My Triplet Son

My Triplet Son
Sadar


__ADS_3

Alvino menggenggam tangan kembarannya erat selama dokter memeriksa keadaan gadis itu. Beberapa waktu yang lalu Alvino melihat Arista mengepalkan tangannya dan air mata yang menetes diujung mata gadis itu. Hal yang membuat Alvino panik dan segera berlari memanggil dokter tanpa ingat dengan tombol emergency di samping ranjang tempat Arista berbaring.


"I don't know what's going on with you right now, but if possible please endure and come back." Lirih Alvino tepat di samping telinga Arista.


"Keadaan pasien stabil, bahkan lebih baik dari kemarin. Terus lakukan rangsangan pada pasien karena pada dasarnya pasien yang koma dapat mendengar dan merasakan apa yang kita lakukan."


"Tapi saya tidak melakukan apapun tadi, bagaimana bisa dia tiba tiba menangis dan mengepalkan tangannya seperti itu?"


Dokter itu tersenyum tipis, "Mungkin terjadi sesuatu di alam bawah sadar pasien yang membuatnya menangis."


"Ini sudah hampir dua minggu, tapi kenapa belum ada tanda tanda kapan saudara kembar saya akan sadar?"


"Kapan pasien yang mengalami koma akan sadar masih belum bisa di pastikan karena itu diluar kehendak kami. Ada yang hanya beberapa hari, ada yang hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Hanya saja sangat jarang terjadi koma dalam jangka waktu yang panjang, jika pun terjadi kemungkinan tidak dapat di selamatkan lebih besar." Jelas dokter tersebut.


Alvino mengangguk yang dibalas senyuman oleh dokter itu sebelum melangkah keluar meninggalkan ruang rawat Arista.


"Hi girl, kedua putramu sudah boleh pulang besok. Apa kau tidak ingin menjadi orang pertama yang menggendongnya setelah keluar dari inkubator? Apa kau tidak ingin menjemputnya? Apa kau juga tidak ingin memberi semangat pada putra bungsu mu yang kini juga tengah berjuang sepertimu?" Lirih Alvino, tangannya terus menggenggam erat tangan Arista dan sesekali menciuminya.


"Kau tau? Putra bungsu mu sangat kuat, disaat dokter berkata dia tidak akan bisa bertahan lebih dari seminggu tapi lihat anak itu justru bertahan hampir dua minggu. Dan aku akan selalu berharap dia akan selalu bertahan dan berjuang hingga bisa tumbuh bersama kedua kembarannya..."


Alvino menutup matanya dan menangis pelan, membayangkan keadaan keponakan kecilnya. Ucapannya adalah bohong, anak itu memang bisa bertahan hingga saat ini tapi keadaannya berangsur-angsur menurun. Dokter bahkan berkata mempertahankan anak itu hanya akan menyiksa bayi kecil itu, tapi mereka pun tidak punya hak apapun untuk memilih selain mempertahankan bayi itu.


"Hiks.. Aku tidak tau sampai kapan bayi itu akan bertahan, jadi cepatlah bangun dan temui dia Ta.." Lirih Alvino disela tangisnya.


Terlalu larut dalam kesedihan, laki laki itu bahkan tidak menyadari tangan wanita yang dia genggam sedikit demi sedikit menggenggam balik tangannya. Alvino baru menyadari begitu tangan itu mencengkeram kuat tangannya.


"Ta..."


"Bangun dan lihat ketiga putramu terutama si kecil sebelum kau benar benar terlambat.."

__ADS_1


Alvino tersenyum begitu menyadari apa yang bisa membuat Arista merespon ucapannya. Pembicaraan terkait putra bungsu wanita itu.


"Gotcha.." Seru Alvino begitu melihat Arista mulai mengerjabkan matanya. Laki laki itu terus menceritakan kondisi anak bungsu Arista mulai dari lahir hingga penurunan keadaannya saat ini.


"Ehm..."


"Al.." lirih Arista dengan mata setengah tertutup.


Meski terdengar sangat lirih, Alvino masih bisa mendengar suara gadis itu dengan jelas. Hal yang membuat laki-laki itu berteriak kegirangan dan hendak memanggil dokter keluar ruangan tapi belum sempat melangkah tangannya sudah terlebih dahulu dicekal oleh Arista.


Dilihatnya wanita itu menggeleng pelan dan bergumam lirih, "Anakku.."


"Mereka baik baik saja, sekarang kau istirahat dulu ya biar aku panggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu."


Segera Alvino berlari keluar untuk mencari dokter yang beberapa waktu lalu memeriksa keadaan Arista.


..._____...


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Delia yang sejak tadi memperhatikan Arista diam dan termenung seolah ada beban berat yang tengah wanita itu pikirkan.


Arista menggeleng pelan dan menjawab lirih. "Aku hanya ingin bertemu putraku Bunda."


"Setelah kondisimu pulih, kami akan membawamu menemui mereka. Lagi pula besok kedua putramu sudah bisa keluar dari inkubator." Ucap Delia sembari tersenyum lebar, dia juga tidak sabar menantikan saat saat dimana dia bisa menggendong cucunya dengan leluasa.


Bukannya tersenyum, raut wajah Arista justru semakin muram. Wanita itu semakin memikirkan kondisi putra bungsunya, bahkan dia tidak sadar kedua pipinya kini sudah basah oleh air mata yang melesak keluar dengan sendirinya.


"Sayang kenapa menangis? Bukankah ini kabar yang menggembirakan bahwa kondisi mereka baik baik? Kau sudah bisa menggendongnya besok.." Ucap Delia panik, membuat atensi anggota keluarga yang lain ikut berpusat pada Arista.


Arista tak menjawab, membuat Delia memilih untuk mendekap putri satu-satunya itu ke dalam pelukannya. Tangisan gadis itu pecah begitu merasakan kehangatan dan kenyamanan pelukan seorang ibu yang selama ini dia rindukan.

__ADS_1


"Hiks... Hiks .."


Delia hanya diam dan terus mengelus punggung Arista pelan, sedang tangan satunya dia gunakan untuk memberikan kode pada keluarga yang lain untuk keluar sebentar. Biarkan mereka berdua di sana terlebih dahulu.


"Katakan apa yang sedang kamu pikirkan sayang. Hanya ada Bunda dan kamu disini.." Ucap Delia setelah melepaskan pelukannya. Tangannya terulur mengusap air mata anak gadisnya itu.


"P-putra kecilku..." Lirih Arista.


Dua kata yang merujuk pada satu orang yang memang tidak Delia sebutkan. Cucu kecilnya, bayi yang kini masih harus berjuang di antara kehidupan dan kematian.


"Dia baik baik saja.." ucap Delia bohong.


Arista menggeleng, "Bohong.. Tolong bawa aku menemuinya.."


"Iya kita akan menemuinya nanti setelah kondisimu membaik, sekarang kamu istirahat dulu." Jelas Delia.


"Aku tidak apa apa, aku hanya ingin menemuinya apa itu salah? Bunda juga seorang ibu, apa Bunda bisa beristirahat dengan tenang sedang disana putra Bunda sedang berjuang antara hidup dan mati?" Ucap Arista di sela-sela tangisnya.


"Sayang dia ba-"


Arista menggeleng kuat, "Putraku bahkan sudah berpamitan padaku. Aku hanya ingin menemuinya, setidaknya untuk yang terakhir kali dalam keadaan masih bernyawa." Lirih Arista.


"A-pa maksudmu.."


"Putra kecilku menemuiku Bun.. Dia mengira aku tidak menginginkannya seperti laki laki itu.."


"Aku ingin melihatnya, aku tidak ingin kehilangan dia.."


"Hiks.. Hiks.."

__ADS_1


"Sayang coba jelaskan pelan-pelan apa yang kamu maksud."


"Apa Bunda tidak bisa membawaku bertemu putraku tanpa harus bertanya ini itu?" Tanya Arista sedikit ketus dan menatap tajam Bundanya.


__ADS_2