
PERINGATAN
STORY INI JARANG UPDATE DAN ALUR YANG MUNGKIN KURANG TERTATA
IT'S MY FIRST STORY, MAAF KALAU MASIH BANYAK KEKURANGAN
MASUKAN DAN KRITIK KALIAN SANGAT DIPERLUKAN UNTUK EVALUASI KU KEDEPANNYA
THANK YOU, I HOPE YOU LIKE IT!!!!!
_______
Kelvan memasuki gedung kantornya dengan tergesa, baru saja Nando memberikan kabar jika berkas berkas penting perusahaan hilang. Tak ada yang tersisa.
"Gimana bisa hilang sih Ndo?!" Seru Kelvan frustasi. Laki-laki itu menjambak rambutnya keras.
"Gue udah banyak kecewain Papah.."
Nando terdiam melihat Kelvan yang tengah menelengkupkan wajahnya di meja. Dia tidak menyangka reaksi bos akan seperti itu, bukankah tadi Kevin sudah berkata bahwa Kelvan sudah tau semua rencana mereka. Lalu kenapa reaksi Kelvan harus segitunya?
"Kelv, bukannya lo udah tau semua?" Tanya Nando pelan.
Kelvan mengangguk.
"Gue baru tau tadi dan niat gue ke kantor untuk mengamankan berkas-berkas penting karena gue udah pernah kasih tau Jihan kalau semua password brankas gue."
"Kalau gitu tersangka utama adalah?"
"Jihan, gue bakal buat perhitungan ke wanita sialan itu."
Nando menahan tangan Kelvan agar tidka melangkah lebih jauh lagi. "Bukannya bokap lo udah bilang untuk jangan gegabah lagi?"
"Tapi berkas penting dan kepemilikan itu a-"
"Sebelum melawannya kita harus tau dulu siapa yang ada di belakang Jihan selama ini karena ga mungkin wanita itu bisa bergerak sejauh ini sendiri. Lo tau sendiri setelah kasus korupsi waktu itu keluarganya benar benar jatuh miskin."
"Dan lo juga harus inget kalau karir modelingnya ga sebagus itu untuk keuangan dan gaya hidup dia."
Kelvan mengangguk paham, "Thank you."
"Ke depannya lo harus lebih hati hati karena lo udah tau semua dan keadaan udah berubah. Ga ada lagi asisten setia yang selalu ada di samping lo." Nando berjalan mendekati Kelvan dan menepuk bahunya beberapa kali. "Jihan wanita licik, siapkan apapun untuk berjaga-jaga. Seperti obat anti mabuk, bius, racun ataupun obat perangsang."
__________
"Aduh anak anak Buna udah pada ganteng semuaa.." Arista tersenyum menatap ke empat putranya yang terlihat segar sehabis mandi.
"Abang bantu mandiin adik tadi ya?"
"Iya Bunaa... Aban bantu usap usap badan adik.." jawab Arlan semangat.
__ADS_1
"Wah pintar sekali, terima kasih ya Abang sudah banyu Buna."
"Sama-sama Buna.."
"Sekarang Abang ikut Buna ke bawah ya untuk sarapan terus berangkat. Adik biar sama mba dulu." Arista mengulurkan tangannya ke arah Arlan yabg langsung di sambut anak itu.
"Adik, aban sekolah dulu ya.. Jangan nakal di lumah ya adik..."
Arlan mencium kening ke tiga adiknya bergantian dengan lembut. Tatapan tulus penuh kasih sayang sangat terlihat sangat jelas di wajahnya.
"Wah ada spaghetti kesukaan Aban..."
"Ini enak banet lhoo.."
Arista menggeleng melihat Arlan tang terus saja mengoceh ketika makan. Dia sungguh senang melihat perubahan sikap Arlan yang sangat signifikan. Sekarang anak itu jauh lebih semangat dan ceria dari sebelumnya.
"Sudah selesai?" Tanya Arista melihat piring Arlan yang sudah kosong.
"Sudah Buna, Aban mau agi tapi sesuatu yang belebihan itu tidak baik." Ucap Arlan sembari menatap penuh harap pada satu piring spaghetti carbonara di tengah meja.
"Ambilah lagi jika Abang masih lapar."
Arlan menggeleng, "Tidak mau Buna, ayo kita belangkat. Jangan lupa spaghetti na di bungkus untuk anak lampu melah Bunaa.."
"Sudah sayang, semua sudah nenek siapkan."
Semua berawal ketika Arlan pulang dari sekolah sembari membawa satu box paket besar dari KFC sebagai apresiasi dari Arista dan ada satu anak kecil seumur Arlan yang mengamen di depan mobil Arista.
Flashback
"Tamu tenama ngamen? Halusnya sekalang kamu istilahat kalena balu pulang sekolah pasti cape." Ucap Arlan begitu anak itu meminta uang di samping mobilnya.
"Aku ngga sekolah." Jawab anak itu menunduk.
"Kenapa? Kamu umul belapa?"
"4 tahun. Aku halus cali uang buat makan." Anak itu menatap box KFC di tangan Arlan dengan tatapan penuh harap.
Arista hanya tersenyum sembari mengeluarkan selembar uang berwarna biru ke arah anak itu sedangkan Arlan hanya terdiam mendengar ucapan anak itu. Dia jadi berpikir jika Arista tidak membawanya dari panti mungkin dia tidak akan ada di sini.
"Makasii.."
"Sama-sama."
Setelah pengamen itu pergi Arista menatap heran pada Arlan yang tiba tiba murung.
"Kamu kenapa Abang?"
"Buka pintuna Buna.." Pinta Arlan.
__ADS_1
"Abang mau kemana?"
"Buka Buna sebelum hijau.."
Arista akhirnya membuka kunci pintu mobilnya membuat anak itu segera berlari keluar membawa box yang sedari tadi dia pegang. Kepergian Arlan secara tiba tiba membuat Arista panik dan ikut keluar dari mobilnya dan mencari Arlan. Pasalnya jalan ini tergolong jalan yang sibuk dan waktu pada lampu lalu lintas menunjukkan waktu kurang dari satu menit lagi.
"Heii!!" Teriak Arlan sembari berlari menghampiri pengamen kecil tadi.
"Ini buat kamu makan nanti sole."
Arlan menyodorkan box itu dan memaksa tangan anak itu mengambilnya. "Di makan ya!"
"Dah!" Ucap Arlan sembari melambaikan tangannya dan melangkah pergi.
"Telima kasih, Alan. Semoga kita bisa beltemu lagi.." Lirih pengamen itu.
Di sisi lain Arista tengah kebingungan mencari anak sulungnya itu. Beruntung kondisi jalan yang memang sibuk membuat kemacetan.
"Astaga sayang!"
"Kamu kemana sajaa!" Arista memeluk Arlan erat dan menggendong anak itu.
"Alan kasi ayam sama tu Buna.."
"Lain kali jangan seperti itu lagi ya nak, bilang sama Buna biar kita pinggirin mobilnya dan Arlan bisa mengobrol banyak dengannya."
"Boleh Buna?" Tanya Arlan berbinar.
"Tentu saja sayang, besok Arlan bangun lebih pagi supaya kita bisa mampir sebentar ya." Ucap Arista sembari berjalan cepat ke arah mobilnya.
Arlan mengangguk senang, "Bawa salapan juga ya Buna."
Flashback off
Arista dan Arlan pun bergegas berangkat menuju sekolah Arlan melalui jalan biasanya. "Kali ini Abang tidak bisa mengobrol dulu ya, Buna ada pekerjaan penting dan tidak boleh terlambat."
Arlan mengangguk, "Iya Buna... tapi.. tapi nanti Buna jemput aban kan?
"Pasti sayang."
Setelah sampai di tempat biasa Reno pengamen kecil- Arista segera meminggirkan mobilnya dan segera turun.
"Reno ini Tante ada sedikit makanan untuk Reno. Bisa Reno bagikan dengan teman dan keluarga Rena yang lain ya."
"Banyak sekalii.." Mata anak itu berkaca kaca, sudah seminggu ini dia selalu mengamen dengan perut kenyang.
"Leno, Alan pelgi dulu ya.. Alan halus sekolah, kata Buna sibuk ga boleh ngobol dulu.. Dah!" Arlan melambaikan tangannya ke arah Reno.
"Meleka baik sekali.. Leno akan membalasnya suatu saat nanti.."
__ADS_1