My Triplet Son

My Triplet Son
Membaik


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


............


Tiga bulan sudah berlalu, Arista tidak pernah lagi bertemu dengan Kelvan setelah kejadian di Mall saat itu. Yang dia dengar mantan kekasihnya itu akan melangsungkan pernikahan dalam bulan ini atau bulan depan, ntah lah itu berita benar atau tidak. Dia sudah tidak berniat mencari informasi tentang laki laki itu.


Perut Arista pun sudah semakin membesar, dia tidak lagi kuat untuk berjalan atau berdiri terlalu lama. Beberapa kali Arista memang sempat dirawat di rumah sakit karena terlalu lelah mengurus restoran dan cafe yang baru saja dibukanya 3 bulan lalu. Selain itu dia juga selalu menemani Arlan untuk menjalani pengobatannya dan selalu berakhir dia juga diobati. Melihat hal itu Arlan tidak lagi mau menjalani pengobatan jika bundanya itu tetap ikut, dia tidak mau bunda dan calon adik-adiknya kenapa napa. Arista sudah tidak memiliki pilihan ketika Arlan mengancamnya seperti itu, dia pun sadar ada 3 nyawa lagi yang harus dia jaga.


"Kak ini laporan keuangan restoran, dan ini cafe." Ucap Meli sembari menyerahkan dua berkas ke hadapan Arista yang tengah duduk santai dengan piring diperutnya.


"Oh iya, makasih Mel. Kamu bersih diri dulu gih, habis itu makan. Kakak udah masak untuk kamu."


"Kakak masak? Kakak itu harus banyak banyak istirahat, biarin Meli atau Ibu aja yang masak ya. Pokoknya Kakak jangan masak lagi besok, kakak duduk aja diem di sini. Urusan yang lain biar Meli, Ibu dan Ayah yang handel."


Meli berkacak pinggang di hadapan Arista, dia gemas sekali dengan wanita yang sudah seperti kakaknya sendiri itu. Sudah sering diberitahu untuk banyak beristirahat tetapi selalu saja melakukan ini dan itu.


"Orang hamil juga harus bergerak Mel, biar persalinannya lancar." Ucap Arista membuat pembelaan.


"Terserah kakak saja sudah, tapi ingat jangan terlalu capek."


"Iya sudah sana.."


Arista mulai memeriksa berkas yang diberikan meli, sejauh ini keuangan restoran maupun cafe miliknya selalu meningkat. Hal itu membuat Arista ingin segera membuat cabang di Purwokerto, dia sudah mencari lahan untuk tempat usahanya nanti. Sebenarnya dia bisa menyewa ruko di salah satu mall di sana, tetapi akan lebih enak jika ruko sendiri bukan?


Target bulan depan harus sudah sampai tahan design untuk cabang Purwokerto. - Arista


Cafe milik Arista bahkan viral di internet, banyak netizen yang berharap dia membangun cabang di kota mereka. Arista memang menerapkan tema yang berbeda setiap lantainya dan tema itu bisa sewaktu-waktu berubah sesuai dengan situasi kondisi. Hal itu membuat daya tarik utama dari cafe milik Arista ini, selain menu tentunya.


"Bunaaaa..."


Arista tersentak, dia melihat Arlan yang tengah berlari ke arahnya dengan senyum lebar di bibirnya. Tangan nya merentang menanti pelukan dari Arista.


"Sayang.." Lirih Arista, dia sangat rindu Arlan. Tiga hari ini Arlan harus dirawat intensif di rumah sakit membuat dia tidak bisa bertemu dengannya.


Arlan memeluk Arista dengan erat, dia bahagia saat ini. Tuhan telah menjawab doanya, Tuhan telah memberikan malaikat baik padanya.


Arista mengusap pelan puncak kepala Arlan dan sesekali mengecupnya, begitupun dengan Arlan. Anak itu memeluk Arista dengan erat seolah dia akan hilang jika melepas pelukannya.


"Bagaimana perasaan Abang saat ini?"


"Alan cangat tenang asih isah iat buna dan dede ayi.."

__ADS_1


(Arlan sangat senang masih bisa liat bunda dan dede bayi.)


"Sini Abang tidur di pangkuan Bunaa.." Arista menepuk pahanya menyuruh Arlan untuk berbaring di pangkuannya.


Arlan segera melaksanakan permintaan Bundanya. Baginya tempat paling nyaman di dunia ini adalah pelukan dan pangkuan Bunda Arista.


"Bu, gimana apa ada kemajuan?" Arista beralih menatap Bu Dai yang kini Ia anggap sebagai ibunya, tangannya masih terus mengusap kepala Arlan yang kini tengah memejamkan matanya.


"Alhamdulillah, keadaan Arlan semakin baik. Dokter juga berkata, suasana dan dukungan lingkungan sangat berpengaruh pada kesehatan Arlan."


Arista tersenyum, kembali dia menatap Arlan yang tampaknya tertidur di pangkuannya.


Bunda harap kamu segera sembuh bang..


"Lalu kapan Arlan harus ke rumah sakit lagi bu?"


"Bulan depan, kemungkinan Arlan juga akan menjalani kemoterapi atau radio terapi jika kondisinya memungkinkan."


Arista bungkam, masih teringat jelas ketika Arlan muntah muntah dan merengek sakit setelah melakukan kemoterapi. Saat itu bahkan wajah Arlan seperti tak bernyawa, tanpa di suruh air mata Arista menetes dengan sendirinya.


Kenapa anak sekecil ini harus mengalami hal seperti ini..


"Tenanglah nak, ini demi kesembuhan cucuku. Percayalah Arlan anak yang kuat, tugas kita hanya memberikan dukungan dan doa."


"Akuu.."


"Percayalah pada Tuhan dan yakinlah bahwa Arlan adalah anak yang kuat. Jikapun Arlan harus kembali cukup percaya bahwa Tuhan lebih menyenangi nya dan dia akan bahagia di sana tanpa perlu merasakan sakitnya lagi."


Tangis Arista pecah, badannya bergetar membuat Arlan terbangun.


"Bunaa tenapa ais..."


(Bunda kenapa nangis?)


Arlan duduk di samping Arista setelah menghapus air mata di pipi Bundanya. Dia semakin bingung ketika Arista memeluk erat dirinya, ada apa sebenarnya.


"Tidak apa apa nak. Sekarang ayo Bunda antar ke kamar." Ajak Arista dan berniat menggendong Arlan.


"Bunaa, Alan talan ja.. Anti adek na atit." Arlan mengelus perut Bundanya dengan sayang.


(Bunda, Arlan jalan saja.. Nanti Adeknya sakit.)

__ADS_1


"Baiklah, ayo jalan pangeran.." Arista mengandeng tangan Arlan membuat anak itu tersenyum bahagia.


Dai melihat keduanya dengan tersenyum, dia tidak menyangka dimasa tuanya ini dia dan suaminya kembali merasakan kehangatan keluarga. Dia sangat berharap Arlan segera sembuh dan Triplet segera hadir di dunia, kebahagiaan mereka akan semakin lengkap.


Setelah Arista tak terlihat lagi Dai segera menemui suaminya di depan, dia ingin pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Sudah terlalu siang jika harus ke pasar, dia ingin memasakkan makanan kesukaan Arlan.


....


Arista kembali turun setelah memandikan Arlan, dia akan kembali memeriksa laporan cafe dan restorannya.


"Kak.." Panggil Meli lirih.


"Ada apa Mel? Kamu sudah makan?" Tanya Arista tanpa mengalihkan pandangannya.


"Sudah kak, ada yang ingin aku bicarakan dengan kakak."


Arista mendongak, Meli seperti mendapat banyak masalah.


"Ada apa? Apa ada masalah?"


"Ada yang memesan wedding cake kak.." Meli menundukkan kepalanya tak berani menatap Arista.


Jika ada yang memesan wedding cake lalu kenapa? Arista menatap bingung adiknya. Selain Cafe dan Restoran dia memang menerima pesan kue tart atau kue kue lainnya. Dia mempromosikannya melalu ig atau tik tok tetapi karena keadaannya yang seperti ini membuat dia close order sementara.


"Lalu kenapa? Kamu bisa langsung menolaknya Mel."


"Tidak segampang itu kak, mereka mengancam ku akan menghancurkan Cafe jika kita menolak."


"Kenapa sampai seperti itu?" Arista menyerngit, ada apa sebenarnya.


"Entah mereka tau dari mana jika owner Cafe A'plets dan A'pply Cake adalah orang yang sama. Tetapi aku sangat tau bahwa kakak mengenal mereka kak." Lagi lagi Meli menundukkan kepalanya, dia berada di pilihan yang sulit saat ini.


Kanan jurang kiri pun jurang, di satu sisi jika dia memilih diam ada Cafe yang bisa di hancurkan kapan saja dan disisi lain jika dia menerima ada perasaan kakaknya yang akan hancur.


"Siapa?"


"Tuan Kelvan Dewanto dan calon istrinya kak." lirih Meli.


TBC


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACAA..

__ADS_1


JANGAN LUPA KEMBALI LAGI YA🥰


SEE YOU NEXT TIME


__ADS_2