
..."Terlarut dalam kesedihan hanya membuatmu semakin terlihat lemah."...
Semingu setelah pemakaman Neneknya, Arista hanya mengurung dirinya di kamar. Ia keluar kamar hanya saat dirinya lapar. Sempat terbesit dalam benaknya untuk mengakhiri hidupnya tetapi Arista sadar, dosanya sudah banyak. Tak sepantasnya dia mau menambah dosa lagi dengan bunuh diri.
Arista sedang duduk di meja makan sembari termenung. Ia memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk kedepannya. Entah bagaimana terlintas ucapan sang Nenek yang mengatakan untuk mencari keluarganya. Tetapi keluarga yang mana? Bukankah satu satunya keluarga yang dia miliki hanya neneknya. Atau dia memiliki saudara? Tetapi seingat dia almarhum kedua orangtuanya tak pernah sekalipun menyinggung perihal itu. Yang dia tau dia anak tunggal. Karena rasa penasarannya Arista pun memasuki kamar neneknya untuk mencari tahu mengenai apa yang Neneknya ucapkan.
Arista menggeledah semua barang dikamar neneknya tetapi ia tak menemukan sesuatu yang dapat membantunya. Sampai ia melihat ada kotak aneh yang tersimpan di atas lemari neneknya. Karena penasaran Arista pun mengambil kota itu dan membukanya. Arista terbatuk-batuk saat membuka kota itu karena sangat banyak debu disana.
Di dalam kotak itu tak banyak yang Arista temukan, hanya beberapa foto dan sebuah amplop. Arista melihat satu persatu foto itu. Arista dibuat kaget saat melihat foto pertama, ia melihat dirinya disana bersama sepasang suami istri yang tidak ia kenali dan seorang anak lelaki yang ia taksir seumuran dengannya. Arista membalik foto tersebut dan terdapat tulisan "ayah, bunda, Al & Aris". Arista melihat foto yang lain dan berisi orang yang sama hanya ditempat yang berbeda. Setelah melihat semua foto yang ada. Arista membuka amplop yang sudah menguning. Arista segera mengambil surat didalamnya dan membacanya. Air mata Arista menetes setelah membaca surat itu.
Untuk cucuku Arista
Ta, saat kamu membaca surat ini mungkin nenek sudah tak ada lagi di sampingmu. Disurat ini nenek hanya ingin mengatakan sesuatu yang tidak kamu ketahui Ta. Kebenaran yang selama ini kami ( Mamamu, Papamu dan Nenek ) sembunyikan.
Pertama nenek ingin memberitahumu tentang Mama Linda dan Papa Ryan. Kamu mungkin sudah mengetahuinya bahwa mereka bukanlah orang tua kandungmu. Dulu, Linda dan Ryan di vonis tidak dapat memiliki keturunan karena kecelakaan itu. Kecelakaan yang membuat janin dalam kandungan Linda gugur dan menyebabkannya susah hamil. Dan karena kecelakaan itu juga Ryan terkena impoten. Mereka tak bisa lagi memiliki keturunan.
Itulah sebabnya saat kau meminta adik, Linda dan Ryan hanya diam. Karena mereka tak bisa mengabulkan keinginanmu itu Ta.
Dan keluarga kandungmu Ta. Kamu selalu bertanya kan Ta? Huruf W dibelakang namamu, itu adalah marga keluarga kandungmu Ta. Mereka adalah orang yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Dulu Ryan merupakan salah satu kaki tangan dari Ayahmu, Fatan. Ia sangat setia pada ayahmu, tentunya sebelum kecelakaan itu. Saat itu kamu masih berumur 2 tahun, kamu di culik oleh musuh Ayahmu, dan Ayahmu menugaskan Ryan untuk mencari mu. Tetapi setelah menemukanmu bukannya mengembalikan mu Ryan justru membawamu pulang. Ia mengatakan pada Ayahmu bahwa kau telah tiada. Apa yang di ungkapkan Ryan pada Ayahmu membuatnya terkena serangan jantung ia koma saat itu. Nenek tidak tau apa yang terjadi pada Ayahmu setelah itu.
Karena tak ingin keberadaan mu diketahui Ryan memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya dan mencari pekerjaan baru. Ryan dan Linda membesarkannya seperti anak mereka sendiri seperti yang kau tau. Mereka sangat menyayangimu.
__ADS_1
Nenek minta maaf karena nenek tidak mengungkapkan apa yang nenek tau dari awal padamu. Carilah orang tua kandungmu. Datanglah ke Jl. Merdeka Nomor 48 temui lah keluargamu ta, terutama kembaran mu disana. Bawa serta kalung yang nenek simpan di Laci dalam lemari nenek. Hanya itu yang nenek tahu nak, Ryan sangat menutup rapat informasi perihal keluargamu dari nenek. Kamu harus bahagia nak, mereka menyayangimu.
Tertanda
Nenek.
Air mata Arista menetes. Ia tak menyangka bahwa orang tua yang ia sayangi bukan lah orang tua kandungannya. Tetapi justru orang yang memisahkan dirinya dari orang tua kandungnya. Arista sama sekali tidak membenci kedua orang tua yang merawatnya, ia hanya kecewa pada mereka. Arista beranjak dari duduknya sembari menghapus air matanya. Ia berjalan menuju lemari neneknya dan mencari barang yang di carinya. Dan Arista menemukannya, sebuah kalung bertuliskan "Alvrista".
"Apakah itu namaku?" Pikir Arista dalam hati.
Tapi ini bukan saatnya menanyakan hal itu. Dengan segera Arista menyimpan kalung tersebut dan membereskan kekacauan yang disebabkannya kemarin.
.
"Neng yakin mau kemari? Baru liat depannya aja motor saya udah indesur neng" Ucap ojol memastikan tujuan penumpangnya. Karena dilihat dari ekspresi dan penampilannya, tentu wanita dibelakangnya bukan penghuni kompleks perumahan mewah itu.
Arista tersentak dari lamunannya mendengar pernyataan dari ojol tersebut. "Indesur apaan Bang?"
"Itu loh neng ga percaya diri gitu."
"Hahaha.. Insecure bang." Tawa renyah Arista begitu menyadari apa yang dimaksud ojol tersebut.
__ADS_1
Ojol itu menggaruk kepalanya, "Iya itu neng maksudnya. Jadi kita mau kemana?"
"Kita ke pos jaga aja bang. Abang bisa tungguin saya? Nanti ongkosnya saya tambahin, saya males harus nunggu ojol lagi pas pulang nanti."
"Oke neng"
Ojol tersebutpun melajukan motornya menuju pos jaga yang terletak beberapa meter dihadapan mereka. Setelah sampai Arista segera berjalan mendekati beberapa pria dengan badan yang cukup besar disana.
"Ada kepentingan apa neng? Ada yang bisa kami bantu?"
"Begini Pak, saya ada kepentingan di alamat ini." ucap Arista sembari menunjukkan alamat yang sempat dia salin di handphonenya pada salah satu penjaga disana.
Satpam tersebut terbelalak melihat alamat tersebut, "Neng ada urusan apa ke sana?"
"Urusan pribadi pak, sebelum meninggal nenek saya menyuruh saya ke alamat ini untuk memberikan sesuatu pak." Jelas Arista meski tak sepenuhnya jujur.
"Mohon maaf neng, bukannya saya melarang eneng untuk masuk. Tetapi pemiliki alamat tersebut sudah pindah sejak 20 tahun yang lalu. Sekarang rumah itu hanya di tempati pelayan dan penjaga saja. Merekapun tidak tau kabar dan dimana majikan mereka berada." Jelas Satpam paruh baya itu dengan sopan.
Mendengar penjelasan tersebut bahu Arista merosot, harapannya ingin bertemu dan berkumpul dengan keluarga kandungnya pun sirna.
"Sadar Arista, jika mereka di sini pun belum tentu mau menerimamu. Kau hanya akan mencoreng nama mereka jika kau kembali. Apa yang bisa diharapkan dari wanita murahan sepertimu yang tengah berbadan dua." Batin Arista, membuatnya tertarik paksa pada realita. Bagaimana dia bisa melupakan fakta itu, air matanya menetes tanpa disadarinya. Dia terkekeh atas tujuannya kemarin, kenapa dia sebodoh ini?
__ADS_1
TBC