MY CEO IS MY DEAR

MY CEO IS MY DEAR
IBU TIRI


__ADS_3

“Tenanglah Sayang, jangan panik.” Derryl mencoba menenangkan Elaine yang terus saja panik memikirkan Bi Hannah.


“Bagaimana mungkin aku tidak khawatir, Bibi Hannah tinggal seorang diri disana,” ucap Elaine dengan nada panik.


Tiba – tiba Elaine teringat akan mimpinya semalam, di bertemu Bibi Hannah di dalam mimpinya.


“Semalam aku bermimpi dengan Bibi Hannah,” ucap Elaine kemudian.


“Mimpi seperti apa?” tanya Derryl penasaran.


“Aku tidak ingat dengan jelas, tapi aku sangat yakin dimimpi itu aku memanggil Bibi Hannah dengan ibu. Dan dia memelukku dan menangis di saat kami masih berpelukan.” Elaine menceritakan mimpi yang dia alami bersama Bibi Hannah semalam.


“Lalu apa maksud dari mimpimun itu?” pertanyaan yang Derryl ajukan terasa tidak masuk akal bagi Elaine. Dia bukanlah peramal tapi derryl menanyakan hal yang aneh padanya.


“Aku bukan ahli penerjemah mimpi.” Setelah jawaban yang Elaine berikan itu, mobil menjadi hening. Derryl hanya diam karena dia tahu Elaine masih panik. Sedangkan Elaine dia masih memikirkan bagaimana keadaan Bibi Hannah sekarang.


Derryl memacu mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, hingga kurang dari satu jam mereka sudah tiba di rumah Bibi Hannah. Setelah mobil terparkir di halaman rumah, Elaine langsung turun tanpa menunggu Derryl.


“Bibi,” panggil Elaine.


“Bi,” panggil Elaine lagi.


“Mungkin dia tidur,” ucap Derryl yang sudah berdiri di samping Elaine.


“Pintunya tidak dikunci, kita masuk saja.” Elaine mengajak Derryl untuk masuk, karena dia tidak mendapat jawaban dari Bibi Hannah.


“Bi,” panggil Elaine tapi tak juga mendapat jawaban. Mata Elaine tertuju pada pintu kamar Bibi Hannah yang terbuka.


“Bi,” panggil Elaine saat masuk ke dalam kamar Bibi Hannah.


“Elaine,” suara Bibi Hannah lirih namun dapat Elaine dengar.


“Iya Bi, ini Elaine.” Elaine mendekati Bibi Hannah.


“Bibi sudah tidak apa – apa Elaine, Bibi hanya baru tertidur setelah meminum obat,” ucap Bibi Hannah.


Elaine memegang dahi Bi Hannah, dan memang sudah tidak panas lagi seperti yang Evrard katakan dalam pesannya. Bi Hannah bangun dan duduk di tepi tempat tidur tepat di sebelah Elaine.


“Bibi tidur saja.” Elaine khawatir dengan keadaan Bibi Hannah.


“Bibi sudah tidak apa – apa Elaine.” Bibi Hannah mencoba untuk meyakinkan Elaine.


“Kamu kemari bersama siapa?” tanya Bibi Hannah yang sedari tadi melihat Elaine hanya seorang diri.


“Bersama Derryl Bi, saat Evrard menelfonku aku masih di rumah Derryl tadi.” Elaine menjelaskan.


“Keluarga Derryl sangat baik padaku Bi, dia menerimaku dengan sangat baik. Dan ternyata Dadynya Derryl adalah rekan bisnis paman Leandre.” Elaine bercerita kepada Bibi Hannah.


“Elaine,” panggil Derryl saat membuka pintu kamar Bibi Hannah.

__ADS_1


“Masuklah Derryl.” Bibi Hannah mempersilahkan kepada Derryl.


“Maaf Bi, saya tidak sopan ikut masuk.” Derryl merasa tidak enak telah mengintip mereka.


“Tidak apa – apa Ril, Bibi tidak berfikir seperti itu. Kalau kamu merasa tidak nyaman disini, mari kita ke ruang tamu saja.” Bibi Hannah mengajak mereka untuk ke ruang tamu.


Di Paris, Esmee yang baru saja membuka ponselnya terkejut melihat banyaknya panggilan yang tidak terjawab dari Elaine. Keterkejutannya bertambah kala dia membuka pesan yang dikirimkan oleh Elaine.


“Sayang, Sayang,” panggil Esmee kepada Leandre.


“Ada apa Sayang?” Leandre menghampiri Esmee yang terlihat sibuk dengan ponselnya.


“Elaine sedang di Strasbourg sekarang,” ucap Esmee singkat.


“Loh, bukannya dia di kediaman orang tua Derryl.” Leandre terlihat mengerutkan dahinya, pertanyaannya tidak mendapat respin dari sang istri yang terus saja sibuk dengan ponselnya.


“Hallo, Elaine. Bagaimana keadaan Bibi Hannah?” tanya Esmee saat Elaine mengangkat telfonnya.


“……”


“Oh, syukurlah. Jadi kamu mau menginap disana?” tanya Esmee lagi.


“…..”


“Baiklah nanti Bibi sampaikan, salam untuk Bibi Hannah ya. Semoga lekas sembuh.” Esmee mengakhiri penggilannya dengan Elaine. Leandre yang sedari tadi hanya memperhatikan Esmee menatap dengan penuh tanya.


“Bibi Hannah sakit, tapi sekarang sudah membaik. Dan kata Elaine dia akan menginap disana malam ini, dia memintamu untuk memintakan ijin kepada Abelano karena dia besok akan cuti.” Esmee memberikan penjelasan kepada suaminya.


“Ihh kan semalam udah.” Cebik Esmee.


“Mau lagi.” Leandre meluncurkan aksinya, bergerilya hingga pelu membasahi tubuh mereka berdua.


***


“Elaine, kamu buatkan minum untuk Derryl sana.” Perintah Bibi Hannah kepada Elaine.


“Ngak usah Bi, nanti kita keluar aja sekalian beli makan.” Tukas Derryl.


“Iya Bi, Derryl benar nanti kita keluar sekalian beli makan aja.” Elaine menambahkan.


Mereka berbicang dan saling bercerita, tapi Elainelah disana yang paling banyak bicara. Hingga waktu makan siang setengah jam lagi, Elaine dan juga Derryl membeli makanan di tempat langganan Bibi Hannah.


“Bibi, aku membelikan cassoulet kesukaan Bibi.” Elaine datang bersama Derryl membawa makanan dan juga snack yang telah Elaine beli di supermarket.


Satu persatu makanan telah mereka santap, kini hanya menyisahkan piring kosong di hadapan mereka.


“Bibi lupa obatnya, sebentar ya,” ucap Bibi Hannah seraya bangun dari kursi.


“Tunggu Bi, biar aku saja yang mengambilnya. Bibi duduk saja disini.” Elaine menghampiri Bi Hannah dan menyuruhnya untuk duduk kembali. Setelah beberapa langkah, suara Bibi Hannah menghentikan langkah Elaine.

__ADS_1


“Tunggu Elaine,”


“Emangnya kamu tahu dimana obatnya?” tanya Bibi Hannah cekikikan diikuti dengan tawa Derryl.


“Eh iya Bi, aku lupa.” Wajah Elaine nyengir kuda dengan tangan yang menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Kamu ini kebiasaan, ada di dalam laci nakas. Ambil semua ya ada tiga macam.” Jelas Bibi Hannah.


“Oke Bi.” Elaine kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar Bibi Hannah. Dia membuka laci nakas, mengambil obat yang ada di dalam sana.


Saat Elaine hendak menutup laci, tangannya terhenti saat melihat sebuah pas foto berukuran kecil ada di dalam sana. Elaine mengambilnya dari dalam nakas dan menatap foto itu lekat – lekat. Di pas foto tersebut ada foto Bibi Hannah dengan seorang laki – laki yang terlihat sangat familiar bagi Elaine.


“Bukankah ini ayah,” guman Elaine.


Pelupuk mata Elaine terasa sangat panas, hingga cairan bening itu tak lagi dapat terbendung dan membasahi pipi Elaine. Hatinya bergemuruh melihat orang yang ada di pas foto tersebut adalah adalah ayahnya bersama Bibi Hannah.


“Kenapa Elaine lama sekali?” guman Bibi Hannah.


“Derryl, Bibi susul Elaine dulu ya. Jangan – jangan dia tidak tahu letak obatnya,” ucap Bibi Hannah dengan senyum mengejek.


“Iya Bi,” jawab Derryl.


Bibi Hannah menghampiri Elaine yang ada di kamar miliknya. Dia mendapati Elaine yang masih berdiri dengan memegang sebuah bingkai foto yang sudah basah karena air matanya.


“Elaine,” panggil Bibi Hannah yang tidak mendapat respon dari Elaine.


“Elaine, kamu –“ kata – kata Bibi Hannah terpotong karena tiba – tiba Elaine berhamburan ke pelukannya. Dia menangis disana dengan memanggil – manggil ayahnya.


“Ayah, Ayah.” Panggil Elaine dalam tangisnya.


“Bersabarlah Elaine, jika ayahmu masih hidup kalian pasti akan dipertemukan kembali," ucap Bibi Hannah dengan mengelus punggung Elaine.


“Bi, siapa laki – laki yang bersama Bibi difoto ini?” tanya Elaine dengan sesenggukan.


“Bukannya Bibi sudah pernah bercerita kepadamu, dia Damitri mendiang suami Bibi,” jawab Bibi Hannah.


“Dia William Bi, ayahku yang –“ Elsinr tidak melanjutkan kata – katanya, tangisnya pecah seketika dikuti dengan wajah syok Bibi Hannah.


“Elaine, kamu tidak salah?” tanya Bibi Hannah yang masih syok.


“Tidak Bi, aku yakin sekali dia adalah ayah,” jawab Elaine.


Kaki Bibi Hannah tiba – tiba merasa lemas, dia duduk di tepi tempat tidur. Dia tidak menyangka jika gadis yang selama ini sudah dia anggap seperti putrinya sendiri ternyata memang putri tirinya, anak dari mendiang suaminya.


“Elaine, maafkan Bibi,” ucap Bibi Hannah lirih dengan tatapannya yang kosong.


“Ini bukan salah Bibi.” Elaine memeluk Bibi Hannah dengan erat.


“Seandainya dari dulu Bibi tunjukkan foto ini kepadamu.” Nada suara Bibi Hannah terdengar sangat sendu.

__ADS_1


“Aku akan memanggil Bibi dengan panggilan ibu dari dulu.” Tukas Elaine.


__ADS_2