My Triplet Son

My Triplet Son
PART 42


__ADS_3

Razer mengintip ke dalam unit Kelvan melalui balkon untuk melihat situasi. Dia tengah mencari waktu yang tepat untuk menyergap masuk dan menyelamatkan Kelvan.


"Razer ini uncle! Cepat masuk karena semua bom sudah berhasil di atasi, pasukan khusus sudah dalam perjalanan menuju unit."


"Baik."


Tanpa membuang waktu Razer segera meloncat masuk ke dalam balkon, suara yang ditimbulkan cukup untuk menyita perhatian tiga orang di dalam sana.


"Razer?!"


Razer membeku melihat salah satu dari mereka adalah orang yang sangat dia kenali. "Uncle Kendra?"


"Terkejut? Bukankah sudah aku katakan, aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku." Pria paruh baya itu berjalan santai menuju sofa.


"Uncle tidak ada hak apapun atas perusahaan Dewanto?!"


Kendra menggeleng, "Tentu ada, itu adah warisan orang tuaku dan aku punya hak atas kepemilikan dan saham di sana. Tapi kau lihat apa yang di lakukan Kakakku yang brengsek itu?! Dia hanya memberikanku perusahaan kecil yang baru dia bangun dan menguasai seluruh harta yang orang tuaku tinggalkan."


"Orang tuamu? Uncle hanya anak angkat kalau uncle lupa?! Sudah sewajarnya seluruh aset jatuh ke tangan uncle Kevin dan perusahaan kecil itu bisa berkembang kalau uncle bisa mengelolanya dengan baik?! Uncle Kevin sengaja memberikan itu agar uncle tidak merasa tersisih?!"


"Kau pikir aku peduli?!" Kendra mengambil map di depannya dan mengibaskan nya di depan wajahnya.


"Kau lihat? Seluruh saham dan aset yang selalu kakakku itu banggakan sudah ada ditangan ku. Ahk bagaimana bisa kakakku yang licik itu bisa memiliki putra yang begitu bodoh sepertinya?"


Razer berjalan perlahan mendekat kearah nakas yang tak jauh dari posisi Kelvan di sekap.


"Bukankah kalian sudah mendapatkan apa yang kalian inginkan? Kalau begitu lepaskan Kelvan?!"

__ADS_1


"Kau pikir semudah itu? Aku akan membuat suamiku ini tidak akan bisa merasakan indahnya dunia lagi dia hanya akan terbaring di tempat tidur untuk selamanyaa." Ucap Jihan menyentuh wajah Kelvan dengan telunjuknya sembari tersenyum licik.


"A-apa maksudmu?" Tanya Razer terbata, di kepalanya bersliweran kemungkinan terburuk yang busa Jihan lakukan.


-Ga mungkin dia bisa mendapatkan vaksin itu?!-


"Razer gawat?! Prof. Altar memberitahu vaksin yang dibuatnya hilang beberapa waktu yang lalu dan pencurinya adalah.."


"Jihan.." Lirih Razer begitu mendengar informasi dari earpiecenya.


"Kenapa? Apa kau tidak percaya aku bisa melakukannya dengan mudah?" Tanya Jihan sembari berjalan menuju kamarnya.


Saat itu seluruh perhatian tertuju pada wanita itu membuat Razer memanfaatkannya untuk berjongkok dan menggeser sebuah cutter kecil ke arah Kelvan.


"Buka ikatanmu diam diam." Ucap Razer tanpa suara.


"Mereka memang membesarkan ku tetapi sikap mereka tetaplah menunjukan bahwa aku adalah anak angkat. Mereka selalu membedakan aku dengan Kevin dalam segala hal. Termasuk pemberian warisan ini, mereka bahkan di tidak ingat aku yang juga ikut berkontribusi dalam kejayaan Dewanto. Mereka sama sekali tidak memberikan aku hak atas perusahan itu."


Razer melirik pada Kelvan yang masih berusaha memotong ikatan di tangannya dan sesekali memperhatikan kamar tempat Jihan masuk tadi.


"Meski begitu mereka masih peduli dan memikirkan mu?! Bukankah 5 restoran itu bisa membuktikannya?! Jika mereka tidak peduli padamu maka mereka tidak akan membagi harta mereka sedikitpun padamu. Memberimu makan dan menyekolahkan mu bahkan sudah cukup untuk menjalani peran sebagai orang tua angkat bagi anak tidak tau diri seperti mu?!"


"Persetan dengan itu semua karena kau sudah tau siapa aku maka aku tidak akan membiarkan kalian berdua keluar dari ruangan ini." Kendra tersenyum miring dan mengeluarkan remote kontrol bom yang sudah dia pasang.


"Ahk bahkan kalian tidak akan bisa keluar dari gedung ini. Hanya dengan satu sentuhan, bum?! gedung ini akan rata dengan tanah." Ucap Kendra sombong.


"Maka kau pun akan mati bersama kami?!"

__ADS_1


"ck ck ck, tentu tidak. Aku tidak akan membiarkan rencana yang sudah aku susun sia sia."


Jihan keluar membawa sebuah suntikan dan botol kecil ditangannya. "Razer kau pasti tau apa yang saat ini berada di tanganku ini!"


"Menurutmu siapa yang akan merasakan efek dari serum ini? Kau atau suamiku itu?!"


Razer hanya diam karena Alex tengah memberinya instruksi untuk langkah kedepannya.


"Jihan segera suntikan serum itu pada Kelvan, kau lihat telinga pria sialan ini. Dia menjebak kita?!"


Jihan menatap telinga Razer, memang terdapat earpiece disana. Bagaimana dia bisa tidak menyadari itu, tentu saja Razer tidak akan maju sendiri karena ada Alex di belakang pria itu.


"Sial?!"


Tanpa membuang waktu Jihan segera melangkah menuju Kelvan dan berjongkok dihadapan pria itu. Tangannya bergerak menyiapkan suntikan dan serum yang akan dia gunakan.


"Jangankan harga, tubuh kekar dan wajah tampanmu tidak akan lagi berguna untuk hidupmu." Jihan mengelus lembut pipi Kelvan dan mengarahkan suntikan itu pada lengan atas Kelvan.


"AKHHHHH"


"KELVANNN"


Bugh


Bugh


Bugh

__ADS_1


__ADS_2