
SELAMAT MEMBACA
...........
"Tuan Kelvan Dewanto dan calon istrinya."
Arista mematung, hatinya terasa sesak sekalipun dia tau hari itu pasti tiba. Hari dimana Kelvan akan menyandang status sebagai suami orang.
"Maafkan Meli kak."
"Kenapa kau minta maaf Mel, ini bukan salahmu. Apa mereka tau jika akulah pemilik restoran dan cafe itu?"
"Sepertinya tidak kak, mereka dapat rekomendasi dari temannya kak."
"Baiklah, kamu terima saja orderan tersebut."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi Meli, tidak masalah. Aku hanya akan membuat wedding cake bukan? Aku akan meminta bantuan Ibu untuk itu."
"Kakak tidak apa?" Tanya Meli hati hati, dia tau bahwa hati Arista sedang tidak baik baik saja.
Arista tersenyum sembari menggeleng, hatinya memang sakit. Tetapi untuk apa kita harus kembali bersedih dan meratap, rasanya sudah tidak ada gunanya lagi dia melakukan hal itu. Sekarang dia hanya perlu menata masa depan untuk anak anaknya.
"Mel bagaimana jika Arlan menjalani pengobatan di luar negeri saja?"
"Apa kakak berniat menghindar?" Bukan menjawab, Meli justru membalikkan pertanyaan membuat Arista terdiam.
"Tidak Mel, tidak sama sekali. Kakak hanya berniat mengirim mu atau ibu menemani Arlan."
"Kak, apa tidak sebaiknya Arlan tetap di sini. Biaya pengobatan di luar negeri pasti sangat mahal."
"Kita pasti bisa membayarnya Mel. Kita tunda dulu rencana pembukaan cabang di Bandung, fokuskan dulu pada cabang Purwokerto dan kesembuhan Arlan."
"Tapi kak..."
"Mel, percayalah padaku. Kita pasti bisa membiayai pengobatan Arlan."
"Baiklah, terserah kakak."
"Kamu temani lah Arlan, biar kakak disini bersama ibu dan ayah."
"Tidak, aku yang akan menemani kakak disini. Jika aku ikut kakak akan semakin lelah karena mengurus restoran dan Cafe. Aku tidak mau kakak kenapa napa, terlebih lagi acara bulan depan."
Arista tersenyum melihat kepedulian Meli kepadanya, sebenarnya dia memang menginginkan Meli yang menemaninya disini. Tetapi dia takut jika Meli memiliki keinginan menemani Arlan.
"Terima kasih, sekarang kamu berilah kabar pada calon pengantin itu bahwa aku menerima orderannya."
..........
Razer menatap undangan di tangannya, tertulis nama Kelvan dan Jihan di sana. Razer merasa undangan tersebut seperti menertawakannya bahwa dia sudah tertinggal jauh dibelakang Jihan.
Kenapa lo bodoh banget Kelv..
"Gimana perasaan Arista, kalau gue kasih ini.."
Kelvan memang menitipkan undangan Arista kepadanya, permintaan Jihan katanya.
Selama beberapa bulan ini dia sudah mulai mengawasi Arista dan dia tidak menyangka bahwa suster yang pernah ditemuinya dirumah sakit adalah adik Arista. Dan dugaan Alex tentang identitas Arista adalah sebuah kebenaran. Arista benar benar keponakan yang selama ini dicari oleh Alex.
__ADS_1
Lo pasti akan benar benar menyesal Kelv..
Hubungan Razer dan Kelvan masih seperti sebelumnya, Kelvan tidak pernah menghubunginya lagi bahkan ketika bertemu secara tidak sengaja Kelvan hanya melengos seolah dia adalah orang asing.
Razer berniat untuk memberikan undangan pernikahan itu pada Arista hari ini. Dan disinilah dia berada sekarang, di depan rumah minimalis dua lantai milik Arista.
Tok Tok Tok..
Tok Tok Tok..
"Iya sebentar.." Teriak sebuah suara dari dalam, terdengar langkah kaki yang seperti orang tergesa-gesa dari dalam sana.
Ceklek..
"Ada ap.."
"Kamu!" Teriak Meli spontan begitu melihat wajah pria yang menabraknya di rumah sakit dulu.
"Boleh kah saya masuk terlebih dahulu nona?"
"Ah iya, silahkan."
Razer segera masuk setelah dipersilakan oleh sang tuan rumah.
"Bisa saya bertemu dengan nona Arista?"
"Ada kepentingan apa?"
Razer menatap jengah pada gadis dihadapannya, kenapa kepo sekali gadis ini.
"Bisa panggilkan dulu kemari?"
Tak lama Arista dan Meli keluar bersamaan, dengan membawa beberapa makanan dan minuman.
"Tidak perlu repot repot nona.." Ucap Razer, dia merasa segan pada Arista karena dia sudah tau siapa Arista sebenarnya.
"Razer?!" Arista tersentak mendapati sekretaris Kelvan lah yang menemuinya.
"Iya Nona, bisa saya minta waktu Anda sebentar?"
"Ada apa sampai kamu menemui ku? Bukankah urusanku dengan Tuan mu sudah selesai?"
"Bahkan urusan saya dengan nya pun telah selesai Nona.."
Razer dapat melihat kerutan di wajah Arista, mungkin wanita hamil itu bingung apa maksud ucapannya. Bukannya menjelaskan Razer justru menatap Meli yang masih berdiri menunggu dengan penasaran apa yang akan disampaikan Razer.
"Mel, tolong kau ambilkan aku strawberry terlebih dahulu.."
Arista mengerti ada yang ingin Razer jelaskan hanya pada dirinya.
"Urusan saya dengan Kelvan memang sudah selesai Nona, saya bukan lagi sekretarisnya."
"Kenapa Razer? Meskipun aku tidak lama bersama dengan Kelvan tetapi aku sangat tau bagaimana hubungan kalian berdua. Kalian bahkan seperti kakak beradik."
"Tapi kepercayaannya tidak sebesar itu padaku Nona.."
Razer menceritakan apa yang terjadi padanya tiga bulan lalu hingga dia tidak lagi dipercaya oleh Kelvan.
"Maafkan saya Nona justru menceritakan ini padamu.."
__ADS_1
"Panggil saja aku Arista. Tak masalah, kamu bisa menganggap ku sebagai temanmu.." Ucap Arista dengan tersenyum, dia melihat kejujuran di mata Razer.
"Apa aku sudah bisa memanggil Meli? Aku sangat menginginkan strawberry yang tengah diambil Meli."
"Tentu saja boleh.." Razer merasa Arista perlu pendamping sebelum dia menyerahkan undangan itu pada Arista.
"Ini kak.."
"Ada lagi yang mau aku bicarakan pada mu Arista." Tatapan mata Razer kembali menunjukkan keseriusan.
"Baiklah kak, aku masuk terlebih dahulu. Panggil aku jika kakak membutuhkan sesuatu."
Baru dua langkah Meli meninggalkan tempat berdirinya tadi, panggilan Razer sudah menghentikan langkahnya.
"Tetaplah di sini Nona.."
"Duduklah Mel.." Arista menepuk bagian kosong di sebelahnya.
Razer menyerahkan sebuah undangan dengan ukiran emas di setiap sisi undangan tersebut. Bahkan ukiran nama pun tampak berkilau.
Jihan & Kelvan
DEGG
Dia sudah tau berita pernikahan Kelvan dan Jihan tetapi dia tidak menyangka akan diundang seperti ini.
"Maafkan aku harus menyampaikan ini padamu, dia menitipkannya padaku kemarin."
"Apa kau juga di undang?" Tanya Arista sesak di dadanya.
Mengertilah, sejak awal dia memang bukan milikmu..
"Tidak, dia tidak mengundangku."
"Kalau begitu datanglah bersamaku nanti, Mel kau tidak apakan mengurus pengantaran kue itu sendiri?"
"Tidak kak, aku akan meminta karyawan Cafe membantuku nanti."
Razer mengangguk, rencana Arista tentu memudahkannya dalam menjaga wanita itu dari dekat. Sejak kemarin dia sudah berpikir bagaimana cara dia menjaga Arista pada pesta itu.
"Kamu benar benar tidak apa Arista?"
"Memangnya aku kenapa?" Arista justru bingung dengan pertanyaan Razer.
Razer tidak menjawab tetapi matanya menatap undangan yang kini berada di tangan Arista membuat wanita itu tau apa yang dimaksud Razer.
Arista tersenyum, "Aku sudah mengetahuinya, bahkan mereka membeli kue padaku.."
"Apa?!
TBC
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACAAA
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DENGAN LIKE DAN KOMENNYA🥰
ATAU KALAU MAU BISA BANGET KASIH GIFT BIAR TAMBAH SEMANGAT HEHEHHE😂
See u next time
__ADS_1