
SELAMAT MEMBACA
............
Kelvan bangun dari tidurnya, ditatapnya Jihan yang terlelap setelah percintaan mereka. Lama dia menatap Jihan, ingatannya kembali ketika mereka tengah melakukan pergulatan di atas ranjang. Dia melakukan penyatuan dengan Jihan tetapi membayangkan Arista, bagaimana mungkin itu bisa terjadi?
Bahkan ketika dia berada di puncak ken***atan bukan Jihan yang dia sebut, melainkan Arista. Meskipun Kelvan tau Jihan tidak menyadari apa yang Kelvan katakan, tetapi dia tetap merasa bersalah.
Kelvan mengacak rambutnya kasar, segera dia bangkit dari duduknya dan memungut pakaiannya yang berserakan. Dia memilih membersihkan tubuhnya dari sisa percintaan tadi, sebentar lagi dia ada rapat.
Jika Kelvan tengah membersihkan tubuhnya, berbeda dengan Razer yang sejak tadi mengumpati atasan yang juga sahabatnya itu. Razer tidak menyangka Kelvan sebodoh itu, jika di lihat dari sisi manapun jelas sekali Arista lebih segalanya dari Jihan. Dia tau Kelvan sebenarnya sudah menaruh rasa pada Arista tetapi Kelvan masih di belenggu rasa penasaran mengapa dulu Jihan meninggalkannya.
Dia hanya berharap sahabatnya itu segera sadar, siapa pemilik sebenarnya dari hatinya itu. Ntah apa yang akan dia katakan pada Om Kenan, ketika tau putra satu satunya memilih kembali pada wanita itu. Dia sangat tau bagaimana sedihnya Kenan dan Keyza (Ibu Kelvan) ketika melihat anaknya yang hancur karena di tinggal kekasih. Mereka tau siapa Jihan sebenarnya jadi mereka memilih diam dan bersyukur atas batalnya pertunangan itu, diberitahu pun akan percuma. Katanya orang yang sedang jatuh cinta itu bodoh bukan?
Dia berulang kali mengutuk Kelvan yang sangat mudah dibodohi, ketika dia masuk tadi Kelvan memang sudah berada di kamar pribadinya. Razer melihat berkas pemeriksaan Jihan itu, sekali melihatnya saja dia sudah yakin akan kepalsuan berkas itu. Terlebih melihat keadaan Jihan yang tampak sangat bugar, hal itu tentu membuat kecurigaan Razer semakin besar.
Sebenarnya Razer ingin segera memberitahukan semua pada Kelvan, tetapi melihat sahabatnya yang langsung menerima Jihan bahkan langsung membawanya ke ranjang. Tentu hal itu tidak akan mudah membuat Kelvan percaya, dengan segera Razer memotret setiap lembar berkas tersebut dan mengirimnya pada sahabat Ayahnya, Uncle Alex.
Uncle tolong periksa keaslian berkas ini. - Tulis Razer.
15 menit kemudian Razer sudah mendapatkan bukti jika surat itu memang palsu. Lihat bahkan sangat mudah untuk Alex memeriksakan kebenarannya.
Razer kembali masuk ke ruangan Kelvan dan mendudukkan dirinya di sana, kini dia akan bersikap sebagai sahabat. Bukan tangan kanan ataupun sekretaris sahabatnya itu.
"Ada apa?" tanya Kelvan ketika mendapati Razer yang tengah memejamkan mata di sofa ruang kerjanya.
"Ada yang mau gue bicarakan."
"Gue?"
__ADS_1
"Gue mau bicara sebagai sahabat lo, bukan sekretaris lo."
"Apa?"
"Masalah Jihan." Ucap Razer to the point.
Kelvan menatap Razer yang duduk di sampingnya dengan pandangan heran. Ada apa?
"Jihan bilang sama lo kalau dia kanker?"
Razer menyodorkan berkas Jihan tadi ke hadapan Kelvan.
"Lo buka buka berkas di meja gue?" Tanya Kelvan sinis, pasalnya dia memang tidak suka ada yang menyentuh barangnya tanpa izin.
"Karena gue curiga sama Jihan!" Seru Razer sedikit keras, dia gemas sekali dengan sahabatnya yang b*go mepet t**ol ini.
Razer mengeluarkan Hpnya dan menunjukkan pesan dari Alex. Di sana tertulis jelas pada surat yang Jihan berikan adalah palsu, dan rumah sakit Mount Elizabeth tidak pernah menangani pasien kanker dari Indonesia atas nama Jihan Anabellya Rulo.
"Jihan ga mungkin bohong! Gue tau banget gimana Jihan dulu, jadi ga mungkin Jihan ninggalin gue tanpa alasan. Sekarang gue udah tau kenapa Jihan ninggalin gue waktu itu, jadi ga ada alasan buat gue ga percaya sama Jihan!"
"Terus menurut lo gue yang bohong?" Tanya Razer dengan datar, mata tajamnya menatap tepat ke mata Kelvan. Dia tidak menyangka sahabatnya yang sudah di kenalnya sejak kecil tidak mempercayainya.
"Gue ga bilang lo bohong! Mungkin aja penyelidikan Uncle Alex yang salah!"
"Uncle Alex bukan orang biasa Kelv, lo tau banget gimana uncle. Bahkan dulu Uncle yang bantu lo menyelesaikan masalah perusahaan yang ga ada ujungnya, bukannya balas budi lo justru meragukan beliau? Gila lo! Harusnya lo sadar, kondisi Jihan yang sehat bugar sama sekali ngga mencerminkan seorang penderita kanker?!"
Mendengar kalimat Razer, Kelvan terdiam. Benar, bagaimana bisa Kelvan meragukan hasil penyelidikan Alex. Bagaimana juga dia bisa lupa kalau Alex memiliki perusahaan keamanan terbesar di dunia. Terlebih lagi, bukankah di kertas ketiga di sebutkan penyakit ganas itu kembali menyerang Jihan. Seharusnya memang tidak sesehat ini.
"Kenapa? Otak lo baru ketemu? Gue lebih heran karena ini sama lo Kelvan! Bisa bisanya lo bawa Jihan langsung ke ranjang padahal kalian baru aja ketemu! Meskipun Arista ga ada di sini, harusnya lo sadar status lo!" Razer mengacak kasar rambutnya tak habis pikir pada laki laki di hadapannya.
__ADS_1
"Lo itu masih pacarnya Arista! seenggaknya lo putusin dulu Arista sebelum bawa Jihan ke ranjang."
"Dari dulu gue emang ga pernah suka sama Arista. Di hati gue cuma ada Jihan, ga ada wanita lain. Lagi pula sebelum Jihan dateng gue emang niat mau putusin Arista bentar lagi."
Tanpa mereka sadari sejak tadi Jihan sudah mendengar pembicaraan mereka.
Gue harus lakuin sesuatu, jangan sampai Razer tau rencana gue. Tadi Arista?
Jihan keluar dari kamar pribadi Kelvan dengan mata sembab karena menangis. Wajahnya tampak memerah dan berjalan secara tertatih ke arah Kelvan.
"Kamu kenapa keluar? Ayo aku antar ke kamar lagi." Ajak Kelvan yang kini ada di samping Jihan.
"Buat apa Kelv?" Jihan menundukkan kepalanya.
"Maksudnya? Buat apa?"
Kelvan dan Razer bertukar pandang, seolah saling bertanya lo tau maksudnya?
"Buat apa kamu berlaku baik sama aku, kalau misal kamu ga percaya sama aku! Aku denger pembicaraan kalian dari tadi, kamu meragukan aku Kelv? Buat apa aku membohongimu soal penyakit ku? Bagaimana mungkin aku mempermainkan penyakit Kelv terlebih itu kanker." Seru Jihan dengan keras disertai tangisannya.
Tanpa menjawab Kelvan menarik Jihan ke dalam pelukannya. Jihan terus menangis sesenggukan di pelukannya, tangannya terus memukul dada Kelvan.
"Kalau kamu memang ga percaya, gapapa. Aku pergi dulu." Ucap Jihan setelah melepaskan diri dari pelukan Kelvan, tangannya mengusap kasar air mata yang tersisa di pipinya.
Kelvan hanya diam melihat Jihan melangkah keluar dari ruangannya, jujur saja setelah mendengar ucapan Razer diapun sedikit ragu dengan Jihan. Apa yang dikatakan Razer ada benarnya.
TBC
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACAA
__ADS_1