
Arista mengambil beberapa varian susu ibu hamil untuknya. Dia tidak tau susu mana yang cocok dengannya, jadi dia membeli beberapa varian sekaligus. Sebenarnya dia tau itu akan menguras tabungannya tetapi apapun akan dia lakukan untuk calon anaknya.
"Tabunganku hanya tinggal sedikit dan hanya cukup untuk beberapa bulan ke depan. Aku harus mencari penghasilan tambahan untuk biaya persalinan nanti." Batin Arista.
Dia menatap perutnya yang sedikit menonjol, ntah berapa usia anak dalam kandungannya. Mungkin besok dia akan memeriksakan kandungannya, tapi sebelum itu dia harus berpikir untuk kelanjutan hidupnya nanti. Mau tidak mau Arista harus menghentikan kuliahnya, dia harus mengubur mimpinya untuk menghemat pengeluaran.
Arista berjalan mengelilingi rak demi rak di supermarket itu, satu persatu kebutuhan bulanannya di masukkan ke dalam troli. Sembari berjalan Arsita berpikir untuk membuka usaha kecil-kecilan, toko kue misalnya. Pikiran Arista masih dipenuhi hitungan modal dan keuntungan kasar yang akan diperolehnya nanti. Dan menurut perhitungan Arista modal yang diperlukan tidak terlalu besar.
"Sepertinya aku buka toko kue saja, dulu aku sering ikut Bunda sama Nenek bikin kue. Aku akan mencobanya nanti." Batin Arista sembari tersenyum dan bergegas mengambil bahan-bahan untuk membuat roti.
Cita-cita Arsita sebenarnya ingin menjadi designer, tapi dia tak boleh egois. Sekarang ada calon yang harus dia utamakan.
"Terima kasih sudah hadir dalam perut Bunda nak. Meskipun kamu hadir karena kesalahan Bunda tapi menurut Bunda kamu adalah anugrah. Kamu cahaya yang Tuhan kirim untuk menemani Bunda." Lirih Arista dalam hatinya dengan mata yang berkaca-kaca. Tangannya terus mengusap perutnya dengan lembut.
Setelah mengambil semua keperluannya Arista segera berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Belanjaan Arista cukup banyak membuat Arista menitipkannya ke tempat penitipan barang, dia masih ingin berjalan jalan di mall ini. Terlebih saat ini cacing dan calon anaknya yang berada diperut sudah protes agar segera di isi.
Ntah kenapa Arista ingin sekali makan di tempat dimana dia resmi menjadi kekasih Ayah dari anak yang dikandungnya. Sesampainya di restoran tersebut dia memilih tempat duduk yang lagi lagi tempat dimana Kelvan menembaknya. Meski dadanya terasa sesak mengingat apa yang dilakukan Kelvan diapun tak bisa membebankan seluruhnya pada Kelvan. Karena pada nyatanya diapun turut andil dalam kesalahan itu. Kali ini dia makan disini untuk anaknya, untuk memenuhi keinginan calon anaknya.
"Mau pesan apa kak?" Tanya salah satu waiters dengan ramah.
Arista melihat buku menu dan menunjuk beberapa hidangan diapun memberikan kartunya untuk membayar makanannya. Itulah kebiasaan Arista, membayar makanan sekalian memesannya.
"Baiklah kak ditunggu kak."
Sembari menunggu pesanannya, Arista memilih memainkan hpnya untuk mencari rumah di desa untuk tempat tinggalnya nanti. Arista sudah memutuskan untuk menetap di desa dan memulai usaha disana. Dia juga memasang iklan untuk menjual rumah peninggalan orang tua angkatnya dan sebelum rumah itu laku maka Arista masih akan tetap di Jakarta sembari belajar membuat kue.
Terlalu fokus pada kegiatannya Arista tak menyadari ada sepang sejoli yang duduk di hadapannya.
"Sayang kenapa kita duduk di sini? Di sana kan masih banyak kursi kosong."
Arista tersentak, suara itu? Dia sangat mengenali suara itu. Itu suara mantan kekasihnya, ayah dari bayinya. Arista segera mendongakkan kepalanya dan tersentak melihat Kelvan dan Kak Jihan?
__ADS_1
"Kamu!" Seru Kelvan sembari bangkit dari duduknya, dia menatap tajam pada Arista. Sedang yang ditatap hanya memutar bola mata malas.
"Honey? Kamu kenal sama Arista? Dia itu adik kelas aku di SMA , makanya waktu liat dia aku langsung ajak kamu ke sini." Ucap Jihan dengan nada lembutnya membuat Kelvan kembali duduk di kursinya.
Kelvan mungkin tidak menyadari apa niat Jihan sebenarnya, tapi tidak dengan Arista. Dia paham betul tabiat kakak kelasnya ini, tapi dia tak ingin ikut campur. Selama Jihan tak mengusiknya, maka diapun tak akan mengusik wanita itu.
"Ga aku ga kenal tetapi beberapa kali pernah bertemu dia bersama kolegaku memasuki hotel." Jelas Kelvan yang tentu saja 100% bohong.
"Apa?!"
Bukan hanya Jihan yang kaget tapi Arista pun sama, dia tak menyangka Kelvan berani memfitnahnya seperti itu.
"Astaga Arista? Ternyata kamu tak pernah berubah ya, sejak SMA masih saja menggoda pria-pria dengan dompet tebal." Ucap Jihan dengan nada menyindir yang kentara jelas.
Arista gak menanggapi, dia hanya diam dan mulai menyantap makanannya yang baru saja di hidangkan. Menurutnya tak akan ada gunanya membela diri, sampai mulutnya berbusa pun ucapannya tak akan dipercaya oleh mereka.
Jihan geram karena Arista sama sekali tidak menanggapinya, terlebih pandangan Kelvan yang terus tertuju pada Arista. Jihan bulan wanita bodoh yang tidak tau ada hubungan apa kekasihnya dengan Arista, dia tau betul bahwa Arsita adalah mantan kekasih Kelvan. Itulah mengapa dia memilih menghampiri Arista untuk memanasi nya, diapun tau Kelvan memilih meninggalkan Arista setelah dirinya kembali.
Ponsel Kelvan yang berada di atas meja berdering membuat sang empunya segera mengangkatnya dan bergerak menjauh setelah berpamitan pada kekasihnya.
"Kau lihat Arista? Kelvan sangat mencintaiku, dia bahkan lebih memilihku daripada kamu. Padahal dulu aku pernah meninggalkan dia, tetapi kau bisa lihat sendiri seberapa besar cintanya untukku."
Arista sudah menduga ini, Jihan memang seperti itu padanya sejak dulu. Tetapi dia tak menyangka kenapa harus terjebak mencintai pria itu. Pria yang sangat mencintai wanita di depannya ini.
"Aku tau apa yang terjadi antara kau dan Kelvan."
Arista tersentak, jangan sampai wanita ini mengetahui kehamilannya. Walaupun Kelvan sudah menolak anak ini, Jihan tak akan menerima ada darah daging Dewanto yang lahir dari rahim wanita lain. Diapun tau Jihan bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, sekalipun harus membunuh nyawa yang tidak berdosa.
Jihan mendekat ke arah Arista dan membisikan tepat di telinga Arista, "Aku tau, sebelumnya kau dan Kelvan adalah sepasang kekasih. Tapi kau harus ingat! Kau hanya dijadikan pelarian oleh Kelvan, karena sebelum berhubungan denganmu Kelvan adalah kekasihku. Dia akan selalu mencintaiku dan aku lihat bukan? Dia langsung meninggalkan mu begitu aku kembali."
"Kamu harus ingat ini Ta, jangan pernah kamu berani muncul dihadapan ku apalagi sampai mendekati calon suamiku lagi atau aku akan menghancurkan mu." Ancam Jihan dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Jihan sinis sembari menatap Arista yang menghentikan kunyahan nya. Meskipun Jihan tau Kelvan lebih memilihnya tapi tak bisa dipungkiri ketika menangkap tatapan Kelvan pada Arista membuatnya resah. Jadi jalan satu satunya adalah membuat wanita sial ini menjauh.
Jihan mengambil minuman Arista yang sama sekali belum tersentuh. Dia menumpahkan air itu ke rambutnya sendiri dan segera memaksa Arsita untuk menggenggam gelas yang sudah kosong itu. Begitu mendengar suara langkah kaki mendekat, Jihan memasang muka sedih.
"Kenapa kamu begitu jahat Ta? Aku dan Kelvan akan menikah sebentar lagi dan kamu berniat menggagalkannya?"
Tadinya Arista menatap bingung akan kelakukan Jihan tetapi begitu melihat Kelvan di belakang gadis itu dia menyadari sesuatu. Wanita ini memang berniat menjebaknya.
"Sudah berapa kali aku bilang, kalau aku bukan ja**** Ta! Aku tak pernah menjajakan tubuhku." Ucap Jihan di sela isakkannya.
Jihan bahkan tak peduli pada sekitar yang menatapnya tak percaya, beberapa dari mereka melihat betul bahwa Jihan menyiram dirinya sendiri.
Di belakangnya, Kelvan tengah mengepalkan tangannya dan bergegas menghampiri kedua wanita itu. Kelvan menarik tangan Arista dengan keras dan menampar pipinya.
Para pengunjung tersentak bahkan beberapa dari mereka menutup mulut tak percaya, mereka tau betul apa yang terjadi. Beberapa dari mereka ada yang memilih tak peduli dan ada juga yang berniat mendekat tetapi ketika melihat kode yang Arista berikan dengan gelengan kepalanya membuat mereka mengurungkan niatnya.
"KAMU! BERANI SEKALI MENGATAKAN KEKASIHKU JA****! HARUSNYA KAMU SADAR YANG JALANG ITU KEKASIHKU ATAU KAMU!"
"YANG JAL*** ITU KAMU! KAMU YANG HAMIL DI LUAR NIKAH DAN ENTAH SIAPA AYAH DARI BAYIMU!" Teriak Kelvan sembari menatap tajam Arista.
Mata Jihan membulat mendengar Arsita tengah berbadan dua, dan apa katanya tadi? Ntah siapa ayah bayi itu? Apa itu artinya Kelvan meninggalkan Arista karena di berselingkuh?
"Sayang? Tenanglah, aku tidak papa. Bukankah barusan kamu bilang dia tengah hamil, tak pantas kamu berbicara kasar pada wanita hamil." Ucap Jihan lembut sembari mengelus punggung Kelvan sekalian memanasi Arista.
"Untuk apa memperhatikan kepantasan dalam berbicara padanya. Dia bahkan mengatai mu dengan kata kasar, dia mengatai mu ja****. Padahal dia sendiri yang seperti itu." Ucap Kelvan sembari beberapa kali melemparkan tatapan sinis pada Arista.
Arista memilih mengambil tasnya dan segera meninggalkan mereka. Dia melihat beberapa orang menatapnya prihatin, atas perlakuan yang diterimanya. Tetapi mereka bisa apa? Selain laki laki itu punya kekuasan dalam bisnis mereka pun sudah dilarang untuk ikut campur oleh Arista.
"Kenapa aku lemah banget si? Aku udah tau tujuan Kelvan melakukan semua padaku tapi kenapa rasanya masih sakit ketika mendengarnya kembali?" Lirih Arista, dia terus berjalan menuju tempat menitipkan belanjaannya sembari sesekali mengusap air matanya.
TBC
__ADS_1