
Arlan, Dai dan Agus turun dari pesawat yang membawa mereka terbang dari Singapura menuju Indonesia dengan wajah berseri. Setelah beberapa bulan mereka pergi meninggalkan negara ini, kali ini mereka bisa kembali dengan keadaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Dai mengusap pelan kepala Arlan yang tertutup topi, keadaan anak itu memang sudah mulai membaik tetapi belum sembuh total masih harus menjalani beberapa pengobatan lainnya. Tetapi mereka sudah diperbolehkan pulang ke negara asal mereka dan melakukan check up rutin dua kali dalam satu bulan.
"Nek, Alan sangat bahagia masih dibeli kesempatan kembali ke sini. Alan tidak sabal beltemu Buna dan mencium ketiga adik Alan. Apa meleka sudah lahil nek?"
Sejak keluar dari rumah sakit hanya seputar itu yang Arlan tanyakan berulang kali, wajah anak itu tampak berseri dan terlihat tidak sabar bertemu dengan Bunda dan ketiga adiknya. Tanpa tau bahwa Bunda dan ketiga adiknya tengah berjuang antara hidup dan mati.
"Saat bertemu nanti, adik masih ada di perut Buna dan akan keluar sebentar lagi. Arlan harus sabar menunggu dan menjaga Bunda ya.."
"Siap Nek, Alan akan selalu menjaga Buna dan ketiga adik Alan nanti." Ucap Arlan sembari berpose hormat ke arah Dai, membuat sepasang paruh baya itu tersenyum.
Mereka bertiga berjalan menuju pintu keluar Bandara dan mencari taksi, kepulangan mereka memang tidak diketahui oleh Arista ataupun Meli. Mereka terutama Arlan berniat memberikan kejutan pada Arista.
"Nenek, jantung Alan dag dig dug. Gimana ya leaksi Buna liat Alan nantii.." Ucap Arlan sembari memegang letak jantungnya dan tersenyum malu membuat Dai dan Agus terkekeh.
"Buna pasti senang liat jagoannya nanti."
Sesampainya mereka di kediaman Arista, Arlan semakin banyak gerak karena terlalu bersemangat membuat Dai dan Agus sedikit kewalahan meladeni setiap ocehan dan pergerakannya.
"Bunaaaaaa!!!!!" Arlan berlari memasuki rumahnya sembari berteriak mencari malaikat tak bersayapnya.
"Bunaaaaa!!! Whele ale youu!!"
Tak melihat keberadaan Arista di keluarga, anak itu berlari menuju kamar Arista. Tetapi lagi lagi anak itu tidak mendapatkan apa yang dia cari.
"Nenekkk!! Buna kemanaa, di kamal nda adaaa.." Teriak Arlan, terlihat matanya berkaca tidak lagi bisa menahan rindu pada Bundanya.
"Mungkin ada di taman belakang sayang, ayo nenek temani ke sana."
Lagi lagi hanya kesepian yang mereka dapati, taman itu kosong. Tidak ada satupun orang yang berada di rumah itu, baik Arista ataupun Meli.
"Bunaa kemana Nek, sehalusnya Buna istilahat pelutnya pasti udah semakin besall. Apa Buna pelgi meninggalkan Alan?" Ucap Arlan sembari menahan tangis yang sudah di ujung.
"Mungkin Buna ada di Cafe menemani Aunty Meli di sana. Arlan mau menunggu Buna atau kita kesana saja?" Tawar Dai membuat senyum anak itu kembali terbit.
__ADS_1
"Mau kesanaa Nenek.."
"Baiklah, tapi sebelum kesana Arlan harus bersih bersih dan makan dulu. Biar waktu ketemu Buna Arlan sudah wangi dan tampan, bagaimana?"
Senyum Arlan semakin lebar, "Iya, Alan halus telihat tampan nantii. Ayo nek!"
...----------------...
Arlan berjalan riang memasuki Cafe menuju ruang mana Bunda dan Aunty nya berada. Anak itu bahkan tidak memperdulikan para pelayan Cafe yang menegurnya, dia hanya ingin cepat bertemu dengan Bundanya.
"Arlan, hati hati nakk!" Seru Dai begitu melihat Arlan yang hampir saja menabrak salah satu pelayan Cafe.
"Maaf kakak." Arlan menunduk di hadapan salah satu pelayan Cafe Arista, meski tidak membuat nampan yang pelayan itu pegang tetap saja anak itu merasa bersalah telah mengganggu pekerjaan seseorang.
"Tidak apa ada adik manis, kalau kakak boleh tau kenapa adik manis ini lari lari disini? Dimana orang tua adik, biar kakak antar kesana." Tawar pelayan itu setelah meletakan nampan keatas meja terdekat.
"Maaf kan cucu saya Mba.." Ucap Dai sembari membungkuk kearah pelayan itu.
"Oh engga apa apa Bu, namanya juga anak kecil. Wajar jika berlari lari seperti itu hanya saja tolong diawasi ya bu."
"Sama sama, adik manis kakak permisi dulu ya."
Tampaknya pelayan itu adalah pelayan baru hingga tidak mengenal putra sulung dari pemilik Cafe tersebut.
"Mba, bisa tolong bawa kami menemui Arista atau Meli?" Pinta Dai karena tidak mungkin dia langsung masuk ke ruang pribadi pemilik Cafe sedang pekerja disini tidak ada yang mengenalnya.
"Kalau boleh tau ada keperluan apa ibu mencari atasan saya?" Tanya pelayan itu sopan.
"Saya Dai salah satu kerabat mereka dan ini Arlan putra sulung Arista." Ucap Dai memperkenalkan diri.
Terlihat raut keterkejutan di wajah pelayan itu, dia memang pernah mendengar pelayan lain membicarakan putra sulung pemilik Cafe yang tengah berjuang melawan kanker di luar negeri. Tetapi dia sama sekali tidak tau siapa dan bagaimana rupa anak itu.
"Ah maaf Bu, saya tidak tau. Mari bu biar saya antar menemui atasan saya."
"Kakak, ini bukan jalan ke luangan Bunaa.." Ucap Arlan begitu menyadari pelayan itu membawanya ke arah berlawanan. Meski sudah lama tidak kesini tapi anak itu masih ingat pasti di mana ruangan Meli yang juga ruangan Arista.
__ADS_1
Pelayan itu hanya tersenyum dan menatap Dai seolah meminta wanita tua itu untuk mengikutinya tanpa banyak bicara.
"Apa Anda tidak mempercayai bahwa kami adalah kerabat pemilik Cafe ini?" Ntah kenapa ucapan itu terlontar dari mulut Dai.
"Maaf bu, jangan salah paham terlebih dahulu. Saya memang akan membawa kalian ke ruang atasan saya langsung dan memang bukan Bu Meli dan Bu Arista karena keduanya sedang tidak berada di tempat. Selain itu bukan hak saya untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Ibu dan adik manis ini." Ucap Pelayan itu sembari tersenyum.
"Maaf.."
"Tidak apa bu, mari. Ini ruangan Bu Orlin."
Tok
Tok
Tok
"Masuk."
Setelah terdengar suara dari dalam, pelayan itu segera mengajak Dai dan Arlan memasuki ruangan.
"Selamat siang Bu Orlin, maaf mengganggu waktunya."
"Oh Anis, ada apa?" tanya Bu Orlin pada pelayan yang bernama Anis itu tanpa mengalihkan tatapannya dari berkas diatas meja.
"Maaf Bu, ada dua orang yang ingin bertemu dengan Bu Arista dan Bu Meli. Mereka berdua mengatakan bahwa mereka adalah kerabat dan putra sulung Bu Arista."
Ucapan Anis membuat Bu Orlin mengalihkan pandangannya dan menatap tepat kearah dua orang yang berdiri di sebelah Anis. Satu yang dia ketahui yaitu Arlan, anak kecil yang sering Meli bawa ke Cafe dan dikenalkan sebagai putra dari Arista.
"Astaga Arlaan..." Seru Bu Orlin sembari bangkit dan berjalan ke arah Arlan. Ditariknya tubuh kecil itu kedalam pelukannya.
"Aunty dimana Bunaa, Alan melindukannya.." lirih Arlan.
Bu Orlin membeku, dia teringat bagaimana keadaan Arista saat ini. Di mana wanita itu masih harus berjuang antara hidup dan matinya.
"Buna sedang tidak di sini, Bunda dan Aunty Meli sedang ada pekerjaan di luar kota. Jadi Arlan dan Nenek pulang terlebih dahulu ya, nanti kalau pekerjaan Bunda dan Aunty selesai mereka pasti akan segera kembali.." Bu Orlin memutuskan untuk berbohong demi kebaikan Arlan, menurutnya.
__ADS_1
"Aunty bohong, Buna tidak mengatakan apapun saat telpon Alan kemalin. Jadi Buna pasti tidak kemana mana, katakan saja jika Buna memang tidak ingin beltemu lagi dengan Alan..." Ucap Arlan menahan tangisnya.