
"Kenapa kamu melakukan itu?" Tanya Arista ketika mereka sampai di loby hotel tempat acara berlangsung.
Alvino berbalik menatap Arista, dapat dia liat mata Alvino yang tampak berkaca kaca menatap sendu dirinya. Ada apa?
"Kenapa kau diam saja? Jelaskan padaku apa maksud ucapan mu didalam?"
Lagi lagi Alvino tidak menjawab, dia hanya terus menatap wajah Arista dengan air mata yang kini sudah mengalir di pipinya. Arista tersentak ketika Alvino justru menariknya dan memeluknya erat meski sedikit terganjal perut besarnya.
"Aku tidak menyangka kita akan dipertemukan kembali.."
Dapat Arista rasakan tubuh Alvino bergetar dan bahunya mulai basah karena air mata laki laki itu.
"A..App..Apa maksudmu??" Tanya Arista dengan gugup, pasalnya dia memikirkan satu kemungkinan siapa Alvino sebenarnya.
"Bukankah kau mencari ku Ta?" Bisik Alvino tanpa melepaskan pelukannya.
Arista memberontak di dalam pelukan Alvino, dia memang nyaman berada di sana tetapi bukan berarti dia bisa bertindak semurah itu.
"Kau itu berbicara apa? Bisakah katakan lebih jelas?"
Baru Alvino membuka mulut untuk menjawabnya, Razer datang dan meminta keduanya untuk menuju suatu tempat. Yang tentu sudah diketahui Alvino.
"Kalian ikutlah dengan ku."
Mereka berjalan bersama menuju tempat yang tidak Arista ketahui, yang jelas dia memasuki suatu lift khusus yang berhenti tepat di tempat tujuan mereka.
"Ahss..." Ringis Arista ketika perutnya terasa keram, ini hal biasa terjadi ketika dia terlalu banyak melakukan aktivitas melelahkan.
"Apa kau tidak apa apa?"
"Apa yang terjadi?"
Alvino dan Razer bertanya bersamaan dan dengan sigap menahan Arista agar tidak terjadi sesuatu.
"Kita ke rumah sakit saja, keselamatan kalian lebih penting dari pada ini." Ucap Alvino berniat menggendong Arista.
__ADS_1
"Tidak, kita lanjutkan saja." Arista menahan tangan Alvino agar tidak menggendongnya.
"Baiklah.."
Mereka kembali berjalan menuju satu satunya ruangan di sana. Arista berhenti melangkah, kepalanya berkedut nyeri dan hatinya semakin tidak tenang.
"Ada apa? Kau baik baik saja?" Tanya Alvino dengan khawatir melihatnya berhenti secara mendadak.
Arista menggeleng, Alvino segera membukakan pintu untuk mereka. Lagi lagi Arista terdiam menatap orang orang yang kini menatap mereka terutama dirinya dengan pandangan sendu. Ada 2 pasangan paruh baya di sana, satu diantaranya sudah dia temui tadi di pernikahan Jihan. Tetapi yang lain, dia seperti pernah melihatnya.
"Ayo Taa..." Ajak Alvino dia merangkul Arista dan mengajaknya berjalan mendekati ke-empat orang orang di sana.
Semakin dekat melihat wajah wajah itu Arista terdiam, dia wajah itu. Matanya berair tangannya menutup mulut tidak percaya. Di sana itu adalah foto kedua orang tua kandungnya yang neneknya berikan.
Dua orang paruh baya itu mendekat ke arah Arista dengan mata yang sudah basah dengan air mata.
"Arista.. Mereka adalah orang tuaku, Ayah Fatan dan Bunda Delia yang juga orang tua kandungmu." Ucap Alvino membuat Arista menoleh, dia menatap Alvino meyakinkan.
Alvino mengangguk, "Kau adalah kembaran ku Ta, Kalila Arista Willyan."
Arista tersentak ketika merasakan sebuah dekapan hangat seseorang dengan bahu bergetar. Dia menatap satu persatu orang di sana, yang tengah memeluknya adalah Delia. Ibu kandungnya. Berada dalam pelukan Delia, dia merasakan kehangatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Anakku..." Gumam Delia tepat ditelinga Arista berulang kali.
"Bunda..." Lirih Arista sembari membalas pelukan wanita paruh baya itu tak kalah erat, badan keduanya bergetar hebat. Sekali lihat siapapun akan tahu bahwa mereka adalah dua orang yang lama terpisah atau akan berpisah.
"Bunda, jangan memeluknya terlalu erat. Biarkan Arista duduk terlebih dahulu.." Ucap Alvino pelan setelah melihat beberapa kali Arista memegang perutnya.
"Astaga, maafkan Bunda nak. Apa kau tidak apa apa?"
Delia baru mengingat bahwa putrinya itu tengah mengandung. Hal yang begitu Delia sesali, kenapa putrinya harus menanggung ini semua? Dia mengusap pelan perut putri yang telah lama pergi darinya itu.
"Duduklah nak.."
Arista melihat laki laki paruh baya yang dia ketahui bernama Fatan, ayah kandungnya. Dia cukup canggung dengan laki laki yang masih tampan meski umurnya tidak lagi muda itu.
__ADS_1
"Ayo nak.." Delia menggandeng Arista dan mengajaknya duduk di antara dia dan suaminya. Dia menyadari Arista yang masih canggung dengan Fatan.
Fatan memeluk Arista dan mencium kedua pipi anak perempuannya itu, air mata yang sejak dulu dia sembunyikan. Dulu dia harus menguatkan keluarganya, terutama istrinya sendiri. Dia akan menangis ketika semua tertidur atau ketika dia tengah sendiri. Namun kini Fatan tidak lagi sanggup menahan air mata yang sejak dulu dia sembunyikan.
"Hiks..." Tangis Fatan begitu terdengar pilu di telinga Arista, dia tidak menyangka laki laki yang sejak tadi terlihat tegar kini tengah menangis di pelukannya.
Ternyata bukan hanya Arista yang terkejut, mereka yang berada di sana pun sama terkejutnya dengan Arista. Selama mereka mengenal Fatan tidak pernah sekalipun mereka melihat laki laki itu menangis seperti ini di hadapan mereka. Bahkan ketika kehilangan kedua orang tuanya dan anak perempuan kesayangannya. Dia hanya akan dia menguatkan yang lain dan berujung terbaring di rumah sakit.
"Jangan menangis..." lirih Arista, ingin dia memanggil laki laki dipelukan nya dengan sebutan Ayah tetapi lidahnya terlalu kelu untuk itu.
"Ayah.. Panggil Ayah nak.."
"Ayah..." Arista menangis, kini dia tidak lagi canggung dengan Ayah kandungnya itu. Untuk pertama kalinya Arista menangis dipelukan seorang laki laki selain Papa Ryan nya.
"Maafkan Ayah karena terlambat menemukanmu nak.."
"Bukan salah Ayah.." Arista menggeleng dipelukan Fatan.
Fatan melepaskan pelukannya dan menangkup wajahnya dengan kedua tangan laki laki itu.
"Apa mereka memperlakukanmu dengan baik?"
Arist mengangguk, "Bahkan aku tidak mengira kalau aku bukanlah anak kandung mereka."
"Ayah bersyukur untuk itu.." Lirih Fatan sembari mengusap kepala Arista lembut, jika saja dia tau mantan anak buah kepercayaannya lah yang menculik putrinya sejak dulu. Maka dia pastikan Ryan dan keluarganya tidak akan pergi dengan mudah meski ke kematian sekalipun.
Tetapi nasi sudah menjadi bubur, Ryan dan keluarga kini sudah menghadap Yang Maha Kuasa. Biarlah mereka mendapat balasannya di sana.
"Fatan, biarkan Arista duduk. Aku tidak mau anak dan calon cucu-cucuku kenapa napa."
Arista menoleh, dia mematung melihat siapa yang berada diujung pintu.
"Kk .. kk... Kalian.."
TBC
__ADS_1