My Triplet Son

My Triplet Son
Arlan


__ADS_3

Seminggu setelah kejadian itu, hari ini Arista akan memeriksakan kandungannya. Dia sudah tak sabar untuk melihat anaknya yang mungkin baru sebutir kacang.


Arista mendaftarkan dirinya untuk pemeriksaan kandungan, sembari menunggu antrian Arista berjalan jalan di sekitar rumah sakit. Dia berhenti di taman bagian barat rumah sakit, taman itu terlihat indah dan sangat terawat, di sana tampak anak-anak kecil tengah berlari kesana-kemari. Pakaian rumah sakit yang mereka gunakan tidak menjadi halangan untuk mereka bermain. Melihat tawa polos mereka semakin membuat Arista tidak sabar menunggu kehadiran buah hatinya.


Sesekali Arista tertawa melihat tingkah anak-anak itu, tapi tak lama senyumnya memudar ketika matanya menangkap pemandangannya yang cukup menyayat hatinya. Di sana ada seorang anak yang duduk di kursi rodanya tengah menatap nanar teman sebayanya yang bisa bermain sepuasnya. Melihat rambutnya yang nyaris tak ada lagi membuat Arista mengerti apa yang terjadi pada anak itu. Dia memilih mendekati anak itu.


"Hai adik kecil.." Sapa Arista sembari tersenyum lebar pada Anak laki-laki itu.


"tata bidadali.." Seru anak kecil itu dengan girang karena melihat wajah Arsita yang cantik dan senyum lebarnya.


"Kamu sedang apa di sini adik manis?" Arista mengusap pelan kepala anak itu, matanya berkaca-kaca membayangkan rasa sakit yang di rasakan anak sekecil ini.


"Alan bocen dikamal telus gada nang nemenin." Anak itu berujar sembari mengerucutkan bibirnya.


(Alan bosen di kamar terus, ga ada yang nemenin.)


"Alan, nama yang bagus. Sangat cocok dengan anak ganteng ini."


"Butan Alan tata bidadali, api alan." Ucap anak itu membuat Arista menyerngit bingung.


(Bukan Alan kaka bidadari tapi Arlan.)


Suster yang sejak tadi menemani Arlan tersenyum dan berujar, "Namanya Arlan nona."


Arista terkekeh singkat dan kembali berbicara dengan Arlan, ntah apa yang mereka bicarakan. Mereka berbincang seolah mereka adalah teman lama yang tengah bertukar cerita, sesekali tawa renyah keluar di antara keduanya. Suster Meli -Suster Arlan- tersenyum melihat pasiennya terlihat bahagia.


"Tata bidadali takit?"


(Kaka, bidadari sakit?)


"Tidak Arlan.."


"Napa tata ke lumah takit? tata au temenu temen tata?"


(Kenapa Kaka ke rumah sakit? Kaka mau ketemu temen Kaka?)

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Arlan, Arsita baru ingat dia seharusnya tengah menunggu antrian di depan poli kandungan. Terlalu asik bercanda dengan Arlan membuatnya lupa waktu, ntah kenapa ketika melihat Arlan ada rasa nyaman dan sayang tiba tiba merasuki hatinya.


"Oiya, Kaka lupa. Kaka kesini mau menjenguk adik bayi."


"Wahh, Tata puna adik bayi? Alan au liat.." Seru Arlan girang sembari bertepuk tangan tapi tak lama ekspresi nya berubah sendu.


"maaf tata, tata asti nda boyehin Alan tenguk bayi ya? tautnya adi takit aya Alan."


(Maaf kaka, Kaka pasti tidak bolehin Arlan jenguk bayi ya? Takut jadi sakit kaya Arlan."


Arista kaget kenapa Arlan bisa berbicara seperti itu, dia menatap Meli meminta penjelasan.


"Di sini tidak ada pasien seperti Arlan nona. Rumah sakit ini memang membuat peraturan khusus untuk penderita kanker, HIV dan penyakit berat lainnya. Pasien tersebut akan di alihkan ke gedung khusus agar mereka nyaman dan tidak terganggu. Terkadang memang ada pengunjung usil yang menatap mereka dengan tatapan jijik, bahkan ada yang mencela dan berkata takut tertular." Jelas Meli.


"Walau pada pasien sekecil Arlan? Lalu kenapa Arlan ada di sini?"


"Iya nona. Sebenarnya Arlan menderita kanker darah sejak usianya dua tahun. Selama satu tahun ini biaya pengobatan Arlan di tanggung organisasi masyarakat di bidang sosial, tetapi sudah sekitar enam bulan ini pengobatan Arlan berhenti karena ormas tersebut tidak lagi menyalurkan dana pengobatan untuk Arlan. Kondisi Arlan yang setiap hari semakin memburuk membuat pihak rumah sakit memutuskan untuk merawat Arlan tetapi tanpa melakukan pengobatan seperti sebelumnya dan memindahkannya kembali ke sini."


Arista terdiam, dia tak menyangka masih ada orang seperti itu. Bukankah kanker bukan penyakit yang mudah di tularkan dari satu orang ke orang lainnya? Apa mereka tidak iba melihat anak sekecil dan semanis Arlan harus menanggung cobaan yang bahkan belum tentu sanggup di alami orang dewasa.


"Kalau boleh tau di mana orang tua Arlan? Lalu, apa artinya Arlan di sini jika tidak mendapat penanganan?"


"Arlan anak panti asuhan nona, dulu ada yang meninggalkan Arlan dengan keadaan badan yang masih merah di panti asuhan Kasih Bunda. Arlan tumbuh menjadi anak yang tampan, cerdas dan tanggap, tetapi ketika usianya menginjak 1 tahun Arlan mulai sakit sakitan. Pada usia 2 tahun barulah di ketahui Arlan menderita leukimia yang kemungkinan di turunkan dari ibunya. Saat itu ada ormas yang bersedia membiayai pengobatan Arlan sehingga ibu panti pun dengan segera menyetujuinya."


"Aapaa?" Arista menutup mulutnya tak percaya.


"Nona bukankah Anda ingin menjenguk bayi? Apakah Anda baru saja melahirkan nona?" Meli berusaha mengalihkan pembicaraan, dia tidak tega melihat nona cantik di depannya menangis sesenggukan seperti itu.


"Ah iya, aku ingin memeriksakan kandunganku sebenarnya. Apa aku boleh mengajak Arlan ke sana?" Tanya Arista.


"Tentu boleh nona, mari saya antar nona."


"Arlann, ikut kakak dulu yaa.." Ajak Arista yang segera di sambut bahagia oleh Arista. Sejak dia di rumah sakit tidak ada yang menemaninya selain Suster Meli dan Ibu panti.


Merekapun berjalan menuju poli kandungan bersama, suster meli tetap mendorong Arlan. Dia melarang Arista melakukannya karena takut membahayakan kandungan Arista yang masih muda.

__ADS_1


"Meli, selama ini kamu yang menjaga Arlan?"


"Iya Nona, saya sama seperti Arlan. Kami berasal dari tempat yang sama -Panti Kasih Bunda- , maka dari itu saya sangat mengetahui bagaimana Arlan."


Mendengar jawaban Meli, Arista mengangguk sebagai tanggapan. Ntah kenapa otaknya membuat sebuah rencana yang mungkin akan dianggap bodoh oleh orang lain, mengingat keadaan Arsita saat ini.


"Mel, setelah memeriksakan kandunganku. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu." Ucap Arista mantap, dia yakin atas apa yang akan di lakukan nya.


Sejak berjalan di koridor tadi memang beberapa pengunjung ada yang terang terangan menatap jijik dan menghindari mereka. Arista saja merasa sesak apalagi Arlan.


Berhubung nomor antrian Arista sudah terlewat jadilah Arista mengambil antrian baru yang untungnya hanya menunggu dua orang saja.


"Tata apa bayina tampan? atau tantik?" Ucap Arlan sembari tersenyum lebar membayangkan wajah adik bayi yang akan di lihatnya.


Arista tersenyum, dia berjongkok dihadapan Arlan sembari mengusap pelan kepala anak itu.


"Adik bayinya masih ada di perut kakak, Arlan harus menunggu. kurang lebih 9 bulan untuk bisa melihat adik bayi.


Senyum di bibir Arlan memudar dia menatap sendu perut Arista yang sedikit menonjol itu.


"Arlan kenapa?"


"Alan inin iat dede bayi, api tayana Alan udah di tulga."


(Arlan ingin liat dede bati, tapi kayanya Arlan udah di surga.)


"Eh apitan, Alan macih ica iat dede ali tulga yaa"


(eh, tapikan Arlan masih bisa liat dede bayi dari surga ya.)


Tak hanya Arista, Meli pun ikut tersentak kaget mendengar ucapan Arlan. Mereka menatap tak percaya pada Arlan, tampak sekali dua wanita muda itu tak bisa menahan air matanya.


"Arlan tidak boleh berbicara seperti itu, kaka yakin Arlan pasti sembuh. Percaya sama kakak. Arlan mau kan di obati lagi kaya dulu? Arlan akan liat dedek bayi kakak, tapi Arlan harus semangat buat sembuh." Ucap Arista dengan sekuat tenaga menahan tangisnya.


Meli menatap tak percaya pada Arista, dia tentu tau kemana arah pembicaraan Arista.

__ADS_1


TBC


Terima kasih sudah baca, jangan lupa like dan komennya ya🥰


__ADS_2