
melihat mobil Abelano yang mengikutinya Calista mengeluarkan ponselnya dan menelfon seseorang.
" bersiaplah" ucap Calista singkat lalu mematikan telfonnya.
Calista dengan sengaja ingin menjebak Abelano. dirinya merasa terkhianati melihat laki - laki itu bersikap acuh padanya.
keluar dari jalan raya, Calista dan Abelano melewati jalanan yang sepi dengan pepohonan rindang di sepanjang jalan. di sana anak buah Calista sudah bersiap- siap seperti yang dia perintahkan. sesuai rencana yang telah di siapkan Calista, anak buahnya akan menghadangnya di tengah jalan untuk menarik perhatian Abelano.
mobil Calista berhenti karena melihat seseorang terkapar di tengah jalan dengan sepeda motornya. dirinya memberanikan diri untuk turun untuk mengecek kondisi laki - laki tersebut. saat dirinya hendak melihat laki - laki itu, tiba - tiba saja laki - laki itu bangun dan menodongkan pisau ke arahnya.
" jangan mencoba untuk bergerak" perintah laki - laki itu.
wajah Calista nampak ketakutan, salah seorang teman dari laki - laki itu keluar dari rindangnya pohon di tepi jalan. dia mencoba untuk mencari barang - barang berharga di dalam mobil Calista.
belum sempat mengambil apa - apa, mobil Abelano tiba dan berhenti tepat di belakang mobil milik Calista.
" jangan bergerak" Abelano menodongkan pistol ke arah mereka.
tidak merasa takuk preman - preman itu justru menyerang Abelano. dengan sigap Abelano menghindari pukulan dari dua preman itu. dengan bela diri yang dia miliki, Abelano dengan mudah mengalahkan kedua preman itu. Dengan rasa takut, kedua preman itu kabur dengan motor mereka dan meninggalkan Abelano juga Calista disana.
Abelano mendekati Calista yang masih jongkok dengam wajah yang nampak ketakutan.
" kamu baik - baik saja?" tanya Abelano lirih.
Calista masih diam tak menjawab pertanyaan yang Abelano berikan. badannya masih gemetar dan tatapan matanya masih kosong karena ketakutan. Abelano berusaha merangkul bahu Calista dan membantunya berdiri. Abelano membawa Calista ke dalam mobilnya, mengambil sebotol air mineral dan membukakannya untuk wanita itu.
" minumlah dulu" Abelano menyodorkan air itu.
Calista hanya diam menerima botol air itu lalu meminumnya sedikit.
" apa sudah merasa baikakan?" tanya Abelano memastikan.
" aku takut sekali tadi" jawabnya masih dalam tatapan kosong.
" tidak apa- apa ada aku kini bersamamu" Abelano merangkul Calista berusaha menenangkannya.
" baguslah akhirnya aku berhasil juga" batin Calista.
" aku akan mengantarmu pulang akan ku telfonkan supir untuk membawa mobilmu nanti" Abelano menawarkan yang hanya dijawab Calista dengan anggukan saja. tentunya dengan senang hati dia akan menerima tawaran dari Abelano.
__ADS_1
Abelano nampak sedang menghubungi seseorang untuk membawa mobil Calista pulang.
" dimana kunci mobilmu, aku akan mengambilkan tasmu dulu"
Abelano menepikan monil Calista, dia juga mengambilkan ponsel dan juga tasnya yang masih berada di dalam mobil nya.
***
Derryl dan Elaine nampak sedang makan siang bersama di sebuah cafe dekat rumahnya. Mereka menikmati makan siang dengan romantis. Di tengah keromantisan mereka, Evrard yang melihat mereka dari luar merasa terbakar api cemburu. Tak ingin semakin terbakar rasa cemburunya, Evrard pun pergi meninggalkan cafe itu dengan wajah masam.
Derryl dan juga Elaine beranjak keluar cafe itu setelah menyelesaikan makan siang mereka. Saat hendak keluar dari pintu ada salah seorang pelayan disana menyapa Elaine.
" terima kasih atas kunjungan anda nona Elaine"
" sama - sama" Elaine menjawabnya ramah.
Derryl hanya memperhatikan interaksi antara Elaine dan pelayan itu.
" kau pasti sering berkunjung kemari" ucap Derryl.
" tidak sering aku hanya sesekali kemari, aku memang akrab dengan tetangga disini" jelas Elaine.
" kau pasti banyak disenangi disini" tutur Derryl lagi.
Mereka berjalan kaki menuju ke rumah Elaine kembali. Saat akan menyebrang jalan, ada sepasang mata yang mengamati langkah mereka dari dalam mobilnya.
" kenapa dia ada disini?" guman laki - laki itu.
Elaine dan Derryl yang tidak menyadari tatapan itu hanya melanjutkan langkah mereka menuju rumah Elaine.
Saat sampai di rumah Elaine mereka hanya duduk di teras sambil saling bercerita. Saat di Paris Elaine menceritakan alasannya pergi dari kota itu, kini Elaine menceritakan kisahnya saat pertama tiba di kota tua ini.
" Evrard, laki- laki yang menelfonmu tempo hari?" tanya Derryl kaget.
" iya, rumah ini sebenarnya miliknya. Ayahnya membangunkannya untuk dia, tapi dia belum mau untuk menghuni rumah ini" Elaine menjelaskan.
Dalam hati Derryl sedikit merasa cemburu pada laki - laki bernama Evrard yang Elaine ceritakan. Sadar akan posisinya yang belum punya ikatan apa - apa dengan Elaine, Derryl pun berusaha menyingkirkan rasa cemburunya itu.
" apa kamu mau keluar berwisata sebentar?" Elaine menawarkan.
__ADS_1
" boleh, tapi kemana?" Derryl bertanya balik.
" bagaimana dengan parc de l'orangerie?" tanya Elaine.
" baiklah, mari" Derryl mengiyakan.
Mereka masuk kedalam mobil dan bergegas pergi. jarak parc de l'orangerie tidak terlalu jauh dari rumah Elaine, hanya 500 meter bila ditempuh melewati kebun di belakang rumah Elaine. Tapi menjadi berjarak sekitar 1 kilo meter jika ditempuh dengan menggunakan kendaraan.
Dengan hitungan menit mereka kini sudah tiba disana. Pada saat sore menjelang petang di parc de l'orangerie memang akan ramai pengunjung. Pemandangannya yang semakin indah karena matahari terbenam saat sore menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.
Danau kecil disana juga menjadi salah satu tempat favorit bagi para pengunjung. Perahu yang disediakan untuk di sewakan kepada pengunjung yang ingin berkeliling sungai tanpa capek berjalan kaki.
"apa kamu pernah kemari sebelumnya?" Derryl bertanya di sela - sela keromantisam mereka diatas perahu kecil itu.
" aku dan bibi Hannah sesekali pergi kemari saat akhir pekan". Elaine tersenyum.
Suasana senja dengan siluet orange semakin menambah keromantisan mereka berdua. Alunan dayung mereka yang beriringan semakin menambah kekompakan mereka yang diiringi dengan senyum dan juga tawa dari keduanya.
***
Abelano mengantarkan Calista ke apartemennya. Abelano belum menyadari bahwasanya dia sedang di jebak oleh wanita itu.
Abelano membatu Calista turun dari mobilnya, mengandeng wanita ini untuk membantunya berjalan menuju ke apartemennya.
" lantai berapa?" tanya Abelano saat mereka masuk kedalam lift.
" lantai 6" jawab Calista dengan suaranya yang dibuat seperti masih syok.
Abelano menekan tombol lift dengan segera, dirinya merasa khawatir dengan keadaan Calista. Abelano merangkul bahu Calista untuk membantu menopang tubuhnya yang terlihat masih lemas.
" yang mana apartemen kamu?" tanya Abelano saat pintu lift sudah terbuka.
" sebelah sana" Calista menunjuk apartemen yang ada di ujung lorong.
dengan hati - hati Abelano membantu wanita ini masuk kedalam apartemennya. mendudukkannya dengan hati - hati di atas sofa lalu mengambilkannya air minum.
" kamu sudah merasa baikkan Calista?" tanya Abelano.
" aku masih merasa takut" jawabnya berpura - pura.
__ADS_1
" tolong temani aku dulu" pinta Calista.
Abelano yang merasa tak tega untuk meninggalkan wanita ini sendirian, dia pun memilih untuk tinggal sebentar untuk menemaninya. Abelano lalu menghubungi anak buahnya di Strasbourg untuk menjelaskan alasan atas keterlambatannya ke kota itu.