MY CEO IS MY DEAR

MY CEO IS MY DEAR
MEMELUK DALAM GELAP


__ADS_3

Baldwin memandangi foto Elaine yang ada di tangan nya. dia masih memikirkan cara untuk bisa mendapatkan wanita itu. keinginannya semakin menjadi kala mengingat Elaine bersama Abelano musuh bisnisnya.


tok .. tok..


Baldwin dengan cepat memasukkan foto Elaine kedalam laci nakasnya.


" apa kau sedang sibuk?" tanya Zena manja


" sedikit" jawab nya singkat


"aku ingin mengajakmu dinner malam ini sayang" ajak Zena


Zena terus bergelanyut manja di punggung Baldwin, membuat laki laki itu sedikit risih.


" baiklah aku akan selesaikan pekerjaanku secepat mungkin"


" aku akan menunggumu di rumah" Ucap Zena tersenyum riang


Zena mencium pipi Baldwin sekilas sebelum meninggalkan kantornya.


***


"nona, kerabat saya ada yang mengalami kecelakaan dan dia sekarang di rawat di rumah sakit tak jauh dari sini, saya ingin menjenguknya jika anda mengizinkan" tanya pak Payan kepada Elaine


" pergilah pak, saya akan baik baik saja, sampaikan salam saya kepadanya semoga lekas diberi kesembuhan" jawab Elaine dengan sopan.


"terima kasih Nona, akan saya sampaikan salam anda. saya pamit dulu Nona"


Bagaimana mungkin Elaine tak memberikan izin kepada security nya, bukan dia yang membayarnya melainkan bibinya. Dia tak ingin semena mena begitu saja kepadanya.


Elaine kembali menuju kamarnya, ia membuka isi lemarinya memilih mana pakaian yang cocok untuk ia kenakan malam ini.


" ahh ini tidak cocok untukku" gumannya melempat salah satu gaunnya ke atas ranjang.


" mungkin ini saja cukup"


Telah menghabiskan banyak waktu untuk memilih baju, kini Elaine berendam di dalam bath up nya. Dalam hatinya ia merasa senang setelah kejadian buruknya di masa lalu kini akhirnya dia bisa sedikit menghilangkan traumanya dengan seorang laki laki.


Mobil Derryl telah terparkir di depan villa Elaine. Dia melihat tak ada security yang berjaga di gerbang. Elaine yang mendengar suara mobil berhenti di depan gerbang pun segera keluar, dan benar laki laki tampan itu sudah menunggunya.


Derryl menatap Elaine lekat lekat, pakaian yang dikenakannya sederhana. Gaun berwarna biru panjang dengan belahan sampai ke lututnya dengan sepasang sendal dengan hak tidak terlalu tinggi membuatnya nampak elegan. Ditambah rambut hitamnya yang diikat ke atas membuat nya terlihat begitu cantik.


" apa kau menunggu lama?" tanya Elaine menyadarkan Derryl dari lamunannya


" ohh yaa.. maksudku tidak, aku baru saja sampai" jawabnya sedikit gugup


" kita berangkat sekarang?" tanya Derryl yang dijawab Elaine dengan anggukan

__ADS_1


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membawa keduanya ke arah salah satu restoran steak terkenal.


" aku tak melihat security di depan tadi, kemana dia?" tanya Derryl penasaran


" dia izin menjenguk kerabatnya di rumah sakit"


" Emm" Derryl hanya meresponnya singkat.


Mobil terus melaju hingga tak sampai 15 menit mereka telah sampai di restoran mewah itu.


"mari" ajak Derryl membukakan pintu mobil untuk Elaine dan mengulurkan tangannya.


Elaine dengan senang menerima tangan laki laki itu, bergandengan memasuki restoran.


Mereka makan malam berdua dengan romantis bak pasangan kekasih. Sesekali Derryl memperhatikan Elaine yang dengan anggun memakan steaknya.


***


Baldwin dan Zena tiba di restoran steak yang sama. Baldwin melihat Elaine tengah makan bersama seorang laki laki hingga membuat perasaannya tak nyaman.


" ada apa?" tanya Zena merasakan perubahan di wajah Baldwin


" tak apa, ayo" ajak Baldwin tak ingin Zena menyapa Elaine


Beruntung meja yang telah Zena pesan jauh dari meja Elaine. Di tengah makan malamnya lagi lagi Baldwin melirik ke arah Elaine hingga membuat Zena tak nyaman.


" tidak sayang, apa kau mau ke apartemen malam ini?" goda Baldwin untuk mencairkan amarah Zena. dan benar saja Zena luluh dengan rayuan Baldwin iya tersenyum mengiyakan.


***


Elaine menunggu di parkiran saat Derryl membayar tagihan makan malam mereka. tiba tiba ada seorang laki laki yang sangat ia kenal menghampirinya.


" Elaine" suaranya bergetar


Elaine terkejut hingga ingin melarikan diri tapi tak tau entah harus ke mana dia lari.


" Elaine" suaranya lagi.


Laki laki itu mendekati Elaine berusaha memegang tangan wanita itu.


" aku sangat merindukanmu" ucapnya memegang tangan Elaine.


Elaine mematung tak dapat berkata apa apa, rasa sakitnya dua tahun silam kini datang kembali.


" aku merindukanmu, maafkan aku Elaine, maafkan aku" ucapnya memohon


Derryl yang baru saja keluar dari restoran terkejut melihat tangan Elaine di pegang oleh seorang laki laki. Rahangnya mengeras melihat Elaine yang tak bereaksi apa apa terhadap laki laki itu.

__ADS_1


Jofanca yang menyadari suaminya sangat lama berada di parkiran lalu menyusulnya. Dia juga sama terkejutnya melihat Elaine bersama suaminya.


" senang bertemu lagi denganmu" jawab Elaine singkat sambil melepaskan pegangan tangan Ronald.


" kenapa kau lama sekali" suara Jofanca dengan seorang anak kecil di gendongannya.


Elaine tak menyapa Jofanca, ia masih sakit hati dengan teman dekatnya semasa dulu itu.


"apa kau menunggu lama?" tanya Derryl, ia sengaja menggandeng tangan Elaine.


"emm.. tidak" jawab Elaine mengeratkan gandengan tangannya.


" apakah dia temanmu? senang bertemu dengan anda Tuan, Nyonya" sapa Derryl ramah


"iya senang juga berjumpa dengan anda" jawab Ronald menahan emosinya.


belum sempat bertanya lagi Derryl sudah dulu berpamitan.


"kami pamit dulu Tuan"


Di sepanjang jalan mobil terasa hening, Elaine hanya menjawab pertanyaan Derryl dengan singkat. Elaine sibuk dengan perasaannya, kini ia merasa kehancuran hatinya dulu kini kembali lagi. Derryl juga menyadari perubahan sikap Elaine dan ia memilih memendam rasa penasarannya.


Melihat Elaine tengah dalam suasana hati yang tidak baik Derrylpun memilih mengantarkannya pulang ke villa.


" terima kasih atas makanan nya Derryl" ucap Elaine sebelum masuk ke villa.


" terima kasih kembali Elaine"


Elaine hilang di balik gerbang villa, Derryl masih duduk di dalam mobilnya yang terparkir di depan gerbang. Saat hendak menghidupkan mobilnya Derryl terkejut tiba tiba lampu di villa dan sekitarnya mati.


Elaine yang baru saja hendak mengganti bajunya panik karena gelap. Dia berusaha mencari ponselnya untuk penerangan tapi tak kunjung menemukannya. Dengan susah payah Elaine menuruni tangga untuk mencari senter.


Dari arah belakang dapur terdengar suara langkah kaki. Elaine yang merasa takut memberanikan diri untuk mengeceknya. Saat tiba di dapur Elaine menjerit melihat seorang laki laki di sana, belum sempat melihat wajahnya laki laki itu sudah memeluk Elaine terlebih dulu.


" tenanglah ini aku, Derryl. Gerbangmu terkunci jadi aku masuk lewat pintu belakang"


"bagaimana kau tau?" tanya Elaine


"saat aku menggendongmu waktu itu, cepat nyalakan lilin" pinta Derryl.


Derryl menegang ketika lilin menyala, ia melihat Elaine hanya memakai singlet dengan hot pant.


"ohh maafkan aku, aku belum sempat mengganti bajuku tadi" ucap Elaine menyadari perubahan pada Derryl


" tak apa, aku akan menemanimu sampai lampu kembali menyala".


Wajah Elaine bersemu merah, dia malu mengingat dirinya yang sekarang masih mengenakan pakaian minim.

__ADS_1


__ADS_2