
Seperti biasa Baldwin menemani Zena memuaskan nafsu belanjanya di mall. Setiap akhir pekan Zena juga sesekali memeriksa departemen store miliknya di salah satu mall terbesar di Paris.
Dengan manja Zena menggangdeng tangan Baldwin terus menerus. Dalam hati laki - laki ini sebenarnya merasa risih atas sikap Zena, tapi dirinya harus tetap berpura pura mencintai wanita ini.
" sayang ingin itu" suara Zena manja.
" kau ingin macaron?" tanya Baldwin sedikit heran
" iya, aku ingin itu" rengek Zena.
" apa kau yakin, bukankah kau takut berat badanmu akan naik nanti" Baldwin teringat akan diet yang selalu Zena jalani.
" sedikit saja ya" Zena bertambah manja di bahu Baldwin
" baiklah" Baldwin mengiyakan.
Mereka mendatangi toko yang Zena tunjuk, disana banyak disediakan macaron dengan berbagai rasa. Pandangan Zena tertuju pada satu kotak macaron dengan beraneka warna dan juga rasa, dia tersenyum lalu mengambil kotak itu.
" aku mau yang ini" ucap Zena tersenyum.
" kau yakin sebanyak ini?" tanya Baldwin heran.
" tentu" Zena menjawab singkat.
Mereka mengambil satu kotak macaron yang dipilih Zena lalu membayarnya di kasir. Puas membeli macaron kini Zena pergi untuk menambah koleksi sepatu dan high heels nya di lemari.
***
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh kini Elaine dan Derryl tiba di kota Strasbourg. Elaine menghubungi bibi Hannah untuk memberi tahu dirinya sebentar lagi tiba disana.
" bibi sebentar lagi aku sampai" suara Elaine ketika bibi Hannah menjawab telfonnya.
" siapa yang menjemputmu di stasiun Elaine?" tanya bibi Hannah terkejut.
" aku tidak naik kereta bibi, aku diantarkan oleh temanku" terang Elaine.
" teman, siapa?" bibi Hannah kembali bertanya.
" nanti aku kenalkan kepada bibi. bibi sedang di rumah atau di toko?" tanya Elaine memastikan meski dia tahu kemungkinan besar bibi Hannah pasti ada di toko.
" bibi sedang di toko sayang. Evrard terus bertanya kepada bibi kapan kamu pulang, kamu tidak menghubunginya?"
" aku menghubunginya tapi aku memang tidak mengatakan aku pulang diantar oleh temanku" jelas Elaine.
" benar saja, berhati hatilah bibi tunggu di toko ya"
" baik bi"
Tak lama setelah sambungan telfon terputus Elaine dan Derryl tiba di depan toko bunga milik bibi Hannah.
***
Bibi Hannah memandang dari dalam toko mobil hitam yang kini berhenti tepat di depan tokonya.
" mungkinkah itu Elaine" batin bibi Hannah.
Dan benar Elaine keluar dari mobil mewah itu bersama seorang pemuda tampan bertubuh tegap.
__ADS_1
" hai bibi" sapa Elaine saat memasuki toko.
Elaine berhambur ke pelukan sang bibi dan disambut dengan pelukan dari bibi Hannah pula.
" apakah itu teman yang kamu maksud" goda bibi Hannah.
" dia memang temanku bibi" jawab Elaine malu malu.
" oh ya silahkan masuk nak" bibi Hannah mempersilahkan Derryl.
" perkenalkan namaku Hannah, kau boleh memanggilku bibi Hannah seperti halnya Elaine" tutur bibi Hannah.
" Oh iya bi, saya Derryl teman Elaine" Derryl menjabat tangan bibi Hannah dengan sopan.
" ajak dia duduk di dalam Elaine"
" tidak usah bibi, aku pulang ke rumah dulu nanti setelah bibi tutup toko aku akan ke rumah bibi"
" baiklah, bibi tau kamu juga pasti capek. bibi titip Elaine ya nak" tutur Bibi Hannah kepada Derryl.
" iya bibi baik". jawab Derryl .
Bibi Hannah tersenyum memandang kepergian mereka. Dirinya ikut merasa senang melihat Elaine kesayangan nya itu kini telah bisa membukakan hatinya untuk seseorang laki - laki.
" dia sepertinya laki laki yang baik" batin bibi Hannah.
***
Di kaca spion mobil Abelano dia melihat ada sebuah mobil silver yang sedari tadi mengikutinya. Abelano berusaha memastikan dia menguntitnya atau tidak, diapun mempercepat laju mobilnya dan benar saja mobil itu juga ikut mempercepat laju mobilnya.
Karena melihat jalanan dalam keadaan sepi, Abelano dengan sengaja mengerem mobilnya secara tiba - tiba. Karena rem mendadak yang dilakukan Abelano, mobil yang membuntuti Abelano akhirnya oleng dan menabrak pembatas jalan. Abelano tidak turun dari mobilnya, hanya mompotret mobil itu sekilas lalu melanjutkan perjalanannya kembali.
Abelano mempercepat laju mobilnya, dirinya ingin segera tiba di kota Strasbourg. Dirinya mendapat laporan dari anak buahnya ada hal - hal yang dilakukan beberapa preman kemarin di pasar. Salah satu mereka juga ada yang merusak salah satu kios di pasar.
Karena geram mendengar laporan dari anak buahnya, Abelano langsung menggas mobilnya menuju kota tua itu. Abelano tidak segan segan untuk berhadapan langsung dengan orang - orang yang mengganggu kedamaian pasar Strasbourg. karena dirinya juga ikut bertanggung jawab atas keamanan di pasar itu.
Saat mobil Abelano berhenti di salah satu lampu lalu lintas di persimpangan jalan, matanya tertuju pada sebuah mobil merah di depannya. Abelano mengamati nomor polisi dari mobil itu dan dengan yakin dia tahu siapa pemiliknya.
" Calista" guman Abelano yang masih mengamati mobil itu.
Mobil Calista mulai bergerak maju, tapi Abelano masih sibuk dengan fikiranya sendiri. Mobil - mobil yang berada di belakangnya pun mengklakson Abelano dengan kencang dan juga bersamaan.
" pimm..pimm..pimm..pimm"
" pak ayo jalankan mobilnya, apakah anda tidur" suara salah seorang pengendara mobil.
Abelano yang tersadar mulai menjapankan mobilnya dengan segera. Dalam perjalanan nya dia terlihat mencari- cari mobil Calista, tak lama setelah itu Abelano melihat mobil merah milik Calista tak jauh berada di depannya.
***
Derryl dan Elaine pergi meninggalkan toko bunga bibi Hannah dan menuju rumah Elaine. Setelah kepergian mereka tak berselang lama Evrard pun datang ke toko bunga.
" bagaimana bibi, kapan Elaine akan tiba?" tanya nya seperti tergesa - gesa.
" Elaine baru saja keluar dari sini, dia sudah pulang Evrard" Jawab bibi Hannah tersenyum.
" yang benar bibi? lalu Elaine naik apa dari stasiun? siapa yang menjemput nya?" tanya Evrard kebingungan.
__ADS_1
" dia tidak naik kereta, Elaine bersama seorang temannya" jelas bibi Hannah.
" teman? teman laki - laki ya bi?" Evrard penasaran.
" nanti kamu liat sendiri aja ya, tolong kamu antarkan bunga ini dulu ya" bibi Hannah memberikan rangkaian bunga dan secarik kertas berisi alamat penerima kepada Evrard.
Evrard hanya tunduk dan pasrah menerima bunga itu lalu pergi untuk mengantarkannya.
" aku akan melihat ke rumah Elaine dulu" desir Evrard dalam hati.
Evrard mengarahkan mobilnya menuju ke rumah Elaine. Sampai di sana benar saja Evrard melihat Elaine keluar dari mobil hitam mewah bersama seorang laki - laki yang lumayan tampan menurutnya.
" siapa dia?" guman Evrard.
Merasa cemburu melihat kedekatan mereka, Evrard lalu pergi meninggalkan rumah Elaine. Hatinya seperti terbakar sekarang, fikirannya tertuju kepada kejutan yang telah dia siapkan untuk Elaine.
" aku belum boleh menyerah" fikir Evrard yakin.
***
Dibantu oleh Derryl, Elaine mengeluarkan barang - barang bawaannya. oleh - oleh yang di berikan oleh sang bibi sungguh merepotkan karena jumlah nya yang sangat banyak.
" apa kamu mau makan siang terlebih dahulu?" Elaine menawarkan kepada Derryl.
" kita bawa mereka masuk dulu lalu pergi mencari makan siang" jawab Derryl tersenyum melirik barang bawaan Elaine.
" baiklah, mari"
Elaine membuka pintu rumahnya, membawa tamu dan barang - barangnya masuk ke dalam.
" duduklah dulu" Elaine mempersilahkan Derryl duduk.
" baiklah"
Elaine pergi ke dapur nya, mencari bahan bahan di kulkasnya untuk membuat minuman untuk laki - laki tampan itu. Karena Elaine sudah memasang vacum cleaner otomatis sebelum ia pergi, jadi rumahnya tidak begitu berdebu meski ditinggalkan satu pekan.
" minumlah dulu kau pasti sangat lelah" Elaine memberikan segelas jus mangga kepada Derryl.
" tidak mungkin aku merasa lelah untuk melayani tuan putriku" gurau Derryl.
Elaine mengambil beberapa croissant dan macaron yang di bawakan oleh bibinya. Tak ada salahnya untuk mengganjal perut sebelum mencari makan siang menurutnya.
" ini rumahmu ?" tanya Derryl mengamati rumah itu.
" tidak, aku mengontraknya. ini rumah milik paman marius tetangga bibi Hannah" jelas Elaine.
" kau tinggal disini hanya seorang diri" tanya Derryl.
" iya, aku tak enak hati bila harus tinggal bersama bibi Hannah" jawab Elaine jujur.
Mereka berbincang dan menghabiskan jus mereka masing- masing. Derryl terlihat sesekali mengambil macaron, memakannya dengan lahap lalu mengambilnya lagi, Elaine yang melihatnya sontak saja tersenyum.
"sepertinya laki - laki tampan ini menyukai sesuatu yang manis" batin Elaine.
" ada apa?" tanya Derryl melihat Elaine tersenyum sendiri.
" tidak, aku hanya suka melihatmu makan macaron ini" jawabnya jujur.
__ADS_1
" apakah aku terlihat seksi?" Derryl bangkit dari kursinya lalu duduk di sebelah Elaine.
" tidak bukan begitu" jawab Elaine yang gelagapan karena malu.