My Triplet Son

My Triplet Son
Panti


__ADS_3

Arista kembali diantar pulang oleh Razer, tadinya Alvino memaksanya untuk ikut ke rumah keluarga Willyan tetapi dia menolaknya. Dia masih perlu waktu untuk menyesuaikan diri untuk perubahan besar dalam hidupnya.


"Maafkan aku sudah merahasiakan semuanya Ta."


"Kali ini apa lagi yang kamu rahasiakan Razer?" Arista menoleh menatap Razer yang masih fokus menatap jalan raya di depannya.


"Tidak lagi Ta, tidak ada lagi yang aku rahasiakan." Ucap Razer sembari menggeleng.


"Ada, matamu mengatakan segalanya.."


Razer menoleh menatap Arista bingung sejenak lalu kembali fokus pada jalan di depan nya.


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak masalah jika kau berniat melamar adikku."


CRITTTT


Arista tersentak, badannya terdorong ke depan membuatnya segera menumpukan tangannya pada dashboard didepannya agar tidak terjadi benturan yang membahayakan janinnya.


"Razer?! Apa kau gila?" Seru Arista setelah menguasai rasa terkejutnya.


TIN TIN


Razer tersentak dan segera melajukan kembali mobilnya tanpa mengindahkan ucapan Arista tadi. Dia akan membicarakannya setelah menemukan tempat untuk meminggirkan mobilnya.


"Atas dasar apa kamu mengatakan hal itu Ta?" Tanya Razer setelah meminggirkan mobilnya.


"Siapapun akan mudah menebaknya, terlihat sekali dari bagaimana kamu menatap adikku atau bagaimana kamu memperlakukan adikku." Jelas Arista santai.


"Kka..kau.."


"Segeralah ambil keputusan, berjuang atau lepaskan. Jangan menundanya atau kau akan kehilangannya."


Razer menatap Arista yang kini memejamkan matanya sembari mengusap usap pelan perutnya dan sesekali meringis.


"Apa kau baik baik saja? Kita ke rumah sakit sekarang." Razer berniat menyalakan mobilnya kembali tetapi Arista menahannya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan Razer, lagi pula ini sudah biasa terjadi karena anak anakku terlalu aktif. Aku juga sudah memeriksakannya kemarin dan itu adalah hal wajar yang biasa dirasakan ibu hamil."


Kini Arista menatap Razer dan tersenyum, dia tau pasti Razer tengah bimbang dengan perasaannya. Namun dia tidak tau apa alasan kebimbangan Razer jadi dia hanya akan berusaha mendorong Razer memutuskan.

__ADS_1


"Razer cobalah terbuka pada dirimu sendiri, aku memang tidak tau apa yang terjadi. Tetapi apapun yang terjadi, terlepas dari kebimbangan hatimu atau keraguanmu jangan menyesal jika kedua hal itu membuatmu kehilangan kesempatan."


Terdiam, Razer hanya membisu memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut anak atasannya itu. Benarkah dia akan kehilangan kesempatan?


...........


Arista menceritakan apa yang terjadi tadi kepada Meli dan kedua orang tua angkatnya. Tentu mereka ikut bahagia mendengar kabar yang disampaikan Arista. Hanya saja...


"Kak, apa kakak akan tinggal bersama dengan orang tua kandung kakak?" Tanya Meli lirih, beberapa bulan hidup ditengah keluarga ini membuat Meli merasakan apa yang tidak dirasakannya sejak dulu.


"Apa kau takut kehilanganku?" Tanya Arista dengan senyum tertahan.


"Lebih dari itu kak.."


Meli menundukkan kepalanya tidak berani menatap seseorang yang dipanggilnya kakak itu.


"Aku belum berniat untuk tinggal bersama mereka Mel, aku hanya akan mengurus berkas berkas indentitas asliku dulu. Selama Ibu dan Bapak masih di luar negeri aku akan tetap di sini menemanimu."


"Tapi kak..."


"Mel, tidak mudah bagiku menerima semua ini. Aku bahagia ketika mereka memperkenalkan diri mereka sebagai orang tua yang beberapa bulan lalu aku cari. Tetapi ketika aku mengingat bagaimana keadaanku kini membuat ku tersadar suatu hal."


"Kau tau bagaimana keadaan ku, aku hanya akan menyusahkan mereka..."


"Mel..."


"Kak, stttt. Jangan pikirkan apapun tentang hal itu, kini fokuskan perhatian kakak hanya pada calon anak anak kakak. Lagipula aku sangat yakin keluarga kakak akan menerima kakak sepaket dengan anak anak kakak nanti." Jelas Meli berusaha menenangkan kakaknya.


"Aku hanya perlu waktu, ini terjadi terlalu mendadak untukku. Ketika aku sudah tidak mengharapkan keluarga kandungku, mereka justru datang dengan kejutan." Ucap Arista sembari terkekeh hambar.


"Oiya Mel bagaimana keadaan Arlan?" Tanya Arista untuk mengalihkan pembicaraan karena Meli yang tidak lagi membalas ucapannya.


"Sudah ada kemajuan kak, semangatnya untuk sembuh sangat besar."


"Arlan memang anak yang kuat.." Arista tersenyum membayangkan Arlan yang menatapnya dengan tersenyum.


"Tidak kak, kakak yang membuatnya menjadi kuat. Kehadiran kakak bersama triplets membuat semangat nya untuk sembuh tumbuh kembali pada dirinya bahkan lebih besar dari sebelumnya." Ucap Meli.


"Jangan melupakan bagaimana kuatnya Arlan melawan penyakit itu dulu hanya karena semangatnya kini lebih besar. Kau tau Mel kenapa Arlan lebih bersemangat kali ini?" Tanya Arista menatap Meli.


"Karena dia ingin melihat dan menjadi pelindung untuk Buna dan adik adiknya nanti."

__ADS_1


Arista mengangguk kemudian menggeleng, "Karena alasannya untuk sembuh semakin besar, dia sangat kuat Mel. Dia sudah melewati banyak pengobatan dulu dan dia bahkan bertahan dua tahun tanpa perawatan. Menurutmu apa yang membuatnya bertahan sejauh itu?"


Meli menggeleng.


"Itu karena kamu Mel, dia tidak mau pengorbanan mu merawatnya sia sia. Selain pengobatan medis, dukungan moril sangat diperlukan untuk melawan penyakit semacam ini. Dulu fokus mu adalah mencari uang untuk biaya pengobatan Arlan tetapi kamu melupakan bahwa Arlan sangat membutuhkan dukungan mu ketika dia bahkan tidak mendapatkan dukungan dari dirinya sendiri."


Meli benar benar tidak mengerti apa maksud Arista kali ini.


"Maaf kan aku jika kali ini aku menyinggung mu dan keluargamu."


"Keluarga kak?" Tanya Meli bingung. Keluarga yang mana?


"Jangan salah paham Mel, yang aku maksud adalah kelurga mu di panti. Menurutmu bagaimana perlakuan mereka pada Arlan?" Tanya Arista.


Meli terdiam, dia berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi di panti. Namun sekeras apapun dia mencobanya dia sama sekali tidak pernah mendapati perlakuan tidak wajar untuk Arlan. Meli menggeleng pada Arista.


"Ingatlah perlahan Mel, bagaimana perlakuan mereka pada Arlan setelah dia divonis terkena kanker." Bujuk Arista lagi, dia hanya ingin tau apa Meli tau perlakuan tidak adil yang di dapatkan Arlan di panti dulu.


"Mereka tidak mendukung pengobatan Arlan Mel, perlu kau tau tidak sedikit orang yang menyumbangkan hartanya di panti asuhan tempatmu tinggal."


"Mereka mendukungnya kak, kami memang memiliki masalah finansial selama dua tahun terakhir." Ucap Meli, dia tidak suka Arista menuduh panti asuhan tempatnya di besarkan seperti itu. Sekalipun kini Arista sudah seperti kakak baginya tetapi dia pun tidak bisa melupakan jasa panti terutama ibu panti yang merawatnya sejak kecil.


"Kau salah Mel, kau bisa tanyakan pada Razer apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak akan mengatakan apapun karena aku tidak memiliki bukti."


"Kenapa Razer?"


"Dia yang ku minta menyelidikinya setelah aku mendengar apa yang keluar dari mulut Arlan."


"Jelaskan saja padaku kak, aku akan mempercayainya."


"Aku mendengar dari mulut Arlan bahwa ada salah satu pengurus panti mengatakan padanya lebih baik dia tidak mendapatkan perawatan karena sebanyak apapun uang yang mereka keluarkan dia tetaplah akan kembali ke dalam tanah. Diapun berkata mereka tidak akan mengeluarkan sepeserpun uang untuk pengobatan Arlan." Jelas Arista menatap Meli ragu. Arista tidak mengatakan pati asuhan Kasih Bunda buruk atau apapun, hanya saja ada beberapa oknum yang bermain tangan di sana.


"Bunda Reshi..." Lirih Meli, dia ingat sekarang bagaimana Arlan menangis setelah di kunjungi salah satu pengurus panti di sana.


"Aku akan ke panti kak.." Ucap Meli sembari bangkit dengan wajah memerah tampak sekali dia tengah di landa amarah.


"Mel..."


"Kak, aku ingat sekarang Bunda Risma selalu melarang ku memberikan penghasilanku untuk panti tetapi Bunda Reshi selalu meminta sebagian. Beliau juga berkata bahwa panti berada dalam masa yang sulit dan bodohnya aku tidak pernah bertanya pada Bunda Risma. Aku akan memb.." Ucap Meli dengan sedikit berapi api.


"Kau tidak perlu melakukan apapun, Razer sudah mengurus semuanya. Berterima kasih lah padanya dan ajaklah dia kencan."

__ADS_1


"Apa?!"


TBC


__ADS_2