
" sayang"
Bisik Derryl sambil memeluk Elaine dari belakang. Elaine yang sedang mencuci piring menjadi terkejut, tapi bukan karena pelukan itu melainkan panggilan Derryl kepadanya.
Bagaimana Elaine tidak terkejut, ini baru pertama kalinya laki laki itu memanggilnya dengan panggilan 'sayang'.
" apa kau baru saja menanggilku?"
Elaine melontarkan pertanyaan itu setelah Derryl melepaskan pelukannya. Meskipun sedikit gugup karena sikap Derryl, tapi Elaine memberanikan diri untuk menatap laki laki itu.
" kalau bukan kamu siapa lagi hem? disini hanya ada kita berdua" jawab Derryl dengan senyum penuh makna.
" atau mungkin kamu tidak suka aku memanggil dengan panggil 'sayang'?" tanya Derryl dengan tatapan sendu.
" tidak, bukan seperti itu maksudku. Hanya saja aku merasa senang"
Elaine membalik badan sebelum dia menjawab pertanyaan dari Derryl. Dirinya tak ingin laki laki itu melihat pipinya yang bersemu merah karena malu.
" apa yang baru saja kau katakan? aku kurang jelas mendengarnya tadi" suara Derryl dengan suara menggoda.
" apa yang baru saja kamu katakan"
Derryl kembali memeluk Elaine dari belakang, tapi wanita itu justru berusaha melepas tangan laki laki itu dari pinggangnya.
" cepatlah kita harus bergegas, aku tidak ingin kekasihku terlambat bekerja nanti"
Sebelum meninggalkan dapur Elaine mencium Derryl sekilas.
Cuupp
" apa tadi itu morning kiss" guman Derryl dengan ekspresi senang memenuhi wajahnya.
***
" kelihatannya tuan Derryl akan kembali ke Paris pagi ini Tuan" lapor Alex kepada Jerry
" tetap suruh mereka untuk mengawasi Derryl, jangan sampai ketinggalan satu informasi pun"
Alex meninggalkan ruangan itu setelah mendapat perintah dari tuannya. Alex mendapatkan tugas untuk mengoordinasi orang orang yang ditugaskan untuk mengawasi gerak gerik Derryl.
" bagaimana dengan rencanamu?" tanya Siera kepada suaminya
" kita akan menjalankannya secara perlahan agar tidak ada satupun yang menaruh curiga" jawab Jerry santai
__ADS_1
" Bagaimana dengan mama?"
" Aku pasti bisa meyakinkan mama, kau tenang saja"
Perbincangan mereka memang selalu terlihat menegangkan. Perusahaan keluarga yang dikelola secara turun temurun itu membuat Jerry melakukan banyak cara.
Dari kakek buyutnya hingga kakeknya mereka hanya mempunyai satu putra. Dan kini ayahnya mempunyai dua putra, hingga membuat anak sulung dari Robert ini ingin menyingkirkan adik kandungnya demi sebuah perusahaan.
***
" apa kau akan tinggal bersama bibimu nanti?" tanya Derryl yang tak mengubah pandangannya ke jalanan.
" untuk sementara aku akan tinggal disana"
" kau akan pindah ke villa setelah itu?"
" mungkin iya, aku tidak ingin terlalu lama mengganggu keromantisan bibi dan paman. Mereka pengantin baru apa kau lupa?" tanya Elaine dengan senyum menyeringai
Sekilas Derryl melihat wajah Elaine yang sedari tadi tak berhenti tersenyum.
" Kenapa wajahmu terlihat sangat senang hari ini? " goda Derryl
" Entahlah, dulu aku sangat enggan kembali ke Paris. Tapi hari ini aku merasa sangat senang kembali ke sana"
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan dengan mobil akhirnya mereka tiba di Paris. Derryl mengantarkan Elaine ke rumah bibi Esmeenya.
Kedatangan Elaine tak hanya disambut oleh sang bibi tapi juga pamannya. Karena tidak ada jadwal rapat pagi ini, Leandre sengaja ikut menyambut Elaine. Dia sengaja datang terlambat ke kantor hanya untuk menyambut kedatangan keponakannya itu kembali.
" bibi"
Elaine langsung lari setelah turun dari mobil. Dia berhamburan ke pelukan sang bibi hingga membuat Derryl dan Leandre tersenyum kaku.
" aku rindu sekali dengan bibi" tutur Elaine yang masih dalam pelukan sang bibi.
" kamu ini, baru 2 hari kamu ngak ketemu bibi udah kangen aja. Ayo ajak temen kamu masuk dulu ah"
" Dia Derryl teman Elaine" bisik Esmee kepada sang suami.
" Ayo nak Derryl masuk dulu" ajak Esmee.
"iya bi terima kasih lain kali saja, saya harus berangkat bekerja" jawab Derryl sopan.
" Loh ngak mau mampir dulu sebentar?" Leandre menambahkan
__ADS_1
" terima kasih paman, lain kali pasti saya mampir. Saya pamit dulu bi, paman" pamit Derryl tak lupa mencium tanggan Esmee dan menjabat tangan Derryl.
" Hati - hati ya" kata Elaine dengan senyum khasnya dan dijawab Derryl dengan anggukan.
" Pak, tolong bawakan koper Elaine ke dalam" perintah Esmee kepada security.
Mereka akhirnya berbincang bincang di ruang keluarga. Esmee banyak menanyakan hal tentang Derryl hingga membuat Elaine salah tingkah.
" kamu pasti udah jadian ya" goda Esmee.
"Paman, aku mau bekerja di perusahaan paman" Elaine mengalihkan pembicaraan.
" kamu serius?" tanya Leandre
" aku serius paman, aku ngak mau jadi pengangguran selamanya. Aku akan menetap disini kembali bukan" jawab Elaine.
" kamu tak perlu bekerja, temani saja bibi dirumah sayang" sahut Esmee.
" benar Elaine, kamu tetaplah dirumah temani bibimu saja disini" Leandre membenarkan.
" tapi Elaine ngak mau selamanya bergantung kepada bibi dan paman. Aku juga ingin mempunyai sebuah pengalaman bekerja bibi" protes Elaine
" Ayolah paman, boleh ya" Elaine memasang wajah memelas.
" Paman sebenarnya tidak keberatan Elaine, hanya saja belum ada kursi kosong di perusahaan. Kalau kamu mau di perusahaan teman paman membutuhkan sekretaris, itu kalau kamu mau" tutur Leandre.
" iya paman aku mau" sergap Elaine seketika.
" Perusahaan siapa? perusahaan apa? kamu jangan gegabah Elaine dan kamu juga sayang" tukas Esmee.
" kalau bukan teman dekat aku tidak mungkin berani menawarkan kepada keponakan kita sayang. Perusahaan yang aku maksud adalah Valeo Corp's milik Abelano" jelas Leandre.
" ohh milik dia, tak masalah lah setidaknya aku mengenalnya. Dia juga kelihatannya laki laki yang baik, dia juga teman dekat paman Leandre" batin Elaine.
" Elaine" panggil Esmee.
" iya bi"
" kamu serius mau bekerja disana?" tanya Esmee
" iya bi, dia teman dekat paman bukan. Dan aku juga mengenalnya" jawab Elaine meyakinkan bibinya.
"heemm baiklah" jawab Esmee menghela nafas
__ADS_1