MY CEO IS MY DEAR

MY CEO IS MY DEAR
PEWARIS VALEO CORP'S


__ADS_3

Abelano menatap tvnya dengan tatapan kosong. Pikirannya masih tertuju kepada wanita masa lalunya Calista. Hatinya terasa remuk jika teringat apa yang telah dilakukan oleh wanita ini. Ibunda Abelano yang mendengar kedatangan Calista ke kantor anaknya juga menjadi sedikit resah.


" sayang, ada apa?" Nyonya Silvia menghampiri putranya yang melamun.


" tidak mom, tidak ada apa apa" jawabnya berbohong.


" mom tau kamu tengah memikirkan sesuatu, apa karena kedatangan Calista waktu itu?" tanya Nyonya Silvia


" Gilbert yang mengatakannya pada mom?" Abelano bertanya balik.


" iya, ceritalah pada mom, nak"


Nyonya Silvia tidak ingin putranya kembali terjatuh hanya karena seorang wanita. Dirinya akan berusaha membuat putranya agar tidak larut dalam fikiran tentang Calista.


"mom tidak ingin kamu terus memikirkannya nak. Mungkin mom dulu salah pernah menjodohkan kalian, tapi sekarang mom tak ingin kamu mengingat wanita itu lagi" Nyonya Silvia berusaha menenangkan Abelano.


Abelano merupakan putra tunggal Nyonya Silvia dan mendiang Tuan Valeo, jadi masa depan Valeo Corp's tentunya berada di tangan Abelano. Nyonya Silvia tentu tidak ingin satu satunya pewaris Valeo corp's terpuruk hanya karena seorang wanita.


***


" aku berangkat sekarang" pesan yang dikirimkan Derryl kepada Elaine.


Pemuda tampan ini tidak ingin menyianyiakan akhir pekannya kali ini. Biasanya dia menghabiskan akbir pekan hanya untuk pergi memancing bersama kedua temannya, tapi kali ini dia akan pergi bersama wanita pujaannya.


" berhati hatilah di jalan" balas Elaine


Elaine sudah siap dengan kopernya, dia juga tidak melupakan oleh oleh yang sudah disiapkan oleh bibinya. Elaine tersenyum melihat banyaknya oleh oleh yang dia bawa.


" bibi, bukankah ini terlalu banyak?" tanya Elaine.


" ahh tidak Elaine" Esmee mencoba meyakinkannya.


Esmee tau keponakannya satu satunya ini sangat menyukai macaron. Jadi dia tidak tanggung tanggung membelikan Elaine macaron untuk oleh olehnya.


" seharusnya satu saja cukup bibi, ini terlalu berlebihan bukan?"


" tidak sayang, nanti kau bisa membaginya kepada bibi Hannah dan tetangga di sana" jawab Esmee


" baiklah bibi terima kasih, aku akan sangat merindukan bibi" Elaine memeluk bibinya.


" bibi juga akan merindukanmu sayang"


" pikirkan lagi apa kata bibi ya sayang" pinta Esmee masih memeluk Elaine.

__ADS_1


" iya bibi, aku pasti akan memikirkannya lagi" jawab Elaine yakin.


Saat mereka masih terhanyut dalam pelukan, mobil Derryl tiba di depan rumah Esmee.


" baguslah dia tak salah alamat" batin Elaine.


Derryl keluar dari mobilnya, menampakkan wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang gagah. Derryl nampak bertanya kepada security yang berjaga di depan.


" apakah dia temanmu?" tanya Esmee melihat Derryl dari jendela.


" iya bibi" jawab Elaine malu malu.


" dia tampan" Esmee menggoda keponakan nya.


Elaine hanya tersenyum mendengar bibi Esmee menggoda dirinya.


" maaf Nyonya, di depan ada yang mencari Nona Elaine". suara security itu.


" ajak dia masuk" jawab Esmee ramah.


" aku akan langsung pergi saja bibi" protes Elaine.


" oh baiklah, pak bawakan koper ini saja" perintah Esmee kepada security tadi.


" Selamat siang bibi" sapa Derryl kepada Esmee.


" Selamat siang, siapa namamu nak?" tanya Esmee.


" saya Derryl bi" jawabnya sopan


" aku yang menyuruh dia memanggil bibi" bisik Elaine ketelinga bibinya dan Esmee hanya tersenyum mengerti.


" sebenarnya bibi ingin mengajakmu berbincang di dalam, tapi keponakan bibi melarangnya" bibi Esmee tersenyum.


" bibi" protes Elaine.


Koper dan barang yang lain sudah dimasukakan kedalam mobil Derryl. mereka kini sudah siap untuk berangkat.


" kami pergi dulu bibi" pamit Elaine.


" berhati hatilah, datanglah kapanpun kau mau. dan untuk Derryl bibi titip Elaine ya, jaga dia berhati hatilah di jalan" suara Esmee sendu.


" iya bi pasti, kami berangkat dulu"

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam mobil dan perlahan mulai meninggalkan halaman rumah bibi Esmee. Di halaman rumah Esmee masih terdiam melihat mobil yang Elaine tumpangi mulai menghilang. Dirinya kini merasa sedikit kesepian karena kepergian keponakan satu satunya itu.


***


" kenapa dia mengabaikanku, bukankah dia masih mencintaiku" guman Calista.


wanita ini berusaha mendapatkan hati Abelano kembali setelah apa yang dia perbuat 5 tahun silam.


" ayah, atur perjodohanku kembali dengan putra paman Valeo" pinta Calista kepada ayahnya.


" kamu ini selalu membuat ayah pusing" jawab Ernest murka.


" sudah cukup kamu memikirkan laki laki itu, ayah akan mencarikan laki laki yang jauh lebih baik dari dia" tambah Ernest lagi.


" tapi aku hanya mencintainya ayah" Calista mencoba membujuk ayahnya.


" ayah tidak mau, mau taruh dimana harga diri ayah menjodohkanmu dengannya lagi. Jangan pernah coba coba untuk dekat dengannya, kau tau itu" Ernest meninggalkan putrinya.


Dia sangat sangat tidak setuju dengan permintaan putri satu satunya ini. Bagaimana mungkin dia akan menghubungi keluarga Valeo lagi, ini menyangkut harga dirinya dan juga wajah perusahaan. Untuk permintaan putrinya yang satu ini tidak bisa ia turuti meskipun Calista akan merengek terus padanya.


***


" barang bawaanmu lumayan banyak" ucap Derryl menggoda Elaine.


" itu oleh oleh dari bibi Esmee, dia selalu berlebihan dengan keponakan kesayangannya ini" Elaine tersenyum.


" kau suka macaron?" tanya Derryl.


" emm iya, sangat suka. kau mau bibi Esmee membawakanku 10 kotak macaron"


" apa bibimu ingin keponakannya yang cantik ini mengidap diabetes" gurau Derryl.


Mereka tertawa lepas bersama, bercerita satu sama lain layaknya pasangan yang sudah sangat dekat. Tak hanya Elaine, Derryl pun juga merasakan nyaman saat bersama nya. Derryl ingin mengenal Elaine lebih dekat lagi, hatinya merasa ingin selalu bersama wanita cantik ini.


" kenapa kamu memilih untuk pulang ke Strasbourg?" tanya Derryl.


" aku masih belum siap untuk menetap lagi di Paris" jawab Elaine.


" tapi kamu tidak berfikir untuk tinggal di Strasbourg selamanya bukan?"


" mungkin tidak" jawab Elaine.


Sebenarnya Elaine juga masih ingin tinggal disana bersama bibi dan juga pamannya. tapi hatinya juga masih belum siap untuk kembali ke kota yang membawa banyak kenangan buruk untuknya itu.

__ADS_1


__ADS_2