
Hari ini Elaine menemani bibi Esmee melakukan perawatan ke rumah spa milik paman Leandre. pamannya sudah menyiapkan semuanya tidak akan ada tamu satupun yang akan datang ketika bibi Esmee melakukan perawatan nanti.
"kapan paman mendirikan rumah spa ini bibi, seingatku ini belum ada dulu?" tanya Elaine saat tiba di depan rumah spa.
"ini masih cukup baru Elaine, hampir satu tahun."
pelayan memberikan salam hormat saat mereka masuk ke rumah spa. mereka sudah tidak asing dengan Esmee, karena Leandre sudah sering mengajaknya ke sana.
mereka kini masuk ke ruang perawatan untuk melakukan body treatment.
"Meryy.." panggil Elaine mengenali salah satu pelayan disana.
"E..lai.ne.." jawabnya terbata.
"kalian saling mengenal?" tanya bibi Esmee.
"iya bibi, dia teman smaku" jawab Elaine.
"iya nyonya kami teman sekelas dulu"
"ohh.. kita lanjutkan ngobrolnya nanti ya, bibi ingin treatment dulu" ucap bibi Esmee senyam senyum.
Marry adalah teman sekelas Elaine dulu di bangku sma, mereka dulu sering menghabiskan waktu bersama. hanya saja semenjak Elaine kuliah mereka tak lagi saling bertemu karena Merry bergi bekerja keluar kota. Merry tidak melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya.
Merry masih mengingat kebaikan orang tua Elaine kepadanya dulu. Merry selalu diperlakukan seperti seorang anak kandung oleh kedua orang tua Elaine. hingga saat neneknya butuh biaya operasipun ayah Elaine yang membiayainya.
__ADS_1
setelah 2 jam melakukan perawatan, Elaine sedikit mengobrol dengan Merry. sebenarnya Merry mengetahui kepergian Elaine dua tahun lalu, tapi ia enggan menanyakannya kepada Elaine apa alasannya.
"apakah kau sudah selesai sayang" suara paman Leandre menelpon bibi Esmee.
"sudah, sebentar lagi aku akan pulang sayang"
"bisakah kau mampir ke kantorku, aku merindukanmu"
"kau ini sungguh manja. tunggulah aku akan datang bersama Elaine"
"cepat lah kita makan siang bersama"
paman Leandre menutup telpon.
"mari Elaine pamanmu sudah menunggu untuk makan siang bersama" ajak bibi Esmee
mereka tiba dikantor Activ group. bibi Esmee langsung mengajak Elaine ke kantin perusahaan. disana paman Leandre sudah menunggu dengan rekan kerjanya.
"mereka sudah datang" ucap leandre menunjuk Elaine dan bibi Esmee.
"Elaine" suara Abelano terkejut
"kamu mengenalnya?" tanya paman Leandre heran
belum sempat menjawab Elaine dan bibi Esmee sudah menghampiri mereka.
__ADS_1
"apa kalian telah menunggu lama?" tanya bibi Esmee
"tidak sayang, kami juga baru saja tiba disini"
"perkenalkan ini rekan bisnisku Abelano"
"perkenalkan saya Abelano" sambil menjabat tangan bibi Esmee kemudian menjabat Elaine.
"apakah kau mengenalinya Elaine?" tanya paman Leandre.
"sepertinya iya paman. bukankah anda yang ada di kereta waktu itu Tuan"
"iya benar Nona, senang bertemu lagi dengan anda"
"senang juga bisa berjumpa lagi dengan anda Tuan"
mereka kini makan siang berempat. pandangan Abelano tak bisa lepas dari Elaine, ia tidak menyangka bisa dipertemukan kembali dengan wanita yang dikaguminya dengan suasana seperti ini. paman Leandre juga memperhatikan Abelano yang terus memandangi Elaine, ia berfikir rekan bisnisnya ini menaruh hati pada calon keponakannya.
disela sela makan siang, mereka bercengkrama dan sesekali bergurau yang membuat ke empatnya membuat tawa yang begitu nyaring. karyawan yang ada di kantin perusahaan juga ikut tertawa melihat bos mereka tertawa dengan nyaringnya.
"aku pulang dulu dengan Elaine, lanjutkan perbincangan kalian" pamit bibi Esmee
"kalian berhati hatilah, jaga kesehatan mu sayang"
"aku pamit dulu Paman, mari Tuan" pamit Elaine kepada mereka.
__ADS_1
"Iya Elaine, mari berjumpa lain waktu" jawab Abelano berharap.
Abelano menatap kepergian Elaine, dalam hati ia berharap Elaine bisa berada disini lebih lama.