
Meli berjalan santai mengelilingi taman kota, sesekali matanya mengedar melihat para penjual yang menjajakan dagangan mereka.
"Kenapa? Apa kamu menginginkan sesuatu?"
Meli menggeleng.
"Aku hanya berpikir, jika saja Kak Arista tidak mengajakku tinggal bersama mungkin nasib ku lebih buruk dari mereka."
"Apa menurutmu nasib mereka buruk? Tidak, kita tidak pernah tau bagaimana perasaan mereka. Nasib baik tidak selalu kaya begitu pula nasib buruk, mereka mungkin kekurangan uang tetapi belum tentu memiliki nasib yang buruk."
"Aku tidak bermaksud mengatakan nasib mereka buruk, Razer. Aku hanya-"
"Menjadikan mereka pembanding? Dengar Meli, aku tidak tau kenapa kamu menganggap nasib mu sendiri seperti itu disaat kau bahkan punya Arlan dan keluarga di panti. Bukankah sebelum ini kamu bekerja di rumah sakit?"
"Apa lagi yang lebih buruk dari tidak diinginkan orang tua bahkan dibuang. Jika mereka tidak berniat merawat lantas mengapa harus membuat?" Meli menatap Razer yang juga sedang menatapnya dalam.
Beberapakali terdengar Razer menghela nafas pelan. Tetapi laki-laki itu belum berniat membalas ucapan Meli.
"Kenapa tidak menjawab? Bukankah tidak ada yang lebih buruk dari itu? Aku tau kamu tidak akan pernah bisa merasakan apa yang saat pernah aku alami." Meli berniat pergi meninggalkan Razer tetapi pria itu justru menariknya untuk mengikuti langkah lebarnya.
"Lepaskan aku!" Seru Meli.
"Jangan pergi dalam keadaan seperti ini, duduklah tenangkan pikiranmu. Aku akan ke sana sebentar."
Meli duduk di salah satu kursi taman dan melihat Razer yang berlari kecil ke arah penjual minuman.
Mereka mengatakan padaku kau orang yang cuek dan dingin tetapi kenapa aku tidak merasakan itu semua?
Dilihatnya Razer yang berjalan ke arah beberapa penjual terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali menghampiri Meli dan menyodorkan air mineral yang dibelinya.
"Menurutku tidak ada yang namanya nasib buruk, itu hanya anggapan seseorang yang merasa seperti itu. Padahal apa yang menjadi takdir kita itulah yang terbaik, terkadang apa yang ada dipikiran kita pun belum tentu benar."
"Kamu berkata seperti itu karena kamu tidak mengalaminya."
Meli mengalihkan pandangannya begitu Razer menatapnya dalam.
__ADS_1
Terlihat laki laki itu menggeleng kecil, "Aku tidak pernah tau siapa kedua orang tuaku. Tinggal di panti, di jalanan, bahkan kolong jembatan pernah aku lalui. Aku tidak pernah merasa nasibku buruk karena aku tau aku lebih beruntung dari mereka yang memungkin terlahir dalam keadaan yang kurang sempurna. Tetapi aku juga tidak menyebut mereka buruk karena aku tau mereka pasti punya keberuntungan yang aku tidak punya."
Pandangan Razer menatap lurus ke atas langit, "Aku tidak pernah berpikir bahwa kedua orang tuaku tega membuang ku begitu saja. Ada beribu kemungkinan yang bisa terjadi lalu kenapa harus menganggap aku adalah anak yang tidak diinginkan?"
"Bukan nasibmu atau mereka yang buruk tetapi keberuntungan yang belum mampir pada kalian." Ucap Razer menatap Meli dengan senyum kecilnya.
Meli menggeleng, "Aku tidak mengerti, lalu bagaimana bisa kamu menjadi seperti ini?"
Razer mendekatkan wajahnya ke arah telinga Meli, "Menikahlah denganku baru aku beritahu.."
..._________...
Razer berlari memasuki gedung apartemen Kelvan diikuti beberapa orang berseragam hitam dengan senjata ditangan mereka.
Mereka masuk dengan cepat tanpa ada yang berani menghalangi, tentu saja setiap orang di gedung itu tau siapa Razer dan orang orang yang mengikutinya.
"Sebenarnya ada apa?"
"Kenapa mereka berlari seperti itu?"
"Bukankah di apartemen ini ada unit pewaris Dewanto? Mungkinkah ini berhubungan dengannya?"
"Hih banyak CEO lain yang juga tinggal disini."
Bisikan orang orang yang mempertanyakan keadaan pun mulai terdengar di sepanjang jalan tetapi tidak ada satu orangpun yang berani untuk bertanya.
"Louis! Kau jagalah pintu belakang dan samping gedung ini bersama anak buah mu. Ardan pimpin bagian arah jam 7. Jangan lakukan penyerangan jika aku belum memberikan aba aba apapun."
"Dan kau?! ikut dengan ku."
"Baik."
Merekapun terpecah menjadi tiga kelompok sesuai arahan Razer.
"Tuan! Lihat lah, ada 2-3 bom terdeteksi dari gedung ini!" Seru Alfa, salah satu orang kepercayaan Alex yang berada di bawah Razer.
__ADS_1
Razer mengambil alat pendeteksi bom yang dirancang timnya beberapa waktu lalu, alat uang sudah mereka buat secanggih mungkin dengan meminimalisir kekeliruan.
"****!"
"Loius, Ardan dengarkan aku. Ada beberapa bom yang di pasang di gedung ini. Berhati hati lah dan mulai sisir daerah yang berpeluang besar menjadi tempat peletakan bom tersebut." Perintah Razer sembari memegang telinganya.
"Kau Alfa terus cari tau dimana posisi bom itu berada dengan alat itu."
"Kalian ikut aku ke dalam."
Razer bergegas masuk menuju unit apartemen di mana Kelvan berada. Telinganya fokus mendengar setiap informasi yang diberikan anak buahnya. Di telinga Razer terpasang earpiece yang di design khusus oleh perusahaan Alex untuk setiap anak buahnya.
"Tuan mereka sedang berdebat besar dan Tuan Kelvan di ikat di ujung sana." Salah satu anak buah Razer menunjukkan tab yang menampilkan kondisi unit apartemen Kelvan.
"Kita bisa langsung masuk dan menyergap mereka Tuan."
Razer berdecih, perdebatan mereka memang menunjukkan kelemahan dan ketidak siap-an mereka tetapi dia tidak bisa bertindak gegabah karena bom yang mereka pasang belum ditemukan.
"Sp Louis izin berbicara! Tim kami menemukan bom di dalam tempat sampah di belakang gedung. Bon tersebut belum aktif dan merupakan jenis bom yang tidak bisa di jinakkan."
"Cari bom-bom lainnya dan temukan cara untuk mengatasinya. Jika tidak bisa gunakan senyawa campuran untuk mengurangi ledakannya."
"Temukan dari ketiga orang itu siapa yang memegang remote kontrol dari bom tersebut."
"Alfa!"
"Siap Alfa disini."
"Evakuasi seluruh penghuni gedung ini jangan sampai ada yang tersisa!!"
"Sp Loius izin berbicara! Tuan saat ini saya sedang bersama Sp Alfa dan Ardan, seluruh bom sudah kami temukan dan dua diantaranya sudah berhasil dijinakkan."
"Untuk bom terakhir kami berhasil menemukan penciptanya dan sedang dalam perjalan kemari untuk mematikan bom tersebut."
"Bagus! Pastikan bom itu tidak akan pernah menyala, setelah itu naik lah ke atas dan bantu aku menangkap ketiga lalat itu."
__ADS_1