
"Evrard," ucap Elaine terkejut melihat Evrard datang membawa. Bibi Hannah yang terikat di atas ranjang pasien.
"Kenapa kamu." Elaine tak lagi dapat melanjutkan kata - katanya. Lidahnya keluh dan air matanya kini luruh membanjiri ke dua pipinya.
"Kenapa kau menangis Elaine?" tanya Evrard dengan jari yang kini ia gunakan untuk mengangkat dagu Elaine.
"Katakan kenapa kau menangis!" bentak Evrard membuat tangisan Elaine semakin menjadi - jadi.
"Jangan sentuh dia!" Derryl tak lagi bisa menahan emosinya melihat wanita yang ia cinta diperlakukan kasar oleh Evrard.
"Lihatlah, laki - laki yang tidak berguna itu sedang memarahiku. Lihatlah Elaine, angkat wajahmu." Evrard menarik rambut panjang Elaine dengan kasar.
"Hentikan, jangan pernah kau sentuh dia!" Derryl berteriak dengan geram. Hatinya terluka melihat kekasih hatinya disakiti oleh laki - laki biadab itu.
"Diam kau pecundang." Seketika pukulan dari Evrard mendarat di wajah Derryl.
"Jangan," teriak Elaine dalam tanginya yang semakin menjadi.
"Jangan sakiti dia Evrard, kumohon." Tangis Elaine semakin menjadi saat dia melihat darah segar keluar dari bibir Derryl.
Evrard mengelap keringatnya dengan kasar, dia menatap Elaine sejenak dan mendekati wanita itu. Evrard berjongkok di depan Elaine, dia menangkup kedua pipi Elaine dengan tangannya.
"Berhentilah menangis, aku tidak suka melihat wajahmu bersedih." Evrard mengusap air mata yang mengalir di kedua pipi Elaine. Namun Elaine tidak menanggapi ucapan Evrard, dia hanya bisa menangis tanpa suara.
"Kenapa Elaine, kenapa kau lebih memilih laki - laki itu dari pada aku. Aku mencintaimu sejak pertemuan pertama kita, tapi kamu tidak pernah memandangku sebagai seorang pria barang sekalipun. Tapi apa Elaine, kamu dengan mudahnya memberikan hatimu untuk dia, laki - laki yang tidak berguna." Satu pukulan lagi jatuh di wajah tampan Derryl, Elaine yang melihatnya hanya bisa manngis tersedu - sedu.
"Elaine, menikahlah denganku. Aku lebih bisa membahagiakanmu dari pada laki - laki itu." Evrard melirik ke arah Derryl yang sudah lemas. Jerry hanya duduk dengan angkuh melihat pemandangan yang menyenangkan baginya ini.
"Jangan pernah sentuh wanitaku dengan tangan kotormu itu." Derryl membuang ludah yang bercampur darah segar itu dengan kasar.
"Tutup mulut buayamu itu." Evrard memberikan tatapan tajam ke arah Derryl. Jerry bangun dan mendekati adiknya yang dia anggap sebagai musuh.
"Jika kamu ke dua wanita itu selamat, lakukan perintahku. Tetaplah pada profesimu saat ini, dan jangan melangkahkan kakimu ke dunia bisnis." bisik Jerry ke telinga Derryl.
Karena tidak mendapat jawaban, akhirnya Jerry mengajak Evrard untuk keluar dari ruangan itu.
"Aku tunggu sampai besok, masukkan wanita tua itu ke dalam lagi." Jerry keluar dari ruangan disusul dengan langkah panjang Evrard di belakangnya.
__ADS_1
Sejenak hening menyelimuti ruangan itu, hingga akhirnya Derryl membuka suara saat para penjaga sudah benar - benar keluar dari ruangan itu.
"Sayang," panggil Derryl lirih.
"Iya," jawab Elaine yang berusaha menahan tangisnya.
"Maafkan aku membuatmu dan Bibi Hannah menjadi seperti ini, harusnya kalian tidak ikut terseret dalam masalahku." Derryl merasakan sesak dalam dadanya, dia merasa bersalah telah membawa Elaine dalam bahaya seperti ini.
"Jangan menyalahkan dirimu, ini bukan salahmu," ucap Elaine dengan tulus.
"Aku berjanji akan membawamu dan Bibi Hannah keluar dari tempat ini dengan selamat, jadi kumohon jangan menangis." Derryl tahu jika Elaine tengah menangis, meskipun terhalang oleh sebuah tirai, namun Derryl bisa mendengar Elaine yang sesenggukan.
Malam berlalu, Derryl dan juga Elaine masih terjaga tidak bisa memejamkan mata mereka. Nyamuk yang hinggap di tubuh mereka membuat keduanya risih karena tidak bisa menggaruk badan mereka yang gatal.
Bibi Hannah belum sadarkan diri, obat bius yang Jerry berikan kepadanya membuatnya tertidur lelap tanpa merasakan gangguan dari nyamuk.
Sedangkan Jerry kini tengah tidur dengan nyenyak bersama Siera. Tapi itu tidak berlaku untuk Evrard, laki - laki itu tidur di gudang tempat mereka menyekap Elaine dan juga Derryl.
Karena disini Jerry yang menjadi bos sekaligus penghendle misi, tentu saja dia memerintahkan kepada Evrard untuk menjaga mereka dengan baik.
Sebenarnya bukan hanya ponsel yang terdapat gps, dompet mereka juga telah dipasang sinyal gps sesuai perintah dari atasan mereka.
"Patric, tunggu." Pinta Keyle.
"Kenapa titik gps ada di desa tua ini." Keyle menunjuk titik merah yang ada di layar monitor.
"Kau benar, tempat ini ada di kaki bukit di desa tertinggal di kota Strasbourg." Patric terus mengamati monitor, dia sesekali memperbesar untuk melihat keadaan sekitar titik merah.
Titik merah menandakan tempat gps Derryl berasal. Saat sinyal itu dilacak, mereka akan menukan tanda itu sebagai petunjuk bagi mereka.
"Tunggu Patric, lihat ini. Aku mengsearch lokasi titik koordinat gps dan yang keluar adalah sebuah gudang terbengkalai." Keyle memperlihatkan gambar gudang itu kepada Patric.
"Sepertinya ada yang tidak beres. Kerahkan anggota, kita selidiki ini bersama." Patric kembali fokus ke pada layar monitor.
Keyle yang bertugas sebagai detektif melakukan analisa secara menyeluruh supaya tidak terjadi kekeliruan saat mendapati hal - hal yang mungkin saja terjadi pada Derryl.
"Ketemu." suara Keyle membuyarkan konsentrasi para anggota yang tengah bertugas.
__ADS_1
"Aku telah mengecek cctv di rumah Bi Hannah, dan ternyata memang benar mereka diculik." Semua menjadi tegang mendengar ucapan Keyle.
"Mereka menembakkan gas bius sebelum melancarkan aksinya. Untuk sementara Boby cek plat nomor yang telah aku kirimkan melalui email," ucap Keyle.
"Kita akan mengatakan kepada Kolonel, untuk melakukan misi penyelamatan kepada kapten Derryl. Kalian paham!" Suara Keyle dengan tegas dan berwibawa.
"Paham." Jawab mereka secara serempak.
Tepat jam tujuh pagi, Keyle mengumpulkan anggotanya. Dia sudah meminta ijin kepada kolonel untuk melakukan misi ini, dan tentu saja dia mendapat dukungan penuh atas misi ini.
"Sebelum berangkat, untuk kalian yang tidak ingin ikut boleh keluar dari barisan sekarang!" ucap Keyle namun tidak ada satupun dari 20 anggota yang keluar dari barisan.
"Baik jika tidak ada yang ingin keluar. Apa kalian siap?" tanya Keyle dengan suara lantang.
"Siap." jawab mereka serempak.
"Baiklah kita berangkat."
Mereka masuk ke dalam mobil masing - masing dan langsung menuju ke lokasi yang pastinya akan memakan waktu karena jauh dari Paris. Letnan juga sudah meminta bantuan kepada pangkalan yang ada di Strasbourg, karena lokasinya jauh dari kota Paris.
Di rumahnya, Esmee tidak merasa khawatir dengan Elaine. Dia sudah mengabarkan kepada Abelano jika keponakannya hari ini libur, dia sedang merawat Bibi Hannah yang sedang sakit.
Mengingat hal itu membuat Esmee menepis rasa gundah yang menyelimuti hatinya.
Anak buau Jerry mengabarkan jika ada sebuah pergerakan dari sekelompok sheriff. Jerry memberikan perintah untuk memhapus segala jejaknya dalam penculikan ini.
"Jangan sampai kalian membawa namaku, jika sampai itu terjadi keluarga kalian yang akan aku hancurkan." Ancam Jerry.
"Berikan ponselnya kepada Derryl." Dengan cepat pria itu memberikan ponselnya kepada Derryl.
"Ingat, jika kamu membawa namaku dalam penyelidikan, aku tidak segan untuk menyakiti Dady. Kau tahu itu Derryl!" Bentak Jerry lalu dia mematikan sambungan telfon. Dengan kasar Jerry melempar ponselnya ke atas tempat tidur.
"Ada apa?" tanya Siera.
"Ada pergerakan dari sekelompok sherif," jawab Jerry.
"Aku sudah meminta mereka untuk menghapus jejakku, karena aku tahu Derryl akan menang kali ini. Dia pasti memasang gps di ponselnya, bodoh sekali aku melewatkan hal itu." Cebik Jerry dengan kasar.
__ADS_1