
SELAMAT MEMBACA
............
Arista dengan di dampingi Meli dan Arlan memasuki ruang pemeriksaan.
"Suster Meli!" Sapa Dokter ber-nametag Alisya itu
"Silahkan duduk Bu. Ada keluhan apa?" Tanya Dokter Alisya.
"Begini dok, saya sudah telat haid selama dua bulan ini. Dan saya sudah cek dengan testpack hasilnya positif. Tapi kenapa saya merasa perut saya besar sekali ya dok? Anak saya baik baik saja kan dok?"
Dokter Alisya terkekeh, melihat wajah Arista dia bisa menebak Arista masih berumur awal 20an.
"Baik bu, saya lakukan USG terlebih dahulu. Mari bu."
Arista membaringkan tubuhnya dan membuka bajunya sedikit. Dokter Alisya pun mengolesi sesuatu di perut Arista sebelum mengarahkan sebuah alat ke sana.
"Lihat bu, di perut ibu ada 3 kantong bayi!" Seru Dokter Alisya, selama bertugas dia jarang menemui ibu hamil kembar lebih dari dua.
"Ma.. Ma..kksu.d.nya dok?" Arista tergagap, 3 kantong bayi? Apa maksudnya?
"Ibu hamil kembar tiga bu, lihat lah di sini ada tiga kantong bayi. Dan menghitung Hari Pertama Haid Terakhir Ibu pada tanggal 16 Desember, usia kehamilan ibu sekarang 8 minggu. Alhamdulillah kandungan ibu sehat dan kuat."
Arista tersenyum bahagia, dia tidak menyangka akan segera memiliki 3 anak sekaligus. Meli dan Arlan pun menatap tak percaya, tadi Meli memang menjelaskan pada Arlan jika bayinya ada tiga.
"Wahh, dede tata bidadali ada iga!! Alan alus tembuh, Alan au iat dede bayinaa." Ucap Arlan girang membuat 3 wanita dewasa di sana tersenyum.
(Wahh, Dede kaka bidadari ada tiga!! Arlan harus sembuh. Arlan mau liat dedek bayinya.)
Alisya termasuk salah satu dokter yang meminta rumah sakit tetap mempertahankan Arlan. Jadi ketika melihat semangat sembuh Arlan dia sangat bahagia, dia akan membicarakan pada petinggi rumah sakit untuk membatu meringankan biaya pengobatan Arlan.
Kini Arista sudah kembali duduk di meja kerja dokter Alisya, untuk mengambil resep.
__ADS_1
"Kehamilan tiga cukup rentan, jangan terlalu banyak beraktivitas berat. Perbanyak istirahat dan mengonsumsi makanan sehat. Susu dan vitaminnya jangan lupa ya bu." Ucap Dokter Alisya sembari memberikan resepnya.
"Bu, kalau boleh tau ibu siapanya Arlan?" Tanya Alisya, pasalnya dia tidak pernah melihat Arista menjenguk Arlan sebelumnya.
"Kami baru bertemu dok, saya berencana membantu pengobatan Arlan dan kalau bisa saya ingin mengadopsi Arlan." Ucap Arista mantap.
Dokter Alisya dan Meli tersentak, Arista terlihat masih sangat muda terlebih tengah hamil 3 bayi. Bagaimana mungkin dia bisa mengambil keputusan besar itu, bahkan dia baru saja bertemu Arlan.
"Anda yakin Bu? Apa suami ibu menyetujuinya?"
Melihat Arista yang terdiam membuat Alisya merasa bersalah, dia mengerti apa alasan keterdiaman Arista. Hal ini sudah biasa dia jumpai selama bertugas.
"Maaf Bu." Sesal Alisya.
"Tidak papa Bu, saya berniat mengadopsi Arlan dan membiayai pengobatannya karena ntah kenapa rasa sayang pada Arlan muncul begitu saja. Dan ibu tenang saja, saya juga berniat mengajak suster Meli untuk tinggal bersama saya." Arista tersenyum sembari menatap Meli, padahal dia belum memberi tau meli.
"Tapi Nona?"
"Saya mau nona, tapi apa itu tidak merepotkan?"
Meli langsung mengiyakan karena dia tidak mungkin membiarkan Arista merawat Arlan dan bayi kembarnya sendirian nanti. Terlebih Meli juga tidak enak pada ibu panti jika terus tinggal di panti dan dia pun dilarang untuk tinggal di kost oleh ibu panti.
"Tentu tidak, kamu juga bisa membantuku nanti."
Arista dan Meli pun pamit pada dokter Alisya setelah bertukar nomor.
"Nona apa nona serius dengan niat nona?"
"Tentu saja, mulai sekarang kamu harus memanggilku kakak." Ucap Arista sembari tersenyum. Dia sudah mengetahui Meli yang masih berusia 20 tahun sedangkan Arista 22 tahun. Oiya, fyi Suster Meli merupakan suster yang bekerja mengantar makanan ke setiap ruangan karena itu di sela waktu kerjanya dia bisa menemani Arlan.
"Kamu bisa mulai tinggal denganku besok."
Arista berjongkok di depan Arlan, "Arlan, kakak pulang dulu ya. Besok kakak akan kesini lagi."
__ADS_1
Setelah berpamitan Arista segera pergi menuju bogor, dia memiliki keberanian untuk mengadopsi Arlan karena kemarin dia menemukan surat tanah dan villa di daerah bogor milik kedua orang tuanya. Arista pun sudah menghubungi notaris perihal kebenaran surat itu dan meninjau langsung ke bogor.
Notaris mengatakan tanah itu memang benar milik tuan Ryan yang sebelumnya tanah itu merupakan milik Tuan Fatan. Dari situ Arista dapat menebak, mungkin saja tanah itu di berikan oleh orang tua kandung Arista atas bakti Ryan selama ini. Tapi, Who knows?
Arista sudah memasang iklan penjualan tanah tersebut dan ada beberapa penawar yang meminta bertemu hari ini. Dia akan bertemu dengan beberapa calon pembeli dengan di dampingi notaris kemarin.
Arista mengubah rencananya untuk tinggal di desa. Dia berencana membuka usaha di Jakarta terlebih dahulu sembari menunggu kesembuhan Arlan. Arista akan membuka Kafe dan toko roti di sini. Setelah Arlan sembuh baru dia akan pindah dari sini ke desa atau kota lainnya.
Dia akan mulai memikirkan ide usahanya besok dan targetnya dalam waktu maksimal 3 minggu toko sudah buka. Bukan hal yang tidak mungkin bukan? Perjalanan buka toko Menantea milik Jerome Polin dan Jehian membuat Arista termotivasi bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki niat, keyakinan dan usaha.
"Semoga keputusan Buna untuk mengadopsi kakak Arlan tidak salah ya nak. Ketika melihat kakak, ntah kenapa Buna langsung menyayanginya. Kalian tau? Dia adalah orang yang paling senang ketika tau keberadaan kalian bertiga. Doakan Kakak supaya cepat sembuh ya nak." Batin Arista sembari mengusap-usap perutnya.
Arista turun tepat di depan Villa yang dia kunjungi 3 hari yang lalu. Di sana sudah ada pengurus Villa, selama ini memang Villa di rawat oleh sepasang pria paruh baya. Mereka tidak di bayar setelah kematian kedua orang tua Arista karena memang dia tidak tau adanya Villa ini. Mereka tidak mempermasalahkan itu karena keluarga Arista -Ryan- sudah sangat baik pada mereka. Bahkan hasil perkebunan pun mereka yang mengurus.
Pak Agus dan Bu Dai sudah Arista ajak untuk tinggal bersamanya di kota. Karena mereka memang tidak memiliki keluarga, awalnya mereka menolak tetapi Arista memaksanya dengan mengatakan triplets. Dan beruntung mereka mau tinggal bersamanya untuk membantu Arista merawat anak kembarnya.
Hasil penjualan Villa dan tanah disini sangat besar menurut Arista. Selain membuka usaha Arista gunakan sebagian uannya untuk membeli rumah di kawasan Purwokerto untuk kepindahannya nanti dan mobil. Sisanya akan dia tabung untuk keperluan mendadak dan untuk investasi saham. Awalnya dia memberikan sebagian untuk Pak Agus dan Bu Dai tetapi mereka menolak karena itu memang bukan haknya. Selama ini mereka memang tidak digaji tetapi uang penjualan perkebunan mereka lah yang simpan, sebelumnya mereka sudah memberikan pada Arista dan di terima. Tetapi di kembalikan lagi kepada mereka.
"Ini uang perkebunan saya terima, tetapi saya kembalikan lagi pada ibu dan bapak. Terima kasih selama ini tetap mau merawat villa dan perkebunan Ayah tanpa di gaji. Maaf kan saya Pak Bu."
"Tidak apa nak Arista, kami tinggal di sini pun adalah suatu keberuntungan nak. Jika Tuan Ryan tidak memperkerjakan kami ntah kami akan tinggal dimana. Kamipun sangat berterima kasih pada nak Arista atas kebaikannya mau kembali menampung kami di kota." Ucap Pak Agus.
"Jangan berbicara seperti itu pak. Apa boleh saya menganggap kalian sebagai orang tua saya?"
TBC
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YA🥰
ATAU KALAU BERSEDIA KASIH GIFT JUGA HEHEHE
ASTAGHFIRULLAH CAPSLOCKNYA, MAAFIN YA:)))
__ADS_1