
Terlihat dua orang pria berbeda generasi dan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat muda disana. Tampak wajah mereka menyiratkan kekhawatiran yang besar, bahkan mata wanita itu sudah basah dengan air mata.
"Kemari kan suratnya, biar saya yang tanda tangani dan mengurus administrasi nya."
"Anda siapa?" Tanya Meli, pasalnya dia tidak tahu siapa pria paruh baya dihadapannya ini. Hanya saja dia pernah melihatnya beberapa kali berseliweran di majalah bisnis.
Apa dia mengenal kakak?
"Berikan saja suratnya." Ucap Razer datar pada Meli, yang tentu saja langsung dituruti wanita itu.
"Jadi?" Meli menatap Razer setelah tidak melihat lagi punggung pria paruh baya itu, tetapi tidak mendapatkan tanggapan apapun dari laki laki itu. Tentu saja, menurut Razer saat ini bukanlah waktu yang tepat hanya untuk membahas siapa mereka.
"Duduklah Aunty.." Ucap Razer sembari mempersilahkan Delia untuk duduk di sebelah kakaknya.
"Kak, putriku.. Aku bahkan baru saja bertemu dengannya setelah puluhan tahun.." Lirih Delia dengan air mata yang sudah tidak terbendung, sesekali dia sesenggukan di pelukan Alex.
"Tenanglah, Arista anak yang kuat. Dia dan ketiga bayinya akan baik baik saja." Ucap Alex berusaha menenangkan Delia meski jauh di dalam lubuk hatinya dia sama khawatirnya dengan Delia. Bahkan dia merasa bersalah, Jika saja aku tidak membawa Arista ke dalam pertemuan itu.
Meli hanya diam melihat bagaimana wanita itu menangis dipelukan Alex. Putri? Apa itu Ibu kandung Kakak? Kalau iya itu artinya yang tadi itu, Ayah dan kembaran kakak dong?
"Arista akan segera dipindahkan ke ruang operasi. Razer gantilah baju kalian dulu." Ucap Fatan sembari mengambil alih Delia dari pelukan Alex.
"Putriku mas..." lirih Delia.
Fatan hanya diam sembari mengusap pelan surai hitam istrinya.
"Uncle, kenapa ini semua bisa terjadi? Bukankah terakhir kali Arista ada di Askandar?" Tanya Alvino, matanya tampak memerah menahan tangis dan dia berhasil menahannya. Memang sudah sejak lama bodyguard keluarga Willyan mengikuti Arista dan informasi terakhir adalah wanita itu ada di Askandar lalu kenapa beralih ke rumah sakit?
__ADS_1
Alex ber sitatap dengan Razer seolah mengatakan, Kau saja yang menjelaskan.
Pada Akhirnya Razer menjelaskan semuanya dari permasalahan Cafe yang tentu saja sudah diketahui Alvina hingga tragedi tertampar nya Arista oleh Kelvan. Terlihat jelas gurat an kemarahan di wajah Alvina, kesedihan yang tadinya tergambar di wajah tampannya menguap begitu saja. Tangannya terkepal erat menonjolkan urat di sekitar lengannya.
"Aku terlalu membebaskannya." Lirih Alvino.
Tak berbeda jauh dengan Alvino, Fatan pun sama marahnya kepada Kelvan. Tetapi laki laki paruh baya itu terlalu pandai menyembunyikan amarahnya, dia masih terus fokus menenangkan istrinya sekalipun otaknya sibuk berpikir hukuman apa yang pantas di jalani Kelvan.
"Kalian tenang lah, Kenan sudah memberinya pelajaran. Kami pun sudah menyiapkan hukuman untuknya."
...................
Lampu di depan ruang operasi sudah padam menandakan operasi telah selesai. Para keluarga yang menunggu semakin meremas tangan harap harap cemas. Ada beberapa kemungkinan yang mereka hadapi, seperti operasi berhasil atau operasi gagal. Atau bahkan operasi berhasil namun pasien kritis dan sebagainya. Pihak keluarga tentu harus menerima dengan lapang dada apapun hasilnya nanti.
Tuhan, berikan aku kesempatan untuk menjaga dan membahagiakannya. Sudah terlalu lama kami berpisah, tolong jangan pisahkan kami lagi.. - Lirih batin Alvino dengan mata terpejam, dari sudut matanya tampak air mata mengalir disana.
Aku baru bertemu putriku setelah sekian lama. Jangan jauhkan dia lagi dari ku. Baru beberapa hari lalu kebahagiaan tak terhingga datang padaku, untuk pertama kalinya aku bertemu putriku lagi setelah sekian lama. Namun kenapa kini harus Kau kikis kebahagiaanku dengan kesedihan seperti ini. Berikan aku kesempatan untuk merawatnya sekalipun dia sudah bisa merawat dirinya sendiri. - Mohon Delia dengan tangan terangkat berdoa. Dia berharap hanya kabar baiklah yang akan keluar dari mulut dokter dokter di dalam ruang operasi itu.
Bahkan saat ini uangku tidak berarti apa apa. - batin Alex sembari menatap keluarga adiknya dengan pandangan sendu. Bertahun tahun mereka mencari keberadaan putri mereka dan baru tahun ini mereka berhasil bertemu dengannya. Namun takdir seolah tak puas menjauhkan mereka dari putri tunggal keluarga Willyan.
Derap langkah bersautan dari ujung lorong mengalihkan perhatian mereka, terlihat Kenan dan Keyza sedikit berlari dengan bergandengan tangan kearah mereka.
"Bagaimana keadaan Arista?" Tanya Kenan dengan nafas memburu. Dia sempat melihat lampu operasi yang sudah tidak menyala, itu menandakan operasi sudah selesai bukan?
Tak ada tanggapan kecuali sebuah gelengan dari Alvino yang Kenan tangkap. Hal yang membuatnya terduduk dengan lemas, pikiran pikiran buruk sudah menghantuinya.
Jika terjadi sesuatu pada Arista dan ketiga cucuku, aku tidak akan memaafkan mu. Sekalipun kau adalah putraku. - Batin Kenan dengan tangan mengepal.
__ADS_1
Alvino menangkap setiap gerakan yang dilakukan Kenan, jujur sekalipun Kenan berada di pihak mereka dan sudah memberikan Kelvan pelajaran tetapi rasa tidak suka tetap saja dia rasakan pada pria yang sialnya sahabat baik ayahnya.
Ceklek.. (Anggap aja suara pintu ruang operasi ya😅)
Serentak mereka berdiri dan menghampiri dokter Alisya yang baru saja keluar.
"Bagaimana keadaan kakak saya dan bayinya?"
"Bagaimana keadaan putri kami dan cucu kami ?"
"Bagaimana keadaan putriku?"
"Bagaimana keadaan kembaran dan ponakanku?"
Mereka bertanya secara serentak membuat Alisya tersenyum singkat dibalik maskernya. Tak lama dia membuka masker dan menatap satu persatu pihak keluarga pasiennya dan menghela nafas pelan.
"Alhamdulillah operasi berjalan lancar, keadaan pasien baik baik saja. Sungguh keajaiban ketika ketiga bayi dikeluarkan di saat itu pula ibu Arista berhasil melewati masa kritisnya." Ucap Dokter Alisya dengan senyum tipis, sungguh dia tidak sanggup untuk memberikan informasi selanjutnya.
"Kapan pasien akan sadar?"
"Apa kami bisa menjenguknya dok?" Tanya Meli, dia bersyukur Arista baik baik saja.
"Pasien akan sadar 6 jam setelah operasi berakhir dan boleh dijenguk setelah dipindahkan ke ruang perawatan." Jelas dokter Alisya.
"Lalu bagaimana dengan bayinya?" Tanya Alvino lirih, ntah kenapa perasaannya tidak tenang. Terlebih lagi dokter Alisya tidak sedikitpun membahas tentang keadaan ketiga ponakannya. Semoga saja ini hanya perasaannya saja dan dokter Alisya memang menjawab pertanyaan yang diajukan terlebih dahulu.
Alisya menghela nafas pelan, dia kembali menatap satu persatu keluarga pasiennya. "Maaf saya harus menyampaikan hal ini..."
__ADS_1
TBC
Jangan lupa Like dan Komennya yaa🥰