MY CEO IS MY DEAR

MY CEO IS MY DEAR
MENATAP DARI DEKAT


__ADS_3

Elaine bangun awal hari ini, ia dengan tegar mempersiapkan hati untuk pergi ke kota kelahirannya. Elaine pergi kerumah bibi Hannah untuk berpamitan.


"bibi aku akan pergi"


"iya, sampaikan salam bibi untuk bibi Esmee mu."


"iya bibi"


"dan jangan lupa makan ini" ucap bibi Hannah sambil memberikan kotak berisi banyak makanan buatannya.


"yang ini aku pastikan tidak lupa bibi" jawab Elaine sambil tertawa.


"apakah kita berangkat sekarang?" suara Evrard mengejutkan Elaine.


"kamuu..??" tanya Elaine keheranan disertai tawa bibi Hannah


"pasti bibi yang menyuruhnya" batin Elaine


"pergilah Evrard akan mengantarkanmu ke stasiun"


"dengan senang hati mengantar tuan putri kemanapun" goda Evrard.


" Oohh baiklah, aku pergi dulu bibi"


"jaga dia Evrard" teriak bibi Hannah


mereka menuju stasiun dengan motor Evrard. di sepanjang perjalanan mereka hanya sesekali bercanda.


"berapa lama kau akan pergi ?" tanya Evrard


"sepekan, jangan merindu" canda Elaine


"mana bisa aku tidak merindukan mu?"

__ADS_1


"ahaha.. merindulah sesukamu"


"aku tidak bercanda, aku menyukaimu"


"jangan menggodaku, perhatikan jalannya" protes Elaine.


Elaine yang sudah akrab dengan Evrard tidak begitu menganggap serius ucapannya. ia pikir Evrard hanya main main dengan ucapannya.


Setelah menempuh setengah jam perjalanan mereka tiba di stasiun.


"pukul berapa keberangkatanmu?" tanya Evrard


"pukul 9"


"masih ada waktu, kita makan dulu" ajak Evrard menarik tangan Elaine.


Elaine berjalan tidak memperhatikan sekitar hingga tidak sengaja menabrak seseorang.


"Elaine" suaranya lirih tapi terdengar oleh Elaine


"sekali lagi maafkan saya Tuan"


"iya nona tidak apa apa"


mereka kembali berjalan mencari tempat makan yang ada di dekat stasiun.


"kau tidak apa apa?" tanya Evrard memastikan


"tidak, hanya saja laki laki tadi menyebut namaku, aku mendengarnya jelas" jawab Elaine keheranan


"apa kau mengenalinya?"


"tidak aku sama sekali tak mengenalinya"

__ADS_1


"sudahlah mungkin itu kebetulan"


mereka melanjutkan makan dengan segera tidak ingin Elaine tertinggal kereta. Kereta tiba, saatnya Elaine pergi menuju kota kelahirannya, kota yang menyimpang kenangan buruk akan kisah percintaanya.


"PARIS..aku datang kembali" desirnya dalam hati.


Ealine duduk bersebelah dengan seorang laki laki, di depannya ada seorang ibu dan anak perempuannya yang manis. Elaine memperhatikan mereka bercengkrama dan bergurau begitu akrabnya. Elaine teringat akan mendiang ibunya, ia merindukan kehadiran sosok ibunya.


kini Elaine memilih memperhagikan pemandangan dari balik jendela, tidak banyak yang berubah sejak kepergiannya. Elaine memejamkan mata menenggelamkan diri dalam fikiranya, hingga ia tak sadar sudah mulai terlelap.


"nona.. nona.." panggil seseorang mengejutkan Elaine.


"ini dompet anda terjatuh" tambahnya ramah.


"ohh terima kasih Tuan"


"berhati hatilah dengan barang anda di dalam kereta nona"


"iya Tuan" jawab Elaine dengan ekspresi menahan malu.


Laki laki yang duduk disebelah Elaine sudah memperhatikannya sejak ia saat terlelap tadi. Dia menatap Elaine kagum, dia bersyukur wanita yang dipandanginya ini tidak menyadari dialah laki laki yang ia tabrak tadi.


"kemana tujuan anda nona? "


" Paris Tuan, bagaimana dengan anda?"


"tujuan kita sama, saya juga akan ke Paris"


"dan perkenalkan saya Abelano" tambah nya sambil mengulurkan tangan.


"ohh saya Elaine, senang berkenalan dengan anda Tuan"


Sepanjang perjalanan mereka bercerita dan sesekali bergurau. Abelano dengan seksama menatap Elaine, dalam hati ia sangat bahagia. pemilik sepasang mata orange yang selama ini hanya bisa memperhatikan Elaine dari jauh, kini ia bisa bercengkrama dengannya.

__ADS_1


__ADS_2