MY CEO IS MY DEAR

MY CEO IS MY DEAR
RENCANA YANG GAGAL


__ADS_3

"Bagaimana hari pertamamu bekerja?" tanya Derryl.


"Semua berjalan lancar, ada Silvi yang mengajariku tadi," jawab Elaine.


"Mau makan dulu atau langsung ke rumah?" Derryl menawarkan.


"Pulang aja ya sayang, aku capek. Emang kamu belum makan ya?" Elaine balik bertanya.


"Sudah, keliatannya kamu lesu jadi aku kira pacarku ini belum makan," jawab Derryl sambil tersenyum.


Derryl memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Esmee. Setibanya mereka di halaman rumah, terlihat Leandre dan Esmee sudah bersiap akan pergi.


"Loh bibi sama paman mau kemana?" Tanya Elaine setelah turun dari mobil.


"Bibi mau ke rumah orang tua pamanmu, ayahnya sakit," jawab Esmee.


"Sakit apa bi?" tanya Elaine.


"Cuma demam sayang, bibi pergi dulu ya. Ajak Derryl masuk dulu sana." perintah Esmee.


"Bibi hati- hati ya." Lambaian tangan Elaine mengiringi kepergian mobil pamannya.


Mereka berdua masuk setelah mobil Leandre meninggalkan halaman rumah. Elaine membersihkan diri dan Derryl menunggu di ruang tamu sendiri.


Pelayan sudah memberikan minuman dan juga makanan ringan untuk Derryl sesuai perintah dari Elaine. Sepuluh menit kemudian Elaine keluar dengan kaos oblong dan celana pendek di atas lututnya.


Di mata Derryl aura kecantikan Elaine bertambah saat melihat wanita itu hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih.


"Hey kenapa ada yang salah?" tanya Elaine melihat Derryl bengong.


"Ngak ada apa - apa, kamu tambah cantik pake kaos kaya gitu," jawab Derryl cekikikan.


"Yaudah besok aku ke kantor pake kaos oblong aja kali ya." ucap Elaine lalu disertai tawanya sendiri.


Derryl hanya geleng - geleng kepala melihat kekasihnya ini mulai bersikap aneh.


"Sayang." panggil Derryl.


"Hem." jawab Elaine yang tengah asik tiduran di pangkuan Derryl.


"Akhir pekan ini kamu mau ngak aku ajak ke rumah?" tanya Derryl ragu.


"Emang ada apa?" tanya Elaine balik


"Aku mau ngenalin kamu ke mama papa." jawaban Derryl membuat Elaine langsung bangkit dan duduk di samping laki - laki itu.


"Yang bener kamu?" tanya Elaine heran.


"Aku serius, kalau kamu ngak keberatan. Tadi pagi aku udah ijin ke paman dan bibi dan mereka memperbolehkan jika kamu mau." jawab Derryl.


"Aku malu, bagaimana nanti jika mereka tidak menyukai aku," ucap Elaine.


"Jangan bicara seperti itu. Intinya sekarang kamu mau atau tidak dulu?" Derryl meminta kepastian.


"Iya sayang aku mau." jawaban Elaine membuat Derryl lega.


Derryl mendapat telfon dari mamanya kemarin. Maryam meminta putra bungsunya itu untuk pulang ke Colmar. Sudah lama Derryl tak pernah berkunjung ke sana setelah dipindah tugaskan ke Paris.


Maryam meminta Derryl pulang akhir pekan ini untuk makan bersama, dia merindukan makan bersama dengan kedua putranya. Sebab itulah Derryl ingin mengajak Elaine, dia juga ingin memperkenalkan kekasihnya itu kepada keluarganya.

__ADS_1


***


Malam berlalu dengan damai, tak terasa sinar mentari pagi sudah menyusup ke dalam kamar Elaine melalui celah tirai.


Elaine yang sudah bangun sejak tadi kini sudah bersiap untuk berangkat bekerja.


"Iya kamu lurus terus aja rumah nomor 17." Jelas Elaine kepada Silvi.


"Oh iya aku tau, tunggu sebentar lagi aku sampai." jawab Silvi.


Hari ini Elaine akan berangkat bersama Silvi karena harus meeting di luar kantor. Elaine juga sudah memberi tahu Derryl akan hal itu, dan Derryl hanya akan menjemputnya sore ini.


"Aku udah sampai." suara Silvi.


"Oke aku turun, tunggu sebentar." jawab Elaine.


Dengan segera Elaine turun dari kamarnya menemui Silvi yang masih berada di halaman.


"Turun dulu yuk." ajak Elaine.


"Ngak usahlah langsung berangkat aja yuk." ajak Silvi.


"Iya deh, Bi aku berangkat dulu ya." pamit Elaine.


"Ngak sarapan dulu?" tanya Esmee.


"Ngak bi, dahh." Elaine melambaikan tangan kepada bibinya.


Mereka melaju menuju hotel tempat mereka akan bertemu klien. Saat mereka tiba di hotel, lagi - lagi Elaine yang menjadi sorotan. Pandangan itu membuat Eliane tidak nyaman, tapi membuat Silvi menjadi sangat kepedean.


"Mana Sil ko bos belum dateng si?" tanya Elaine.


"Ngak tau tuh, tunggu aja disana yuk bentar lagi juga dating." ajak Silvi.


"Selamat pagi Nona Silvi." sapa seorang laki - laki.


"Selamat pagi Pak Bryan, silahkan duduk Pak." Silvi mempersilahkan.


"Loh siapa wanita cantik ini?" tanya Briyant.


"Cantik dari mananya si, kan cantikan juga aku." batin Silvi tidak suka.


"Oh dia sekretaris baru Bos kami Pak namanya Elaine." Silvi memperkenalkan Elaine.


"Elaine," ucap Elaine sambil menjabat tangan Bryant.


"Oh saya Briyant pemilik hotel ini, silahkan pesan apa saja jangan sungkan - sungkan. Semua makanan disinigratis untuk wanita secantik kamu." Canda Bryant yang terdengar seperti rayuan dari hidung belang di telinga Elaine.


"Bapak bisa aja," saut Silvi.


"Kita mulai rapatnya sekarang saja ya, saya ada acara setelah ini soalnya." tutur Bryant.


"Disini atau di atas Pak?" tanya Silvi.


"Di ataslah disini tidak enak untuk membicarakan pekerjaan." jawab Bryant.


Elaine yang tidak mengerti apa - apa hanya manggut - manggut saja. Silvi berjalan mengikuti Bryant disusul dengan Elaine di belakangnya.


Mereka masuk ke dalam lift untuk sampai di lantai lima, dimana kamar presidential suite milik Bryant berada. Sebenarnya Elaine merasa aneh karena meeting kali ini dilakukan di dalam kamar pribadi, tapi karena ada Silvi dia berusaha menepis pikirannya itu.

__ADS_1


"Ayo silahkan masuk." Bryant mempersilahkan Silvi dan juga Elaine.


Saat masuk Elaine merasa takjub dengan kamar itu, itu terlihat seperti rumah dalam satu ruangan. Fasilitasnya sangat lengkap dam mewah. Dengan dinding putih dan bertabur lampu gold menambah kesan mewah pada ruangan itu.


"Wah." suara Elaine takjub tapi terdengar oleh Bryan dan juga Silvi.


"Kamu suka dengan kamar ini?" tanya Briyant kepada Elaine.


"Iya Pak, ini sungguh elegant." jawab Elaine polos.


"Kalau kamu suka kamu boleh tidur disini." jawaban dari Bryant membuat senyum Elaine menghilang seketika.


Mereka akhirnya duduk di sofa yang tatanannya terlihat seperti ruang tamu. Mata Bryant tak pernah lepas dari Elaine, tatapannya terlihat seperti mendambakan wanita itu.


Setelah perbincangan mereka selama 10 menit tiba - tiba Silvi ijin keluar sebentar mengambil berkas yang tertinggal di dalam mobil.


"Maaf Pak, saya harus turun sebentar ada berkas yang tertinggal di dalam mobil," ucap Silvi.


"Oh iya tidak apa – apa." jawab Bryant sumpringah.


"Aku ikut ya Sil," ucap Elaine yang merasa takut.


"Mending ngak usah deh, nanti kalau si Bos dateng aku ngak ada terus kamu ngak ada gimana? Aku cuma sebentar ko." tanpa menunggu jawaban Elaine Silvi langsung keluar dari kamar yang sangat luas itu.


Sepeninggalan Silvi hanya hening yang tercipta diantara Elaine dan juga Bryant. Elaine terkejut saat Bryant bangun dan mendekatinya.


"Gerah banget ya." suara Bryant dengan tangan yang sudah membuka satu persatu kancing kemejanya.


"Bapak mau apa?" tanya Elaineyang merasa ada yang aneh dengan sikap Bryant.


Di parkiran Silvi bertemu dengan Abelano.


"Kamu udah datang ?" tanya Abelano


"Iya Bos saya baru dateng, mau masuk lift eh keinget berkasnya ketinggal, ini baru saya ambil." jawab Silvi.


"Kamu ngak bareng Elaine?" tanya Abelano.


"Eh enggak Bos." jawab Silvi gugup


"Oh yaudah nanti mungkin dia nyusul." ucap Abelano sambil melangkahkan kaki jenjangnya.


"Haduh ko si bos udah dateng si, bisa gagal nih rencana aku." batin Silvi.


Tanpa menunggu Silvi, Abelano pergi ke ruang rapat yang telah disepakati mereka. Abelano langsung memasangkan kartu akses yang ada ditangannya untuk membuka pintu kamar hotel itu.


Wajah Abelano sangat terkejut saat pintu terbuka dan memperlihatkan Elaine yang sedang berusaha melawan Bryant.


"Bryant." Bentak Abelano.


"Apa - apaan ini. Kamu mau melecehkan sekretaris saya. Kita batalkan saja proyek ini."


Dengan amarahnya Abelano menarik tangan Elaine, membawa wanita itu keluar. Di dalam lift Abelano membatu Elaine menghapus air matanya.


"Ko rencananya gagal gini si Pak," ucap Silvi geram.


"Kamu yang salah, kenapa Bos kamu datang lebih awal." jawab Bryant dengan kemeja yang terbuka.


Elaine bersyukur Abelano datang tepat waktu sebelum laki - laki perut buncit itu melakukan hal yang buruk kepadanya. Beruntung Elaine bisa melawan saat Bryant berusaha mendekatinya.

__ADS_1


"Udah terlanjur terbuka kamu harus bertanggung jawab." ucap Bryant menarik Silvi.


Akhirnya Silvi yang menggantikan Elaine, dia yang membuat rencana dia juga yang menyelesaikannya.


__ADS_2