
Gaby terus menunduk, menyembunyikan luka di wajahnya. Ia tak ingin tuan Philips mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya karena ada memar lain di tubuhnya, lalu mengkhawatirkan dirinya. Gaby tak ingin menambah beban pikiran ayahnya itu yang kini sering sakit-sakitan.
Gaby hanya mengatakan pada ayahnya kalau ia terpeleset karena jalanan licin, dan wajahnya terbentur papan kayu di depannya.
Rani berpikir ia pasti salah dengar, rasanya tidak dapat dipercaya melihat Gaby pulang tergesa-gesa dengan wajah ketakutan. Apa mungkin terbentur papan kayu bisa membuat orang ketakutan?
“Sebenarnya kedatanganku kemari karena ingin bertemu dan bicara denganmu.” Rani menghela napas, menatap luka di sudut bibir Gaby. “Tapi sepertinya Aku harus menundanya, lebih baik Kau beristirahat saja. Aku akan menemuimu lain waktu.”
Rani berpamitan pada tuan Philips yang sedang beristirahat di kamarnya, dan laki-laki itu menitipkan salam untuk neneknya. “Akan Saya sampaikan, Tuan. Terima kasih sudah mau menerima dengan baik kehadiran Saya di rumah ini.”
Rani berbalik dan berjalan menuju pintu keluar, di sana Tony sudah menunggunya. Tapi tangan Gaby menahan lengannya. Bibir itu terlihat bergetar, ia menatap Rani dengan mata berkaca-kaca.
Rani tak bisa mengabaikannya, ia meminta pada Tony untuk menunggunya sebentar lagi sementara ia bicara dengan Gaby.
“Aku tidak tahu pada siapa Aku harus bicara.” Dan air mata Gaby tumpah, ia menggigit bibir menahan isak yang mendesak keluar.
“Ya Tuhan, apa sebenarnya yang terjadi denganmu. Mengapa sampai Kau mengalami luka seperti ini, apa orang itu memukulmu dan memaksamu melakukan hal yang tidak bisa Kau lakukan?”
Rani menuntun tangan Gaby, membawanya duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Dan wanita itu tampak meringis menahan nyeri. Rani terkejut, Gaby menarik turun lengan kemejanya yang lusuh. Ada warna kebiruan tampak jelas di sana.
Gaby menggeleng kuat, “Aku butuh pekerjaan, dan Aku tidak bisa lagi kehilangan pekerjaanku. Ayah sakit-sakitan dan kami tidak memiliki cukup uang untuk mengobati penyakit kanker paru yang dideritanya.”
“Apa luka yang Kau alami ini ada kaitannya dengan masalah pekerjaan, apa atasanmu yang melakukannya?”
__ADS_1
“Tuan Parker, dia manajer di tempat kerjaku.” Hanya itu yang Gaby katakan, namun cukup bagi Rani untuk mengerti apa sebenarnya yang terjadi.
Melihat keadaan Gaby dan luka memar di lengan juga sudut bibirnya yang berdarah, Rani tidak yakin Gaby mampu melakukan perlawanan. Apalagi setelah mendengar keluhannya tentang kehilangan pekerjaan.
“Aku dengar Kau akan menjual rumah peternakanmu ini, dan sudah ada yang menawar dengan harga tinggi.”
Gaby menggeleng lagi, “Belum ada pembayaran sama sekali, tidak ada uang pengikat juga. Pengusaha itu masih menunggu persetujuan dari pihak bank jika pinjaman yang dia ajukan disetujui, maka akan diadakan transaksi. Tapi sampai sekarang kami belum mendapat kabar darinya,” ungkap Gaby.
Rani lega mendengarnya, ada harapan untuk neneknya yang ingin mengambil alih peternakan keluarga Gaby dengan niat membantu keluarga itu.
Sekarang Rani hanya perlu menyampaikan pesan neneknya yang satu itu untuk Gaby, tanpa menyinggung hal lainnya.
“Nenek ingin Kau kembali bekerja di peternakan, tenagamu sangat dibutuhkan di sana. Aku tidak bisa terlalu lama membantu nenekku menggantikan pekerjaan yang Kau tinggalkan, karena Aku juga punya pekerjaan lain di kota. Jangan takut, Hary tidak akan berani mengganggumu lagi. Dan Kau bisa tinggal bersama ayahmu di rumah peternakan, bersama para pekerja lainnya.”
Rani memegang tangan Gaby, tersenyum padanya. “Kau tidak perlu malu apalagi merasa bersalah, karena itu bukan salahmu.”
“Apa nyonya Maggie masih mau menerimaku bekerja kembali di peternakan miliknya?” tanya Gaby, mata itu bersinar penuh harap.
“Tentu saja, itulah mengapa Aku datang menemuimu di sini. Nenek ingin Kau kembali bekerja untuknya,” kata Rani memastikan.
“Tapi Aku harus bicara terlebih dahulu pada tuan Parker, tidak mungkin pergi begitu saja dari sana.” Gaby tampak gelisah, dan sorot ketakutan itu terlihat lagi.
Meski tak ingin ikut campur dalam urusan orang lain, tapi hati nuraninya berontak. Ia tak bisa hanya berdiam diri saja sementara ada wanita lemah yang butuh pertolongan dan ia bisa melakukannya.
__ADS_1
“Tenang saja, kami akan membantumu bicara dengannya.”
“Kami? Maksudmu?”
Rani berjalan keluar rumah Gaby, hatinya sedikit lega karena Gaby pada akhirnya setuju kembali bekerja di peternakan neneknya. Satu masalah teratasi.
“Apa Kau mengenal tuan Parker, manajer di toko pakan ternak tempat Gaby bekerja?” tanya Rani pada Tony.
“Ya,” jawab Tony singkat.
“Ceritakan padaku siapa dia sebenarnya,” kejar Rani lagi, penasaran mendengar Tony mengenal laki-laki itu.
“Apa Kau tertarik ingin bekerja dengannya?” Tony menahan senyumnya.
“Ish! Aku hanya ingin tahu kenapa ia berani menyakiti Gaby.” Rani mencebikkan bibirnya.
Cekittt!
Tony mengerem mendadak mobilnya, “Apa benar dia melakukannya pada Gaby?”
Rani terkejut, Tony berhenti mendadak. Tapi yang lebih mengejutkannya lagi, cerita Tony tentang tuan Parker setelahnya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
__ADS_1