My Triplet Son

My Triplet Son
PART 40


__ADS_3

"Bunaaa, Abang mau swim boleh?" Tanya Arlan sembari mendekati Arista yang tengah duduk bersama Keyzia dan Delia. Mereka bertiga duduk di pinggir kolam sembari menjemur tiga bayi kembar itu.


"Abang sudah makan? Minum susu? Mengerjakan tugas dari Mrs?"


Arlan mengangguk semangat, "Sudah Buna.."


"Kalau Abang swim sekarang nanti sore abang ga boleh ikut swim bareng adik ya?"


Wajah anak itu berubah seketika, tatapannya beralih menatap kolam renang dengan sendu. "Aban ingin belenang sekalang, tapi abang lebih ingin belenang belsama adik."


Arista tersenyum, ketiga anak kembarnya memang dia kursuskan berenang bersama Mrs yang juga mengajari Arlan beberapa bulan yang lalu.


"Aban masuk dulu Buna.." Ucap Arlan masih dengan nada lesu nya.


"Kasihan sekali Arlan, biarkan saja dia berenang nak. Toh waktu pelatihan renang adik juga hanya sebentar."


"Waktu pelatihan adik memang sebentar Mah, tetapi belum tentu Arlan juga akan berhenti berenang setelah adik selesai." Arista menatap ketiga bayinya bergantian.


"Arista juga ingin mengajari mereka berempat bahwa sesuatu yang mereka inginkan belum tentu akan mereka dapatkan. Arista tidak akan mengada-adakan yang tidak ada."


Keyzia tersenyum menatap Arista. Terlepas dari bagaimana cucunya ada, dia bangga cucunya lahir dari wanita sebaik dan semandiri Arista. Terlebih lagi wanita itu adalah anak dari sahabat baiknya.


"Kamu akan menyekolahkan triplets dan mendaftarkan kursus seperti Arlan pada mereka?" Kali ini Delia yang berkata.


Arista mengangguk tanpa keraguan, "Semua anak Arista akan mendapat kesempatan dan perlakuan yang sama. Arista ingin membiasakan mereka dengan berbagai aktivitas tetapi juga tidak akan memaksa. Jika anak anak sedang tantrum Arista akan membiarkan tidak mengikuti kegiatan apapun."


"Apa mentalnya tidak akan tertekan? Bunda takut jika terlalu banyak kegiatan justru akan membuat mereka tertekan dan stres. Mental mereka belum sekuat itu."


"Memang Arista ngapain Bun?" Tanya Arista sembari terkekeh.


"Untuk Arlan, anak itu sudah dewasa dan aku rasa 4-5 kegiatan seminggu tidak akan membebaninya. Sebelumnya aku juga sudah berkonsultasi dengan psikiater anak dan tidak akan membatasinya jika dia ingin bermain atau menonton televisi."


Mendengar penjelasan Ariata dua wanita cantik yang sudah sedikit berumur itu tersenyum. "Kalau untuk sikecil ini bagaimana..."


Keyzia mencolek colek pipi cucu cucunya.

__ADS_1


"Kami hanya akan berlatih berenang dan memasak bersama Buna Nenek." Jawab Arista dengan suara yang dia buat seolah olah suata anak kecil.


"Baiklah, berjemurnya sudah dulu ya sayang.. Sebentar lagi waktunya makan siang dan Buna harus ajak Abang untuk memasak. Sekarang jadwalnya Abang Birru yang Buna gendong ya.."


"Ma, Bun Arista ke dalem duluan ya."


Setalah mendapat persetujuan dari keduanya baruah Arista berjalan memasuki rumah.


_____


"Sekarang Abang masukin telornya yah."


Arista memandu Arlan untuk membuat makam siang anak itu sendiri.


"Yah tumpah.. tumpah Buna.." Arlan menunjuk sisi samping kompor yang terkena tumpahan telor dan cangkangnya.


"Gapapa ayo kita bersihkan dulu." Arista mengambil kain lap dan memberikannya pada Arlan.


Mereka membersihkan tumpahan itu bersama setelah sebelumnya mengecilkan suhu pada kompor kompor induksi yang digunakan.


Setelah beberapa saat, makan siang Arlan pun siap. Dibawanya masakan itu ke meja makan di mana masakan ART sudah berjajar.


"Wah masakan abang baunya enak sekali. Apa Uncle boleh minta?" Tanya Alvino begitu melihat kedatangan Arlan, Arista dan Biru dalam gendongan wanita itu.


"Boleh Buna?" Arlan menatap Arista meminta izin.


"Boleh, itukan masakan Abang banyak. Masih cukup untuk di bagi ke uncle."


Diusapnya kepala Arlan beberapa kali, "Buna taro Biru di kamar dulu, Abang makan dulu sama uncle ya."


"Iya Buna.."


"Kamu tumben jam segini pulang Al?" Tanya Delia yang baru saja turun dari lantai dua.


Alvino menyengir, "Iya Bun, ada berkas yang harus aku ambil sekalian makan siang dulu lah."

__ADS_1


"Makanya cepet cepet nikah biar ada urusin. Dibuatin atau dibawain bekel, duh enaknya punya pasangan." Ucap Fatan sejak tadi ada di meja makan.


"Lebih baik jangan terburu buru, pilih pasangan dengan tepat usahakan menikahlah satu kali seumur hidup."


"Iyadeh yang udah berpengalaman." Ucap Alvino sembari tertawa.


Melihat anaknya tertawa, Fatan mengambil sebuah paha ayam goreng dan melemparnya ke arah Alvino.


"Ih Ayah apaan si, Alvino masih harus ke kantor ini loh. Iwh.." Alvino memegang rambutnya yang terkena paha ayam itu.


"Ayah!"


"Makanya yang sopan sama orang tua."


"Emang ga sopan di mananya dah.. Auh ah."


Perdebatan mereka baru berhenti begitu Arista dan Keyzia bergabung di meja makan hingga mereka makan dengan tenang.


"Arista, boleh Mama tanya sesuatu sama kamu?"


Saat ini Arista dan Keyzia tengah duduk bersama di taman belakang berhubung triplets juga sedang tertidur.


"Tanya apa mam?"


Keyzia terlihat ragu ragu untuk membuka mulutnya dan Arista paham betul apa yang akan menjadi topik pembicaraan mereka. Tetapi wanita itu memilih diam.


"Sebelumnya Mama mau minta maaf atas apa yang putra Mama lakukan padamu. Mama sangat menyesal untuk itu."


Arista diam.


"Jika Kelvan menyesal apa kamu mau memaafkan dan kembali padanya? Mama tau ini sangat egois jika mengatakan ini, tapi sungguh Mama sangat ini kamu menjadi menantu Mama yang sebenarnya."


Cukup lama Ariata terdiam sembari melihat Keyzia yang meneteskan airmatanya dan terisak pelan.


Diraihnya tangan Keyzia perlahan, "Mam, aku tidak pernah menyalahkan Kelvan atas apa yang terjadi padaku. Kehadiran triplets ada karena perbuatanku juga. Aku tidak bisa mengingkari itu, yang aku sesalkan hanya Kelvan yang tidak mau bertanggung jawab atas janin yang ada di kandunganku." Arista menarik nafas dalam.

__ADS_1


"Kalau Mama tanya apa aku akan menerima Kelvan kembali? Tidak tau, untuk saat ini otak dan hatiku menolak."


__ADS_2