
Saat ini Arista dan Meli tengah duduk di ruang kerja Alex di Askandar Corp. Sejak tadi mereka bergumam kagum melihat desain interior kantor ini yang terlihat mewah tetapi tidak meninggalkan kesan norak. Ah jangan lupakan benda yang sejak tadi mereka injak, satu keramik marmer yang digunakan perusahaan ini mungkin seharga rumahnya.
"Apa kamu siap bertemu dengan Kelvan lagi Arista?" Tanya Alex menghentikan kekaguman mereka.
"Aku sudah beberapa kali bertemu dengan mereka Uncle." Jawab Arista meski sedikit canggung menyapa pria paruh baya dihadapannya dengan sebutan Uncle.
"Baiklah, mereka mungkin akan sampai dalam beberapa menit."
Benar saja tak lama setelah Alex mengatakannya pintu sudah diketuk dan memunculkan sepasang manusia yang tengah berangkulan mesra.
"Ada apa kau memanggilku?" Tanya Kelvan, melupakan fakta bahwa masalah Cafe lah yang mendorongnya hingga kemari.
"Apa kau masih belum bisa menyadari kesalahanmu Kelv?"
"Kesalahan yang mana? Bukankah kau dan Razer yang bersekongkol untuk memisahkan aku dan Jihan?" Ucap Kelvan tanpa menyadari adanya Arista dan Meli di sana.
Alex tersenyum miring, tetapi dia tidak menepis tuduhan Kelvan. "Kau duduklah di sofa, kita tunggu Razer."
Arista masih duduk dengan tenang di depan meja kerja uncle nya. Kenapa hatiku resah ya Tuhan? Apa akan terjadi sesuatu kembali? Kumohon jika terjadi sesuatu bukanlah hal yang menyedihkan atau menyakitkan.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuklah." Ucap Alex.
Setelah melihat yang masuk benar benar Razer, Alex segera bangkit dan menuju tempat dimana Kelvan duduk. Dia menatap pasangan suami istri yang tengah saling menatap dengan penuh cinta itu. Ingin sekali aku menghancurkan mu, jika tidak mengingat kau putra sahabat terbaikku.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" Tanya Alex dengan serius.
"Apa sebenarnya maksudmu?" Kelvan kembali bertanya, sepertinya dia benar benar menghilangkan sopan santunnya ke pada Alex.
Alex mengambil berkas yang tadi diberikan Razer, dia membuka dan menyodorkannya ke arah Kelvan.
"Apa maksudmu dengan mengacaukan usaha orang lain?"
Tanpa membaca berkas itu kini dia tau apa yang menjadi penyebabnya di sini. Dia meletakan berkas yang sepat diambilnya dan kembali menatap Alex datar.
__ADS_1
"Itu urusanku."
"Urusanmu? Tentu itu menjadi urusanku ketika tempat usaha yang kau kacau kan itu milik putriku!" Seru Alex.
Kelvan dan Jihan menatap tidak percaya pada Alex, setau mereka putri Alex sedang memimpin anak perusahaan ini bukan pemilik usaha Cafe seperti itu.
"Nak, kemari lah.." Ucap Alex ditujukan pada Arista dan Meli, dia tentu tau apa yang dipikirkan Kelvan dengan raut wajah bingung itu. Tadinya dia bermaksud mengenalkan Arista sebagai putri atau keponakannya secara langsung tetapi dia berubah pikiran.
Arista dan Meli menoleh, mereka berjalan bersama menuju sofa yang langsung di hadiahi tatapan tidak percaya dari Jihan dan Kelvan.
Kenapa perutnya menjadi lebih besar sekarang? Bukankah kami baru saja bertemu beberapa hari yang lalu? -Kelvan
Kini Arista memang memakai baju yang tidak terlalu longgar, tidak seperti biasanya. Tentu saja hal itu membuat perutnya terlihat sangat besar, tidak lagi tersamar oleh baju yang dia kenakan.
"Jadi ini putrimu Tuan? Seorang wanita yang entah tengah mengandung benih siapa tetapi justru meminta pengakuan pada suamiku?" Seru Jihan sinis.
"Jaga bicaramu! Dia tidak seperti dirimu!" Sengit Alex sembari bangkit dan membatu Arista untuk duduk di sampingnya.
Jihan kesal dengan Kelvan yang hanya diam menatap Arista intens tanpa menjawab atau menepis tuduhan dari Alex padanya.
"Ah tentu saja mana mungkin kau memiliki putri seorang jalang." Ucap Kelvan membuat Arista meremas pelan pegangan sofa tempatnya meletakkan tangannya.
Tahan Arista, biarlah dia menilai mu apa.
"Jaga bicaramu! Aku mengundangmu kesini untuk membicarakan masalah Cafe, apa sebenarnya tujuanmu?" Tanya Alex, sebenarnya Kelvan terlalu bodoh hingga tidak menyadari maksud lain Alex mengundangnya kemari. Bukankah sebagai pengusaha besar seperti Alex akan sangat mudah menyelesaikan masalah yang menimpa usaha Arista?
"Kenapa apa ada yang salah dengan tindakan ku? Aku sudah mau membelinya baik baik tapi dia menolaknya dan mengusirku." Kelvan menunjuk Arista, pasalnya dia masih ingat bahwa yang menemuinya saat itu adalah wanita hamil. Pantas saja dia seperti mengenal bola mata hazel itu.
"Membeli sesuatu yang tidak dijual, apakah itu tindakan yang baik menurutmu?"
"Lantas apa? Aku sudah memintanya dengan baik, kalau masih tidak bisa juga maka jangan salahkan aku jika memaksanya. Bukankah begitu cara main bisnis?" Kelvan tersenyum miring karena dilihatnya Alex hanya diam seolah membenarkan apa yang tadi dia anggap salah.
"Kalau begitu akan ku tunjukkan bagaimana permainan bisnis sebenarnya." Alex balas tersenyum miring dan menatap Kelvan tak kalah tajam.
"Kalau begitu tunjukkan." Ujar Kelvan santai.
__ADS_1
"Tidak sekarang tapi kau pasti akan mengalaminya." Tegas Alex.
Di samping Alex dan Kelvan yang masih saja beradu mulut ada Arista dan Jihan yang terus beradu tatapan tajam seolah menyiratkan ungkapan kebencian di sana. Sedangkan Razer dan Meli hanya menatap bosan perdebatan mulut dam mata di depan mereka.
"Lepaskan usaha milik putriku maka perusahaan mu aman atau lanjutkan apa yang kau lakukan tapi perusahaan mu hancur." Ancam Alex datar, kelihatan sekali dia tidak main main dengan ucapannya.
Jadi tujuanku kesini itu apa? Jika semua bisa di selesaikan oleh Uncle tanpa melibatkan ku sama sekali. -Arista
"Apa permintaan istrimu tidak ada yang lebih baik selain membuat orang kesusahan?" Tanya Alex ketika Kelvan hanya diam, kali ini dia menatap tajam Jihan yang sejak tadi beradu pandang dengan Arista. Tatapan Alex mampu membuat Jihan langsung menundukkan kepalanya.
"Istrimu tengah hamil. Bukannya melakukan hal baik, kau justru membuat orang memberikan sumpah serapahnya padamu. Bagaimana jika itu terkabul? Bukan padamu tapi pada anak dalam kandungan istrimu." Ucap Alex membuat Jihan menegang. Tentu saja dia tidak mau anaknya memiliki kekurangan yang akan membuatnya malu.
"Tanda tangani surat perjanjian ini bahwa kalian tidak akan mengganggu usaha milik putriku lagi dan berkewajiban membayar semua kerugian yang kalian sebabkan, serta mengembalikan nama baik Cafe putriku." Alex menyodorkan sebuah berkas pada Kelvan.
Kelvan mengambil berkas itu dan berniat membacanya tetapi tangan Jihan menahannya.
"Segera tanda tangani saja dan kita pergi.." Lirih Jihan tetapi masih terdengar di telinga tajam milik Alex dan Razer membuat mereka saling tatap dan tersenyum sinis. Keputusan yang mungkin akan disesalinya di kemudian hari
Tanpa kata Kelvan segera menuruti ucapan istrinya.
"Kami permisi dulu." Ucap Kelvan sembari bangkit dan berjalan menuju pintu. Tepat di samping Arista, Jihan terdorong kesamping tempat di mana Kelvan berdiri
Arista menutup mulut kaget, melihat Jihan yang hampir saja menyentuh lantai. Untungnya segera di tangkap oleh Kelvan.
"Kau!" Tunjuk Kelvan pada Arista setelah membantu Jihan berdiri. Dia melayangkan tangannya memukul Arista.
"Jaga perilaku mu!" Teriak Alex begitu melihat Arista jatuh terduduk dilantai.
"Jalang itu yang harusnya menjaga perilakunya, bagaimana mungkin dia berniat membahayakan keturunanku!" Jawab Kelvan tak kalah keras.
Mereka tidak menyadari, Arista yang meringis sembari memegang perutnya di sofa setelah tadi dibantu Razer dan Meli. Ya mereka tidak sempat menahan tamparan Kelvan karena posisi mereka sedikit jauh dari Arista.
Bertahanlah nak, Buna mohon...
TBC
__ADS_1