MY CEO IS MY DEAR

MY CEO IS MY DEAR
SAKIT HATI


__ADS_3

Elaine terbangun dan mendapati dirinya yang tertidur di pelukan Derryl. Dengan hati - hati Elaine membalikkan badannya menghadap Derryl agar tidak membangunkannya.


" Selamat pagi" sapa Derryl yang ternyata sudah bangun sebelum Elaine.


" Ehh.. Selamat pagi" jawab Elaine dengan nada gugup.


" tidukmu nyenyak sekali"


Mendengar perkataan Derryl membuat Elaine malu dia langsung bankit dan duduk di tepi ranjang.


Elaine mengingat ciumannya bersama Derryl semalam, ciuman itu berakhir dengan mereka tidur bersama di kamar tamu.


" Hay, apa yang sedang kau pikirkan? wajahmu merona" Derryl menggoda Elaine.


" aku hanya memikirkan perkataanmu" Elaine menjawab asal.


Derryl turun dari ranjang kemudian dia berjongkok di depan wanita cantik ini.


" Hey dengarkan aku, aku sungguh tidak melakukan apapun kepadamu tadi malam. Hanya emm.. ciuman itu"


" mana mungkin aku melakukan hal lebih sedangkan pertanyaaku belum kau jawab" tambah Derryl.


" Emm.. pertanyaan mana?" Elaine pura - pura.


" aku mencintaimu" Derryl mencium kedua tangan Elaine secara bergantian.


" aku akan menyiapkan sarapan untuk kita, bersihkan dirimu aku sudah menyiapkan handuk di dalam kamar mandi"


"Elaine" panggil Derryl saat akan keluar kamar.


" aku belum bisa menjawabnya sekarang, maafkan aku" Elaine menjawab dengan cepat.


" aku tidak membawa baju ganti"


Jawaban Derryl sontak saja membuat wajah Elaine kembali bersemu karena malu.


" ohh iya, nanti aku telfonkan bibi Hannah. Ada banyak baju mendiang suaminya yang bisa kau pakai. masih terlalu pagi untuk membeli baju"


Elaine dengab terburu buru meninggalkan kamar itu, Derryl yang melihat Elaine hanya tersenyum melihat tingkah lucu wanita itu.


" kau sungguh menggemaskan" Derryl berguman.


***

__ADS_1


Sinar mentari pagi menyusup ke dalam apartemen melalui celah celah kecil di jendela. Dirinya terkejut kala melihat disampingnya ada seorang wanita yang masih tertidur.


" dimana ponselku"


Abelano berusaha mencari ponselnya. Dia memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya satu persatu.


" Kapan kau bangun sayang?" Tanya Calista dengan suara parau khas orang baru bangun.


Abelano tak menggubris pertanyaan Calista, dia tetap mencari ponselnya ke seluruh apartemen itu.


" sayang"


Calista memeluk Abelano dari belakang membuat laki laki itu terkejut.


" tolong lepaskan, jangan membuatku murka" Ucap Abelano dengan nada tinggi.


Dia tidak tahu jika menolong Calista akan berakhir seperti ini. Untuk mengingat apa yang sudah terjadi diantara mereka semalam saja Abelano sangat enggan. Karena apapun yang terjadi semalam itu bukan kemauan Abelano, itu semua jebakan dari Calista


***


" Elaine"


" iya bibi sebentar"


Elaine bergegas membukakan pintu.


" aku tak ingin laki laki tampan itu kedinginan" goda bibi Hannah.


Elaine tak hanya tersenyum tipis menanggapi sang bibi, dia mengambil pakaian itu lalu bergegas masuk ke kamar tamu.


" pakaianmu ada disini" teriak Elaine


Masih satu langkah tiba- tiba Derryl keluar dari kamar mandi hanya dengan balutan handuk di tubuhnya.


" Emm.. ada apa?" tanya Derryl melihat Elaine yang terlihat melamun.


" Ehh tidak itu, itu pakaiannya"


Dengan gugup Elaine bergegas meninggalkan kamar itu, Derryl yang melihat tingkah Elaine hanya tersenyum heran.


Tak berselang lama Derryl sudah siap di meja makan bersama bibi Hannah, mereka saling bercerita sambil menunggu Elaine selesai mandi.


" Maaf membuat kalian menunggu"

__ADS_1


Elaine keluar dari kamarnya dengan handuk yang masih di kepalanya. Elaine sesekali melirik Derryl yang nampak lucu memakai pakaian yang dibawa oleh bibi Hannah.


" ada yang salah denganku?" tanya Derryl melihat Elaine nampak menaham tawa.


" tidak, hanya saja setelan itu sangat pas dibadanmu" jawab Elaine.


"Elaine kamu itu, maaf nak Derryl meski terlihat modelnya sudah kuno tapi ini sungguh masih baru. Bibi membelikannya sesaat sebelum suami bibi meninggal" saut bibi Hannah.


" tidak bi, tidak apa apa. Justru aku berterima kasih pada bibi, aku menyukai baju ini" jawab Derryl sungkan.


Mereka menyantap sarapan dengan suasana hangat, layaknya satu keluarga yang utuh.


***


"Evrard"


"Evrard"


" Kamu belum bangun" teriak Marius membangunkan putra tunggalnya.


" ini bingkisan dari siapa" tanyanya lagi.


Evrard sama sekali tidak berguman, dia tidak menjawab panggilan dan juga pertanyaan ayahnya. Evrard masih sakit hati melihat kemesraan Elaine dan juga Derryl tadi malam.


Kejutan dan hadiah yang sudah jauh jauh hari dia persiapkan hanya menjadi sampah yang tak lagi berarti.


" Hey cuci mukamu dulu" ujar Marsella ibunda Evrard.


" aku ingin tinggal sendiri dirumahku yah" celetuk Evrard tiba tiba.


Marius dan Marsella sontak saja terkejut dan saling pandang.


" kamu serius Ev" tanya Marsella heran


" aku serius bu"


" kamu menolaknya dulu, tapi sekarang kamu menginginkannya. ada apa?" tanya Marius bingung dengan kemauan anak semata wayangnya.


" aku hanya ingin belajar mandiri yah" jawabnya beralasan.


" tapi bagaimana dengan Elaine nanti?" tanya Marsella.


" bukankah dia akan kembali ke Paris" jawab Evrard tak suka.

__ADS_1


Marius dan Marsella hanya saling memandang, mereka tak bisa menolak permintaan Evrard tapi mereka juga tak enak hati dengan Elaine.


" biar dia pergi saja dia membuatku sakit hati. seenaknya saja dia bermesraan dengan laki laki itu di depan mataku" batin Evrard geram.


__ADS_2