
Kelvan melajukan mobilnya menuju perusahaan dengan keadaan seperti biasa. Perut lapar dan wajah yang kusut, beruntung pakaian nya selalu menggunakan jasa laundry sehingga dia tidak perlu berkerja dengan baju yang juga kusut.
"Kusut mulu bos, belum kelas juga urusan sama bini?" Tanya Nando, asisten Razer yang kini menjadi asisten pribadinya.
Mendengar pertanyaan Nando, Kelvan hanya mendengus kesal. Memang dia sering menceritakan masalahnya pada laki laki yang sangat mudah berlalu itu, meski tidak selalu mendapat saran yang baik. Setidaknya lelaki itu adalah pendengar yang baik.
"Nan, cariin gue makan gih!" Suruh Kelvan dengan niat sebenarnya untuk mengusir Nando secara halus dari ruangannya yang juga ruangan Nando tentunya.
Kelvan dan Nando memang berada dalam satu ruangan yang cukup luas. Kelvan memang belum di angkat menjadi CEO atau pemimpin dan pewaris tunggal perusahaan dengan profit yang tidak akan habis.
"Lo ga sarapan lagi?" Tanya Nando tanpa embel embel Pak di depan namanya.
"Emang kapan gue pernah sarapan si Nan.."
Tanpa berkata apapun Nando bergegas keluar untuk memesankan makanan kesukaan Kelvan. Meninggalkan Kelvan yang kembali tenggelam dalam lamunan kata berandai.
Setelah 15 menit keluar, Nando kembali dengan sebuah nampan di tangannya. "Ini, makan dulu.."
"Lo cuma pesen satu?"
"Emang lo mau makan berapa porsi?" Tanya Nando dengan kening mengerut tak mengerti, biasanya dia juga hanya akan memesan satu porsi untuk Kelvan.
"Ya satu, terus lo ga makan?"
"Gue kenyang liat tingkah bodoh lo yang ga ada habisnya."
Kelvan terdiam sejenak sebelum mulai menyantap makanannya, sejak dulu saat masih menjadi asisten Razer pria itu bahkan sering kali mengumpatinya tanpa takut dipecat. Walau tentu saja Kelvan tidak akan memecatnya kecuali pria itu merugikan bisnisnya.
"Kelv, sorry to say. Gue mau ngomong sebagai orang yang udah kenal Lo dan Razer lama, gue tau lo mungkin ga pernah anggap gue lebih dari temen dan asisten. Tapi lo dan Razer lebih dari itu bagi gue, kalian yang selama ini bantu gue tanpa mengharapkan apapun.." Ucap Nando setelah melihat Kelvan selesai dengan sarapannya.
"Gue ga sengaja denger pembicaraan lo dan Jihan beberapa bulan lalu. Pembicaraan yang gue tau merusak hubungan lo sama Razer 'hingga saat ini'."
Nando menatap Kelvan yang kini juga menatapnya dengan tajam, terlihat wajahnya mengeras tidak suka dengan apa yang di bicarakan. "Hubungan itu rusak bukan karena pembicaraan gue dan Jihan. Tapi karena apa yang dia lakukan pada hubungan gue dan Jihan."
__ADS_1
"Lo cuma denger itu dari satu pihak Kelv, it's not fair buat lo menentukan Razer yang bersalah. Sepercaya apapun lo sama orang, jangan sampai membuat lo buta sama kebenaran yang sebenarnya."
"Itu g-g--"
"Dengerin gue bentar Kelv, seinget gue Jihan bilang kalau Razer mengancam keluarganya untuk mengaku atas tindak korupsi yang terjadi beberapa tahun lalu. Pada nyatanya bukti memang merujuk pada keluarga wanita itu, lo ga bisa denay sama itu." Ucap Nando memotong ucapan Kelvan.
"Bukti bisa di palsukan, lo tau sendiri ada siapa di belakang Razer."
Nando tersenyum kecil, "Ucapan juga bisa di palsukan Kelv, apalagi tanpa bukti. Lo juga tau gimana peringai Razer dan Om Alex."
"Gue tau lo bisa membedakan sendiri mana yang seharusnya lo percaya." Ucap Nando sembari menepuk pelan pundak Kelvan sebelum berbalik pergi.
"Is it too late now to say sorry. Cause I'm missing more than just your body.."
Kelvan tersentak mendengar sebaris lagu yang Nando senandungkan.
...----------------...
Delia terus saja menimang cucunya tanpa lelah, wanita paruh baya itu begitu bahagia mendapatkan cucu.
"Mas, aku sangat bahagia.. Aku tidak pernah berfikir masa tuaku akan berkumpul kembali bersama putri kita, terlebih dengan 4 cucu tampan ini.." Ucap Delia dengan senyum lebarnya pada Fatan yang berada di sebelahnya.
"Ini berkat doa kita, Tuhan telah mengabulkannya dan memberi kesempatan kita untuk merawat anak-anak Arista. Dimana kita tidak bisa merawatnya karena peristiwa itu.." Dikecupnya kening Delia lama.
"Arista! Apa kau sudah siapkan nama untuk cucu-cucuku ini?" Tanya Kevin yang juga ada di sana. Mereka sedang berkumpul untuk membahas acara akikah dan penamaan bayi kembar itu.
"Xabirru, Xaviorel, dan Xaoki . Pa, untuk nama tengah dan belakangnya belum terpikir pah. Mungkin nanti akan Arista cari cari lagi." Jawab Arista yang ini tengah duduk dengan Arlan yang berbaring di pangkuannya.
"Xaoki bukankah nama pohon di Jepang?" Tanya Keyzia dengan kening mengerut seperti tengah mengingat sesuatu.
Arista tersenyum, "Benar. Aoki, pohon Evergreen berwarna biru."
"Birru, Aoki dan Viorel tiga kata yang bermakna biru. Sebuah warna yang melambang kesetiaan, kepercayaan, kebijaksanaan, ketulusan, kecerdasan, stabilitas, iman serta surga..."
__ADS_1
"Dengan nama itu Arista berharap ketiganya bisa menjaga dan menghargai sebuah kesetiaan, kepercayaan dan ketulusan."
Mendengar jawaban Arista perihal nama itu, keluarga yang lain turut senang dan mengaminkan harapan Arista.
"Arista, Papa tau mungkin ini akan terdengar tidak tau diri. Apa boleh jika ketiga cucuku ini menggunakan nama keluarga kamu, walau bagaimanapun dalam dirinya mengalir darah kami." Ucap Kevin yang membuat Fatan menatapnya tajam.
"Tidak bisa, meski begitu anak ini secara hukum adalah anak Arista. Hanya Arista dan mereka akan menggunakan marga keluarga kami." Ucap Fatan tegas, sekalipun Kevin adalah sahabatnya dia tidak ingin cucunya menggunakan marga keluarga mereka.
"Tapi Tan, bukankah mereka akan tinggal bersamamu. Izinkan setidaknya nama kami yang selalu melekat padanyaa."
"Tidak-"
"Ayah, tidak apa. Biarkan mereka menyandang nama belakang Dewanto dalam nama mereka. Tetapi Arista mohon untuk sembunyikan nama belakang mereka hingga mereka bisa berdiri dibawah kaki mereka sendiri. Biarkan mereka dikenal sebagai diri mereka sendiri hingga saatnya nanti mereka tau ada marga Dewanto dibelakang nama mereka." Ucap Arista menengahi perdebatan Fatan dan Kevin yang mungkin akan terus berlanjut jika tidak dihentikan.
"Dan Ayah yang bisa memberikan nama tengah untuk mereka.." lanjut Arista sembari tersenyum menatap Ayahnya.
"Benarkah?"
"Tentu Ayah.."
Binar bahagia terlihat jelas di wajah Fatan ketika diberi kesempatan untuk memberi nama tengah pada ketiga cucunya. "Apa harus nama yang berurutan atau arti yang sama?"
"Tidak perlu Ayah, berilah nama yang Ayah inginkan."
"Atezza untuk Xabirru, Ayah berharap dia akan menjadi pemimpin yang mulia dan agung di masa depan nanti." Ucap Fatan sembari mengusap pipi bayi sulung Arista yang berada dalam gendongan istrinya.
Lalu Fatan beranjak menghampiri Kevin yang tengah menggendong putra bungsu Arista dan berjongkok dihadapan pria itu. "Elvano untuk Xaoki, semoga kamu akan tumbuh menjadi anak yang kuat dan bisa menjaga Bunda serta saudara-saudaramu yang lain."
"Dan Raymond untuk Xaviorel. Opa berharap kamu bisa menjadi orang yang bijaksana dalam melakukan sesuatu." Diusapnya bayi kedua Arista pelan.
"Nama yang indah, terima kasih Opaa.." Ucap Arista mewakili ketiga putranya.
"Xabirru Altezza Dewanto, Xaviorel Raymond Dewanto, dan Xaoki Elvano Dewanto." Ucap Arista lagi, menegaskan nama ketiga anaknya sembari tersenyum.
__ADS_1