MY CEO IS MY DEAR

MY CEO IS MY DEAR
SEPASANG MATA BIRU


__ADS_3

"apa kau ingin sekali lagi"


"tidak, aku akan terlambat rapat pagi ini. kita lanjut malam nanti sayang" jawab Baldwin sambil membelai Zena


Baldwin merapikan diri bersiap pergi ke kantornya karena dia harus menghadiri rapat pagi ini. ia memang sering berhubungan badan dengan Zena, dia akan mencari wanita lain untuk menyalurkan hasratnya jika ia bosan dengan Zena.


sudah lama Baldwin dijodohkan dengan Zena karena kerja samanya dengan Louis Papa Zena. Baldwin tak mencintai Zena tapi ia memperlakukannya baik karena tak ingin kerja sama bisnisnya hancur.


***


Pagi ini Elaine nampak kelelahan, joging yang dia lakukan cukup menguras tenaga. Dirinya memilih beristirahat di tempat duduk yang ada di belakang vila dan tak jauh dari pinggir danau.


Elaine duduk termenung memikirkan ayahnya. ia merasa berdosa telah membenci ayahnya selama ini. Hanyut dalam fikirannya ia tak sadar sedang diamati seseorang.


Pemuda dengan mata biru yang indah mengamati Elaine dengan seksama. kulitnya yang bersih dengan rambut hitam panjang yang diikat ke atas membuatnya nampak seksi.


"apa yang aku lihat dengan itu" Suara Patric merebut teropong dari tangan Derryl.


"kau harusnya memberitahuku jika melihat pemandangan seindah ini" tambahnya


"aku baru kali ini melihatnya" suara Derryl tak memalingkan pandangannya dari Elaine


"aku juga baru melihatnya, mungkin ia pemilik villa itu" jawab Patric mengamati villa keluarga Elaine dengan teropong ditangannya.


Elaine beranjak dari tempat duduknya tanpa menyadari tatapan dari sebrang danau. ia sudah merasa puas menghirup udara danau yang segar iapun memilih kembali ke villa untuk sarapan.


dzzrtt..


suara ponsel Elaine berdering, Evrard menvideo


callnya. Baru saja diangkat Evrard sudah menghujani Elaine banyak pertanyaan.


"apa kau tak merindukanku? apa kau melupakanku? apa kau begitu sibuk? apa kau baik baik saja? kau tidak sakit? kau sedang apa? apa kau sudah makan? kapan kau pulang?"


Elaine melongo melihat kehebohan Evrard.

__ADS_1


"kenapa kau diam saja?" tanya Evrard lagi


"bagaimana bisa aku menjawab pertanyaan mu yang bertubi tubi itu" protes Elaine


"okelah maafkan aku, apa yang kau lakukan dengan berpakaian seperti itu?" tanya Evrard melihat Elaine memakai singlet.


"aku joging sebentar tadi menghirup udara pagi yang segar"


"kapan kau kembali?"


"aku kembali setelah bibiku pulang dari bulan madunya"


"Hahh.. berapa lama?"


"hanya satu minggu, sudah dulu kau mengganggu waktu sarapan ku".


belum sempat Evrard menjawab Elaine sudah mematikan video callnya.


"dasar dia tak pernah berubah" gerutu Evrard


***


"sore ini aku akan pergi kesana, selidiki siapa saja komplotan mereka" suara Abelano tegas.


Abelano dengan wajah kesal mematikan sambungan telfonnya. Dia tidak akan tinggal diam mendengar anak buahnya diserang, sore ini ia akan kembali ke kota tua Strasbourg.


Dengan kekuasaan yang ia miliki Abelano akan meminta pihak kepolisian jika memang anak buahnya tidak melakukan kesalahan.


"akhirnya selesai" suara Elaine sambil mengelap keringat di dahinya degan telapak tangan.


Elaine tidak keluar villa hingga menjelang sore, ia sibuk membereskan seisi villa. ia menata ulang tata letak barang yang ada disana. hingga akhirnya ia merasa jenuh lalu pergi kebelakang villa. Elaine menyusuri jalan yang asri dengan pepohonan yang ada di sepanjang jalan.


Elaine berhenti di sebuah tempat seperti taman, ia duduk di salah satu tempat duduk yang ada disana. villa keluarga Elaine terletak di sebuah desa kecil jadi tak terlalu banyak warga yang membuat suasana hiruk pikuk.


"ini untuk kakak cantik" seorang anak kecil menghampiri Elaine memberinya setangkai bunga matahari kecil.

__ADS_1


"terima kasih, siapa namamu cantik?" tanya Elaine seraya menerima bunga matahari itu.


"namaku Rossa kak"


"nama yang cantik seperti orangnya" Elaine nampak menyukai anak kecil ini.


"Rossa dengan siapa" tambah Elaine


"dengan paman tampan" tunjuk Rossa kepada seorang laki laki.


laki laki itu tersenyum lalu bangkit dari duduknya menghampiri Elaine dan Rossa.


"apakah dia pamanmu?" tanya Elaine penasaran


"iya kak, dia pamanku yang sangat tampan" jawabnya polos


Elaine juga mengakui laki laki ini sangat tampan, ada daya tarik tersendiri ketika ia melihatnya. Tubuh tegap dengan rambut hitam membuatnya menawan, ditambah dengan hidung mancung dan mata birunya membuat nya terlihat sangat menarik.


"apa yang aku pikirkan" kata Elaine dalam hati


ia menggelengkan kepala mengingat apa yang ia fikirkan.


"Rossa ayo kita pulang" suara laki laki itu terdengar sexi di telinga Elaine.


" Maaf nona atas kelancangan keponakan saya, perkenalkan saya Derryl" katanya sambil mengulurkan tangan


"Ohh iya saya Elaine"


"senang berkenalan dengan anda nona, kalo boleh tau apakah anda pemilik villa ini?" tanyanya


"Ehh.. Ohh iya ini villa keluarga saya" jawab Elaine sedikit gagap.


"senang bertemu anda nona, saya pamit dulu. Ayo Rossa hampir petang nanti paman kena marah bundamu" ajak Derryl kepada Rossa


"kak lain kali kita main lagi ya" suara Rossa yang imut dengan lambaian tangan nya kepada Elaine.

__ADS_1


Elaine menatap kepergian dua orang yang baru saja berkenalan dengannya. Dia masih memikirkan kekagumannya terhadap sosok Derryl, hingga ia disadarkan dari lamunannya oleh sebuah pesan dari Julia. ia lalu bangkit bergegas kembali ke villa.


__ADS_2