
"Apa maksud Papa?" Tanya Kelvan setelah menyeka darah diujung bibirnya.
"Menurutmu bagaimana perusahaan keluarga kita bisa seperti sekarang Kelvan? Itu karena sokongan dana dari Askandar Corp dan Willyan Grup! Kedua sahabat Papa yang membantu Papa untuk mempertahankan perusahaan keluarga kita saat itu. Jika tidak ada mereka Papa tidak tau apa kau masih bisa hidup enak seperti saat ini!"
"Ga mungkin, ga ada di data perusahaan kalau mereka termasuk pemilik perusahaan kita Pa. Pemegang saham terbesar setelah kita bukan Alex Pa tapi A&W, dia hanya rekan bisnis Papa kan?" Ucap Kelvan, dia masih tidak percaya atas kenyataan yang Papanya berikan.
"A&W adalah Askandar dan Willyan, Kelvan."
Kelvan terdiam, apa selama ini ucapan Jihan yang penuh kebohongan dan bukan Razer? Apa selama ini dia sudah salah menduga?
"Kau tau? Fatan dan Alex sudah sejak lama menahan diri untuk tidak menghajar mu jika saja istri mereka tidak melarangnya. Mereka berharap kau tidak lagi membuat masalah dengan mereka. Tapi lagi lagi kau melakukan kesalahan, kesalahan yang benar benar fatal Kelvan! Kau hampir saja menghilangkan nyawa orang yang mereka cari dan jaga layaknya berlian Kelv."
DEG
Ntah kenapa pikiran Kelvan justru tertuju pada Arista, dia tidak pernah menyakiti fisik seseorang sejauh ini. Kecuali kejadian tadi siang.
"Kelvan tidak menyakiti siapapun Pa, dia hanya menampar seorang wanita jalang yang tengah hamil tadi. Itupun bukan sepenuhnya salah Kelvan, wanita itu yang terlebih dahulu mendorong ku." Jelas Jihan dengan wajah berkaca kaca, dia yakin Kenan akan merasa kasihan padanya. Dia pasti akan mengkhawatirkan calon cucunya.
"Sudah kukatakan jangan memanggilku Papa, dan lagi jalang jangan coba teriak jalang." Sengit Kenan.
"Pa jaga ucapan Papa!" Seru Kelvan.
"Lalu apa menurutmu Kelv? Jika dia tidak mau disebut Jalang maka jangan menyebut wanita lain yang pada nyatanya lebih baik darinya seperti itu. Apa menurutmu wanita yang kembali tanpa rasa bersalah setelah pergi tanpa kabar, bahkan merebut kekasih wanita lain itu adalah wanita baik baik?"
Kelvan bungkam, dia tidak lagi menjawab bahkan untuk membela Jihan sekalipun. Dia tau pada hal ini yang salah adalah dirinya, Jihan benar benar tidak tau bahwa dia memiliki seorang kekasih. Itu menurut Kelvan, bagaimana sebenarnya?
"Jika sesuatu terjadi pada putri dan calon cucuku karena kalian, aku tidak akan segan segan membalas kalian dengan balasan yang tidak pernah kalian duga." Ucap Kenan penuh penekanan membuat Kelvan dan Jihan mengernyit bingung.
Siapa putri dan cucu yang Papa maksud? Apa itu Arista? Apa Papa sudah tau apa yang sebenarnya terjadi? -Kelvan.
Apa? Jadi selama ini Papa Kenan menganggap Arista putrinya? Bagaimana wanita itu bisa kenal dengan Papa Kenan? - Jihan
"Calon cucu Papa baik baik saja." Ucap Kelvan sembari mengusap perut Jihan lembut, dia mencoba menepis bahwa yang Papanya maksud adalah Arista.
"Apa kau yakin dia adalah cucuku? Aku tidak akan pernah mengakuinya." Ucap Kenan menatap sengit Jihan.
"Pa.."
Baru Kelvan membuka mulutnya, ucapan Kenan selanjutnya membuat tubuhnya terasa kaku.
__ADS_1
"Penyesalan akan tiba pada waktunya. Dan saat waktu itu tiba, jangan pernah memohon pada kami." Ucap Kenan sebelum dia benar benar melangkah pergi dari kediaman putranya itu.
"Nak, pikirkan apa yang Papamu katakan. Dia hanya ingin yang terbaik untuk mu. Ngomong ngomong Jihan, rambutmu sangat indah dan sepertinya kehamilan membuatmu tampak berseri." Ucap Keyza dengan nada lembut.
"Iya Ma, bagaimanapun kita harus jaga penampilan dong." Ucap Jihan, karena menurutnya Keyza sedang berusaha mencairkan suasana.
"Ya, sama sekali tidak mencerminkan seorang penderita kanker." Ucap Keyza lalu beranjak pergi menyusul suaminya.
..............
Razer, Meli dan Alex tengah menunggu cemas di ruang ICU dimana Arista berada. Bayangan Arista yang meringis dengan darah yang mengalir di kakinya terus saja terpikir di benak mereka.
"Tuan, saya permisi menghubungi orang tua kami terlebih dahulu." Ucap Meli pada Alex dan Razer. Tentu saja orang tua yang dimaksud adalah Dai dan Agus.
"Ah iya, Fatan." Seru Alex ketika menyadari dia belum mengabari Adik iparnya.
"Razer kau hubungi Fatan, biar aku hubungi Kenan." Ucap Razer sembari bangkit dan berjalan sedikit menjauh.
"Halo Ken..." Sapa Alex begitu panggilan diangkat.
"Halo, ada apa Lex?" Jawab dari seberang sana.
"Apa? Apa yang terjadi? Bukankah kandungannya baru berumur 7 bulan? Apa mereka baik baik saja?"
Tampak sekali nada kekhawatiran disana, ya Kenan memang menyayangi Arista seperti putrinya sendiri. Terlebih dia pun sangat menanti kehadiran ketiga cucunya.
"Dia ditampar orang gila hingga tersungkur." Sengit Alex, terlebih ketika wajah bahagia Jihan terpampang di ingatannya.
"Bagaimana bisa, di mana anak buah yang kau banggakan itu?"
"Heh, tidak ada urusannya dengan anak buah ku. Salahkan anakmu yang brengseknya itu."
"Apa maksudmu?"
Alex mulai menjelaskan apa yang terjadi termasuk dengan berhasilnya rencana mereka.
"Kau gila Alex, bagaimana bisa kau membahayakan nyawa putri dan cucuku hanya karena berkas itu. Aku bahkan bisa dengan mudha menyuruhnya untuk tanda tangan." Teriak Kenan membuat Alex segera menjauhkan hpnya dari telinga.
"Ya, aku tidak mengira anakmu se-brengsek itu hingga bisa melayangkan tangannya pada seorang wanita. Terlebih itu wanita hamil." Ucap Alex.
__ADS_1
"Alex, kali ini aku benar benar tidak bisa menahan diri untuk tidak menghajarnya."
"Ya itulah yang ku harapkan." Ucap Alex sembari tersenyum puas.
"Aku akan kesana setelah memberi pelajaran pada anak itu." Ucap Kenan sebelum menutup panggilan teleponnya.
Alex menatap HPnya setelah telephon terputus, dia tau Kenan jika sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Sejak kelakuan Kelvan memutuskan hubungan dengan Razer dan mengetahui perihal Arista, dia sudah berniat menghajar dan menyadarkan Kelvan. Tetapi Alex dan Fatan menahannya, menurut mereka biar saja Kelvan sadar ketika penyesalan sudah datang padanya.
"Kau sudah menghubungi Fatan?" Tanya Alex.
"Sudah Uncle, Uncle Fatan sedang dalam perjalanan kemari." Jelas Razer.
Mereka kembali duduk dalam keheningan, raut kekhawatiran masih tergambar jelas di wajah mereka. Jelas saja sejak tadi dokter belum juga keluar, padahal sudah hampir satu jam mereka di sini. Bahkan noda darah di kemeja Razer sudah mengering.
Ceklek..
Suara pintu terbuka membuat mereka segera beranjak menghampiri dokter Alisya yang kini sedang membuka maskernya.
"Maaf Pak, kami sudah berhasil menghentikan pendarahan pada pasien. Tetapi..." Dokter Alisya menjeda ucapannya sembari menatap satu persatu orang disana yang tentu sudah dia kenal.
"Tetapi apa dok? Kak Arista baik baik saja kan? Bagaimana dengan Triplets?" Tanya Meli bertubi-tubi.
"Suster Meli tenanglah, Kami memang sudah berhasil menghentikan pendarahan pada pasien tetapi kini keadaan pasien masih kritis. Selain itu, kami harus melakukan tindakan operasi secepatnya untuk mengeluarkan bayi bayi pasien. Di mohon untuk keluarga segera menandatangani surat persetujuan tindakan dan menyelesaikan administrasi. Ada lagi yang ingin ditanya?" Ucap Dokter Alisya.
Salah satu suster menghampiri mereka dan memberikan kertas persetujuan tindakan operasi.
"Kenapa harus dikeluarkan dok, bukankah belum waktunya?" Tanya Alex mewakili.
"Keadaan sang ibu sudah tidak memungkinkan untuk tetap mengandung pak. Itu hanya akan membahayakan calon ibu dan calon bayinya." Ucap Dokter Alisya sembari menghembuskan nafas kasar.
"Apa mereka akan selamat?" Lirih Meli, dia tidak ingin kehilangan seseorang gang membuatnya merasakan kehangatan sebuah keluarga.
"Kita doakan saja yang terbaik untuk calon ibu dan bayinya. Kami akan berusaha semaksimal mungkin, sedangkan untuk hasil kita serahkan pada yang Kuasa. Segera putuskan ya Pak, operasi akan dilakukan satu jam lagi jika kalian menyetujuinya. Saya permisi dulu." Dokter Alisya menunduk sedikit lalu beranjak pergi meninggalkan Alex, Razer dan Meli.
"Siapa yang akan menandatangani surat ini? Tidak mungkin Kelvan bukan? Ayah dan Ibu sedang berada di luar negeri." Meli tampak mengusap wajahnya kasar, dia bahkan tidka mengingat ucapan Arista perihal orang tua kandungnya.
"Biar saya yang tanda tangani."
TBC
__ADS_1