
"Kamu ngak nginep mau nginep disini aja? Mom masih pengen cerita - cerita sama Elaine loh." Maryam mencoba mencegah Derryl.
"Lain kali aja ya Mom, soalnya aku ngak minta ijin untuk nginep sama paman Leandre." Penjelasan Derryl menyita perhatian Robert.
"Leandre. Dady kaya pernah dengar nama itu." Robert mengetuk - ngetukkan jari telunjuknya di dagu. Seperti sudah menjadi sebuah kebiasaan, saat sedang berfikir Robert pasti akan melakukannya.
"Pemilik Loyal Corp's Dad." Ekspresi Robert berubah seketika saat mendengar ucapan yang baru Elaine lontarkan.
"Iya kamu benar, astaga aku lupa dia juga teman bisnisku. Istrinya bermama Esmee, jadi dia bibimu," ucap Robert dengan wajah yang sangat ekspresif.
"Benar Dad." Mendengar percakapan Elaine dan Robert membuat telinga Jerry terasa mau lepas. Wajahnya merah padam karena tidak suka dengan kedekatan Elaine dan Dadynya.
"Yaudah kita jalan dulu ya Mom, Dad." Tidak ingin Robert dan Elaine melanjutkan perbincangan mereka, Derryl langsung berpamitan untuk segera pergi.
"Kamu jauh - jauh ngajak Elaine kesini cuma makan siang aja si Derryl." Derryl merasa ada hal yang tidak menyenangkan dibalik perkataan Siera.
"Iya Elaine bener kata Kak Siera, kamu sudah jauh - jauh kesini," ucap Maryam yang sependapat dengan Siera.
"Tapi Mom, aku belum meminta ijin kepada pamannya." Derryl mencoba untuk membela diri.
"Kalau itu kamu tenang aja Der, nanti Dady yang bicara dengan Leandre. Ngak perlu nanti sekarang Dady telfonkan." Robert terlihat mengeluarkan ponsel. Seketika sambungan video call tersambung dengan Leandre.
"Hallo Dre," sapa Robert.
"Hallo Om, tumben ini video call. Ada perlu apa Om?" tanya Leandre yang penasaran karena tidak biasanya Robert melakukan panggilan video call kepadanya.
"Kamu lihat itu." Robert mengalihkan menjadi kamera belakang, dan memperlihatkan Elaine yang sedang berdampingan dengan Derryl.
"Loh Elaine, kenapa ada disana?" tanya Leandre dengan kaget. Robert kembali mengalihkan ke kamera depan.
"Dia calon menantuku Ndre, wajar kalau dia bermain ke rumah calon Dadynya," ucap Robert yang membuat Leandre semakin kaget.
"Tunggu, jadi Derryl putra bungsu Om Robert ya?" pertanyaan Leandre yang terdengar seperti tebakan ditelinga semua orang.
"Ada apa sayang?" tiba - tiba Esmee menghampiri Leandre.
"Lihatlah." Leandre menunjukkan ponselnya hingga Esmee bisa melihat wajah Robert ada di layar ponsel.
__ADS_1
"Oh Om Robert, apa kabar Om?" tanya Esmee.
"Hay Esmee, kabar baik aku sekeluarga. Bagaimana kabarmu, sudah berisikah?" Semua orang memandang Robert dengan heran, pria ini bertanya layaknya seorang wanita.
"Em belum Om. Loh Elaine ngapain disana?" pertanyaan itu datang saat Robert mengarahkan kamera ponselnya kepada Elaine.
"Dia calon menantuku Esmee, jadi wajar kalau dia disini." Esmew cukup terkejut mendengar jawaban itu. Orang yang memberikan kado pernikahan kepadanya berupa berlian dua puluh empat karat itu ternyata orang tua Derryl, yang tak lain adalah kekasih dari keponakannya.
"Derryl itu putra Om Robert. Ya ampun ngak nyangka banget si Om," ucap Esmee jujur.
"Semua adalah takdir Esmee. Leandre aku ingin kamu memberi ijin kepada calon menantuku ini untuk bermalam di rumah kami," ucap Robert dengan nada tegas namun wajahnya tetap saja lawak.
Sejenak Leandre diam, sebenarnya Derryl sudah meminta ijin untuk menginap sebelumnya, tapi kenapa sekarang Robert memintakannya ijin lagi.
"Tentu boleh Om, karena di rumah Om jadi aku memperbolehkannya," ucap Leandre memberi ijin.
"Ya sudah Ndre, terima kasih ya. Maaf udah menganggu waktu istirahat kamu loh ini." Setelah itu sambungan video call terputus.
"Kamu dengerkan Derryl, pamannya Elaine sudah memberikan ijin," ucap Robert dengan senyum mengejek.
"Ayo sayang kita masuk lagi, nanti Mom ajarin bikin kue." Ajakan Maryam berhasil membuat semangat Elaine naik sepuluh kali lipat.
"Kamu ngak mau masuk nyusul calon istri kamu Der?" tanya Robert dengan ekspresi menahan tawa.
Tanpa menjawab Derryl hanya berlalu meninggalkan Robert dan kakaknya. Terlihat dengan jelas di mata Siera ketidaksukaannya terhadap kedekatan Elaine dengan Maryam. Tentu saja dia iri, baru saja siang tadi mereka bertemu sudah sangat dekat seperti sudah menjadi menantu.
"Siera, kamu ngak ikut masuk?" tanya Robert kepada Siera yang hanya diam sedari tadi.
"Nanti ah Ded, mau disini dulu nikmatin udara segar,"jawab Siera.
"Yaudah Dady masuk dulu ya." Robert masuk kedalam rumah, meninggalkan Jerry dan Siera disana.
Sepeninggalan Robert, Jerry dan Siera beradu pandang. Sepertinya ada yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.
"Bagaimana jika dia benar mau terjun ke dunia bisnis?" pertanyaan itu Siera lontarkan dengan sangat lirih.
"Tenanglah, semua akan baik - baik saja," jawab Jerry dengan tenang.
__ADS_1
"Masuklah dulu, dengarkan setiap pembicaraan Momy dan gadis itu." Jerry menyuruh istrinya untuk memata - matai Elaine dan Maryam.
Siera menghampiri Maryam yang tengah asik menyiapkan bahan - bahan untuk membuat kue. Selama lima tahun menjadi menantu di keluarga Cusion, Siera tidak pernah berada di dapur bersama Maryam. Tapi Elaine yang baru saja hadir di rumah itu sudah mendapat perhatian penuh dari Maryam.
"Mom, sebenarnya aku ingin membuat bolu. Selama ini aku selalu gagal saat membuat cake," ucap Elaine kepada Maryam.
"Ya ampun Sayang, kenapa ngak bilang sama Mom. Ya udah kita bikin bolu ya." Maryam mengeluarkan bahan - bahan dari dalam lemari dapur, sedangkan Elaine menyiapkan alat sesuai intruksi dari Maryam.
"Hay Elaine, Kakak ikut belajar bikin bolu ya," ucap Siera setelah menghampiri Elaine.
"Oh iya Kak, silahkan," jawab Elaine ramah.
"Kamu tumben Siera mau belajar bikin bolu, biasanya Momy ajak ngak mau." Ucapan Maryam membuat Siera kesal, Elaine yang tidak tahu apa - apa hanya diam memperhatikan mereka.
"Iya nih Mom liat kalian di dapur jadi pengen ikutan," jawab Siera dengan senyum yang dipaksakan.
Sial, sebenarnya aku juga males ikutan. Kalau ngak karena Jerry aku ngak akan mau merusak kuku aku yang halus ini. Batin Siera.
"Siera tolong dong ambilkan whipped cream, Momy taruh di kulkas deh kayaknya." Maryam membagi tugas kepada Siera yang sedari tadi hanya diam tanpa menyentuh apapun.
"Iya Mom." Siera mengiyakan.
Whipped cream? yang ini? atau yang ini? mungkin yang ini. Batin Siera.
Karena tidak tahu Siera mengambil asal saja.
"Ini Mom," ucap Siera menaruh barang yang menurutnya whipped cream itu di dekat tangan Maryam.
"Loh Kak, itukan mentega putih," ucap Elaine saat melihat yang ditaruh siera bukanlah whipped cream melainkan mentega putih.
"Iya Siera, kamu ngak bisa bedain ya. Elaine tolong kamu ambilkan ya." Maryam meminta Elaine untuk mengambil whipped cream.
Aku memang ngak tahu masalah dapur, tapi dia pasti kalah denganku kalau urusan bisnis. Batin Siera tak terima.
Di tengah kesibukan para wanita di dapur, Derryl terlihat sedang membicarakan hal yang serius dengan Robert.
"Kakak kamukan sudah memegang anak perusahaan di bidang kontruksi, jadi Dady mau kamu pegang anak perusahaan yang yang di bidang impor ekspor," Ucapan Robert berhasil membuat tubuh Jerry menegang. Dia yang baru saja masuk disuguhkan dengan pembicaraan yang tidak menyenangkan baginya.
__ADS_1
Awas saja kalau kau berani menerimanya, kau akan tahu akibatnya Derryl. Lihat saja. Batin Jerry dengan tangan yang mengepal dengan erat.