
Suasana cerah siang ini tidak lah secerah suasana hati Arista. Wajah nya tampak mendung sejak pulang dari Cafe kemarin, dia seperti tidak berselera untuk melakukan sesuatu.
Bagaimana jika dia benar benar menghancurkan usahaku? Bagaimana aku menghidupi keluarga ku? Bagaimana pengobatan Arlan?
Arista meremas rambutnya sedikit kencang, dia sama sekali tidak menyesali keputusannya untuk menanggung kehidupan keluarganya sekarang dan pengobatan Arlan, tetapi bagaimana dia harus menjalani ini. Dia hanya memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin bisa terjadi.
"Kakak, apa yang kau lakukan." Seru Meli sembari berlari dari arah tangga, dia sangat panik begitu melihat Arista tengah menjambak rambutnya sendiri.
Arista menoleh, dia menggeleng singkat dan menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Apa terjadi sesuatu kak?"
"Tidak terjadi apapun.." Ucap Arista sembari tersenyum tipis, ya pada akhirnya dia memilih bungkam dibanding membaginya pada orang lain.
Aku tau kau berbohong kak, tapi jika pilihanmu adalah bungkam maka tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain mendoakan agar masalahmu cepat selesai.
"Kenapa turun Mel, bukankah kau tadi berkata banyak tugas yang harus kau selesaikan?"
Meli memang sudah mulai kuliah dengan uang yang di dapatkannya sejak bekerja menjadi manager di Cafe milik Arista.
"Ah iya, ini kak Ibu menelfon. Arlan merindukan Bundanya.."
Terlihat Arista menarik nafas panjang dan menghembuskan nya secara perlahan. Hal itu tentu semakin membuat Meli yakin memang telah terjadi sesuatu.
"Hallo sayang..." Panggil Arista begitu matanya menangkap wajah tampan putra sulungnya itu.
"Bunaa Alan linduu.." Ucap Arlan dengan nada gemasnya.
"Buna juga rindu nak.."
"Adan Alan takit Bunaa, api Alan uga au tepet tembuh.."
(Badan Arlan sakit Bunda, tapi Arlan juga mau cepet sembuh.."
Luruh sudah pertahanan Arista, matanya sudah tidak sanggup menahan air mata yang mendesak ingin keluar.
Bagaimana bisa aku tega untuk menghentikan pengobatan untuk Arlan? Dia sudah berjuang sejauh ini..
"Bunaa Alan baik baik aja ko.. Angan nangis kalna Alan.."
(Bunaa Arlan baik baik saja kok, jangan nangis karena Arlan."
"Alan anji Bunaa, Alan atan tembuh.." Ucap Arlan kembali dengan wajah cerianya.
__ADS_1
(Arlan janji Bunda, Arlan akan sembuh.)
Mereka terus berbincang untuk melepas rasa rindu mereka, Arlan maupun Arista sama sama menceritakan keseharian mereka. Canda, tawa dan tangis bercampur menjadi satu. Sangat terlihat jalinan antara keduanya memang sangat dekat.
Bahkan dengan Meli saja Arlan tidak bisa se terbuka itu.
Arista masih terus fokus pada putra sulungnya mengabaikan Meli yang juga terus menatapnya intens, melihat perubahan demi perubahan wajah kakak angkatnya itu. Dia sangat yakin ada sesuatu yang terjadi.
Jika kakak memang tidak mau membaginya, maka aku akan mencari tahu semuanya sendiri.
"Mel.."
Arista menyerahkan handphone kembali telepon seluler milik adiknya itu.
"Terima kasih."
Meli hanya mengangguk sebagai jawaban dan tersenyum tipis.
"Aku ke kamar dulu kak, berbagilah jika kakak sudah tidak sanggup menahannya." Meli bangkit dan segera melangkah kembali ke kamarnya setelah menepuk pelan pundak Arista beberapa kali.
Ucapan Meli mampu menyita perhatian Arista hingga dia mengikuti kemana arah perginya Meli.
Apa tampak sekali jika aku sedang menghadapi suatu masalah?
Haruskah aku meminta bantuan pada laki laki itu?
...........
Jika Arista tengah memikirkan nasibnya dan keluarganya untuk kedepannya. Berbeda dengan Jihan yang tengah bermanja ria untuk mewujudkan keinginannya membeli Cafe tersebut.
"Sayang.. Kau taukan ini permintaan calon anak kitaa.." Rengek Jihan, pasalnya sejak kemarin Kelvan terus saja mengumbar alasan untuk tidak membeli Cafe itu.
Kelvan tampak memandang perut Jihan yang kini mulai tampak membesar. Jihan memang sudah hamil empat bulan saat pesta pernikahan mereka.
"Jihan, untuk apa membeli sebuah Cafe jika hanya untuk dipamerkan? Kamu sama sekali tidak memiliki tujuan jelas untuk itu, jangan merugikan orang lain dengan keinginanmu itu."
Ntah kenapa Kelvan sangat berat hati untuk menuruti permintaan istrinya itu. Perasaan itu muncul begitu saja ketika melihat pemilik Cafe yang juga tengah berbadan dua.
"Sayang.." Lirih Jihan, dia menyadari saat ini Kelvan memang akan terus teguh pada pendiriannya terlebih ketika laki laki itu memanggilnya dengan nama.
"Maafkan keinginanku dan anakku, aku hanya takut ini keinginan terakhirku.."
Jihan kembali berujar lirih ketika tidak mendapatkan respon apapun dari suaminya. Dia kini tengah menunduk tetapi dia tau pasti bagaimana ekspresi Kelvan saat ini. Tersentak, Kelvan akan selalu mengalah jika Jihan membawa penyakitnya.
__ADS_1
"Sayang.."
Gotcha, Aku selalu tau kelemahan mu Kelv..
Kelvan memeluk Jihan dan membenamkan kepalanya di bahu istrinya. Tangannya terus mengusap perut dimana calon anaknya berada, sudah beberapa bulan ini Kelvan selalu mual jika bersentuhan dengan Jihan ataupun wanita lain. Terakhir dia bersentuhan dengan Jihan adalah di hari dimana dia mengetahui kehamilan Arista. Tepat setelah hati itu dia selalu mual di pagi hari dan ketika dia berada di dekat seorang wanita.
FLASH BACK ON
Kelvan bangun dari tidurnya dan segera berlari menuju kamar mandi, dia bahkan melupakan bahwa tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun.
HUEKK
HUEKK
Tak ada apapun yang dikeluarkannya, tetapi perutnya masih terus bergejolak seperti hendak mengeluarkan sesuatu.
"Sayang apa kau baik baik saja?" Tanya Jihan sembari memeluk Kelvan dari belakang. Dia ikut terbangun ketika Kelvan bangun dari tidurnya secara mendadak.
HUEKK
HUEKK
Kelvan masih saja terus memuntahkan lendir bening dari mulutnya mengabaikan pertanyaan dan keberadaan Jihan. Ntah kenapa setelah kedatangan wanita ini rasa mual itu semakin menjadi.
"Jihan, menyingkir lah.." Lirih Kelvan, tenaganya benar benar terkuras untuk hal sepeti ini.
"Kau kenapa??"
Jihan menangkup wajah Kelvan dengan kedua tangannya, dia mengusap pelan pipi dan mata Kelvan yang tampak basah oleh air mata. Bibir laki laki itupun tampak sangat pucat menandakan bahwa Kelvan memang sedang tidak baik baik saja.
"Kita ke rumah sakit ya setelah ini.." Ajak Jihan sembari merangkul tubuh Kelvan dan hendak menuntunnya menuju tempat tidur. Namun belum sempat melangkah tubuhnya sudah terdorong cukup jauh karena dorongan Kelvan. Laki laki itu kembali memuntahkan isi perutnya.
"Jangan mendekat, ku mohon. Kau sangat bau!" Seru Kelvan di sela sela waktu muntahnya.
"Apa?!"
Setelah drama panjang, mereka pun sudah bersiap menuju rumah sakit.
"Jihan, kau duduklah di depan dengan supir." Ucap Kelvan sembari masuk ke mobilnya.
"Jihan? Dan apa tadi? Tidak mau, aku tidak mau duduk di samping seorang supir." Ucap Jihan menolak. Dia sendiripun bingung kenapa kini Kelvan tidak lagi memanggilnya sayang.
"Kalau begitu kau saja yang pergii.."
__ADS_1
TBC