
Ronald masih memikirkan malam saat ia bertemu dengan Elaine di restoran. Dalam hatinya ia masih mencintai wanita ini.
"apa kau masih mengharapkannya?" tanya Jofanca
" bagaimanapun dia pernah mengisi ruang hatiku" suara Ronald terdengar putus asa.
Elaine jogging di belakang villa seperti biasa, ia tersenyum sendiri bila mengingat kejadian semalam. ia tak habis fikir sang sherif tampan itu memeluknya dalam gelap.
"apa yang aku pikirkan" ucapnya sambil menggelengkan kepala.
"Elaine"
Langkah kakinya terhenti mendengar suara yang familiar itu. Elaine enggan menenggok ke arah suara, tapi kakinya seperti kaku untuk di ajak berlari.
" Elaine" suara itu mendekati Elaine
" Apa kau begitu membenciku?" suara Ronald rapuh
Bibir Elaine terasa terkunci, setiap kali laki laki ini berbicara hati Elaine terasa tertusuk banyak pisau.
" aku ingin memperbaiki semuanya" Ronald berlutut di hadapan Elaine.
Air mata Elaine tak lagi terbendung, hatinya seperti tercabik cabik. Satu persatu ingatannya dua tahun silam kembali bagai puzzel yang tersusun kembali.
" aku sudah memaafkanmu, tapi sungguh aku tak ingin lagi melihat mu" suara Elaine disertai tangisnya.
"aku mengaku salah Elaine, tapi aku sungguh menyesal aku tak bisa menghapus kenangan kita. aku selalu hidup di bawa bayang bayang tentang mu, aku sungguh tak bisa" ucapnya memohon.
Dengan sesenggukan Elaine berusaha berlari kembali menuju villanya. ia mulai menangis sejadi jadinya di dalam villa. Dia tak punya tempat bersandar sekarang, hanya ia seorang diri di dalam villa yang megah dan asri ini.
***
Di kantornya Abelano terlihat sangat sibuk. Meninggalkan kantor dua hari membuat pekerjaan nya menumpuk. Dokumen yang siap untuk ia tanda tangani sudah mencapai puluhan hingga memenuhi meja kerjanya.
" bagaimana kabarnya" batin Abelano memikirkan Elaine di tengah kesibukannya.
Sebenarnya Abelano hendak menelfon Elaine, tapi ia urungkan niatnya itu. kini Abelano memilih menyibukkan diri bergelut dengan kerjaannya yang tertunda kemarin.
***
Cahaya matahari menembus tirai jendela apartemen Zena hingga membangunkan wanita itu. Baldwin yang sudah bangun lebih awal kini sudah rapi siap untuk pergi ke kantornya.
" apa kau akan pergi sekarang?" tanya Zena dengan suara khas orang baru bangun tidur
__ADS_1
" aku tak ingin terlambat sayang, kau mandilah dulu aku akan berangkat" Baldwin mencium Zena singkat lalu pergi meninggalkan apartemen itu.
***
Elaine menghapus air matanya, mengambil nafas dalam dalam kemudian menghembuskannya. Dia berusaha tegar meski nyatanya hatinya masih rapuh.
dzzrtt..
Ponsel Elaine bergetar, nama bibi Hannah tertera di layar ponselnya. ia berusaha agar bibi Hannah tidak mengetahui ia baru saja menangis.
"Hallo bibi" suaranya berusaha tenang.
" Hay sayang, bibi sangat merindukanmu" jawab bibi Hannah
"aku juga sangat merindukan bibi"
bibi Hannah mengalihkan telfon nya ke video call karena permintaan Evrard.
"apa kau baru saja menangis Elaine?" tanya bibi Hannah.
" tidak bibi aku hanya merindukan bibi"
Evrard mengambil paksa ponsel bibi Hannah ingin melihat kondisi Elaine.
" kau ini" ucap Elaine sedikit tertawa
"sini sini, dasar laki laki itu selalu merindukan mu" canda bibi Hannah berusaha membuat perasaan Elaine menjadi lebih baik.
" apa bibi baik baik saja menjaga toko tanpaku?" tanya Elaine mengalihkan pembicaraan
" iya Elaine bibi baik baik saja, kau sudah mengajarkan bibi banyak hal tentang pembukuan dan yang lain. Evrard juga sering datang membantu bibi di toko"
" aku senang mendengar nya Bi. Bibi aku bertemu laki laki yang membeli mawar orange di toko waktu itu" Elaine menceritakan kepada bibi Hannah. ia berusaha untuk tetap baik baik saja.
" apa kau yakin? dimana kau bertemu dengannya Elaine?" tanya bibi Hannah histeris
" di pernikahan paman dan bibi Esmee. Dia salah satu kolega bisnis paman Leandre"
" tapi seperti nya dia sudah mempunyai pasangan, lapangkan dada bibi ya" tambahnya sambil menggoda bibi Hannah.
"apakah dia cantik?" tanya bibi Hannah ketus.
"dia wanita yang pernah aku ceritakan kepada bibi dulu, sainganku saat kuliah anak si pemilik kampus" jawab Elaine jutek.
__ADS_1
" ohh wanita itu, bibi sudah tak tertarik lagi padanya setelah mendengar ceritamu itu" gurau bibi Hannah.
" Elaine nanti kita sambung ya ada pembeli"
Video call terputus, bibi Hannah segera melayani pelanggan nya.
Elaine kini sedikit terhibur, suasana hatinya kini sudah lebih baik. ia bahkan melupakan sarapan nya hanya karena laki laki masa lalunya itu.
Derry sudah menunggu di depan gerbang villa Elaine. Dia mengetuk gerbang namun Elaine tak kunjung turun, iapun menelfon gadis itu.
"kau dimana? aku ada di depan villamu sekarang" ucapnya saat Elaine menjawab panggilan nya.
"benarkah? tunggu sebentar aku akan keluar"
Elaine mengintip dari jendela kamarnya dan benar saja mobil Derryl sudah terparkir di depan gerbang. Elaine bergegas turun untuk menemui sang sherif.
Dalam hati Elaine berfiki entah mengapa jika Derryl hadir hatinya merasa senang. Dia tak tau pasti akan alasannya tapi dirinya merasa nyaman bisa bertukar cerita bersama Derryl. Dia juga tak bisa meyembunyikan wajah sumprigahnya setiap kali bertemu Derryl.
" ku kira villa ini sudah kosong" ucap Derryl melihat Elaine keluar dari gerbang.
" aku tak mendengarnya tadi maafkan aku, apa kau sudah lama disini?"
"tidak aku baru sampai. ada apa dengan matamu?" tanya Derryl melihat mata Elaine yang sembab dan sedikit bengkak.
"ohh ini hanya terkena sabun cuci muka tadi pagi" jawab Elaine berbohong
" apa kau senggang? aku ingin mengajakmu piknit lokal"
" aku selalu senggang Tuan Derryl" jawab Elaine yang tak bisa menahan rasa senangnya.
" baiklah, silahkan masuk nona" Derryl membukakan pintu mobil untuk Elaine.
Elaine tak sempat merias wajahnya ataupun mengganti pakaiannya karena saking senang nya dia bertemu dengan Derryl.
Derryl menghentikan mobilnya di taman saat ia bermain bersama Rossa. mereka memilih tempat yang cukup rindang untuk makan siang ala ala piknit. Derryl mengeluarkan kotak makanan dengan ukuran lumayan besar dengan isi berbagai makanan dan buah.
" dari mana kau mendapat semua makanan ini?" tanya Elaine keheranan.
" neneknya Rossa yang membuat, biasanya aku membawanya ke kantor untuk makan siang bersama. Tapi hari ini karena ada yang berulang tahun jadi bekal ini tidak termakan. Semua di traktir pergi makan siang ke restoran dekat kantor" jelas Derryl.
" lalu kenapa kau tak pergi bersama mereka?" tanya Elaine.
"aku ingin makan siang bersamamu"
__ADS_1
Jawaban Derryl berhasil membuat wajah Elaine bersemu merah. Nampaknya gadis cantik ini sudah mulai mengagumi sherif tampan kelahiran Colmar ini.