
"Maaf saya harus menyampaikan hal ini." Ucap Dokter Alisya membuat kerabat Arista menahan nafas mereka. Takut akan kenyataan yang akan mereka hadapi.
"Ketiga bayi ibu Arista terlahir sempurna dan berjenis kelamin laki laki..." Ucap Dokter Alisya yang disambut syukur pihak keluarga, mereka tidak mendengarkan penjelasan Alisya hingga selesai.
"Alhamdulillah.."
"Terima kasih Tuhan.."
"Lantas kenapa Anda meminta maaf?" Tanya Alvino yang menyadari tatapan dokter Alisya.
Pertanyaan Alvino membuat senyum yang tadi terbit kembali terkikis, mereka tidak menyadari hal itu. Mereka terlalu senang mendengar Arista baik baik saja dan kelahiran ketiga bayi laki lakinya dengan sempurna.
"Ketiga bayi ibu Arista terlahir sempurna, hanya saja putra bungsu ibu Arista. Dia terlahir sedikit berbeda dengan kedua kakaknya. Bayi bungsu ibu Arista terlahir dengan tubuh lebih kecil dari kedua kakaknya dan berwarna sedikit kebiruan. Selain itu detak jantungnya sedikit lemah." Jelas dokter Alisya.
Meli, Keyza dan Delia tidak lagi sanggup menahan tangis mereka. Membayangkan bagaimana keadaan bayi mungil itu sesungguhnya.
"Apa bisa ditangani dok?" Tanya Kenan.
"Tuan Kenan, maaf saya tidak menyadari keberadaan Anda." Ucap dokter Alisya sembari membungkuk memberi hormat pada pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Jantungnya berdetak sedikit cepat karena telat menyadari keberadaan Kenan.
"Tidak papa"
"InsyaAllah bisa Tuan, kejadian ini biasa terjadi pada kehamilan prematur. Terlebih ibu Arista mengandung tiga bayi yang indentik. Pada kehamilan kembar identik sering terjadi pembagian oksigen, nutrisi atau makanan yang tidak seimbang. Tergantung kecepatan transpor pada plasenta. Untuk sementara waktu ketiga bayi ibu Arista belum bisa dijenguk dan masih harus berada dalam pengawasan kami di ruang inkubator karena berat badan yang belum memenuhi. Terutama putra bungsu ibu Arista yang masih perlu penanganan lebih intensif." Jelas Dokter Alisya.
(CMIIW😊)
"Apa boleh di adzani terlebih dahulu?" Tanya Kenan, sebagai seorang muslim tentu dia ingin cucunya di adzani sekalipun dia bukan hamba yang taat.
__ADS_1
"Bisa Tuan, hanya saja belum bisa kontak langsung dengan bayi. Bisa diberi adzan diluar tabung inkubator." Ucap Dokter Alisya.
"Biar saya yang mengadzani nya." Ucap Kenan, Fatan dan Alvino bersamaan. Mereka saling menatap satu sama lain dengan tajam seolah mengatakan Biar aku saja.
Dokter Alisya tersenyum menatap ketiganya, "Bisa masing masing mengadzani satu satu Tuan. Hanya saja bergantian dan diwaktu yang berbeda."
..............
Alvino menggenggamnya tangan Arista yang bebas dari infus. Dia terus saja menatap wajah kembaran yang selama ini dicarinya, wajah benar benar persis dengan wajahnya versi wanita.
"Aku akan selalu menjagamu.." Lirih Alvino sembari mengecup tangan Arista yang berada digenggaman nya.
"Cepet sadar ya Ta, kamu ga pengen liat triplets? Ketiga jagoan mu sangat tampan."
"Mereka terlahir sempurna, tidak ada masalah serius selain berat badan yang kurang. Tetapi putra bungsu mu terlahir sedikit berbeda dengan kedua kembarannya, dia perlu penanganan lebih intensif. Sadarlah Dear, dia perlu doamu." Ucap Alvino terus. Dokter Alisya menyarankan pihak keluarga untuk terus mengajak pasien bicara sekalipun masih berada dibawah pengaruh obat bius. Karena kemungkinan Arista koma bisa saja terjadi mengingat keadaannya sebelum operasi.
Aku akan mencari mu bahkan hingga ke ujung dunia sekalipun. Aku tidak akan menghadirkan wanita lain sebelum kau ditemukan. Meskipun hanya sebuah makam dengan ragamu disana. - Janji Alvino saat itu, dia berjanji tidak akan menikah atau berhubungan dengan wanita manapun sebelum Arista ditemukan. Bukan tanpa alasan Alvino melakukan hal seperti itu, dia hanya tidak ingin melupakan tujuan untuk mencari Arista hanya karena kesibukan membahagiakan wanita lain. Dia akan mulai memikirkan pernikahan setelah menemukan Arista atau dia menemukan kebenaran bahwa kembarannya memang telah tiada.
Alvino kembali menatap wajah kembarannya yang kini terdapat air mata di sudut matanya.
Apa Arista sudah sadar? Kenapa dia tidak membuka matanya? Bukankah dia masih dalam pengaruh obat bius?
Tanpa banyak berpikir lagi, Alvino segera berlari menemui dokter untuk membicarakan keadaan Arista. Dia bahkan melupakan keberadaan tombol darurat di sisi tempat tidur kembarannya itu.
"Alvino ada apa?" Seru Fatan begitu melihat putranya berlari keluar dari ruang rawat Arista. Namun serunya tidak ditanggapi Alvino sama sekali.
Baru Fatan akan menyusul, Alvino sudah kembali dengan salah satu dokter jaga disana.
__ADS_1
"Tidak apa, terus rangsang pasien dengan mengajaknya bercerita. Kita masih belum bisa memastikan bagaimana keadaan ibu Arista selanjutnya." Jelas Dokter ber-nametag Adrian setelah selesai memeriksa keadaan Arista.
"Apa ada kemungkinan pasien koma?" Tanya Alvino.
"Kita doakan saja yang terbaik untuk pasien. Saya permisi dulu." Ucap Dokter Adrian sembari tersenyum sopan.
Fatan menepuk pelan pundak putra sulungnya menguatkan, saat ini memang hanya Alvino dan Fatan yang berjaga di rumah sakit dan akan bergantian setiap 12 jam sekali.
"Yah, Vino takut kehilangan Arista lagi. Ayah tau kenapa Vino sampai berani berjanji dengan mempertaruhkan masa depan Vino untuk mencari Arista?" Tanya Alvino membuka suara, kini dia dan Ayahnya dengan duduk disisi ranjang Arista.
"Karena kamu ingin fokus dengan pencarian mu?" Jawab Fatan sedikit ragu. Setau nya itulah alasan yang selama ini Vino katakan.
Alvino menggeleng, dia meraih kembali tangan Arista yang tadi sempat digenggamnya. Diusapnya pelan tangan itu.
"Vino bisa merasakannya Yah." lirih Alvino tanpa menatap Fatan.
"Maksudmu?"
"Bukankah anak kembar memiliki ikatan batin yang lebih kuat dibanting tali persaudaraan lainnya. Terkadang Vino bisa merasakan dada Vino sesak tanpa sebab atau terkadang nyeri dibeberapa bagian tubuh seperti terkena luka. Padahal saat itu Vino tidak terluka sama sekali. Itulah yang selalu membuat Vino yakin kalau selama ini kembaran Vino masih ada." Jelas Alvino dengan mata berkaca-kaca, biarlah dia terlihat lemah di depan ayahnya karena memang seperti ini yang dia rasakan ketika mengingat kembarannya.
"Bahkan sebelum kamu tau kalau kamu punya kembaran?" Tanya Fatan, dulu Alvino memang sempat dibawa ke psikiater setelah kejadian hilangnya Arista. Mereka memutuskan untuk sedikit menghapus ingatan Alvino tentang kembarannya karena takut berpengaruh pada masa depannya. Pada saat Alvino berusia 17 tahun barulah mereka memutuskan memberitahu kejadian 14 tahun yang lalu.
Ketika tau memori tentang kembarannya di hapus Alvino cukup marah besar saat itu, dia bahkan sampai mogok bicara pada orang tuanya. Sampai dua Minggu setelah hari dimana dia tau semuanya janji itupun terucap.
"Ya Vino merasakannya Yah tetapi Vino ngga pernah menyadarinya."
TBC
__ADS_1