My Triplet Son

My Triplet Son
Pernikahan (2)


__ADS_3

"Ayolah Dear, aku tidak akan macan macam."


"Perkenalkan dirimu terlebih dahulu."


Sejak tadi laki laki itu terus saja membujuknya untuk ikut berdansa disana, ditempat di mana kedua mempelai juga berdansa.


Laki laki itu tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk, "Saat kamu tau namaku, jangan tanyakan apapun sampai pesta berakhir. Bagaimana?"


Tanpa pikir panjang Arista mengangguk, dia sudah sangat penasaran dengan laki laki ini. Laki laki yang tidak dikenalnya tetapi ntah kenapa dia merasa mengenal dan nyaman berada didekat laki laki ini.


"Kalilo Alvino Willyan."


Alvino kira Arista akan terkejut atau mematung, tetapi yang dilihatnya justru perempuan itu hanya mengangguk dan meraih tangannya tanda setuju berdansa bersama.


"Kamu tidak terkejut mendengar namaku?"


"Ada apa dengan namamu?" Arsita mengernyit, pasalnya dia tidak merasa mengenal ataupun tau sesuatu yang lain dengan nama itu.


"Tidak, lupakan saja. Ayo.."


Mereka berjalan bersama menuju lantai dansa, tak lama setelah mereka memposisikan diri dansa pun dimulai.


Arista menatap mata Alvino yang menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan. Ada apa? Apa laki laki ini mengenalnya?


"Ada apa kamu menatapku seperti itu?"


"Karena kau adala..."


Belum sempat Alvino menjawabnya musik sudah berganti menandakan mereka harus memutar pasangannya dan mendorongnya menuju orang lain.


Alvino tidak memutar tubuh Arista dia hanya melepaskan genggamannya karena dia takut membahayakan Arista dan kandungannya. Arista memejamkan matanya dan berdiam diri tidak jauh dari tempat dimana tadi Alvino melepaskannya.

__ADS_1


"Kk..a..Kau?!" Arista terbelalak melihat Kelvan yang kini tengah menggenggam tangannya dan memeluknya lembut.


Kelvan membimbingnya untuk berdansa secara perlahan dan beberapa kali menatap perut Arista yang sudah membuncit besar.


Sudah berapa bulan?


Arista menunduk karena Kelvan tidak berhenti menatapnya, Kenapa harus dia?


"Ternyata tangkapan mu kali ini lebih besar ya.." Gumam Kelvan lirih namun masih dapat didengar Arista.


Arista mendongak, dia menatap tidak mengerti pada Kelvan. "Apa maksudmu?"


"Alvino, kamu pasti tau siapa dia.."


"Kau sungguh licik, melakukan segala cara agar anak haram mu itu mendapat pengakuan." Kelvan tersenyum sinis.


"Memang apa yang sudah kulakukan?" Tanya Arista dengan nada menantang membuat Kelvan geram.


"Kau pasti menjebak Alvino bukan? Kau benar benar wanita tidak tau diri."


"Kau tau, Alvino sangat tampan, baik dan perhatian padaku. Dan yang paling utama adalah setia." Ucap Arista dengan penuh penekanan.


"Kau pikir aku peduli? Kau pergi dari hidupku adalah suatu keberuntungan besar untukku."


Sekuat tenaga Arista menahan air mata yang mendesak keluar, beberapakali dia mengerjab kan matanya menghalau.


"Kalau begitu bersyukurlah. Begitupun aku yang bersyukur terlepas dari laki laki tidak bertanggungjawab sepertimu. Jika aku bisa memilih aku lebih baik tidak pernah bertemu denganmu. Namun, itu tidak mungkin. Jadi kali ini aku hanya bisa berharap ini adalah kali terakhir kita bertemu." Ucap Arista panjang membuat Kelvan semakin mengetatkan rahangnya.


Kelvan tidak suka ketika Arista mengatakan ini adalah kali terakhir mereka bertemu, ntah kenapa hatinya terasa sesak mendengar harapan itu. Seperti kehilangan akal sehatnya Kelvan mencium bibir Arista dan ********** kasar.


Perlakuan Kelvan yang tiba tiba membuat Arista tersentak dan mencoba berteriak namun tidak bisa, dia hanya bisa memukul mukul dada Kelvan berharap untuk dilepaskan. Air matanya sudah tidak terbendung, entah bagaimana tanggapan para tamu undangan mengetahui hal ini. Dia berharap mereka tidka menyadari kejadian ini.

__ADS_1


PLAKK


Wajah Arista menoleh ke samping setelah tadi tubuhnya ditarik dengan keras. Dia masih mematung, mencerna apa yang baru saja terjadi. Arista melihat kearah orang yang menarik dan menamparnya. Dia melihat Jihan dengan mata membara dan tangan terkepal tampak sekali kemarahan disana. Dan jangan lupakan tatapan tak percaya para tamu undangan.


"MATIKAN MUSIKNYA SEKARANG!" Teriak Jihan, membuat musik mati seketika.


"Kamu bener bener perempuan murahan ya! Harusnya kamu sadar kalau kamu tuh lagi hamil kok bisa bisanya kamu nyium suami aku dihari pernikahan aku! Gila kamu ya." Seru Jihan.


"Kamu itu adik kelas aku Ar. Aku udah anggap kamu kaya adik aku sendiri. Kenapa kamu tega khianatin aku? Waktu itu kamu ngaku ngaku kalo anak dalam kandungan kamu itu anak suami aku, aku tau kamu itu mantan Kelvan. Tapi sekarang Kelvan itu suami aku dan aku tau pasti anak itu bukan anak Kelvan."


Para tamu undangan menatap tak percaya pada wanita berbadan dua yang tengah menundukkan kepalanya, bahunya tampak bergetar menandakan wanita itu tengah menangis. Mereka pun terang terangan memandang penuh cemoohan dan beberapa dari mereka berbicara menghina dengan suara keras.


"Aku sama sekali ga ngelakuin itu, aku ga tau kenapa itu bisa terjadi. Kelvan yang duluan cium aku. Ga usah alasan Ar, aku tau kamu pasti mau bilang itu kan?! Kamu bakal bilang kalau Kelvan yang udah cium kamu, itu ga mungkin Ar. Aku tau banget gimana Kelvan."


Jihan terus terusan menghina Arista meski beberapa kali orang tua Kelvan menghentikannya. Acara dansa ini juga keinginan Jihan, harusnya dia bisa menjaga pasangannya dan meminimalisir terjadinya hal seperti ini.


Arista hanya diam sembari menunduk begitupun Kelvan yang menatap Arista dengan pandangan tak rela. Dia tidak bisa melakukan apapun kali ini, dia tau ini salahnya tetapi dia tidak bisa mengakuinya. Namun berbeda dengan Alvino, sejak tamparan Jihan pada Arista dia sudah mengepalkan tangannya menahan diri untuk tidak membalas pukulan itu.


"Kalian disini harus hati hati pada wanita ini, kalian lihat wanita yang tengah hamil besar ini belum juga menikah dan entah siapa ayah dari bayinya. Jagalah suami atau pasangan kalian baik baik, dia sudah berulang kali merebut kekasihku dan kekasih beberapa temanku. Kalian juga sudah melihat sendiri bukan bagaimana dia tadi mencium suamiku." Ucapan Jihan membuat keadaan semakin riuh karena beberapa dari mereka menyoraki Arista.


"Kau harus ingat Arista, menjadi jalang mungkin keahlian dan pekerjaanmu. Tetapi ingatlah masih banyak pekerjaan lain yang sama menghasilkannya tanpa harus melukai hati wanita lain."


"Kau berkata seperti kau adalah wanita yang paling suci saja nona muda Dewanto."


Suasana yang tadinya ricuh hening seketika saat pewaris tunggal keluarga Willyan angkat bicara. Tidak ada lagi yang berani membuka mulut mereka termasuk Jihan.


Kenapa aku bisa lupa kalau tadi Alvino mengenalkan Arsita sebagai calonnya..


"Jangan menghakimi seseorang berdasarkan apa yang kalian lihat dan dengar, terkadang mata dan telinga kita pun bisa berkhianat. Melihat bagaimana caramu menghadapi masalah membuat ku ragu jika kau memang wanita berpendidikan."


Jihan tidak berani membalas Alvino seberapa banyak pun laki laki itu menghinanya. Dia tidak memiliki kemampuan untuk melawan laki laki itu bahkan ketika dia sudah menikah dengan Kelvan, pewaris tunggal keluarga Dewanto.

__ADS_1


"Sekali lagi kau membuat masalah dengan calon istriku, bukan hanya karirmu yang aku hancurkan tetapi juga suami dan keluargamu."


TBC


__ADS_2