My Triplet Son

My Triplet Son
Keputusan - Kelvan (6)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


...........


Setelah tiga hari Jihan dirawat, Kelvan memutuskan untuk membawa Jihan tinggal bersamanya di apartemen. Selama tiga hari itu pula Kelvan tidak masuk kantor.


"Sayang, hari ini aku akan ke kantor dulu. Jaga dirimu baik baik." Ucap Kelvan sembari mengecup kening wanitanya yang masih tertidur pulas.


Ada yang harus dia lakukan di kantor, dia harus menanyakan kebenarannya pada Razer. Kenapa Razer bisa setega itu padanya. Jika memang dia mencintai Jihan seharusnya dia bilang sejak dulu. Kelvan akan mengalah, tetapi untuk sekarang dia tidak akan pernah menyerahkan wanitanya pada siapapun. Termasuk Razer.


"Ada yang mau kau jelaskan padaku?" Tanya Kelvan sembari menatap tajam Razer.


Tadi sesampainya di kantor dia sudah di sambut Razer, tanpa membuang waktu Kelvan segera menyuruh Razer mengikutinya.


"Tidak ada yang perlu saya jelaskan Tuan."


"Jangan berpura pura di hadapanku Razer! Aku tidak menyangka selama ini kamu selalu menggunakan topeng. Aku kira kamu benar benar baik dan bisa diandalkan."


Razer hanya diam sembari menatap Tuannya. Tidak ada rasa takut di wajahnya. Hal itu mampu memicu amarah Kelvan, dia hanya ingin Razer mengakuinya dan menjelaskan apa tujuannya yang sebenarnya. Dia tidak akan membenci Razer, dia akan memaafkannya. Tetapi apa yang dia harapkan tidka terjadi. Razer memilih bungkam.


"Apa tujuanmu sebenarnya?"


"Maksud Tuan?"


"Apa tujuanmu membohongiku selama ini?" Tanya Kelvan dengan datar. Dia masih berusaha menahan amarahnya karena mengingat pengabdian Razer. Meskipun banyak kebohongan.


"Saya tidak pernah berbohong Tuan."


"Kebohongan lagi." Kelvan tertawa sinis.


"Selama ini kau membohongiku Razer! Seharusnya kau bilang jika memang kau mencintai Jihan. Aku akan mengikhlaskannya." Teriak Kelvan, dia ingin meluapkan apa yang sudah dia tahan selama tiga hari ini.


cih, cinta? Aku tidak pernah mencintainya, jangankan cinta. Melihatnya saja aku sudah jijik. -Batin Razer.


"Kenapa Razer? Kenapa kau lakukan itu? Bahkan kemarin kau dan Alex bersekongkol untuk kembali menipuku!"


Kelvan bahkan melupakan sopan santunnya pada Alex.


BUGH


Kelvan sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi, dia merasa keterdiaman Razer menunjukkan kebenarannya.


BUGH

__ADS_1


BUGH


BUGH


Berkali kali Kelvan memukul Razer tanpa mendapat perlawanan. Razer hanya diam menerima pukulan dari atasan sekaligus sahabatnya itu. Dia tidak akan marah karena pukulan ini, dia hanya akan kecewa karena keraguan dan ketidakpercayaan Kelvan padanya. Ntah dia masih bisa berdiri di samping Kelvan atau tidak, setelah ini dia hanya akan fokus menjaga Arista sesuai perintah dari Uncle Alex.


BUGH


Kelvan seperti kesetanan, dia tidak memperdulikan Razer yang sudah terbaring tidak berdaya. Dia terus saja melampiaskan amarahnya pada Razer, dia baru berhenti ketika melihat Razer menutup matanya. Namun dia tau Razer masih sadar.


"Keluarlah, jangan pernah muncul lagi di hadapanku."


Razer membuka matanya dan menatap Kelvan, dia sudah menduga ini yang akan dia terima. Razer berusaha bangkit meski tubuhnya terasa remuk, dia mulai berjalan tertatih keluar dari ruangan Kelvan.


"Jangan sesali ataupun meratapi apa yang menjadi pilihan lo saat ini." Lirih Razer sebelum menutup pintu ruangan Kelvan.


Melihat Razer yang seperti itu timbul rasa bersalah di hati Kelvan tetapi segera di tepisnya. Menurutnya, Razer pantas mendapatkan hal itu. Kelvan kembali duduk di kursi kebesarannya setelah Razer hilang di balik pintu. Ingin rasanya dia kembali pulang tetapi sudah banyak pekerjaan yang dia tinggalkan.


...........


Masuk waktu makan siang, Kelvan berniat kembali ke apartemen. Namun baru akan melangkah pergi, dia mendapat pesan dari Arista untuk menemuinya. Ah, Bahkan dia saja tidak ingat belum memutuskan hubungan dengan wanita itu.


Bagaimana aku bisa melupakannya?


Sesampainya di Cafe tempat mereka janjian, belum ada tanda tanda keberadaan Arista. Kelvan memilih untuk duduk dan memesan minuman sembari bertukar pesan dengan Jihan.


"Kelvan.." Panggilan lirih yang mampu membuat Kelvan mendongakkan kepalanya


"Oh, hay. To the point, ada apa kamu memintaku menemui mu. Aku sibuk." Ucap Kelvan datar.


"Aku hamil.." ucap Arista pelan sembari menundukkan kepalanya.


Kelvan tersentak, dia menatap Arista dengan pandangan yang tidak dapat diartikan. Perasaannya campur aduk, entah dia harus bahagia, sedih atau marah.


Masalah apalagi ini Tuhan. -Kelvan.


"Aku hamil anakmu Kelv."


"Gugurkan."


Akhirnya keputusan inilah yang diambil Kelvan setelah perdebatan panjang di otaknya. Dia tidak ingin kehilangan Jihan lagi hanya karena kebodohannya yang mementingkan nafsu.


"Apa? Enggak." Ucap Arista, menolaknya.

__ADS_1


"Gugurkan kandungan itu dan kamu akan tetap menjadi pacarku."


Ah bahkan jika kau menyetujuinya, aku akan tetap memutuskan mu.


"Tidak, Aku tak akan pernah menggugurkannya, cukup ia hadir karena kesalahan. Aku tak mau menanggung dosa lagi karena menggugurkan kandunganku"


"Oke, kalau begitu kita putus."


Kelvan bangkit dari duduknya, akan percuma dia memaksa Arista. Dia akan memikirkan cara lain untuk menghilangkan janin itu.


"Kau berkata kau akan bertanggung jawab dan kau mencintaiku tapi apa ini Kelv?."


Kelvan menatap sinis Arista yang sudah mulai menangis, dia tau dia adalah yang pertama bagi Arista. Tetapi menurutnya Arista tetaplah seorang wanita murahan, bukan hal yang tidak mungkin bukan Arista juga melakukannya dengan orang lain setelah tau bagaimana rasanya.


"Kau percaya dengan ucapan ku? Kau tak lebih dari seorang Jalang yang termakan bujuk rayuan."


"Aku bukan jalang, brengsek." Seru Arista. Untungnya Cafe sedang sepi sehingga tak ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Lalu apa? Mau tidur dengan pria yang bukan suamimu. Kau tak pantas menyandang gelar sebagai nyonya Dewanto. Aku sama sekali tak pernah menyukai apalagi mencintaimu. Dan lagi, mungkin saja yang kau kandung itu bukan benihku. Tapi benih orang lain."


Kelvan memilih beranjak pergi dibanding melanjutkan perdebatan yang tidak akan menghasilkan cuan untuknya.


"Arghhhhh..." Teriak Kelvan sembari mengacak acak rambutnya.


Beberapakali Kelvan membenturkan kepalanya di stir mobil untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya. Sebenarnya Kelvan sedikit percaya jika anak yang dikandung Arista adalah anaknya, tetapi dia memilih menepis anggapan itu.


Semoga keputusanku tidak salah, aku tidak ingin kehilangan cintaku lagi Tuhan.


Kelvan melajukan mobilnya menuju apartemen di mana Jihan berada, dia butuh pelampiasan saat ini. Kelvan bahkan tidak memikirkan Jihan yang baru sembuh dari sakitnya.


"Sayang.. Kamu.."


Kelvan langsung membungkam mulut Jihan dengan bibirnya, dilumatnya bibir itu dengan kasar. Tangannya sudah mulai mengeskplore tubuh di hadapannya.


Tak ingin berlama lama Kelvan menarik Jihan menuju kamar dan mulai melampiaskan na**u nya. Lagi lagi Kelvan perlu bayangan Arista untuk melakukan itu.


Setelah selesai dengan urusannya Kelvan bangkit dan berjalan menuju balkon. Jihan sudah tertidur karena kelelahan meladeni na**u Kelvan yang cukup besar. Kelvan memandang keluar di mana banyak kendaraanya yang tengah berbaris, debu-debu berterbangan dan teriknya panas matahari.


Siapa yang sebenarnya diinginkan oleh hatiku? Kenapa lagi lagi bayangan Arista yang muncul?


Kelvan mengacak rambutnya frustasi, dia bahagia Jihan sudah kembali ke sisinya. Tetapi dia tidak bisa menghilangkan bayangan Arista setelah pertemuan tadi. Bahkan mungkin sejak dulu bayangan Arista sudah memenuhi otaknya, tetapi berulangkali dia tepis. Baginya Jihan lah yang masih bertahta di hati dan pikirannya.


TBC

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACAA🥰


__ADS_2