
PERINGATAN
STORY INI JARANG UPDATE DAN ALUR YANG MUNGKIN KURANG TERTATA
IT'S MY FIRST STORY, MAAF KALAU MASIH BANYAK KEKURANGAN.
MASUKAN DAN KRITIK KALIAN SANGAT DIPERLUKAN UNTUK EVALUASI KU KEDEPANNYA
THANK YOU, I HOPE YOU LIKE IT!!!!!
Kamu boleh menangis dan berteriak tetapi tidak untuk menyerah
Arista tersenyum sembari mengusap pelan kepala seorang anak kecil tampan di pangkuannya. Anak kecil yang dia adopsi beberapa bulan lalu karena kemanusiaan. Dia tidak menyangka anak kecil ini memang malaikat yang dikirim Tuhan untuk kebahagiaannya.
"Terima kasih karena kedatangan Abang, baby C kembali..." Lirih Arista.
Baby C, putra bungsu Arista berhasil kembali bernafas setelah dinyatakan meninggal oleh dokter yang merawatnya. Bayi mungil itu kembali bernafas begitu tangan hangat milik anak kecil dipangkuan Arista ini mengusap pelan wajah mungilnya itu.
"I will love you no matter what. You are my son and you will always be my son." bisik Arista tepat ditelinga Arlan, sebelum dia memindahkan kepala Arlan dan ikut berbaring di samping anak itu.
Sedangkan disudut lain ruangan itu, Alvino tengah menatap sepasang ibu dan anak yang tengah berbaring sembari saling memeluk itu dengan haru. Ingatannya kembali berputar pada kejadian beberapa waktu lalu.
FLASH BACK
"It's okay Ta, kita hadapi sama sama ya. Kepergiannya karena kita tidak menyayanginya tetapi karena Tuhan jauh lebih menyayanginya. " Bisik Alvino tepat ditelinga Arista yang masih menangis dalam pelukannya.
"Aku tau ini berat untukmu, tetapi selain dia kamu masih punya 3 anak lain yang harus kamu perhatikan. Jangan lagi bertindak gegabah."
Masih teringat jelas bagaimana saudara kembar yang baru saja dia temui berniat mengakhiri hidupnya dengan pisau buah yang tersedia dalam ruangan itu. Dia benar benar tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dia terlambat datang sedikit saja.
"Dia pergi karena aku Al.. " Lirih Arista dengan suara tersenggal-senggal.
"No, itu bukan karena kamu. Bukan karena kamu tidak menginginkannya karena pada dasarnya kamu sangat tidak sabar untuk menunggu kelahiran meraka. Tetapi karena Tuhan jauh lebih menyayanginya." Jelas Alvino lagi masih dengan tangan yang terus mengusap lembut puncuk kepala Arista.
__ADS_1
"Aku ingin ikut dengannya.. "
Alvino terdiam, dadanya sesak melihat Arista kehilangannya semangat hidupnya.
"Ta, apa kamu tidak kasihan dengan kedua anakmu yang lain? Bagaimana perasaan mereka nanti begitu tau mereka harus kehilangan Bunda dan adik mereka secara bersamaan. Bagaimana tumbuh kembang mereka tanpa ada kamu nantinya.. "
"Belum lagi, Arlan. Bagaimana jika anak itu tau jika Buna dan adiknya harus pergi ketika dia tengah berjuang melawan penyakit yang bisa kapan saja merenggut nyawanya. Dia melakukan itu demi kamu, dia ingin sembuh untuk Bundanya.."
"Bunaaa..."
Alvino tersentak, dia mengalihkan pandangannya pada seorang anak kecil yang tengah berlari ke arahnya dan Arista. Belum surut keterkejutannya, kini dia kembali dibuat terkejut karena dorongan Arlan yang begitu tiba tiba.
"Bunaaa. hikss.. tenapa angiss..."
"Abang.." Lirih Arista begitu menyadari tangan mungil siapa yang kini tengah memeluknya.
"Iya Bunaa, Aban tembuh..Buna juga halus cembuh, bial bisa kelual dali sini sama adik adik." Ucap Arlan tersendat karena tangisnya.
Arista terdiam, tentu dia senang dengan kabar bahagia itu tetapi hatinya tengah terluka. Bibirnya terasa sangat kelu untuk sekadar menambut Arlan dengan sebuah senyum tipis. Di tatapnya anak laki laki yang kini tengah memeluknya erat, benar apa yang Alvino katakan. Dia tidak bisa egois dengan mengabaikan perasaan Arlan dan kedua anak kembarnya yang lain.
"Abang..."
"Abang mau temani Buna menemui adik untuk terakhir kalinya?" Tanya Arist pelan, dia berusaha menguatkan hatinya.
Terlihat kerutan diwajah anak itu ketika mendongakkan wajahnya menatap Arista, "Mau Buna.. Kenapa halus yang telakhil, ini peltama kalinya Alan liat adik dan Alan akan selalu melihatnya nanti.." Seru Arlan tanpa tau maksud dari ucapan Bunanya.
Arista hanya diam dan menatap Alvino seolah meminta agar pria itu membawa bayi kecilnya kemari.
"Dokter akan membawanya kemari segera." Ucap Alvino begitu mengerti apa maksud tatapan Arista.
"Abang.. Buna ingin memberitahu satu hal pada Abang, tapi sebelum itu Abang harus janji satu hal pada Buna."
"Apa Buna?"
__ADS_1
"Berjanjilah untuk terus tersenyum dan selalu ada disamping Buna.." Lirih Arista meski dia tau Arlan mungkin tidak mengerti maksud ucapannya."
"Kita akan telus belsama Buna, Aban, Buna dan tiga adik kembal Buna..."
Arista menggeleng, "Hanya dua nak, bukan tiga."
"Tiga Buna, Alan beltemu dengan meleka kemalin sebelum Aban kesini. Meleka bilang akan telus belsama Aban Buna.."
Tangis Arista pecah, apa Arlan melihat ketiganya di mimpi? Sama seperti apa yang dia alami saat dia koma? Terlalu asik dengan pikirannya hingga wanita itu tidak menyadari ada dokter dan perawat yang memasuki ruangan itu dengan bayi digendongannya.
"Apa itu adik bayi doktel?" Seru Arlan senang dan berbegas bangkit menghampiri dokter tersebut.
Ditatapnya bayi kecil berwajah pucat dalam gendongan dokter itu sembari tersenyum. "Adik... Kenapa masi tidul, petak umpetnya kan udah selesai. Aban udah temuin adik tadii.." Lirih Arlan namun masih terdengar oleh yang lain.
"Petak umpet?"
"Iya Buna kemarin Aban main petak umpet sama adik adik, dan adik kecil ini pelgi jauh, tapi Aban belhasil menemukannya dan bawa adik pulang." Ucap Arlan senang tangannya terulur mengusap pipi bayi itu berulang kali.
"Ayo bangun adik..."
Kali ini anak kecil itu berucap sembari mencium pipi bayi itu lama.
"Dok!!!" Seru perawat yang berdiri di sampingnya dengan menunjuk ke arah jari bayi mungil itu yang mulai bergerak dan menggeliat.
"PUJI TUHAN, Ini adalah keajaiban yang sangat terjadi."
Dokter itupun berbegas membawa bayi mungil itu keluar ruangan untuk di periksa meninggalkan sepasang anak kembar yang masih terdiam di tempat mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Ta, tadi aku ga salah liat kan?"
"Anakku, d-dia kembali?"
Gumam Arista dan Alvino bersamaan hingga wajah bingungnya kini berganti dengan raut bahagia. Segera mereka menghampiri Arlan dan memeluknya. Bahkan Arista berulangkali mencium wajah Arlan.
__ADS_1
"You are our angel"
FLASHBACK OFF