MY CEO IS MY DEAR

MY CEO IS MY DEAR
ASISTEN BARU ABELANO


__ADS_3

Lima hari berlalu setelah kejadian di hotel membuat Derryl memberi memperhatikan lebih kepada Elaine. Derryl tidak pernah absen untuk mengantar dan menjemput Elaine dari kantor.


Bryant juga sudah meminta maaf kepada pihak Abelano, tapi pemutusan hubungan kerja tetap Abelano lakukan, meski pun pria berperut buncit itu sudah meminta maaf.


Leandre juga tak kalah tegasnya dengan Abelano. Dia membuat semua media masa maupun digital memberitakan hal itu. "Seorang Bos Besar Berusaha Melecehkan Seorang Sekertaris" tulis media pemberitaan dengan foto wajah Bryant gamblang disana.


Leandre juga memperingatkan agar semua media tidak ada yang merilis nama sekretaris yang dilecehkan itu. Tentu saja Leandre akan menjaga nama baik Elaine karena dia adalah keponakan satu- satunya.


"Kamu hati - hati ya," ucap Elaine saat keluar dari mobil Derryl.


"Yang hati - hati itu kamu sayang," jawab Derryl serius.


"Iya, I LOVE YOU," ucap Elaine sebelum akhirnya masuk ke dalam kantor.


Abelano nampak tidak menyukai pemandangan di depan matanya ini. Jika bukan keponakan teman dekatnya, mungkin Abelano akan mendekati Elaine tanpa memikirkan wanita itu sudah punya kekasih.


"Selamat pagi Elaine." sapa Gilbert.


"Pagi juga Pak." balas Elaine ramah.


Di kantor Elaine terkenal paling ramah dan juga periang. Meskipun dia pegawai baru disana, tapi Elaine termasuk orang yang mudah berbaur dan beradaptasi dengan lingkungan baru.


Tak hanya Abelano yang mengakui kemapuan Elaine, tapi departemen keuangan juga mengakui akan hal itu. Karena Elaine dulu adalah mahasiswi akuntan terbaik jadi tidak dapat diragukan lagi.


Mengetahui kabar bahwa Elaine sering membantu karyawan dari departemen keuangan membuat Abelano ingin memindahkan wanita itu kesana. Tapi Abelano juga masih ingin bersikap egois untuk tetap menahan Elaine menjadi sekretaris nya.


Jika Elaine pindah ke departemen keuangan maka secara otatis Abelano akan jaran bertemu dengannya. Tapi tidak memindahkannya juga salah bagi Abelano, karena harusnya Elaine memang harus bekerja sesuai kemampuan dan bidangnya.


"Ahh bikin frustasi saja," ucap Abelano memikirkan tentang pemindahan Elaine.


"Aku belum bisa melepaskannya, aku tidak akan bisa melihat wajah ceria itu saat aku lelah." pikir Abelano yang sedang memandangi Elaine secara diam - diam.


Setiap Abelano merasa lelah dengan pekerjaannya dia akan membuka tirai kantornya. Dengan kaca yang telah dia pilih agar hanya terlihat disatu sisi, dia bisa memandang Elaine sepuasnya jika sedang sendirian.Karena kaca itu hanya terlihat dari kantornya tanpa Elaine bisa melihatnya, jadi Abelano akan menutup tirai saat Elaine masuk agar tidak ketahuan.


Terdengar sangat konyol memang sikap Abelano, tapi itulah salah satu hal yang dilakukan orang saat sedang kasmaran. Jangankan melihat senyumnya, melihat punggungnya saja sudah bahagia. Seperti itu definisinya kira - kira.


"Bos." panggil Gilbert yang tidak disadari oleh Abelano.


"Ehem Ehem." Gilbert akhirnya berdehem.


"Eh iya ada apa?" tanya Abelano yang dengan cepat menutup tirainya.


"Perkenalkan ini anak saya yang saya ceritakan tempo hari, namanya Zidan," tutur Gilbert.


"Zidan," ucap pemuda tampan itu dengan sedikit membungkukkan badanya sebagai tanda hormat.

__ADS_1


"Oh silahkan duduk dulu." Abelano mempersilahkan.


"Begini Bos, seperti yang sudah saya katakan kemarin bahwa saya akan digantikan oleh Zidan. Saya sudah menjelaskan semua tugas - tugas yang harus dia lakukannya juga." jelas Gilbert.


"Tunggu ini anak paman yang dulu sering diajak main ke rumah?" tanya Abelano setelah memutar memorinya mengingat kenangan dua puluh lima tahun lalu.


"Iya Tuan benar," jawab Zidan.


"Kamu sudah besar sekarang, tinggallah di rumah utama mulai sekarang. Paman juga, ajak bibi sekalian," ucap Abelano yang disambut senyum ke dua pria di depan nya ini.


"Nanti kita bicarakan dengan Ibu dulu." jawab Gilbert.


"Jadi sekarang Zidan yang akan menjadi asisten saya, lalu paman dimana?" tanya Abelano.


"Paman akan menjaga bunga - bunga Nyonya di rumah, dan Zidan akan menjaga kesayangan Nyonya dimanapun dia berada." jawaban Gilbert yang membuat kedua pemuda ini tersenyum haru.


"Kalau begitu paman dan bibi harus tinggal di rumah utama dan Zidan juga. Ini perintah jangan menolak," ucap Abelano tegas namun dengan senyum cerah.


"Baiklah." jawab Gilbert.


Setelah kepergian Gilber dan juga Zidan putranya, Silvi masuk ke dalam kantor Abelano dengan secangkir kopi Ekspreso. Saat akan menaruhnya di meja, dengan sengaja Silvi menumpahkan kopi yang tidak terlalu panas itu ke celana Abelano.


"Maafkan saya Bos, maafkan saya," ucap Silvi pura - pura panik.


"Sudah tidak apa- apa, lain kali lebih berhati- hati," jawab Abelano cuek.


Dengan segera Silvi mengambil tisu dan mengelap celana Abelano yang basah terkena tumpahan kopi. Dengan sengaja tangan Silvi menyenggol sesuatu yang tersembunyi di bawah sana.


Berulang kali Silvi dengan sengaja mengelapnya tapi lebih terlihat seperti belaian. Silvi nampak senang saat tangannya yang sibuk mengelap merasakan ada sesuatu yang mulai mengeras disana.


"Sudah, biarkan saya bersihkan sendiri." Merasa tidak nyaman dengan kelakuan Silvi, Abelano dengan cepat bangkit dan meninggalkan wanita itu sendiri.


"Kamu pasti tidak kuat," guman Silvi dengan senyum kemenangan diwajahnya.


Abelano pergi ke kamar mandi untuk membersihkan sisa - sisa kopinya. Dia menyuruh Zidan untuk mengambil celana di lemari yang ada di dalam kantornya.


"Ambilkan yang warna hitam, dan ingat jangan sampai wanita yang ada di dalam kantor saya itu tau kalau celana itu akan dibawa kemari." perintah Abelano.


Zidan dengan cepat mengambilkan celana yang dimaksudkan oleh Tuannya. Saat dia masuk ke dalam kantor tenyata benar ada seorang wanita cantik disana. Zidan hanya menyapanya lalu segera mengambil celana.


"Maaf, apakah anda tau Bos ada dimana? Ada berkas yang harus ditandatangani," ucap Elaine saat Zidan sudah memgambil celana itu.


"Maaf Nona Bos sedang sibuk nanti saya sampaikan," jawab Zidan.


"Iya terima kasih. Ko kamu bawa celana si Bos, emang ada apa?" tanya Elaine polos.

__ADS_1


"Oh ini untuk saya Nona, saya permisi dulu." Zidan cepat - cepat keluar dan langsung menghampiri Bosnya.


Elaine hanya menatap kepergian Zidan dengan wajah bingung.


"Ini celananya Bos." Zidan memberikan celana itu.


"Bagaimana masih ada wanita itu di dalam ruangan saya?" tanya Abelano.


"Masih Bos, dia juga menanyakan kenapa saya membawa celana si Bos." Zidan mengadu.


"Kamu benar - benar sudah gila Silvi.. Arghh." batin Abelano.


"Maaf saya keluar dulu Bos." Zidan keluar dari kamar mandi pribadi itu.


Silvi menunggu di mejanya dengan wajah senang. Sekarang dia tinggal menunggu untuk melihat wajah si Bosnya.


"Kamu kenapa Sil?" tanya rekan kerjanya.


"Seneng aja" jawabnya singkat.


Tak lama setelah itu Silvi melihat Abelano akan masuk ke dalam kantornya. Tapi yang dia lihat wajah Abelano hanya biasa saja. Tak berhenti sampai disitu, Silvi membawa berkas yang perlu ditandatangani ke ruangan Bosnya.


"Maaf Pak, ini ada berkas yang butuh tanda tangan anda dengan segera," ucap Silvi.


"Letakkan saja." Abelano tak bergeming.


Silvi bangun dan berdiri tepat disamping Abelano. Tangganya mengelus lembut punggung Abelano.


"Ada apa dengan anda Bos?" tanya Silvi dengan suara manja


Tak disangka Abelano bangun dan memegang ke dua tangan Silvi. Dia mendorong tubuh Silvi hingga punggung wanita itu mendarat di dinding kantor.


"Kamu pikir saya takut dengan permainan kamu? Aku lebih ganas dari yang kamu kira," Ucap Abelano


Wajahnya kini sangat dekat dengan wajah Silvi, hanya berjarak beberapa senti saja. Puncak hidung mereka juga saling beradu membuat orang jika melihatnya seperti mereka sedang berciuman.


Dan benar saja, Elaine terkejut saat masuk mendapati bosnya tengah bermesraan dengan temannya. Tak sampai disitu, Zidan yang tiba - tiba masuk juga terkejut melihat pemandangan ini.


Mendengar suara orang dengan cepat Abelano melepaskan tangan Silvi.


"Maaf Bos saya mengganggu," ucap Zidan dan Elaine bersamaan.


Belum mendengar apapun dari Abelano, mereka dengan cepat sudah pergi karena malu.


"Ini tidak seperti yang kalian lihat," ucap Abelano kencang.

__ADS_1


"Mereka pasti akan mengira kita berciuman tadi." bisik Silvi ditelingan Abelano sekilas sebelum ia pergi.


"Kali ini pasti akan ada gosip aku adalah pacar si bos." batin Silvi sambil tersenyum.


__ADS_2