My Triplet Son

My Triplet Son
R-K


__ADS_3

Razer melajukan mobilnya cepat menuju jalan alternatif menuju kantor Kelvan. Pria itu bahkan beberapa kali melanggar lampu lalu lintas dan mendahului kendaraan lain seenaknya. Klakson terus berbunyi tanda protes pengguna jalan pada caranya berkendara. Namun seolah tuli, pria itu tidak peduli dan justru mempercepat mobilnya.


Berulang kali Razer melihat jam tangan di pergelangan tangannya. "5 menit lagi, semoga belum terlambat untuk menghentikannya."


Saat ini Razer sudah berada di kawasan jalan sepi yang sering menjadi jalan pintas untuk menuju kantor Dewanto berada. Mobilnya masih melaju cepat untuk mencari sebuah mobil hitam metalik yang akan melaju berlawanan arah dengannya.


"Tiga menit lagi, ku mohon Tuhan. Biarkan dia menebus segala kesalahan dan dosanya terlebih dahulu.." Lirih Razer.


Tak lama terlihat mobil hitam metalik yang melaju ke arahnya dengan kecepatan standar. Segera Razer memperlambat lagu mobilnya dan menghadang mobil itu. Terdengar decitan ban dan aspal yang cukup nyaring dan memekakkan telinga.


Dengan nafas terengah Razer menyandarkan tubuhnya pada bantalan kursi dan memejamkan matanya sejenak. Meski sudah menemukan mobil hitam itu, misinya belum lah selesai.


TOK TOK TOK!!


Jendela mobil Razer di ketuk dengan keras membuat pria itu segera melepas sabuk pengaman dan keluar menemui pria yang sudah lama tidak dia lihat.


"L-Lo!"


"Apa maksudnya ini? Lo ni-"


"Stt.. Jangan banyak bicara dulu. Lebih baik sekarang lo masuk mobil gue dan puter balik mobilnya." Suruh Razer sebelum bergegas menghampiri mobil Kelvan untuk menggeledah mobilnya.


"Lo mau ngapain ke mobil gue?!"


Bukannya menuruti apa yang Razer minta, Kelvan justru mengikuti dan menghalangi Razer yang berniat membuka mobilnya.


"Minggir!"

__ADS_1


"Ga! Lo ga bisa seenaknya gitu aja."


"MINGGIR KELVAN!! WAKTU KITA GA BANYAK!" Teriak Razer dan segera mendorong Kelvan ke arah samping.


Pria itu terus mengelilingi mobil Kelvan dan menelitinya mencari sesuatu. Hingga matanya membulat begitu melihat sebuah benda dengan perhitungan waktu 3:12 yang tersisa. Dengan perlahan pria itu mulai membuka dan meneliti satu persatu kabel yang ada di sana namun 2 menit sudah berlalu dia masih belum bisa menemukan cara untuk menghentikannya.


Tanpa membuang waktu lagi Razer segera keluar dan berniat menuju mobilnya yang dia kira sudah di putar balik oleh Kelvan. Tapi nyatanya pria itu justru tangah berdiri sembari berkacak pinggang dan menatapnya tajam.


"SHITT!!! KENAPA GA LO PUTER MOBILNYA!" Seru Razer sembari menarik Kelvan menjauhi tempat dimana mobil mereka berada.


"Lo kenapa tarik gue! Lepas!!" Kelvan berusaha melepaskan cengkraman tangan Razer pada bajunya.


"Razer!!"


Razer tidak mendengar dan terus menariknya ke arah dalam hutan kecil yang mengelilingi sepanjang jalan itu. Setelah berada cukup jauh dari jangkauan bom itu, Razer berhenti dan menghembuskan nafas lega.


"L-lo a-"


Terdengar tiga ledakan yang bersautan, bahkan tempat di mana mereka berdiri sedikit bergetar karena ledakan itu. Ledakan dari bom dan kedua mobil yang ada di sana.


Razer terduduk dan memejamkan matanya, dia lega setidaknya Tuhan nyawa mereka berdua selamat. Pria itu bahkan tidak menghiraukan Kelvan yang kini masih menatapnya dengan mata tajam yang membulat tidak percaya.


"T-t-tadi.."


"Tadi mobil lo udah di pasang bom dan lo masih jadi orang terbodoh yang bisa di kelabui dengan mudah." Ucap Razer memotong ucapan Kelvan setelah membuka matanya.


Tubuh pria itu masih berbaring di atas tanah, dia ingin beristirahat sebentar sebelum sibuk untuk mengurus pasca kejadian ini di kantor polisi nanti.

__ADS_1


"Kenapa lo selamatin gue?"


"Karena gue kerja buat bokap lo, dulu sekarang ataupun nanti. Menjaga lo tetap hidup adalah tugas utama gue."


...****************...


Alvino terdiam melihat apa yang diberitakan media saat ini. 3 Ledakan bersautan di jalan alternatif milik Dewanto Corp yang berasal dari 1 buah bom dan 2 buah mobil mewah yang masih du cari tau pemiliknya.


"Kenapa dia harus menyelamatkannya?" Tanya Alvino.


"Walau bagaimanapun dia anak sahabatku, dan Razer bekerja pada ayahnya. Menjaganya tetap hidup adalah tugasnya." Jawab seorang pria paruh baya yang sejak tadi berada di sampingnya.


"Uncle bahkan bisa bebaskan dia dari tugas itu."


"Benar, tapi uncle tidak mau mencampurkan urusan pribadi dengan bisnis. Jika uncle ingin membalas atau berurusan dengan seseorang maka Uncle akan melawannya atas nama pribadi."


"Lex, sudah waktunya kamu menangani pasca kejadian itu." Ucap Fatan sembari menunjuk TV yang menampilkan berita lain.


Pria paruh baya yang duduk di sebelah Alvino, Alex hanya mengangguk. Tanpa di beritahu pun bawahannya pasti sudah bertindak untuk menyelesaikan masalah ini. Agar tidak ada spekulasi-spekulasi tidak berdasar dari masyarakat.


"Kapan Razer bisa bebas dari tugasnya?"


"Kenapa?" Tanya Alex dengan satu alis terangkat menatap keponakannya itu.


"Alvino! Kamu tidak perlu mengotori tanganmu untuk membalas pria itu, tak lama lagi karma pasti akan datang untuk berkenalan dengannya."


Alex yang mendengar ucapan adik iparnya tersenyum smirk, tentu saja karena dia sudah menyiapkan hadiah untuk pria yang sudah menyakiti hati keponakannya.

__ADS_1


"Razer akan bebas setelah menjauhkan Kelvan dari hama itu."


__ADS_2