MY CEO IS MY DEAR

MY CEO IS MY DEAR
MAKAN MALAM


__ADS_3

"Elaine, kamu mandi aja dulu. Nanti biar Bi Mori yang menunggu bolunya matang." Maryam menyuruh Elaine untuk membersihkan dirinya, karena memang waktu sudah menjelang petang.


"Iya Mom. Elaine ke atas dulu, mari Kak Siera." Elaine meninggalkan Maryam dengan Siera berdua di dapur. Siera belum meninggalkan dapur karena dia masih ingin mencari - cari perhatian dari Maryam.


"Ditinggal aja Mom, nanti biar Siera yang menunggu bolunya matang," ucap Siera yang masih berusaha mencari perhatian dari Maryam.


"Ngak ah, nanti yang ada jadi gosong bolunya. Udah kamu mandi aja Siera, nanti biar Bi Mori yang membereskan semuanya." Kata - kata yang Maryam lontarkan terasa menusuk ke dalam dada Siera. Ada sedikit rasa cemburu pada dirinya dengan Elaine.


"Yaudah Else tinggal dulu ya Mom." Siera mulai melangkahkan kakinya meninggalkan dapur dan juga Maryam.


"Bi Mori, nanti kalau ovennya sudah bunyi di keluarkan ya bolunya. Saya mau ke atas dulu." Pesan Maryam kepada Bi Mori yang sedang memasak menu makan malam.


"Siap Nya." Jawab Bi Mori dengan tangan hormat layaknya polisi.


"Bibi makin lucu aja si." Maryam tertawa melihat tingkah pelayannya itu. Bi Mori memang orang yang sangat ceria dan juga lucu. Dia sudah mengabdi di keluarga Cusion sejak Robert masih bayi. Bi Mori adalah seorang janda, suaminya meninggal karena kecelakaan kereta. Bi Mori saat itu juga belum dikaruniahi seorang anak, hingga dia bertemu Elga. Dengan kemurahan hati Elga ibunda Robert, Bi Mori diajak tinggal dirumahnya


Elga memperlakukan Bi Mori layaknya seorang ibunya sendiri. Kebaikan hati Elga membuat Bi Mori tidak mau menerima bayaran sedikitpun darinya. Bagi Bi Mori merawat Robert sudah seperti merawat anaknya sendiri. Elga memberikan fasilitas yang cukup banyak untuk Bi Mori.


Hingga pada suatu hari terjadisebuah kecelakaan yang tak terduga. Mobil yang Cusion kendarai kehilangan kendali, hingga mobil itu akhirnya menabrak sebuah pohon besar. Setelah menabrak pohon, mobil itu terpental dan terguling ke sebuah jurang yang tidak terlalu dalam. Elga dan Cusion meninggal dalam kecelakaan tunggal itu. Beruntung Bi Mori dan Robert kecil masih diberi keselamatan oleh Tuhan.


"Bagaimana dengan rencana kita?" Wajah Siera sudah mulai kesal.


"Kamu tenanglah, semua sudah aku atur. Kita jalankan misi ini dengan perlahan agar tidak terlalu terlihat." Jerry dengan santai menjawab pertanyaan dari Siera.

__ADS_1


"Aku tidak suka melihat kedekatan Elaine dengan momy. Baru sehari dia bertemu momy, tapi dia sudah seperti malaikat di mata momy." Else mendengus dengan kasar. Selama ini Else tidak pernah banyak berbincang dengan Maryam. Dia lebih mementingkan bisnisnya dari pada harus belajar di dapur.


Siera menjadi wanita karir hingga dia lupa dengan kodratnya sebagai seorang wanita. Karena sangat menggilai bisnis, Siera sampai tidak punya keinginan untuk mempunyai seorang anak.


Maryam bahkan sudah beberapa kali mengatakan kepada Siera, tapi hasilnya nihil. Bagi Siera, yang terpenting sekarang adalah karir, bukan sebuah keluarga yang dihadiri seorang bayi.


"Kamu sebaiknya pengaruhi Dady, Sayang. Yakinkan Dady kalau Derryl bukanlah orang yang tepat untuk menduduki kursi presdir." Siera berusaha menekan Jerry agar mau menuruti rencananya yang sudah ia siapkan.


"Kita jangan bertindak gegabah. Aku tidak mau nantinya mereka justru akan mencurigai kita. Bahkan momy sampai sekarang belum mengetahui jika Derryl menjadi seorang sherif karena hasutanku." Wajah Jerry masih saja datar tidak memperlihatkan ketegangannya sama sekali.


Malam telah tiba, semua orang telah duduk di kursi masing - masing untuk makan malam bersama. Siera memandangi Maryam dan Elaine yang sedari tadi asyik berbincang berdua.


"Elaine emangnya kamu kerja apa?" tanya Siera tiba - tiba.


Gadis ini sungguh di kelilingi oleh orang - orang yang bukan sembarangan. Sial, semuanya akan rumit jika seperti ini. Batin Jerry yang masih saja memperhatikan wajah manis Elaine.


"Wah, kamu hebat ya bisa menjadi sekertaris di perusahaan sebesar Valeo Corp's." Dengan terpaksa Siera mengatakan hal itu.


"Momy semakin sayang sama kamu. Tidak hanya cantik, kamu pintar di dapur dan juga pintar dalam dunia bisnis. Pilihan Derryl memang tidak salah lagi." Ucapan Maryam membuat wajah Elaine merona karena malu. Bagi Elaine, Maryam seharusnya tidak perlu mengatakan hal itu.


Elaine yakin Siera tidak nyaman mendengar apa yang baru saja Maryam katakan. Dari sorot mata Siera saja sudah terbaca, dia tidak suka dengan suasana ini.


"Iya dong Mom, pilihan Derryl memang selalu yang terbaik." Senyum yang terkesan mengejek Derryl tujukan untuk sepasang kakaknya.

__ADS_1


"Sepertinya Dady harus segera meminta ijin ke Leandre untuk segera melamar," ucap Robert yang disertai tawa - tawa kecilnya.


"Dady mau melamar Elaine?" Maryam pura - pura merajuk. Dia memanyunkan bibirnya ke depan dengan ekspresi layaknya anak remaja.


"Ngak dong Sayang. Hanya kamu yang aku lamar dalam hidupku ini. Sekarang tinggal aku yang melamarkan seorang wanita untuk putra bungsu kita." Robert menghampiri Maryam dan memeluknya dari belakang kursi yang diduduki Maryam.


"Kamu juga akan menjadi satu - satunya orang yang melamar aku dalam hidupku ini," ucap Maryam dengan tangan yang membelai lembut punggung tanggab Robert.


"Dady, tolong hentikan. Derryl dan Elaine masih di bawa umur." Protes Derryl yang disertai dengan tawa semua orang yang ada dimeja makan.


Mereka satu meninggalkan meja majan secara bersamaan. Keluarga baru Elaine ini sekarang berkumpul di ruang keluarga. Ruangan yang luas itu hanya memiliki satu set sofa, televisi, dan aquarium sebagai hiasa disana.


"Derryl setelah kamu kembali ke Paris nanti, segeralah ajukan surat pengunduran dirimu. Dady mau kamu segera fokus dengan dunia bisnis, lalu setelah itu fokus untuk menjalani kehidupan bersama Elaine." Lagi - lagi Robert menggoda putra bungsunya itu.


"Aku tidak sependapat dengan Dady. Aku ingin menfokuskan diriku ke dalam dunia bisnis setelah Elaine sudah resmi menyandang gelar sebagai istriku." Jawaban yang Derryl ucapkan membuat Elaine rasanya seperti tersedak. Dia terbatuk - batuk hingga membuat Maryam tidak tega namun juga terkekeh. Maryam dengan lembut membelai punggung Elaine.


"Kamu ngak apa - apa kan Sayang?" tanya Maryam.


"Tidak Mom, aku baik - baik saja," jawab Elaine yang merasa malu.


"Apa tidak sebaiknya Derryl kita tempatkan di bagain tertentu dulu Dad. Bukankah dia terlalu awam untuk menjadi seorang presdir?" Derryl mulai tau arah pembicaraan Jerry.


"Bagaimana Derryl, menurut Dady kamu pasti mampu untuk menjalankannya. Semangat yang kamu miliki sudah cukup membuat Dady percaya denganmu Derryl." Kata - kata yang baru saja Robert katakan sangat tidak enak tersengar oleh telinga Jerry. Dia tidak mau dengan semudah itu Derryl memperoleh kursi presdir yang dulu sempat Jerry impikan.

__ADS_1


Lihatlah, aku akan memberimu sebuah permulaan pertunjukan yang apik. Tunggulah saja. Batin Jerry


__ADS_2