My Triplet Son

My Triplet Son
I Hope It's a Dream


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang akhirnya Alvino membawa Arista ketempat dimana ketiga bayi gadis itu berada.


"Lihat lah itu, tiga bayi yang ada disana adalah putramu."


Mata Arista tampak berkaca kembali melihat ketiga bayinya secara langsung.


"Aku ingin menyentuhnya.." lirih Arista tapi masih bisa terdengar di telinga Alvino. Membuat pria itu segera berinisiatif untuk menemui dokter jaga ruang itu.


"Aku tanya dulu, kamu tunggu sini dan jangan kemana-mana." Ucap Alvino yang diangguki cepat Arista.


Cukup lama Alvino pergi hingga laki laki itu kembali membawa dua bungkus plastik berisi kain berwarna hijau.


"Bagaimana?"


Alvino tersenyum dan menunjukkan baju steril yang dia bawa, "Ayo kita bersiap sembari menunggu dokter memindahkan putra-putramu."


"Kemana?"


"Ruang pribadi pemilik rumah sakit, ruang NCU tidak bisa dimasuki sembarang orang. Ada beberapa bayi lain di dalam sana yang bisa saja terganggu kondisinya dengan kedatangan kita. Oleh karena itu ketiga bayimu yang akan dipindahkan ke ruang NCU khusus." Jelas Alvino pelan.


Raut bingung masih tergambar jelas di wajah cantik gadis itu, membuat Alvino terkekeh kecil. "Sudah, tidak perlu di pikirkan. Rumah sakit ini milik Opa dari ketiga bayimu itu.." bisik Alvino.


Setelah satu jam menunggu, bayi bayi Arista sudah dipindahkan keruang khusu yang berada tepat di samping ruang NICU tadi. Arista melihat ketiga bayinya dengan senyum lebar dan mata yang berkaca.


"Akhirnya Buna bisa melihat kalian dari dekat.."


Arista mengulurkan tangannya menyentuh tubuh mungil tubuh putra pertamanya..


"Halo Abang.. Buna sudah disini.. Tolong katakan pada adik bahwa Buna menginginkannya.." lirih Arista.


"Katakan padanya Buna menyayangi kalian bagaimanapun keadaannya..."


Arista menoleh menatap Alvino untuk mendorong kursi rodanya ke tempat putra keduanya berada. Hal yang sama Arista lakukan pada bayi itu.

__ADS_1


Kini tibalah Arista di depan kotak dimana putra kecilnya berada, tubuhnya tidak biru seperti yang dia lihat di alam bawah sadarnya. Tapi tubuh kecil itu terlihat lebih ringkih di banding kedua kakaknya yang lain.


"Adik.. Buna tidak pernah berniat sekalipun untuk menyingkirkan mu.. Kalian bertiga adalah anugrah terindah yang Tuhan berikan pada Bunaa.."


"Jangan pernah tinggalkan Buna dik.." lirih Arista sembari menggigit bibirnya agar isakkannya tidak keluar dan menganggu tidur nyenyak putra nya.


"Maaf... Maaf tidak mengenali adik waktu itu.."


"Al.." panggil Arista membuat Alvino berjongkok dan menyejajarkan tingginya dengan Arista.


"Boleh aku peluk kamu?"


Alvino tidak menjawab, laki laki itu langsung mendekap gadis yang pernah berbagi rahim dengannya selama 9 bulan.


"Kamu ga perlu izin kalau mau peluk aku. Kalau kamu butuh temen cerita aku siap jadi telinga, kalau kamu sedih aku siap jadi bahu buat kamu bersandar. I'll be anything for you." Ucap Alvino sembari mengusap pelan surat panjang kembarannya.


Arista terus saja menangis dalam pelukan Alvino, dapat laki laki itu rasakan bahu Arista yang bergetar.


Titttt___ Titttt___


"Sebentar aku panggilk-"


Tittt __________


Alat monitor itu menunjukkan garis panjang yang menandakan bayi itu tidak lagi memiliki detak jantung.


"Tidakkkkkkk!!!" Teriak Arista histeris.


Alvino dengan sigap menarik kursi roda Arista menjauhi inkubator bayi itu berada dan memeluk erat tubuh Arista kini terus meronta.


"Anakku All!!! Anak kuuu!!!"


"Tenanglah Ta, biarkan dokter memeriksanya.." Alvino menatap langit langit ruangan itu dan mengerjab-ngerjabkan matanya berulang. Menghalau air mata yang melesak ingin keluar, dia tidak kuat melihat keadaan kembarannya saat ini.

__ADS_1


Oek... Oek..


Oek.. Oek..


Tangisan dua bayi Arista yang lain mulai terdengar seolah merasakan kesedihan yang sama dengan Arista akan kepergian putra bungsunya.


"Al ini mimpikan Al, aku tidak mungkin kehilangan dia Ar. Kenapa, kenapa Tuhan menghukum ku begitu berat atas kesalahan masa muda ku. Aku tau aku telah melakukan kesalahan dengan tidak menjaga diriku tapi bukan anakku yang harus menanggungnya Al.." Lirih Arista dalam pelukan Alvino.


Saat ini keduanya hanya bisa melihat dari luar bagaimana dokter dan perawat itu menangani putra bungsu Arista dan menenangkan dua bayi lainnya.


"I know how you feel, tapi Tuhan lebih menyayanginya Ta. Kalaupun dia tetap bertahan kita tidak bisa menjamin apa dia akan hidup normal tanpa ada penyakit yang mengiringinya? Bukankah akan lebih menyakitkan jika kita harus melihatnya dengan kondisi berbeda dengan dua kakaknya yang lain?" Alvino tau ini bukan waktunya berbicara seperti itu pada Arista, tapi dia juga ingin kembarannya tidak lagi menyalahkan dirinya sendiri. Apapun yang sudah terjadi itu sudah kehendak Tuhan dan mungkin itulah yang terbaik.


Arista tidak lagi menjawab, wanita itu hanya bisa menangis dalam pelukan Alvino sampai akhirnya Dokter keluar dari ruangan itu. Terlihat jelas tatapan sedih dan penyesalan disana.


"Maaf, kami sudah berusaha tapi Tuhan lebih menyayanginya.."


"Tidak..." Arista menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum akhirnya jatuh gak sadarkan diri.


"Ya Tuhan Arista..."


"Tuan, Nyonya Arista biar dibawa keruang tersebut biar saya periksa." Saran dokter tersebut sembari menunjuk sebuah ruangan tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Nyonya Arista tidak apa apa, dia hanya belum pulih akan kondisinya. Seharusnya setelah bangun dari koma biarkan dia beristirahat terlebih dahulu."


Alvino mengangguk, dia sudah berulang kaki menyuruh wanita itu untuk beristirahat tetapi memang dasar keras kepala.


"Tuan untuk jenazah bayi nyonya Arista bisa di bawa ke rumah duka siang nanti setelah di bersihkan."


"Tidak perlu dok, terima kasih tetapi biar kami mengurusnya sendiri." Ucap Alvino.


"Baik, saya permisi dulu Tuan." Dokter tersebut membungkuk dan berlalu dari ruangan Arista.


Setelah dokter itu pergi, Alvino segera menghubungi keluarganya untuk datang ke ruang rawat Arista yang baru. Dia akan mengabari perihal kepergian putra bungsu Arista secara langsung nanti.

__ADS_1


"Aku tau ini berat untukmu tapi ku mohon kuatlah untuk 3 anakmu yang lain. Jangan lupa ada Arlan yang masih harus berjuang untuk sembuh daru penyakit mematikan itu, ada dua anak kembar mu yang lain yang juga berjuang diantara hidup dan matinya."


__ADS_2