
Setelah melewati minggu-minggu berat dengan kondisi ketiga bayinya yang terus berubah. Terkadang membaik dan terkadang memburuk. Kini Arista telah berhasil melewati keadaan itu dengan sabar dan ikhlas, dia mulai belajar bahwa apapun yang kita miliki hanya titipan. Tuhan bisa menitipkan apapun dan akan mengambilnya nanti.
Dia sangat bersyukur karena memiliki Arlan dalam hidupnya, seorang anak laki-laki yang dia angkat menjadi anak karena rasa kemanusiaan kini justru menjadi sumber kebahagiaannya. Dia juga sangat bersyukur karena Tuhan kembali memberinya kesempatan untuk hidup bersama anak bungsunya yang sempat dinyatakan tiada saat itu. Arista tau ini adalah takdir tetapi sungguh dia menganggap itu adalah hadiah yang Tuhan berikan secara kontan padanya karena telah merawat dan menyayangi malaikat kecil yang dia kirim ke dunia dengan segala luka dan kesendiriannya, Arlan.
"Buna apa adik kembal bisa pulang hali ini?" Tanya Arlan semangat, saat ini mereka tengah berada dalam mobil menuju rumah sakit tempat ketiga putranya di rawat.
"Iyaa, hari ini adik sudah boleh pulang. Apa Abang bahagia?"
"Sangat, Buna Aban sangat bahagiaa..." Ucap Arlan dengan senyum lebarnya.
"Kalau begitu Abang harus bantu Buna menjaga adik-adik di rumah nanti."
Arlan mengangguk cepat, senyum lebar masih saja terpatri diwajah tampan kecilnya.
Sesampainya di rumah sakit, mereka di sambut oleh orangtua Arista dan Kelvan. Mereka memang memaksa untuk ikut menjemput baby triplet dengan alasan Arista akan susah membawa ketiga bayi itu sendiri, walau itu memang benar tetapi dia pun tidak akan menjembut mereka sendiri.
"Apa beratnya sudah normal?" tanya Alvino yang melihat bayi Arista yang masih terlihat kecil.
"Untuk bayi seumurannya tentu tidak, tetapi mengingat kelahiran prematurnya ini menjadi hal yang wajar. Dan berat badannya sekarang sudah cukup baik hingga diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Tetapi jangan absen untuk memeriksakan keadaan ketiga secara berkala di rumah sakit." Ucap kepala rumah sakit yang juga dokter pribadi keluarga Dewanto.
__ADS_1
Ketiga bayi itu adalah keturunan keluarga Dewanto terlepas dari mereka yang terlahir di luar nikah tidak akan menghapus adanya darah keluarga itu di dalam tubuh mereka. Ketiga anak itulah yang akan meneruskan tonggak kepemimpinan perusahaan Dewanto di masa depan.
"Dok untuk anjuran dan pantangan dalam perawatan baby triplet bagaimana?" Tanya Arista yang segera mendapat penjelasan dari dokter spesialis yang juga berada di sana.
Arista mengangguk paham, digendongnya baby C ke dalam dekapannya dan mencium sayang puncak kepala bayi itu. "Akhirnya Buna bisa memelukmu dengan bebas nak, tumbuhlah menjadi lelaki yang bertanggung jawab pada hidupmu. Hargailah sebuah hubungan, jangan pernah melukai dan mempermainkan perasaan seorang wanita.." Lirih Arista tepat di telinga bayi kecilnya dengan tatapan tertuju pada bayinya yang lain.
"Ayo kita pulang, jangan mampir kemana mana. Langsung pulang." Ajak Fatan sembari melingkarkan tangan di pinggang istrinya.
Mereka pun berjalan bersama menuju tempat dimana mobil mereka berada. Arista, Delia dan Keysa masing-masing membawa satu bayi ditangan mereka. Sedangkan Arlan berada dalam gendongan Alvino, sepanjang perjalanan menuju rumah senyum bahagia tidak pernah luntur dari wajah mereka.
---------------------------
"KAMU ITU UDAH JADI SEORANG ISTRI! SEKARANG KAMU BUKAN LAGI SEORANG WANITA BEBAS YANG BISA KELUAR SEENAKNYA TANPA IZIN DARIKU." Teriak Sang Suami dengan wajah mengetat, terlihat jelas kemarahan di wajah putihnya.
"APA! AKU HANYA PERGI KE MALL UNTUK BELANJA, KENAPA KAMU SELALU MEMPERMASALAHKAN HAL KECIL SEPERTI INI?!" Balas Sang Istri dengan berteriak.
"Ini akan menjadi hal kecil jika kamu hanya pergi ke mall tanpa izin. Tetapi pada nyatanya?"
Terdengar nada penuh penekanan dalam setiap kata yang di ucapkan sang suami dengan tatapan tajam yang tak lepas dari istrinya.
__ADS_1
"KAMU PERGI KE CLUB MALAM!! KAMU PERGI KE TEMPAT YANG SEHARUSNYA TIDAK KAMU DATANGI LAGI DENGAN STATUS DAN KEADAANMU SEKARANG SEBERAT APAPUN MASALAHNYA!!!!"
Ya, sepasang suami istri itu adalah Kelvan dan Jihan. Rumah tangga mereka yang baru seumur jagung itu harus merenggang karena keinginan Jihan yang tidak dapat Kelvan penuhi saat itu. Terlebih sifat boros Jihan yang selalu menuntut ini dan itu padanya.
"ITU BUKAN MASALAH YANG BESAR UNTUK KAMU PERDEBATKAN SEPERTI INI!! Kamu yang terlalu kolot Kelvan, aku hanya ingin bersenang senang dan kehamilan ini tidak bisa kau jadikan alasan untuk itu."
"Kenapa kamu tidak bisa menurut sedikit saja Jihan?! Aku selalu memberikan apapun yang kamu mau selagi bisa, apapun aku usahakan untukmu. Tapi kamu pun harus sadar bahwa tidak semua yang kita inginkan bisa di dapatkan karena ada tangan Tuhan yang juga ikut berkerja di sana." Ucap Kelvan panjang, dia berusaha menekan emosinya sedalam mungkin. Dia tidak ingin kelepasan hingga melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya meski dengan orang yang berbeda.
Kelvan tentu sangat ingat bagaimana dia mendorong Arista hingga wanita itu jatuh dengan perut besarnya itu. Sampai saat ini dia masih dihantui rasa khawatir dan bersalah yang begitu besar. Bahkan dia mulai meragukan pilihannya menikahi Jihan saat ini.
Aku tidak bahagia dengan keadaan dulu aku kira akan menjadikanku pria paling beruntung di dunia ini. Apa aku telah melakukan kesalahan dengan menikahi wanita yang ku kira aku cintai itu? Apa aku akan bahagia jika aku memilih wanita yang aku ambil kehormatannya dengan manipulasi?
"Aku yang menentukan apa yang akan terjadi pada hidupku. Bukan kamu ataupun Tuhan, hanya aku! Aku tidak perlu izin darimu untuk melakukan hal yang aku suka." Ucap Jihan sebelum pergi meninggalkan Kelvan yang termenung di ruang tengah rumah mereka.
"Arghhh...." Seru Kelvan sembari mengusap wajahnya kasar.
Selalu seperti ini, dia sudah berulang kali berbicara pada Jihan dengan pelan tetapi selalu berakhir dengan pertengkaran. Banyak hal yang ingin dia tanyakan pada istrinya itu, selain kepergian wanita itu ke Club dia juga mendapat laporan dari sahabatnya yang melihat Jihan keluar dari sebuah kamar hotel dengan keadaan yang cukup berantakan diikuti lelaki paruh baya yang keluar beberapa menit setelahnya.
Dulu, sekarang ataupun nanti kau akan selalu menjadi orang terbodoh yang aku kenal. Kau akan selalu berada di kakiku, menuruti apapun yang aku inginkan seperti anjing yang menuruti tuannya.
__ADS_1