
Semua orang telah masuk ke dalam kamar mereka masing – masing tak terkecuali Elaine. Dia masuk ke dalam kamar tamu yang telah disiapkan oleh Bi Mori. Elaine merebahkan tubuhnya, menikmati lembutnya seprei merah muda yang baru saja diganti sore tadi.
Elaine memeriksa ponselnya, dia memberikan kabar kepada Esmee karena dia tahu bibinya itu pasti khawatir. Elaine juga mengirimkan pesan singkat kepada Bibi Hannah, sudah lama dia tidak memberikan kabar kepada Bibi Hannah.
Bibi apa kabar? Elaine sedang di rumah orang tua Derryl sekarang Bi. Mereka sangat ramah dan baik kepada Elaine, membuat aku merasa sangat bahagia bisa diterima dengan baik di keluarga ini. Isi pesan singkat yang Elaine kirimkan kepada Bibi Hannah.
Elaine meletakkan ponselnya di atas nakas setelah mengirimkan pesan itu. Dia membungkus tubuhnya dengan selimut yang juga berwarna merah muda senada dengan sepreinya. Baru sebentar Elaine memejamkan matanya, dia mendengar suara langkah kaki mendekat ke kamarnya.
Elaine langsung memejamkan matanya, dan menutup wajahnya dengan selimut. Elaine tidak tahu pasti apakah dia sudah mengunci pintu kamar itu atau belum. Suara langkah kaki itu semakin terdengar jelas, dan semakin mendekat ke arah pintu kamar Elaine.
Krek..
Pintu kamar Elaine terbuka, namun sepertinya ditutup kembali. Elaine masih bersembunyi di balik selimutnya, dia tidak berani untuk membuka untuk melihat siapa yang datang. Orang yang baru saja masuk ke kamar Elaine mendekatinya, dia naik ke atas tempat tidur membuat Elaine ketakutan.
Ya Tuhan, lindungi aku. Kumohon. Doa Elaine dalam hatinya.
Elaine merasa ada sebuah tangan yang memegang bahunya, tangan itu besar dan kekar seperti tangan seorang laki – laki.
“Wahh..” teriak Elaine saat selimut itu dibuka.
“Diamlah ini aku,” ucap Derryl membungkam tangan Elaine dengan tangannya.
“Kamu, ngapain kesini?” tanya Elaine dengan wajah yang masih terlihat ketakutan.
“Jangan keras – keras, udah tidur aja, aku kangen pengen peluk kamu.” Derryl membaringkan Elaine kembali, wajah wanita itu masih bingung seperti orang yang baru sadar dari pingsan.
“Tidurlah, aku akan memelukmu seperti ini,” bisik Derryl di telinga Elaine, seraya memeluk tubuh Elaine dari belakang.
Elaine mulai memejamkan mata, tidur dalam pelukan hangat laki – laki yang dia cintai. Derrypun ikut tertidur dengan pulas sambil memeluk tubuh ramping kekasihnya. Sedangkan Jerry, dia masih sibuk menyusun rencana untuk menyingkirkan Derryl dari perusahaan. Dia terlihat sedang menelfon seseorang yang dikenalnya.
“Hubungi dia segera, aku ingin segera melanjutkan misi ini,” ucap Jerry dengan wajah liciknya.
Jerry sedang mengumpulkan kekuatan untuk menyingkirkan Derryl. Jerry berfikir dulu dia salah telah mengirim Derryl menjadi seorang sherif, sehingga sekarang dia kesusahan untuk mengalahkannya. Karena Derryl pasti sudah menjadi laki – laki yang terlatih, dan kekuatan akan kelompoknya pasti lebih kuat.
Malam telah berlalu, matahari pagi sudah bersinar menembus celah – celah rumah dan pepohonan. Wangi masakan masuk ke dalam kamar Elaine, membuat wanita itu terbangun. Elaine sempat terkejut saat ada tangan kekar yang memeluknya, dia lupa jika malam ini dia tidur dalam pelukan Derryl.
Derryl mengerjap – ngerjapkan matanya karena merasa ada tangan yang membelai pipinya. Dan ternyata memang benar, Elainelah yang tengah asyik membelai wajah Derryl.
“Selamat pagi Sayang,” ucap Elaine saat Derryl membuka matanya.
“Selamat pagi.” Derryl mencium kening Elaine dengan penuh cinta.
“Bagaimana jika nanti ada yang melihat kamu keluar dari kamar ini?” pertanyaan itu meluncur seketika dari mulut Elaine.
__ADS_1
“Tidak apa – apa, aku sudah siap jika harus pergi ke pencatatan sipil besok juga.” Jawaban yang Derryl berikan membuat Elaine membulatkan kedua matanya.
“Aku malu dengan Dady dan juga yang lain,” jawab Elaine dengan wajah kesalnya.
“Kamu kalau marah tambah cantik.” Derryl mencubit hidung mencung Elaine dengan manja.
“Jangan membuatku terpancing untuk melakukan hal yang lebih,” bisik Derryl ke telinga Elaine hingga membuatnya menggeliat.
“Dasar.” Elaine mencebikkan bibirnya.
“Kembalilah ke kamarmu sebelum semua orang keluar dari kamar mereka,” ucap Elaine dengan sedikit kesal.
“Tenanglah Sayang, aku sungguh sudah siap jika harus membawamu ke kantor pencatatan sipil sekarang juga,” jawab Derryl menggoda Elaine.
“Cepatlah.” Elaine mendorong tubuh Derryl agar laki – laki itu mau keluar dari kamarnya.
Dengan patuh Derryl turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu. Saat pintu terbuka, nampak Robert berdiri tak jauh dari pintu kamar, dia terlihat sedang menelfon seseorang.
“Dad,” sapa Derryl dengan wajah yang nyengir kuda.
“Kamar kamu pindah kesini Der,” ucap Robert menggoda putra bungsunya.
“Emm, itu enggak Dad. Derryl enggak-“ kata – kata Derryl dipotong oleh Robert.
“Derryl ke atas dulu Dad.” Derryl kembali ke kamarnya yang ada di lantai dua dengan wajah yang masih nyengir karena malu. Dia seperti seorang maling yang tertangkap basah oleh pemilik rumah.
Elaine membersihkan dirinya, dia mengenakan blouse toska dengan tali pinggang berwarna putih. Rambut Elaine diikat ke atas hingga menampakkan leher indahnya. Elaine keluar dari kamar, dan ternyata di ruang makan semua orang sudah menunggu kecuali Jerry. Laki – laki itu belum terlihat di meja makan.
“Kamu pakai baju siapa Elaine?” pertanyaan yang Maryam ajukan membuat Elaine gugup.
“Em, ini bajuku Mom.” Jawab Elaine dengan ragu.
“Dia sengaja membawa baju Mom, karena perjalanan dari Paris ke Colmar bukanlah waktu yang sebentar.” Derryl menambahkan karena Elaine terlihat gugup.
“Oh jadi sebenarnya Derryl yang tidak mau menginap disini?” Maryam memberikan tatapan tajam ke arah Derryl.
“Sudahlah Sayang, yang penting merekakan udah tidur bersama.” Ucapan Robert membuat Elaine tersedak.
“Kamu ngak apa – apa Elaine?” tanya Maryam.
“Em tidak Mom, aku tidak apa – apa,” jawab Elaine.
“Minumlah.” Derryl memberikan segelas air untu Elaine.
__ADS_1
Tiba – tiba Jerry turun dan ikut duduk di meja makan. Kursi sudah terisi penuh dan mereka melanjutkan sarapan mereka dengan tenang. Mereka sedikit berbincang di meja makan setelah makanan mereka habis.
“Sepertinya ponselmu berbunyi Elaine,” ucap Siera yang memandang ke arah kamar tamu.
“Oh iya, masih aku charger tadi Kak.” Elaine segera bangkit dan masuk ke dalam kamarnya.
Elaine mengambil ponselnya, dia melihat nama Bibi Hannah tertera dilayar ponsel miliknya.
“Hallo Bi,” sapa Elaine.
“Elaine, ini aku Evrard,” jawab Evrard.
“Inikan ponsel Bibi Hannah, kenapa kamu yang bawa?” pertanyaan itu Elaine lontarkan tiba – tiba.
“Bibi Hannah sakit, tapi sekarang dia sudah di rumah karena dia tidak mau dirawat di rumah sakit. Ponselku tidak terbawa, dan ponsel Bi Hannah tadi juga tertinggal dikamarnya.” Evrard memberikan penjelasan.
“Lalu dimana Bibi sekarang?” tanya Elaine yang mulai khawatir.
“Dia sekarang bersamaku di kamarnya, tapi aku sebentar lagi harus pergi karena harus melakukan pengiriman bersama ayahku.” Tanpa menjawabnya Elaine mematikan sambungan telfon. Dia meletakkan kembali ponselnya diatas nakas lalu keluar nememui Derryl.
“Ada yang perlu aku bicarakan,” bisik Elaine di telinga Derryl.
“Ada apa Elaine?” tanya Robert yang menyadari perubahan pada wajah Elaine.
“Tidak Dad, tidak ada apa – apa,” jawab Elaine ragu.
“Katakan saja disini Elaine, kita ini keluarga,” tambah Maryam.
“Emm, itu Mom, Bibiku yang ada di Strasbourg sedang sakit sekarang. Dan aku ingin menjenguknya, karena dia hidup sebatang kara tanpa adanya satupun saudara.” Elaine menjelaskan dengan wajah yang masih saja panik.
“Apa Bibi sakit,” ucap Derryl yang juga ikut terkejut.
“Kita kesana sekarang, aku bersiap dulu.” Derryl langsung pergi ke kamarnya untuk bersiap – siap.
“Elaine ke kamar dulu Mom, Dad.” Elaine kembali ke kamarnya, mengemasi barang – barangnya ke dalam tas. Dia mencoba menghubungi Esmee namun tidak mendapat jawaban, akhirnya Elaine mengirimkan pesan kepda Esmee.
Bi, aku akan ke Strasbourg hari ini. Bibi Hannah sakit, aku ingin menjenguknya. Aku akan memberi kabar Bibi jika aku tidak pulang nanti. Pesan itu Elaine kirimkan ke nomor Esmee.
“Sudah siap?” tanya Derryl menghampiri Elaine di kamar.
“Iya, ayo.” Elaine dan Derryl keluar dan berpamitan kepada semua orang. Awalnya Maryam memaksa untuk ikut, tapi Derryl mecegahnya. Derryl tidak mau jika nantinya Maryam justru akan merepotkan Elaine disana, mengingat Bi Hannah tinggal seorang diri.
“Hati – hati ya Sayang, Derryl jaga Elaine dengan baik,” ucap Maryam sesaat sebelum mobil Derryl mulai melaju.
__ADS_1
Dia punya Bibi di Strasbourg? Sebenarnya dari mana dia berasal? Mungkin ini salah satu jalan untukku. Batin Jerry dengan senyum menyeringai di wajahnya.