yang dilewatinya. Hary menendang marah dan potongan kayu itu melayang dan mengenai papan kayu sebuah gudang tua yang pintunya terkunci dari dalam.


“Parker sial lan!” teriaknya murka, matanya melotot melihat karung pakan ternak jatuh di depan pintu yang tertutup rapat dan isinya berhamburan ke mana-mana.


“Gaby!” teriaknya memanggil nama Gaby. “Apa Kau di dalam sana?!”


“Hary!” terdengar sahutan dari dalam, berbarengan dengan teriakan kesakitan dan sumpah serapah laki-laki di dalam gudang.


Hary mencoba membuka pintu, menekan gagang pintu itu berulang tapi usahanya sia-sia. Matanya liar mencari-cari sesuatu, lalu dilihatnya sebuah garpu tanah dari besi tergeletak di lantai samping gudang.


Hary menghajar gagang pintu itu hingga terlepas dari tempatnya, ia melempar garpu tanah di tangannya dan mendorong pintu dengan bahunya. Pintu bergerak sedikit tapi masih belum terbuka, sepertinya ada benda yang menghalang di dalam sana.


“Aku akan membuatmu menyesal dan membayar mahal semua perbuatanmu, breng sek!” maki Hary dengan napas tersengal.


Apa yang terjadi di depan matanya itu membuat amarahnya memuncak, suara pintu yang terbuka tidak membuat Parker menghentikan perbuatannya pada Gaby. Hary mengepalkan tinjunya dan berjalan cepat mendekati keduanya.


Parker sedang memeluk Gaby dan berusaha keras mencium wanita itu, tangannya menjalar ke mana-mana. Ia menekan tubuh Gaby ke dinding. Gaby berusaha melawan, tangannya sekuat tenaga mendorong dada Parker dan kakinya bergerak menendang ke sembarang arah.


“Baji ngan breng sek, apa yang Kau lakukan pada Gaby!” Hary menarik kerah baju Parker dan melemparnya sekuat tenaga agar menjauh dari Gaby. Lelaki itu terjatuh dan tubuhnya mengenai karung pakan ternak yang tersusun di atasnya hingga gugur dan menimpa tubuhnya.


Terdengar teriakan kesakitan Parker, tapi Hary tak peduli. Ia melangkah cepat mendekati Gaby yang terduduk di lantai, napas wanita itu tersengal turun naik dengan cepat. Bajunya sobek di bagian bahu, dan kancing atas blusnya terlepas. Rambutnya berantakan dan kotor terkena debu pakan.


“Apa Kau baik-baik saja?” tanya Hary, ia mengulurkan tangan dan membantu Gaby berdiri.


“Iya,” sahut Gaby serak, ia memegang bajunya erat dan menyisir rambutnya dengan jari bergetar. Matanya berkaca-kaca, dan Hary tak tahan melihatnya.


“Ya Tuhan,” bisiknya pelan, lalu melepaskan rompinya dan memakaikannya di tubuh Gaby. Ia menuntun Gaby menyingkir ke pinggir rak, dan wanita itu duduk meringkuk di sana sambil memeluk tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Hary berbalik dan kembali menghadapi Parker, lelaki itu masih terduduk di lantai sambil memegang kepalanya. Hary menarik kerah baju Parker, memaksa laki-laki itu berdiri.


“Apa yang Kau lak ... Aarghk!”


Satu kepalan tangan Hary bersarang di wajahnya, membuat laki-laki itu terjatuh lagi ke lantai dan bersandar di dinding belakangnya.


“Harusnya Aku yang bertanya padamu, apa yang sudah Kau lakukan pada Gaby?” balas Hary marah, tangannya terkepal bersiap melancarkan pukulan lagi.


Parker merapat ke dinding, matanya nyalang melihat ke arah sekitarnya. Lalu tiba-tiba ia berteriak marah. “Apa yang Kau lakukan di sini?!”


Hary mengernyit, ia menolehkan wajahnya dan terkejut melihat kehadiran King di tempat itu.


“King!” Gaby berdiri melihat King datang. Bola mata King melebar melihat keadaan wanita itu, ia melangkah maju dan langsung mencengkeram kerah baju Hary bersiap melancarkan tinjunya.


“Dia menyerangku, laki-laki ini tiba-tiba saja datang dan memukulku!” teriak Parker sambil menunjuk ke arah Hary.


“Kau masih belum puas dan terus saja mengganggu Gaby,” gumam King sembari menggertakkan gigi.


“King! Bukan dia, Hary tidak bersalah.” Jerit Gaby, melihat tangan King yang terkepal dan siap menghantam Hary. Ia menatap marah pada Parker yang berusaha bangkit berdiri, teringat bagaimana bibir tebal laki-laki itu berusaha menciumnya. Nyaris saja Gaby muntah saat ia meraba bibirnya.


Hary berdiri menantang, ia balas menatap King tajam. “Harusnya Kau bertanya dulu apa yang sebenarnya terjadi sebelum melayangkan tinjumu.”


“Katakan, apa yang sudah terjadi di sini. Siapa yang sudah menyakiti Gaby?”


“Laki-laki itu yang melakukannya!” Tunjuk Hary pada Parker yang berusaha bangkit dan pergi dari sana.


“Tetap diam di tempatmu sekarang, Parker. Aku belum selesai dengan bocah ini!” perintahnya pada Parker, dan laki-laki itu mendengkus marah tapi tak berani menentang ucapan King.


“Aku memergokinya sedang berusaha melecehkan Gaby, dan Aku berusaha menolongnya.” Terang Hary, melirik sekilas pada Gaby yang berdiri di dekat King dengan wajah tertunduk. “Kau boleh bertanya pada Gaby, Aku tidak bohong soal yang satu ini.”


“Jack, Kau bisa datang ke toko pakan milik Donovan sekarang. Aku menunggumu,” King menelepon Jack sahabatnya yang bekerja sebagai polisi di daerah itu. Ia menyimpan ponselnya kembali dan menatap garang Parker, nyali laki-laki itu menciut tiba-tiba.

__ADS_1


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎


__ADS_2