
"Baiklah kau pasti akan mendapatkan Cafe itu." Ucap Kelvan tegas, dia mengusap lembut kepala Jihan yang kini berada di dadanya.
"Terima kasih sayang.." Jihan mengecup singkat bibir Kelvan sebagai ucapan terima kasihnya.
Meski Kelvan berkata dia akan membeli Cafe tersebut tetapi hatinya terasa sangat berat untuk melakukan hal itu. Dia seperti mengenal dekat pemilik Cafe itu, terlebih jantungnya terasa berdetak dengan cepat ketika bertabrakan dengan mata hazel wanita itu.
Kenapa aku sama sekali tidak bahagia? Padahal kini Jihan sudah menjadi milikku, bahkan aku akan segera mendapat keturunan darinya.
............
Meli membanting laporan keuangan Cafe dengan keras, kini dia tau apa yang dipikirkan Arista selama ini. Pasangan Dewanto itu memaksa untuk membeli Cafe ini.
Kenapa kakak tidak membaginya denganku? Sekarang apa yang bisa ku lakukan untuk membantumu kak?
Sudah beberapa hari ini keuangan Cafe menurun drastis bahkan terkadang tidak ada satupun pengunjung yang datang. Baru diketahuinya bahwa semua ini adalah ulah Kelvan Dewanto yang menggiring opini publik tentang Cafe miliknya. Dimulai dari tidak hygienies hingga mengancam beberapa rekan bisnisnya untuk melarang kenalannya singgah di Cafe ini.
"Mba Meli baru saja saya liat berita.." Ucap salah satu karyawati dengan tangan bergetar memegang hpnya.
"Ada apa?" Meli mendongak dengan wajah sedikit berantakan.
Karyawati itu menyodorkan telepon selulernya, Meli tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya begitu melihat tag line berita hari ini.
Benarkah A'plets Cafe Menggunakan Pesugihan?
Pengunjung Berkata, Ada cicak mati di piring. A'plets Cafe Pesugihan?
Tak Pernah Sepi, Cafe Viral A'plets gunakan Pesugihan?
"Ppe..Pesugihan?" Ucap Meli tidak percaya, wah dia saja tidak pernah berniat melakukan hal itu.
"Kalian percaya dengan berita-berita itu?" Tanya Meli pada Karyawan karyawati yang membantunya sejak kemarin.
"Tidak mba, kebetulan saya memiliki kelebihan dimana saya bisa berinteraksi dengan mereka. Saya tidak pernah merasakan suatu hal yang aneh di sini dan suasana Cafe benar benar tidak mencerminkan hal yang tidak benar." Jelas salah satu karyawan.
__ADS_1
"Suasana?"
"Biasanya suatu tempat usaha yang menggunakan hal hal seperti itu memiliki suasana yang berbeda. Memang tidak semua dapat merasakannya tetapi tak sedikit juga yang sudah pernah merasakan hal itu. Selain itu pasti akan ada kejadian ganjil baik pada pembeli ataupun karyawan." Karyawan bernama Rafa tersebut membuat raut penasaran mereka perlahan menghilang.
Meli mengangguk, pada dasarnya dia sedikit tidak percaya pada hal hal mistis seperti itu. "Kenapa mereka bisa dengan mudah tergiring opini yang tidak jelas sumbernya?"
"Mba kaya ga tau netizen +62 saja. Sangat mudah termakan gosip lantas berkomentar tanpa memikirkan akibat yang akan ditimbulkan nantinya. Dan setelah kebenaran terungkap mereka akan menyesal dan beberapa orang yang merasa baik bermunculan." Ucap Rafa disambut tawa yang lain.
Memang suatu hal yang mudah bukan, untuk menarik perhatian publik di Indonesia? Mereka akan mudah mengkonsumsi apa saja yang diberitakan media, lalu menyalahkan apa yang mereka anggap salah. Berkomentar tanpa memikirkan akibatnya, apakah itu komentar yang membangun atau justru komentar yang merendahkan dan merugikan orang lain. Mereka tidak memikirkan apakah kata demi kata yang mereka tulis dapat mengganggu kesehatan fisik ataupun mental penerima. Bisa saja hanya dengan satu ketikan kata mampu membuat seseorang menjadi depresi.
Mengikuti pemberitaan boleh, asal untuk menambah wawasan dan informasi bukan untuk menjadi orang paling benar dengan menghujat sesuatu yang diberitakan. Mulai sekarang lebih dewasalah dalam menggunakan internet dan mengomentari sebuah hal. Jangan sampai apa yang kalian torehkan di dunia maya berpengaruh pada diri kalian atau pada orang lain.
"Jangan gitu Raf, ntar kamu lagi yang jadi sasaran." Ucap Meli dengan sedikit tawa.
"Oh engga dong mba, asal ga di senggol aja lah mereka mah."
Suasana kembali hening memikirkan solusi untuk kedepannya, baik untuk masa depan Cafe ataupun karyawannya.
"Mba maaf sebelumnya, apakah mba ada kenalan orang penting?" Tanya salah satu karyawati bernama Rania.
"Lawan kita bukan orang biasa mba, mereka sangat menginginkan Cafe ini. Hal apapun bisa mereka lakukan termasuk dengan memfitnah Cafe ini, kita tidak tau bukan apa yang akan mereka lakukan di kemudian hari?"
"Dan untuk melawan mereka kita perlu setidaknya memiliki pengaruh yang sama dengan mereka."
Mendengar ucapan Rania, Meli kembali terpikir dengan Razer. Seorang pria yang akhir akhir ini membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Aku akan meminta bantuan Razer saja, tapi apa mungkin dia mau membantuku?
"Oiya Mba, laporan tentang pembangunan Cafe di Purwokerto sudah selesai. Sudah saya serahkan ke Bu Arista kemarin."
Meli menoleh ke arah Rafa, wajahnya kembali panik mengingat mereka masih memiliki Cafe diluar kota. Apa Cafe itu ikut terdampak?
"Apa mereka tau Cafe itu cabang dari Cafe ini?"
__ADS_1
"Belum mba, tim marketing baru mempublish kalau kita akan membuka cabang baru tetapi tidak memberi tahukan di mana lokasinya." Jelas Rafa membuat Meli dan yang lain mendesah lega.
"Syukurlah, kita pikirkan nanti untuk kelanjutan Cafe itu."
"Menurut kalian bagaimana jika aku meminta bantuan seseorang di Askandar Corp?" Tanya Meli meminta saran.
"Askandar Corp mba?" Cicit Rania.
"Iya, aku memiliki kenalan di sana dan setau aku dia orang yang cukup berpengaruh."
"Benar benar dari Askandar Corp mba? Bukan Azkendra Group?" Tanya Rafa menyakinkan, pasalnya bagaimana mungkin orang orang penting Askandar Corp bisa kenal dengan atasannya ini. Untuk berteman dengan karyawan biasa di sana saja sangat sulit.
"Iyaa, yang kantornya deket Nineties Cafe itu." Ucap Meli santai, meski dia tidak tau apakah Razer benar benar mau membantunya atau tidak.
"Wah, kalau mereka udah turun tangan dalam sekejap masalah kita selesai mba." Ucap Rafa dengan binar bahagia.
"Tapi mba benar benar punya kenalan di sana?"
"Iyaa, bukan mba si. Lebih tepatnya Bu Arista yang punya kenalan di sana." Kekeh Meli.
"Ah sudah ku duga, mana mungkin orang orang di sana mau berkenalan dengan orang seperti kita."
"Aku juga mengenalnya ya." Sungut Meli, dia tidak terima diremehkan seperti itu walaupun pada nyatanya itu hal benar.
BRAKK
Pintu ruangan yang di dorong kasar membuat mereka semua menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang pria gagah berdiri menatap tajam ke arah mereka.
"Kenapa tidak menghubungiku? Kau bisa saja membahayakan Arista dalam hal ini!"
"Rrrra..Rrazer?!"
TBC
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Komennya ya biar Eillasa semangat dan rajin kirim naskahnya ke aku:)))
Happy Friday guysss