
Arista melihat hamparan tanah yang luas dan di penuhi berbagai macam bunga. Perempuan tersenyum begitu matanya menangkap tiga bunga yang terlihat berbeda dan lebih bersinar dari yang lainnya. Namun satu dari ketiganya ada yang terlihat layu.
"Bunga itu cantik sekali tetapi kenapa ketiga bunga itu berbeda dengan yang lain?" Lirihnya bingung.
Keindahan bunga yg tidak pernah dia lihat membuatnya tergerak mendekati tiga bunga itu dengan sendirinya. Tangannya terulur untuk menggapai bunga yang terlihat layu dan hampir mati, Arista berniat memetiknya agar tidak memengaruhi dua bunga yang lain.
"Apa Buna tidak menginginkan ku?"
Arista tersentak merasakan tangan kecil yang memegang lengannya, terlebih suara anak kecil yang terdengar jelas di telinganya.
"Apa Buna sama seperti ayah yang tidak menginginkanku?"
Arista menoleh, dilihatnya anak kecil yang terlihat sangat tampan persis seperti pria yang tidak ingin dia sebut namanya itu.
"Apa Buna benar benar tidak menginginkan aku?" Tanya anak kecil itu lagi dengan air mata yang sudah menetes di kedua pipi anak itu.
Tak tega melihat anak itu menangis, Arista berjongkok dan menyejajarkan tingginya dengan anak itu. "Kenapa menangis adik manis? Apa aku mengganggumu?"
Tangan Arista terulur untuk mengusap jejak air mata anak itu, ntah kenapa matanya pun ikut berkaca melihat tubuh anak itu yang membiru.
"Apa Buna benar benar tidak menginginkanku?" tanya anak itu lagi sembari menatap Arista dalam.
Mendengar pertanyaan yang berulang kali diucapkan anak itu, Arista terdiam dan memikirkan apa yang anak itu sebut Buna adalah dirinya? Tapi bukankah dia belum melahirkan dan anak itu bukan Arlan?
Teringat akan ketiga bayi dalam perutnya membuat Arista segera melihat ke arah perutnya yang sudah kembai rata. "Apa ini Tuhan?" lirihnya.
"Kenapa Buna menangis? Jika Buna tidak menginginkanku tidak apa, aku tidak akan berjuang Buna." lirih anak itu. Kedua tangan kecilnya terulur menyentuh kedua pipi Arista dan mengusap pelan pipi Arista berulang.
Arista hanya diam melihat anak kecil dihadapannya, diperhatikannya tubuh anak itu semakin membiru dari yang dilihatnya tadi. Ingin dia bertanya apa yang sebenarnya terjadi, dimana dia saat ini, dan kenapa perutnya sudah rata? Kemana tiga bayi yang dia kandung? Tapi tidak ada siapapun disini yang bisa dia tanyai.
"Aku pergi jika memang itu keinginan Buna.." lirih anak itu dan segera berbalik setelah mencium kedua pipi Arista.
Dada Arista semakin sesak melihat punggung kecil itu yang semakin jauh dari hadapannya. Ntah kenapa hatinya tidak rela melihat anak itu semakin jauh dari pandangannya tapi lidah dan tubuhnya terasa kaku.
"Bunaa..."
Lagi lagi Arista tersentak mendengar suara dari punggung, suara yang sangat mirip dengan anak kecil yang sudah tidak dia lihat lagi keberadaannya.
__ADS_1
"Bunaa..."
Sakit, dada Arista terasa sangat sakit mendengar penggilan itu. Dapat dia rasakan anak yang memanggilnya kali ini tidak lah satu orang. Segera gadis itu berbalik, tubuhnya mematung melihat dua anak dengan wajah yang sama persis dengan anak yang baru saja pergi meninggalkannya.
"Kenapa Buna membiarkan adik kami pergi Buna?" Lirih salah satu anak itu sembari menatap nanar padanya.
"Apa penolakan Ayah tidak cukup untuknya Buna? Untuk kami? Kenapa Buna juga harus menolaknya?"
Arista menatap dalam wajah kedua anak kecil dihadapannya, wajahnya memang sama persis dengan anak kecil tadi tetapi ada perbedaan yang mencolok dari ketiganya. Dua anak kecil ini terlihat segar dengan kulit putih bersihnya sedangkan anak kecil tadi..
Otaknya mulai mengurutkan satu persatu peristiwa yang sudah dilaluinya. Dimulai dia yang tengah mengandung tiga bayi, tiga anak yang dia lihat dengan wajah yang sangat mirip dengan Kelvan, dan panggilan Buna yang mereka sebutkan. Tangisnya pecah begitu ingatannya sampai pada setiap kalimat yang diucapkan ketiga anak itu.
"Tidakkkkkkk!!!!" Teriak Arista dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.
"Ga ga mungkin.."
"Jangan menangis Buna, tidak perlu menyesali apa yang menjadi pilihan Buna... Kami memang sedih harus terpisah dengan adik tetapi jika itu adalah kebahagian untuk Buna kami tidak masalah." Ucap salah satu anak dihadapannya.
Di tariknya dua anak itu ke dalam pelukannya.
"Lihatlah Bunga itu Buna, bunga itu sudah layu. Itu artinya Adik sudah benar benar pergi." Lirih anak itu dengan air mata yang mengalir dipipinya.
"Tidak!! Adik kalian masih hidup dan Buna sangat yakin itu." Arista menghapus air matanya dan berjalan mendekati ketiga bunga yang menarik perhatiannya tadi.
Apa kau mengira Buna tidak menginginkanmu karena Buna berniat memetik bunga itu nak? Tidak pernah sekalipun terbesit dalam pikiran Buna untuk kehilangan kalian. Kamu dan kedua ketiga kakakmu semuanya berarti untuk Buna. Kalian adalah nafas Buna, bagaimana Buna bisa hidup jika kamu meninggalkan Buna seperti ini. -Batin Arista.
Arista menutup matanya dan berusaha menguatkan dirinya apapun yang akan dia lihat nantinya. Tangisnya kembali pecah melihat Bunga itu sudah benar benar layu, tubuhnya terduduk di atas tanah dan mengeluarkan isakkannya disana.
"Tuhannn!! Nggaa.. Ngga mungkin... Hiks.. Hiks.."
"Bunaa.."
Mendengar panggilan lirih itu Arista menoleh dan melihat kedua anaknya. "Dimana Buna bisa menemukannya? Katakan semua ini tidak benar bukan? Ini hanya bunga tidur yang Buna alami. Ayo beritahu Buna bagaimana cara agar Buna terbangun dari mimpi buruk di tempat indah ini?"
Hanya gelengan yang anak itu berikan membuat tangisan gadis itu semakin pilu.
"Bangunlah Buna, apa Buna tidak ingin melihat wajah adik untuk terakhir kalinya? Buna harus kembali ke sana untuk melihat wajah adik." Ucap anak itu sembari menunjuk sebuah cahaya yang menampilkan beberapa orang yang dia kenal berada di sebuah ruangan berdinding putih.
__ADS_1
"Apa kalian ikut kembali bersamaku? Aku sudah kehilangan salah satu dari kalian bertiga, jika kalian ikut meninggalkanku lebih baik aku tidak pernah kembali ke sana." Ucap Arista.
Kedua anak itu tersenyum, "Kami pun akan pergi jika sudah waktunya. Tidak ada yang kekal di dunia Buna."
"Ayo Buna.." Kedua anak itu mengulurkan tangannya ke arah Arista yang segera di sambut wanita itu.
Arista tersenyum begitu kedua tangannya menggenggam dua tangan mungil dengan hati terluka tentunya.
Jika memang Buna tidak mempunyai kesempatan untuk menjagamu di dunia, Buna ikhlas. Berbahagia lah disana, wajah dan suaramu akan selalu Buna kenang sampai kapanpun.
Ditatapnya Bunga bunga itu sekali lagi dari atas hingga akar bunga-bunga itu. Tatapannya terhenti begitu netra nya menangkap tangkai bunga itu yang masih terlihat segar sebagian. Di kedip kannya kedua matanya berulang kali untuk meyakinkan dirinya bahwa itu bukan lah halusinasi tetapi hasil yang dia dapatkan tetap sama. Senyumnya terbit begitu melihat pintu harapan kembali terbuka di hatinya.
"Nak, lihatlah tangkai itu. Dia terlihat masih segar, apa itu tandanya adik masih bersama kita?"
"Ayo kalian ikut Buna mencari adik, kita hanya akan kembali kesana jika sudah bertemu dengan adik." Seru Arista semangat.
Dengan segera Arista mengajak kedua anaknya untuk berkeliling hamparan itu untuk mencari putra bungsunya. Dia sangat berharap bahwa harapan kecil itu memang benar benar ada.
Berjam-jam sudah mereka lalui untuk mencari tetapi belum juga ada titik terang dimana keberadaan anak kecil itu. Arista sudah hampir berputus asa tetapi dua tangan kecil itu terulur ke hadapannya.
"Apa Buna benar benar kehilangannya? Apa tadi Buna hanya berhalusinasi?" lirih Arista.
"Yang Buna lihat tadi bukanlah halusinasi, lihatlah ke sana Buna. Disana adik sedang menunggu kita menjemputnya."
Arista menatap putranya yang kini tersenyum lebar sembari menunjuk sebuah tempat dengan cahaya yang begitu terang. Mereka pun berjalan menuju tempat itu dan benar ada seorang anak kecil tengah terduduk lemas sembari memegang dadanya. Sesekali terdengar ringisan kecil dari mulut kecilnya.
"Sayang bertahanlah, Buna tidak pernah menyesali keberadaan mu. Bagaimanapun kondisimu Buna akan selalu menyayangimu. Buna mohon jangan salah paham atas apa yang tadi Buna lakukan terhadap bunga itu." Ucap Arista sembari memeluk anak kecil itu dan menciumi puncak kepalanya berulang kali.
"Buna menginginkanmu sama seperti menginginkan kedua kakakmu yang lain. Buna mohon bertahanlah, Abang Arlan pasti sudah sangat menunggu kedatangan kalian."
"Terima kasih sudah menginginkanku kembali Buna, tetapi adik tidak bisa kembali, waktuku sudah habis.." Lirih anak itu dalam pelukan sang Bunda.
"Kak, apa kalian tidak ingin memelukku?" Tanya anak itu pelan pada kedua anak kecil yang memiliki wajah persis dengannya.
Mereka berempat pun berpelukan, terdengar isak tangis diantara keempatnya.
"Maafkan adik.."
__ADS_1