
Arista menatap tidak percaya dua orang yang berdiri tepat di dekat pintu masuk. Kevin dan Keyza, orang tua Kelvan. Dia menutup mulutnya tak percaya, Apa lagi ini...
"Duduklah nak, kita bicarakan semua pertanyaan mu." Delia mendudukkan Arista pelan di antara Fatan dan dirinya.
"Arista, saya mewakili putra saya meminta maaf kepadamu atas perbuatannya. Saya gagal dalam mendidiknya menjadi pria yang baik dan bertanggung jawab. Maafkan saya." Ucap Kevin dengan menunduk, dia tidak menyangka kelakuan anaknya sebeja* ini. Anaknya telah merusak masa depan seorang wanita tanpa berniat mempertanggungjawabkan nya. Jika saja tidak dilarang oleh Alex, dia sudah menghentikan pernikahan Kelvan sejak kemarin.
Arista diam tidak menanggapi perkataan Kevin, otaknya masih melalang buana mencari jawaban atas kejadian hari ini.
"Kami benar benar meminta maaf kepadamu karena perbuatan putra kami kamu harus menanggung beban yang seharusnya belum kamu tanggung dan maafkan kegagalan kami dalam mendidik putra kami." Lirih Keyza menatap sendu putri sahabatnya yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri sejak dulu. Dia tidak menyangka putri yang dia sayangi dirusak oleh putra tunggalnya sendiri.
"Jangan meminta maaf padaku.." Arista menggelengkan kepalanya.
"Kami tau kesalaha..."
"Kalian tidaklah bersalah, begitupun Kelvan. Kami melakukan hal itu atas dasar mau sama mau tidak ada unsur paksaan sama sekali, kesalahan terbesarnya mungkin memang ada p ada diriku yang terlalu mudah percaya ucapan Kelvan. Dan lagi beban apa yang kalian maksud?" Arista menaikan salah satu alisnya bertanya.
"Apa maksud kalian bayi di dalam perutku? Sebelumnya maafkan saya atas ketidak sopan nan saya dalam berbicara kepada Tuan dan Nyonya Dewanto. Saya tidak pernah merasa terbebani dengan kehadiran janin di dalam perut saya, mereka adalah anugrah yang Tuhan kirim untuk saya. Saya juga tidak keberatan putra Tuan dan Nyonya tidak mau mengakui atau menganggap mereka." Ucap Arista berusaha tegar, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang tua laki laki yang sudah menyakitinya terlalu dalam.
"Tidak Ta, bukan begitu. Kami hanya m.."
"Saya mengerti Tuan, Nyonya. Sekarang apa kalian akan memintaku melenyapkan mereka seperti putra kalian?" Tanya Arista sedikit menaikkan kepalanya.
Mereka terdiam kaget, selain Razer mereka hanya tau kalau Kelvan tidak mau bertanggung jawab. Mereka tidak tau kalau Kelvan pun berniat melenyapkan darah dagingnya.
__ADS_1
"Apa?!" Seru Keyza lirih. Putranya, putra kebanggaannya kenapa bisa melakukan hal sekeji itu.
"Sungguh aku tidak mempermasalah dia ataupun kalian akan mengakui anakku atau tidak. Namun aku tidak akan tinggal diam jika kalian melakukan hal yang mengancam keselamatan ku dan anakku." Tekan Arista dengan tegas sekalipun hatinya tengah menangis.
"Tidak nak..." lirih Keyza, mereka sama sekali tidak berniat melakukan hal tersebut. Tujuan mereka kesini adalah untuk meminta maaf dan meminta izin untuk ikut berpartisipasi dalam pertumbuhan triplets.
"Sayang, biar Ayah yang jelaskan.." Ucap Fatan mengusap lembut surai hitam anaknya. Dia memang kecewa dengan Kelvan, putra sahabatnya. Tetapi bukan berarti dia harus menjauhi atau bahkan membenci sahabat nya, Kevin.
Arista menatap Fatan dengan mata sendu, dia takut apa yang akan keluar dari mulut seseorang yang baru dia ketahui itu akan semakin menyakitinya.
"Mereka sahabat Ayah, tujuan mereka bukan untuk mencelakai mu atau bahkan melenyapkan kalian. Lagian bagaimana mungkin dia berani melakukan itu pada putriku." Fatan menatap sengit Kevin yang dibalas dengusan oleh pria itu.
"Selama ini mereka tidak pernah tau kamu berhubungan dengan Kelvan sampai ketika Razer menemui Alex membicarakan masalah itu." Fatan menjeda ucapannya untuk melihat bagaimana reaksi putrinya tetapi lagi lagi Arista hanya diam seolah memintanya untuk terus menjelaskan.
"Apa maksud Ayah?" Tanya Arista tampa canggung.
"Kami mencegah Kevin melakukan itu, kami tidak ingin kamu kembali hidup dalam penderitaan. Melihat Kelvan dan cintanya atau bahkan obsesinya pada Jihan membuat kami terutama Alvino melarang keras Kevin melakukan itu. Maafkan Ayah yang sudah mengambil keputusan tanpa persetujuan mu padahal kita baru saja bertemu." Fatan menjelaskan dengan menunduk, dia takut jikalau keputusannya justru membuat putri yang baru ditemuinya ini kecewa.
"Tidak Ayah, jangan meminta maaf padaku. Apa yang Ayah lakukan sudah benar dan lagi pula Ayah masih berhak mengambil keputusan untukku karena sampai aku menikah nanti Ayah tetaplah orang yang paling berhak atas ku selain Bunda dan aku sendiri. Aku yakin ayah sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang." Ucap Arista, dia tersenyum menatap Fatan. Dia tau Fatan adalah seorang pebisnis tentu memiliki pemikiran yang tidak biasa.
"Terlepas dari itu, bukankah aku juga sudah menjelaskan tadi. Aku tidak peduli pada akhirnya Kelvan akan bertanggungjawab ataupun tidak karena bagiku ketika dia menolak kami hari itu, dia sudah melepaskan tanggungjawabnya sebagai ayah dari anak anakku. Sejak itu pula aku tidak akan pernah memintanya ataupun mengharapkannya untuk bertanggungjawab kembali."
"Bagus Ta, biarkan dia merasakan penyesalan atas keputusannya." Ucap Alvino.
__ADS_1
"Dia tidak akan menyesal, dia sudah menikah dengan cintanya tentu dia bahagia dan tidak akan pernah menyesalinya."
Oke anggaplah Arista plin plan, tapi percayalah dia sudah tidak mengharapkan Kelvan sekalipun di hatinya masih banyak cinta untuk pria itu. Kalian boleh mengatakan dia bodoh karena masih masih memiliki cinta untuk pria yang sudah menyakitinya, tapi perlu kalian tau! Melupakan bukan perkara yang mudah seperti membalikan telapak tangan.
"Kita tidak pernah tau apa rencana Tuhan. Dia pasti akan mendapat balasannya ntah berupa penyesalan atau pun nanti di kehidupan selanjutnya."
Arista menoleh kearah Kevin, dia tersenyum menatap pria itu. Dia sudah yakin kini bahwa Kevin dan Keyza tidak berniat untuk menjauhkan dia dari anak anaknya. Arista bangkit dan berjalan menuju kedua orang tua Kelvan itu.
"Paman, Bibi sebenarnya aku ingin sekali memeluk kalian. Anakku ingin memeluk oma dan opanya tetapi terlalu susah untukku melakukan itu dengan perut seperti ini."
Mendengar ucapan Arista Keyza dan Kevin saling menatap dan tersenyum. Itu menandakan Arista mengizinkan mereka untuk dekat dengan cucu cucu mereka nanti. Mereka bangkit dan memeluk Arista pelan takut menyakitinya.
"Panggil kami Papa dan Mama saja nak.. Kau tengah mengandung cucuku maka kau adalah putriku juga." Ucap Keyza setelah melepaskan pelukannya.
"Sudahi dulu pembicaraan ini, aku pun ingin memeluk keponakanku. Aku sudah menunggunya sejak tadi tetapi kalian bahkan tidak mengenalkan aku padanya." Ucap Alex membuat semua terkekeh. Pasalnya ucapan Alex sangat tidak cocok dengan wajah dan pekerjaannya.
"Aku mengenalmu Tuan Alex." Ucap Arista tersenyum.
"Tidak, kau tidak mengenalku. Aku adalah pamanmu nak, kau pernah menjadi kesayangan ku dulu."
Kembali Arista dipeluk kesekian kalinya..
"Terima kasih sudah menemukanku uncle.."
__ADS_1
TBC