My Triplet Son

My Triplet Son
Still About Arlan


__ADS_3

Setelah beberapa pertimbangan dan meminta saran pada Bu Dai, Orlin memutuskan untuk membawa Arlan ke rumah sakit untuk melihat keadaan Bundanya. Saat memberi tahu Dai, wanita itu sempat shock dan menangis, beruntungnya wanita itu masih bisa mengatasi perasaannya dan memberi pengertian pada Arlan tentang keadaan Bunda tercintanya.


"Apa Buna akan baik baik saja nek?" lirih Arlan dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Tolong jangan ambil malaikat Alan secepat ini, Tuhan. Alan tau Tuhan sangat mencintai olang baik tetapi Alan mohon jangan ambil Bunaaa...


Alan akan belusaha menjadi olang lebih baik lagi, agal Alan saja yang Tuhan ambil dan bukan Buna. Jika Buna yang pelgi maka dede kembar tidak ada yang melawat maka lebih baik Alan yang pelgi, bantu Alan menjadi olang baik sepelti yang Tuhan inginkan...


"Semoga ya nak.."


Arlan terdiam mendengar jawaban neneknya, jawaban yang dia tau tidak memiliki makna baik ataupun buruk. Jawaban yang menunjukan sebuah harapan, tentu itu menandakan keadaan Bundanya yang mungkin tidak baik baik saja.


"Jika Buna pelgi Alan juga akan pelgi.." Ucap Arlan pelan tetapi masih terdengar oleh dua orang lain dalam mobil itu. Dai dan Orlin.


"Jangan berbicara seperti itu nak, lebih baik sekarang Arlan berdoa ya. Minta pada Tuhan agar Bunda baik baik saja dan cepat pulih."


...----------------...


"Bunaa... Kenapa lama sekali tidulnya... Apa Buna tidak melindukan Alan? Apa disana ada anak yang lebih manis dan lebih tampan dari Alan dan ketiga adik Alan Buna? Sampai sampai Buna lebih nyaman disana dali pada disini beltemu dengan Alan dan adik.." Lirih Arlan sembari menggenggam tangan Arista yang bebas dari infus.


Sudah beberapa hari Arlan tiba di Indonesia selama itu pula pria kecil itu selalu berada di samping Arista, menunggui Bundanya yang entah akan tidur sampai kapan.


"Arlan, pulang lah dan istirahat. Bunda tidak akan senang melihat putra kesayangannya jatuh sakit karena menunggunya." Alvino mengusap pelan puncak kepala Arlan.


"Apa uncle tida suka Alan disini?"


"Bukan begitu sayang, hanya saja rumah sakit bukan lingkungan yang bagus untuk anak seusia Arlan menginap. Terlebih Arlan baru melakukan perjalanan jauh, akan lebih baik Arlan istirahat dirumah terlebih dahulu ya?"


Anak itu terdiam sebelum berujar lirih, "Alan pelnah tinggal di lumah sakit setiap hali, jika Alan tidak beltemu Buna mungkin Alan akan selalu tinggal disana atau sudah belada di pelukan Tuhan."


Alvino terdiam, dia tidak sanggup membuka mulutnya lagi. Dia terlalu takut kata-kata yang akan dia lontarkan semakin menyakiti hati anak itu.


"Alan akan pulang uncle, tolong jaga Buna. Jangan bialkan Buna pelgi." Lirih anak itu lalu berbalik dan berlari menuju pintu.


Setelah keluar dari ruangan Arista, Arlan segera menghampiri Dai yang menunggu anak itu di depan ruang rawat Arista bersama anggota keluarga yang lain.


"Kenapa sayang?" Tanya Dai pelan, ketika mendapati wajah anak kecil itu yang sedikit sembab.


Bukannya menjawab Arlan justru memeluk Dai dan menangis dalam pelukan wanita tua itu. "Kapan Buna bangun nek, Alan kangen.."


Ucapan lirih yang cukup menyayat hati bagi yang mendengarnya, Dai dan kedua orang tua kandung Arista menatap sedih pada Arlan yang masih menangis. Mereka terutama Fatan dan Delia tidak menyangka sebesar itu kasih sayang Arlan pada Arista.


"Bi, tolong antarkan Arlan pulang. Biarkan dia beristirahat terlebih dahulu di rumah. Bukankah sejak pulang dari Singapura, dia belum kembali ke rumah untuk istirahat?"


"Belum Nya, Arlan selalu menginap disini sejak tau Arista sedang di rawat. Bahkan saat siang anak ini selalu menolak meninggalkan ruangan Arista barang sejenak."

__ADS_1


"Biarkan dia istirahat Bi, saya takut kesehatannya akan menurun." Delia mengusap pelan kepala Arlan yang masih terbenam dalam pelukan Dai.


"Diluar ada supir kami, saya sudah minta dia untuk mengantar kalian ke rumah." Ucap Fatan.


"Terima kasih Tuan." Ucap Dai sembari bangkit dan mengangkat Arlan kedalam gendongannya.


"Biar saya yang membawa Arlan ke depan Bi, mari." Fatan segera mengambil alih Arlan ke dalam gendongannya. Meski sempat mendapat penolakan.


......................


Setelah satu malam menginap di rumah, siang ini Arlan sudah merengek untuk kembali ke rumah sakit dan menjenguk Bundanya. Berulang kali di beri pengertian oleh Meli dan Dai tetapi tidak menunjukkan hasil apapun. Anak itu tetap merengek meminta segera ke rumah sakit.


"Dada Alan sesak Nek, apa Buna dan Adik baik baik saja?" Ucap Arlan sembari memegang dadanya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit bersama Meli dan Razer.


"Arlan, apa sakit sekali?" Tanya Dai khawatir begitupun Meli dan Razer.


"Hikss.. Sesak Nenek.."


"Tenang ya sayang, sebentar lagi kita sampai rumah sakit. Sebelum menjenguk Bunda kita periksa dada Arlan dulu ya?" Ucap Meli sembari menatap Arlan yang memegang dadanya yang sesak.


"Ndak mauu, Alan mau Bunaa..."


"Stt.. Tenang ya sayang, Bunda dan Adik-adik Arlan pasti baik baik saja.."


Sesampainya di rumah sakit Meli dan Dai segera membawa Arlan ke poli anak, mereka khawatir terjadi sesuatu pada anak itu. Sebenarnya sudah sejak pagi anak itu mengeluh dadanya sesak dan ingin segera bertemu Buna nya. Hanya saja Dai tidak terlalu mengindahkannya karena berpikir itu karena Arlan terlalu rindu pada Arista hingga menyebabkan dadanya sesak.


"Tidak ada masalah apapun, saya akan buat kan resepnya untuk mengurangi rasa sesak yang Arlan rasakan. Sebentar."


"Aunty mau Bunaaa, Alan mau ketemu Buna Aunty.. Dada Alan semakin sesak, mau Bunaa..." Rengek Arlan, kali ini disertai tangis pilunya hingga wajah putihnya memerah.


"Dokterrr!! Keponakan saya kenapa dokk!!" Teriak Meli panik.


Dokter anak itu bergegas memeriksakan kondisi Arlan kembali tetapi tidak ada masalah apapun, semuanya normal. "Apa sebelumnya pasien pernah seperti ini?"


"Sebelumnya tidak dok, memang Arlan menderita kanker tapi tidak pernah mengalami masalah pernafasan ataupun dada sesak." Jelas Dai mencoba tenang, tangannya terus mendekap tubuh Arlan yang terus terisak sembari bergumam, "Bunaa.."


"Apa Bunaa itu ibunya?"


"Iya dok.. Kenapa?"


"Dimana ibunya? Saya perhatikan sejak tadi pasien


terus saja memanggil Bunanya."


"Ibunya sedang dirawat dirumah sakit ini juga dok, baru saja melahirkan secara prematur kurang lebih satu minggu yang lalu dan saat ini masih dalam kondisi koma." Kali ini Meli yang menjelaskan kondisi Arista pada dokter itu.

__ADS_1


"Lebih baik pada pasien untuk bertemu ibunya, saya rasa sesak di dada yang pasien rasakan adalah dampak dari rasa rindu yang sudah lama pasien rasakan pada sang ibunya. Bukannya tadi Anda bilang pasien baru pulang 5 hari yang lalu setelah beberapa bulan menjalani pengobatan kanker di Singapura?"


"Benar dok."


"Kemungkinan pasien terlalu merindukan ibunya, sebaiknya segera pertemukan dengan ibunya. Ini untuk resepnya. Jika rasa sesaknya belum berkurang setelah meminum obat dan bertemu ibunya, pasien bisa dibawa kembali kesini untuk melakukan pemeriksaan lanjutan."


"Bu, Ibu segera ke ruangan Arista saja biar Meli yang tebus obatnya." Ucap Meli setelah menerima resep dari dokter anak tersebut.


Dai pun membawa Arlan menuju ruangan dimana Arista di rawat hanya saja ranjang di sana kosong membuat tangis Arlan semakin histeris ketika tidak mendapati Bunanya disana.


"Bunaa... Bunaa mana nenekkk... Alan mau Bunaa..." Rengek Arlan, tangannya masih saja meremas bagian dadanya yang sakit.


"Sayang tenang yaa, jangan menangis banyak pasien lain yang sedang beristirahat. Kita cari Bunda sama sama." Ucap Dai mencoba memberi pengertian pada Arlan.


Namun, namanya saja anak kecil akan susah diberi pengertian ketika menangis kecuali ada orang-orang yang begitu dipercayainya.


"Sus, maaf pasien di ruangan ini kemana ya?" Tanya Dai pada suster yang kebetulan lewat.


"Oh Nyonya Arista ya Bu? Beliau ada di ruang NCU menjenguk ketiga bayinya tadi."


"Bisa antar kami sus?"


Bukannya menjawab suster tersebut justru menatap Arlan yang belum juga menghentikan tangisnya.


"Arlan, dengerin nenek ya? Saat ini Buna sedang menjenguk adik di ruang bayi. Apa Arlan ingin kesana?"


Arlan mengangguk.


"Kalau gitu Arlan ga boleh menangis karena disana banyak bayi sedang tertidur. Suara tangisan Arlan akan mengganggu mereka termasuk adik adik Arlan, bagaimana?"


Setelah tangis Arlan sedikit reda suster tersebutpun membawa mereka menuju tempat dimana ruang NCU berada. Tetapi sampai disana tidak ada tanda tanda keberadaan Arista.


"Sebentar saya tanyakan pada suster jaga terlebih dahulu. Permisi." Pamit suster tersebut dan menghampiri ruang dimana suster jaga berada.


Dai mengusap-usapnya pelan kepala Arlan agar anak itu tetap tenang dan tidak menangis, "Sabar ya sayang, sebentar lagi Arlan akan bertemu Bunaa.."


"Bagaimana sus?" Tanya Dai cepat begitu mendapati suster itu kembali, jantungnya berdetak semakin kencang melihat perubahan ekspresi wajah yang suster itu tunjukan.


"Nyonya Arista ada di ruangan sebelah sana Bu, mari saya antar." Ajak suster itu sembari melangkah menuju ruangan yang tadi suster itu tunjuk.


"Ada apa sus? Kenapa.."


"Mohon maaf bu, bukan hak saya untuk mengatakan apa yang terjadi.." Jawab suster itu cepat, dia takut tidak bisa menjaga mulutnya dan memberi tau hal yang bukan tugasnya.


Dai mengangguk, meski hatinya penuh dengan kegundahan. Terlebih ketika langkah mereka semakin dekat dengan ruangan itu, semakin terdengar suara tangis seorang wanita yang terdengar pilu.

__ADS_1


"Nenekk, itu suala Bunaa..." Lirih Arlan.


__ADS_2